NovelToon NovelToon
RONALD & FANIA

RONALD & FANIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:376
Nilai: 5
Nama Author: WILONAIRISH

Menjalin hubungan yang cukup lama, apalagi setelah satu atap bersama. Membuat seorang Fania merasa bosan dan jenuh pada hubungannya bersama sang suami, Ronald.

Hingga suatu hari kejujuran Fania membawa perubahan baru dalam kehidupan mereka.

Sebagai seorang suami, Ronald yang begitu mencintai Fania akan selalu berusaha memenuhi keinginan istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WILONAIRISH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Pagi datang perlahan. Cahaya matahari menembus tirai kamar, menyelinap lembut ke dalam ruangan yang masih menyimpan sisa keheningan malam. Udara terasa ringan, namun tidak sepenuhnya kosong seolah ada sesuatu yang tertinggal, samar, tapi nyata.

Fania membuka matanya perlahan. Sejenak ia hanya menatap lurus ke depan. Diam. Pikirannya belum sepenuhnya terbangun, namun tubuhnya sudah lebih dulu mengingat.

Semalam, sentuhan itu. Gerakan yang begitu hati-hati. Kecupan singkat di keningnya. Dan bisikan pelan yang terasa lebih jelas dari suara apa pun.

“Good night, Sayang.”

Fania menghela napas tipis. Refleks. Lalu memalingkan wajahnya ke samping. Sisi ranjang di sebelahnya, kosong. Sprai itu sudah rapi. Tidak ada jejak hangat yang tersisa. Ronald sudah tidak ada, seperti biasa.

Fania bangkit duduk perlahan. Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah. Tangannya bergerak tanpa sadar. Menyentuh keningnya sendiri. Tempat itu. Tempat yang semalam disentuh.

Ia berhenti sejenak. Jari-jarinya diam di sana, hangatnya. Seolah masih tersisa. Padahal ia tahu itu hanya perasaan. Namun tetap terasa nyata.

“Kenapa” gumamnya pelan. Ia menarik tangannya cepat. Seolah tersadar lalu menggeleng pelan.

Seperti ingin menyingkirkan semua itu. Namun pikirannya tidak semudah itu diarahkan. Bayangan itu tetap muncul, berulang. Dan semakin terasa.

Beberapa menit kemudian, Fania turun ke ruang makan, langkahnya pelan dan teratur. Ekspresinya sudah kembali seperti biasa, terkontrol dan netral. Seolah tidak ada yang berubah.

Di sana, Ronald sudah duduk rapi. Kemejanya terlihat luxury dan sempurna. Sarapan tersaji di hadapannya, ia makan dengan tenang. Tanpa tergesa seperti rutinitas yang selalu sama setiap pagi.

Fania masuk, duduk di kursinya. Berhadapan dengannya seperti hari-hari sebelumnya. Tak ada sapaan, tak ada senyuman, tak ada “selamat pagi”. Hanya suara sendok dan piring yang beradu pelan.

Namun suasana pagi itu terasa berbeda.

Bukan karena apa yang terlihat, tapi karena apa yang disadari. Fania mencoba fokus pada makanannya. Memotong, mengunyah, dan menelan.

Semua dilakukan seperti biasa. Namun pikirannya tidak sepenuhnya di sana. Sesekali matanya melirik sekilas. Ke arah Ronald dengan cepat hampir tak terlihat. Namun cukup.

Dan setiap kali itu terjadi, ia langsung mengalihkan pandangan. Seolah takut tertangkap. Seolah takut pada apa yang mungkin terbaca.

Ronald menyadarinya. Setiap gerakan kecil itu, setiap lirikan singkat. Namun ia tidak mengatakan apa-apa. Ia tetap makan seperti biasa.

Namun perhatiannya tidak sepenuhnya pada makanan. Setelah beberapa menit, Ronald selesai lebih dulu. Ia meletakkan sendoknya pelan. Berdiri dan gerakannya rapi. Terbiasa.

Namun sebelum melangkah pergi, ia berhenti.

Menatap Fania sekilas.

“Kau akan keluar hari ini?” tanyanya. Nada suaranya datar, seperti biasa.

Namun itu pertanyaan pertama pagi itu. Dan entah kenapa terasa berbeda.

Fania sedikit terkejut, hampir tidak terlihat. Namun ada jeda kecil sebelum ia menjawab.

“Iya.” Singkat.

Ronald mengangguk.“ Jangan lupa makan siang.”

Kalimat sederhana, sangat biasa. Namun tidak biasa bagi mereka. Ada sesuatu di dalamnya. Perhatian kecil tanpa penekanan.

Tanpa ekspresi berlebihan, namun cukup terasa.

Fania terdiam sejenak, menangkap kalimat itu. Lalu mengangguk kecil. “Iya.”

Ronald tidak menunggu, ia berbalik dan melangkah pergi. Meninggalkan ruang makan. Namun jejak kalimat itu tertinggal dan melekat.

Sepanjang hari, Fania sibuk dengan pekerjaannya. Meeting berjalan, diskusi berlangsung, desain harus diselesaikan.

Semua berjalan seperti biasa. Terstruktur, efisien, tanpa hambatan berarti.

Namun tidak dengan pikirannya. Beberapa kali, ia terdiam di tengah aktivitas. Tatapannya kosong sesaat.

Pikirannya melayang, kembali ke pagi tadi. Ke malam sebelumnya. Ke satu sosok yang terus muncul tanpa diminta. Ronald.

Perhatian kecil itu, tatapan singkat itu, dan wanita kemarin. Potongan-potongan itu bercampur. Membuatnya sulit fokus sepenuhnya.

Fania menghela napas pelan, menarik dirinya kembali.

“Fokus,” gumamnya.

Namun tetap saja, tidak mudah. Sore hari, Fania pulang lebih cepat dari biasanya. Langit mulai berubah warna. Udara terasa lebih sejuk dan entah kenapa ia tidak ingin berlama-lama di luar.

Ada dorongan halus, tidak jelas. Namun cukup kuat. Rumah terasa lebih menarik hari ini. Aneh namun nyata

Ia membuka pintu, masuk. Merasakan suasana sepi menyambutnya. Namun tidak terasa kosong seperti biasanya.

Fania melangkah ke ruang keluarga, langkahnya melambat. Lalu ia berhenti.

Ronald ada di sana, duduk di sofa.

Laptop terbuka di depannya dan matanya fokus pada layar. Jarinya bergerak cepat sedang bekerja.

Fania terdiam sejenak, tak menyangka. Biasanya, pria itu pulang lebih larut. Jarang sekali ada di rumah sesore ini.

Ronald mengangkat pandangannya. Melihat Fania sekilas lalu kembali ke layar.

“Sudah pulang?” tanyanya singkat.Nada suaranya tetap sama.

Fania mengangguk kecil. “Iya.”

Ia tidak langsung bergerak, tetap berdiri di sana. Beberapa detik, seolah menunggu sesuatu. Atau mungkin menunggu dirinya sendiri untuk bergerak.

Namun Ronald tidak menambahkan apa-apa.

Ia kembali fokus seperti sebelumnya. Fania menggigit bibirnya pelan. Hampir tidak sadar.

Lalu akhirnya melangkah pergi ke arah kamar.

Malam kembali datang, seperti biasanya, mereka makan malam bersama. Saling berhadapan dalam diam. Rutinitas yang sama namun tidak sepenuhnya sama.

Ada sesuatu yang berubah, sangat kecil. Namun terasa. Fania beberapa kali hampir membuka suara. Bibirnya sempat bergerak, namun berhenti.

Ia mengurungkan niatnya. Ronald pun sama.

Beberapa kali ia terlihat ingin mengatakan sesuatu. Namun tidak jadi. Seolah keduanya menunggu. Namun tidak ada yang memulai.

Malam semakin larut, Fania sudah berada di kamar. Duduk di ranjang dengan tablet di tangannya. Layar menyala, namun ia tidak benar-benar membaca. Pikirannya tidak di sana.

Pintu kamar terbuka, Ronald masuk. Seperti biasa, langkahnya tenang. Tanpa suara berlebihan. Namun kali ini Fania tidak langsung berpura-pura sibuk.

Ia menoleh melihat Ronald. Dan untuk beberapa detik tatapan mereka bertemu. Lebih lama dari biasanya, tidak terburu-buru.

Tidak langsung dialihkan, tanpa kata, tanpa topeng.

Namun kemudian Fania mengalihkan pandangan, refleks. Seperti kebiasaan lama yang belum hilang.

Ronald berjalan menuju walk in closet mengambil pakaian. Gerakannya rapi, namun sebelum benar-benar masuk ia berhenti.

Menoleh.

“Fan.”

Fania terdiam. Namun tidak menoleh.

“Iya?”

Ronald ragu sejenak, sangat singkat. Namun terlihat lalu berkata.

“Besok aku di rumah.” Kalimat itu sederhana, namun tidak biasa.

Tidak seperti pernyataan rutin. Lebih seperti pemberitahuan yang disengaja.

Fania akhirnya menoleh, menatapnya. Ada sedikit kebingungan di matanya.

“Kenapa?” Pertanyaan itu keluar begitu saja. Tanpa dipikir panjang.

Ronald menatapnya. “Ada yang salah?” Nada suaranya datar. Namun ada sesuatu di baliknya. Sesuatu yang sulit dijelaskan.

Fania langsung menggeleng dengan cepat.

“Tidak, bukan itu.” Ia berhenti sejenak. Mencari kata. Namun tidak menemukan.

“Baiklah,” ujarnya pelan.

Ronald mengangguk. Lalu masuk ke walk in closet. Pintu tertutup, Fania masih menatap ke arah sana dalam diam. Pikirannya kembali berputar.

Besok Ronald di rumah sepanjang hari. Dan entah kenapa pikiran itu tidak terasa biasa. Ada sesuatu yang muncul, halus. Tidak terlalu jelas, namun cukup untuk membuat dadanya terasa berbeda. Seperti menunggu.

Namun ia tidak mengakuinya, seperti biasa.

Ia hanya memalingkan wajahnya, berbaring.

Memunggungi arah walk in closet.

Namun kali ini bukan untuk menjauh. Melainkan untuk menyembunyikan sesuatu.

Sesuatu yang perlahan mulai tumbuh kembali. Dan kali ini ia tidak yakin apakah ia benar-benar ingin menghentikannya.

NEXT .......

1
Dian
suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!