Tara dan Devan sudah menikah selama tiga tahun. Hanya Tara yang jatuh cinta di sini. Selama tiga tahun, Tara berusaha membuat Devan jatuh cinta. Apakah Tara berhasil saat ia tahu persis pernikahannya dengan Devan berbeda dengan pernikahan normal lainnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yesstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Setelah Devan pergi, Tara menutup pintu. Ia duduk di sofa, menghela napas sembari memijit dahinya. Devan tak tahu bahwa ia bertemu lagi dengan David waktu motornya mogok kala itu.
Saat Devan mencurigai David beberapa saat yang lalu, Tara tak mengiyakan ataupun berkata tidak. Tara hanya mengatakan bahwa ia tidak lagi dekat dengan siapapun. Baik David ataupun pria lain.
Entah Devan percaya atau tidak. Tara tidak peduli lagi. Ia mengambil ponsel, menyalakan layar, dan menekan satu nomor.
“Halo, Pak. Saya sudah mantap bercerai. Buatlah saya bercerai dengan alasan yang sulit ditolak oleh hakim.”
Selesai berbicara sesaat dengan pengacaranya, Tara meletakkan ponselnya di sofa. Ia kembali menarik napas dan mengembuskannya perlahan.
“Apa kamu diam-diam ketemuan sama David, Dek?”
Tara menoleh, mendongak melihat Haris berdiri di belakangnya. Tara menggeleng.
Haris duduk di sofa lain seraya memandangi sang adik. “Abang tahu kamu masih sering telponan sama dia.”
“Abang dengar? Nguping?”
“Kamar kamu nggak kedap suara. Abang dengar walau samar-samar. Abang cuma mau ngingetin. Devan licik. Abang rasa dia sedang berusaha deketin kamu lagi supaya kamu membatalkan perceraian kalian. Abang cuma nggak mau David jadi sasarannya.”
Tara mengangguk paham. “Aku udah minta pengacaraku buat mempercepat semuanya. Apapun caranya, aku pingin semuanya segera selesai.”
“Kamu udah nggak cinta lagi sama Devan?” Haris menatap lekat mata sang adik.
Tara menunduk, menggeleng pelan. “Aku bahkan nggak tahu apa selama ini yang kurasakan itu cinta atau hanya kenyamanan aja, Bang. Aku nggak ngerti apa yang kurasakan sama dia.”
“Kalau sama David?”
Tara mendongak cepat, menatap Haris dengan pandangan bingung.
“Nggak perlu jawab. Abang tahu jawabannya,” angguk Haris tersenyum tipis.
“Kalian pernah bersama dulu. Ya walaupun dia pernah nyakitin kamu, tapi dia udah menebusnya. Dia kehilangan kamu. Dan sekarang, takdir justru mempertemukan kalian lagi.”
“Aku nggak akan pernah lupa dengan apa yang dilakukan David dulu, Bang. Rasa sakit itu masih terasa. Masih nyata di mata juga hatiku. Apapun yang dia lakukan selama ini nggak langsung membuatku mau buka hati sama dia lagi.”
Haris mengangguk, mengerti bahwa hati sang adik masih gamang. Ia berdiri.
“Ya udah, cepat tidur.”
Tara menghela napas sekali lalu berdiri. Mematikan lampu utama, mengunci pintu, dan menuju kamar. Saatnya pikiran dan fisiknya beristirahat.
***
Enam bulan kemudian, di sebuah gedung Pengadilan Agama.
Hakim memutuskan mengabulkan permohonan Tara untuk bercerai dari Devanka Gunawan. Tara menitikkan air mata dan memeluk Haris. Haris mengusap punggung sang adik, ikut merasa lega setelah mendengar putusan sidang terakhir perceraian Antara Rinelda dan Devanka Gunawan.
“Selamat, Dek. Sekarang kamu resmi jadi janda muda yang masih ting-ting,” seloroh Haris di sela-sela pelukannya.
Tara tertawa pelan dan mengangguk. “Bukankah itu lebih baik?”
Haris mengangguk. Sangat baik malah. Adiknya pasti akan segera menemukan kebahagiaannya setelah lepas dari jerat pernikahan yang menyiksa itu.
Devan tersenyum kecut melihat Tara yang berpelukan dengan Haris pasca sidang berakhir. Mia dan Gunawan menepuk bahu Devan dan tersenyum menguatkan. Mia dan Gunawan pasrah, sudah tak bisa membujuk Tara dan Devan untuk mempertahankan pernikahan mereka.
Devan sudah berusaha sekuat tenaga untuk meluluhkan hati Tara. Berusaha untuk mengembalikan memori indah saat mereka bersama sebelum menikah. Namun, semuanya sia-sia.
Dan sekarang, ia tak lagi berhak atas Tara. Secara terpaksa, ia melepas Tara dari hidupnya. Ia tak suka. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Devan melangkah mendekati kedua kakak beradik itu. “Tara.”
Tara dan Haris melepas pelukan dan menoleh bersamaan. Devan tersenyum lirih.
“Boleh aku peluk kamu untuk terakhir kalinya?”
Devan menatap penuh harap. Sungguh, hatinya terasa perih dan sakit. Mereka sudah resmi bercerai. Devan tak tahu mengapa setelah palu hakim diketuk, mengabulkan permohonan Tara, dia sangat menyesalinya. Terlambat memang.
Tara menoleh pada Haris dan Haris mengangguk. Tara menatap Devan dan akhirnya mengangguk. Devan langsung mendekat dan memeluk Tara erat. Devan menangis. Dia terisak di pelukan Tara. Devan memeluk Tara erat.
Tara ikut menangis. Dia merasakan kesedihan yang sama dengan Devan. Mereka sudah bersama bertahun-tahun, dan kini mereka harus berpisah. Walaupun masih bisa berteman, tapi semuanya akan berbeda dari sebelumnya.
Tak ada ucapan apa-apa. Mia dan Gunawan ikut menitikkan air mata. Mereka melihat bagaimana keduanya terlihat masih saling mencintai, tapi mereka harus berpisah karena satu kesalahan fatal yang dilakukan Devan. Mia dan Gunawan berpelukan dan mengalihkan pandang. Tak tega melihat Devan menangis di pelukan seorang wanita yang kini sudah resmi menjadi mantan istrinya.
Haris terdiam. Walaupun dia merasa lega dengan perpisahan mereka, tapi tetap saja, Tara dan Devan pernah menikah dan ada banyak kenangan diantara mereka berdua. Perpisahan memang selalu menyakitkan, bukan?
Tapi takdir menginginkan mereka untuk berpisah daripada bersama, tapi saling menyakiti.
Lima menit berlalu masih dengan saling memeluk dan menangis di punggung satu sama lain, Tara akhirnya melepas pelukan. Dia menatap mata Devan sendu dan tersenyum lirih. Tangannya mengusap pipi Devan yang basah oleh air mata.
“Terima kasih untuk semuanya, Dev. Aku senang bisa berkenalan denganmu walau aku tak senang saat menjadi istrimu tiga tahun ini. Tapi aku akan mengingat semua kebaikanmu, Dev,” ucap Tara lirih.
Devan mengangguk dan menatap Tara lembut. “Kamu sudah bebas, Ra. Temukan kebahagianmu. Maafkan semua kesalahanku. Kamu berhak bahagia dengan siapapun itu.”
Tara mengangguk dan tersenyum. Keduanya saling tatap, hingga akhirnya Tara yang memutus tatapan.
Inilah yang dia inginkan. Bercerai dengan Devan.
Namun melihat Devan yang begitu terluka saat menatapnya, sedikit mempengaruhinya. Dan Tara tak sanggup melihatnya lagi. Dia pun sama terlukanya.
Haris menepuk bahu Devan dan tersenyum. “Lo harus berubah, Dev. Jangan sampai ada Tara selanjutnya yang jadi korban,” ucap Haris sangat pelan.
Devan tak menjawab. Melirik Tara dan tersenyum singkat, Devan melangkah keluar ruangan bersama orang tuanya.
Haris menggandeng Tara ikut keluar ruangan. Sampai di parkiran, Tara yang hendak masuk ke dalam mobilnya, tiba-tiba mendengar namanya dipanggil. Tara menoleh. Mia melangkah mendekat dan memeluk Tara singkat.
“Walaupun sudah tak menjadi istri Devan lagi, kamu masih tetap boleh main ke rumah Mama dan Papa, Tara. Mama pasti akan senang jika kamu tetap menganggap Mama sebagai orang tuamu,” ucap Mia mengusap air matanya yang turun.
Tara mengangguk dan tersenyum sendu. “Terima kasih, Ma. Aku akan selalu mengingat kebaikan Mama dan Papa. Kalau ada waktu, aku akan main ke rumah Mama.”
Mia mengangguk dan menoleh pada Haris. “Maafin Devan, Ris. Dia membuat adikmu terluka selama tiga tahun. Mama harap kamu tak membenci Devan, Nak. Jika ingin benci, maka bencilah kami karena kami sebagai orang tua tak bisa mendidik Devan sebagai seorang pria sejati.”
Haris menggeleng. Melangkah mendekati Mia dan memeluknya singkat. “Aku nggak benci siapapun, Ma. Yang terpenting sekarang adalah kebahagiaan Tara.”
Mia mengangguk lega dan melangkah menuju mobilnya. Tara dan Haris saling pandang lalu masuk ke dalam mobil. Mobil Tara, hadiah dari Devan tiga tahun lalu yang sudah diperbaiki. Untunglah kecelakaan waktu itu tak membuat mobil Tara rusak parah sehingga masih bisa dipakai.
Sepanjang jalan, Tara hanya menatap jalanan lewat jendela mobilnya. Haris meliriknya dan mengembuskan napas pelan. Entah apa yang ada dalam pikiran Tara. Yang jelas Tara masih bersedih. Hatinya masih terluka. Hari ini tiba. Hari dimana Tara resmi menyandang status seorang janda.
Haris fokus mengemudi dan menatap jalan di depannya. Tara membutuhkan waktu sendiri untuk menyembuhkan lukanya. Entah sampai kapan, tapi Tara masih mempunyai banyak waktu. Dan Haris akan selalu ada untuk sang adik. Kali ini Haris akan lebih perhatian lagi pada adiknya.
***
“Bang, aku mau ke supermarket sebentar ya,” ucap Tara.
Haris yang sedang mengelap mobilnya, menoleh. “Mau Abang antar?”
“Nggak usah, Bang. Cuma sebentar kok.”
“Ya udah. Mau bawa mobil apa motor?”
“Motor aja, Bang. Aku ingin menikmati perjalanan bersama angin,” ucap Tara seraya tersenyum hangat.
Haris tersenyum dan mengangguk. “Hati-hati dan jangan melamun,” pesannya.
Tara mengangguk dan mencium punggung tangan Haris. Setelahnya Tara menyalakan motor dan melaju menuju jalan besar. Tara mengemudikan motornya dengan santai. Sesekali melihat awan yang ada di atas.
Cuaca cerah dan matahari bersinar cukup terik hari ini. Namun Tara tak merasa kulitnya terbakar karena panas matahari. Dia justru menikmati sepoi angin saat berkendara sambil terus tersenyum.
Hari ini adalah hari pertamanya dengan status baru yang sering menjadi cibiran warga dan para netizen. Janda muda.
Namun, Tara tak peduli. Yang terpenting sekarang dia bebas melakukan apapun. Walaupun luka di hatinya belum sembuh total, namun hidup terus berjalan kan? Dan Tara akan melanjutkan hidupnya. Biarlah luka itu sembuh dengan sendirinya.
Tara membelokkan motornya ke area parkir sebuah supermarket. Setelah memarkirkan motornya, Tara melangkah santai ke dalam supermarket.
Tak banyak pengunjung. Supermarket sedikit lengang. Mungkin karena cuaca di luar panas, jadi orang-orang malas untuk keluar rumah. Jadilah supermarket sepi. Tara bisa melangkah bebas. Dia menuju ke rak-rak yang menyediakan beberapa kebutuhan hidup. Tara mulai memilih dan memasukkannya ke dalam troli.
Saat sedang asyik memilih salah satu barang, tiba-tiba ada sebungkus coklat di depannya yang disodorkan oleh seseorang. Tara sontak menoleh dan terkejut.
“David?”
David tersenyum manis. “Hai.”
“Eh.. ngapain kamu di sini?” tanya Tara bingung.
Mengapa mereka bertemu di supermarket lagi seperti waktu itu?
David mendengus. “Pertanyaanmu selain itu nggak ada apa, Ra?”
Tara meringis. Iya juga. Ini kan supermarket. Tentu saja tujuan David kesini pasti untuk belanja, sama seperti dirinya.
“Sorry. Aku cuma terlalu kaget aja. Kenapa kita bisa ketemu lagi di supermarket yang sama seperti waktu itu,” ucap Tara.
David mengedikkan bahu. “Takdir mungkin. Ini coklat, nggak mau?” David masih menyodorkan sebungkus coklat di depan Tara.
“Kenapa tiba-tiba ngasih coklat?”
“Katanya coklat bisa memperbaiki mood. Bisa menghilangkan rasa sedih. Jadi, aku kasih ini ke kamu. Aku tahu kamu masih sedih walau bibirmu terus tersenyum,” ucap David tersenyum sendu.
Tara terdiam. Memandangi coklat yang masih ada di tangan David.
“Dulu, waktu kita masih pacaran, kamu ingat nggak? Kamu sedih, bahkan sampai nangis karena mendapat nilai kurang dari 7 di salah satu mata pelajaran. Padahal orang tua kamu, Abangmu, tak ada yang memaksamu untuk harus dapat nilai bagus di sekolah. Kamu lah yang menerapkan standarmu sendiri hingga akhirnya kamu susah sendiri. Dan aku, aku datang membawa coklat seperti ini. Setelah kamu memakannya, kamu langsung menatapku, tersenyum manis, bahkan memelukku. Padahal kita ada di area kantin yang ramai. Semua orang menyoraki kita, dan kamu tertawa malu,” kenang David seraya tersenyum.
Tara menatap David dan ikut tersenyum. Dia mengambil coklat itu dari tangan David. “Kamu bahkan masih ingat semuanya, Vid. Aku saja lupa.”
David tertawa. “Karena aku mencintaimu dengan sangat, Ra. Nggak ada bagian tentang kita yang aku lupakan.”
Tara menunduk, salah tingkah. Pipinya bersemu merah. Malu. Entah David ini sedang menggodanya atau berbicara jujur tentang hatinya. Yang jelas Tara merasa jantungnya berdebar. Perasaan yang pernah hilang, atau lebih tepatnya di kubur dalam-dalam, semudah itu David menguaknya kembali ke permukaan.
“Ehm… Aku harus segera pulang. Abang pasti udah cemas nungguin aku. Abangku itu, semakin kesini dia semakin over protective padaku. Aku menghilang sebentar saja, dia sudah panik bukan main. Padahal kan aku bukan anak balita lagi,” gerutu Tara menutupi sikap salah tingkahnya tadi.
David tertawa pelan. “Itu karena Abangmu nggak ingin kamu bersedih lagi. Abangmu takut jika kamu pergi lagi seperti saat kecelakaan itu. Dia terlihat sangat kecewa dan mungkin bersalah saat kamu memilih untuk menghubungiku ketimbang menghubungi Abangmu.”
Tara mengangguk, mengiyakan. Saat itu memang David yang ada dalam pikiran Tara. Devan tak akan bisa menemukannya jika dia bersama David.
“Benar. Tapi semua udah jadi masa lalu. Aku nggak akan pergi tanpa ijin Abang Haris lagi.”
David mengangguk. “Mungkin… aku pun akan melakukan hal yang sama.”
Tara mengernyit bingung. “Melakukan hal yang sama apa?”
David menatap Tara lekat. “Harus ijin dulu sama Abang Haris jika suatu saat nanti, mungkin.. aku akan membawa adiknya.”
Bersambung ….