Dua tahun lalu Fahri dipaksa menikah oleh sang kakek yang sudah renta dan sakit-sakitan. Demi bakti terhadap orang tua yang sudah membesarkannya itu, Fahri menikahi seorang gadis bernama Bella, gadis cantik berusia 21 tahun pilihan sang kakek.
Tanpa sepengetahuan kakeknya, Fahri membuat surat perjanjian dengan Bella, mereka menikah hanya untuk mewujudkan keinginan orang tua itu, perjanjian berakhir ketika sang kakek sudah tiada.
Setelah waktu yang ditunggu-tunggu tiba, Fahri menceraikan Bella tiga hari setelah kakeknya meninggal.
Pasca perceraian banyak hal yang terjadi dengan Bella tanpa sepengetahuan Fahri. Hingga pada saat kebenaran terkuak, Fahri menyesal menceraikan Bella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopii Hitam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26.
Reza tiba di kantor menggenggam sebuah map coklat di tangannya. Menyaksikan keributan yang terjadi, matanya membulat, para karyawan berdiri menutupi sepasang manusia yang terhenyak di lantai.
Reza mendekat, dia menyelip diantara kerumunan orang, terkejut melihat Hana dan Dayat yang menangis tersedu-sedu membicarakan Bella yang meninggalkan mereka.
Tanpa pikir panjang, Reza langsung mundur, memasuki lift dengan langkah besar menuju lantai lima.
Tok...Tok...Tok...
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, detik kemudian pintu terbuka setelah Fahri mengizinkan masuk.
Dengan langkah tegap, Reza berjalan menuju meja kerja Fahri dan berdiri di seberangnya. Menatap Fahri dan Bella bergantian. "Maaf, Pak, Bu... Di bawah ada Bu Hana dan Pak Dayat," terangnya.
Bella dan Fahri terkejut, keduanya saling melirik beberapa detik, lalu kembali menatap Reza.
"Ya sudah, biarkan saja!" ucap Bella setelah berpikir beberapa saat. Lagian untuk apa menemui mereka, yang ada bikin kesal dan sakit kepala.
"Tapi, Bu..."
"Tapi apa?" sela Fahri.
"Keduanya bikin keributan, mereka menangis di lantai menjelekkan Bu Bella, para karyawan berkerumun di sana." ungkap Reza.
Mendengar penjelasan Reza, tangan Fahri mengepal kuat, dia memukul meja dengan keras dan bangkit dari tempat duduk. Sebelum Fahri melangkah, Bella sudah berlari meninggalkan ruangan lebih dulu.
Ketika Fahri hendak menyusul Bella, Reza menghadangnya dan menyodorkan map coklat yang dia bawa tadi. Reza sudah tau isinya tapi tidak mengatakan apa-apa, biar Fahri sendiri yang melihatnya.
Fahri mengambil map itu. Dengan gerakan cepat, dia memutar benang pengait di ujung map, mengeluarkan selembar kertas dan membacanya.
Deg...
Jantung Fahri berdegup kencang dengan mata terbelalak dan mulut menganga, dia terhuyung, Reza bergegas menangkapnya.
Dengan tatapan yang sulit diartikan, Fahri melipat kertas itu menjadi kecil, memasukkan ke kantong jas dan berjalan menyusul Bella dengan sorot mata tajam seperti elang.
Huft...
Reza menghela nafas panjang dan membuangnya kasar, dia merinding. Entah apa yang akan terjadi setelah ini.
Di bawah sana, Bella menghampiri kedua orang tuanya yang masih duduk di lantai dengan tatapan nyalang dan tangan mengepal menahan marah.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Bella dengan suara lantang.
Semua orang terkejut mendengar suaranya, satu persatu dari mereka menjauh dari Hana dan Dayat. Ada yang kembali ke meja kerja, ada yang masih berdiri dari kejauhan, ada pula yang mengintip.
"Bella..." Hana buru-buru bangkit dari lantai dan meraih tangan Bella.
"Jangan sentuh aku!" sergah Bella mengibaskan tangannya kasar, Hana kembali jatuh di lantai.
"Bella, apa yang kau lakukan? Dia itu ibumu," berang Dayat menyusul bangkit dari lantai dan membantu Hana berdiri.
"Ibu...???" ulang Bella dengan senyum miring. "Sejak kapan dia menganggap ku anak?" imbuh Bella dengan suara meninggi.
"Bella, ibu salah, ibu minta maaf." Hana kembali mendekat tapi Bella memilih mundur beberapa langkah.
"Aku tidak punya ibu," ucap Bella dengan mata berbinar, tangannya gemetar menahan sesak yang menusuk di dada.
"Bella..." hardik Dayat, dia berjalan mendekati Bella, tangannya melayang di udara.
"Awh..." Dayat meringis kesakitan, tangannya tidak bisa lagi digerakkan karena ditahan oleh Fahri.
"Selagi nafasku masih berhembus, jangan harap tangan kotor mu bisa menyentuh istriku!" sergah Fahri dengan tatapan tajam membunuh.
Bug...
Tubuh Dayat tersungkur di lantai sesaat setelah Fahri menendang kuda-kudanya. Dia tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.
"Mas, kamu tidak apa-apa?" tanya Hana sambil menekuk kakinya dan membantu Dayat berdiri. "Kalian memang kejam, dasar anak dan menantu durhaka." umpat Hana.
"Durhaka...?" ulang Bella sambil tersenyum miring, dia nyaris tertawa mendengar perkataan Hana itu. Entah siapa yang sebenarnya durhaka.
Huft...
Bella menghela nafas panjang dan membuangnya kasar.
"Sayang... Kamu tidak apa-apa?" tanya Fahri khawatir, dia merengkuh lengan Bella.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja." jawab Bella santai.
"Bella, jangan jadi anak tidak tau diri. Ingat, kalau bukan karena kami, hidupmu tidak akan sebaik sekarang, harusnya kau berterima kasih pada kami, bukan malah membuat kami menderita seperti ini." ucap Dayat panjang lebar.
"Berterima kasih...?" ulang Bella dengan senyum sumbang, sedetik kemudian senyuman itu berubah menjadi tawa.
"Hahaha..... Anda benar, harusnya aku berterima kasih pada kalian."
"Terima kasih sudah menyiksaku, memukulku, membuatku menjadi babu di rumah sendiri, membiarkan aku kelaparan, mengurungku di gudang gelap, memaksaku menikah dengan orang yang tidak kucintai, bahkan menjual ku pada pria hidung belang, terima kasih untuk semua itu." teriak Bella melepaskan semua beban di hatinya, tubuhnya gemetaran, air matanya menggenang mengungkap semua penderitaan yang dia alami selama ini.
"Sayang, cukup!" pinta Fahri sambil mendekap lengan Bella erat, dia tidak tahan, dadanya seperti tertusuk, air matanya mengalir mendengar semua yang Bella katakan.
Sebelumnya Fahri mendengar itu hanya lewat Reza dan Sari, tapi sekarang istrinya langsung yang bicara, Fahri tidak kuat mendengarnya, sesakit itukah yang dilalui Bella selama 23 tahun ini.
"Ka-kami melakukan semua itu demi kebaikanmu, buktinya sekarang hidupmu enak kan." tutur Hana gelagapan.
"Iya Bella, yang penting sekarang kamu sudah bahagia. Tolong bantu kami, kami tidak punya apa-apa lagi, bujuk suamimu mengalirkan dana ke perusahaan ayah, jika tidak..."
"Aku sudah memberimu kesempatan berulang kali, kau sendiri yang menyia-nyiakannya. Sekarang tanggung sendiri akibatnya," potong Fahri dengan tatapan datar.
"Cih... Tidak disangka kalian sekejam ini," decis Hana dengan tatapan tajam.
Bella tersenyum sumbang. "Ya, aku memang kejam. Lalu kenapa masih mencari ku? Bukankah kau masih punya satu anak lagi? Minta bantuan saja padanya!" ketus Bella yang sudah tak lagi sopan.
"Kakakmu masih kuliah, dia tidak mungkin..."
"Lalu apa bedanya denganku? Aku hanya tamatan SMA, apa yang kalian harapkan dariku?" sergah Bella.
"Tapi suamimu..."
"Cukup aku saja yang kalian jadikan alat demi keuntungan, suamiku tidak punya tanggung jawab membantu kalian!" tegas Bella kemudian berbalik badan, dia sudah lelah, dia benar-benar capek menghadapi kedua orang tua itu dan memilih pergi.
Melihat punggung Bella menghilang dalam lift, Fahri maju beberapa langkah, merogoh kantong jas mengambil kertas yang dia dapatkan dari Reza tadi dan melemparnya ke wajah Hana.
Hana terperanjat, dia berjongkok mengambil kertas yang jatuh di lantai dan membukanya perlahan.
Deg...
Hana termundur, matanya terbelalak, dia terhuyung, Dayat menangkapnya.
"Apa itu?" tanya Dayat kemudian merebut kertas itu dari tangan istrinya.
Hah...
Keduanya terdiam sejenak, saling melirik dan nampak kelimpungan.
"Tadinya aku heran kenapa ada orang tua seperti kalian, sekarang aku mengerti, istriku bukan darah daging kalian." jelas Fahri dengan tatapan nyalang.
Lalu Fahri mengeluarkan kartu ATM dari saku jasnya. "Di dalam kartu ini ada uang seratus juta, anggap ini bayaran karena kalian sudah membesarkan istriku. Setelah ini jangan muncul di hadapannya, jika tidak, jangan salahkan aku berbuat kejam!"
Fahri melempar kartu itu ke lantai kemudian memanggil satpam dan menyuruhnya mengusir kedua orang tua itu. Dia juga menekankan bahwa hubungan kekeluargaan diantara mereka sudah berakhir, jangan datang lagi jika tidak ingin menyesal.
emang curiga sihhh . masa orang tua sangat-sangat kejam kaya gtu 😡