Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.
Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~
Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.
Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.
Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.
Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.
Rana tahu.
Rana melihat.
Ia menyadari.
Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.
Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?
Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26
Selamat membaca
°°°°°
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pucuk 7
"Bunda..."
Suara kecil itu tiba-tiba terdengar dari arah ranjang.
Keduanya langsung membeku.
Refleks, Rana cepat-cepat menjauh, sementara Dipta langsung menegakkan tubuhnya, berdeham pelan, menggaruk kepalanya yang tidak gatal menandakan kalau mereka jelas sekali tertangkap basah.
Masayu sudah membuka mata almonnya, dan menatap kedua orang tuanya dengan wajah setengah bingung, setengah mengantuk.
Rambutnya agak berantakan, bibir mungilnya masih terlihat pucat.
"Ayah...agi apa?" tanyanya polos.
Suasana hening seketika.
Satu detik.
Dua detik.
Rana menoleh ke arah lain, jelas berusaha menyembunyikannya ekspresi yang entah kenapa tiba-tiba saja tersenyum.
Sementara itu Dipta, untuk kali pertamanya dalam waktu lama kehabisan jawaban.
"Ayah...ayah..." ia berdeham sekali lagi, lalu berusaha terdengar normal, "lagi...peluk bunda."
Masayu mengangguk pelan.
"Oh..."
Satu kata itu keluar begitu jelas.
Lalu dengan logika anak tiga tahun yang sederhana, ia menambahkan.
"Pelu.." ucapnya belum jelas seraya merentangkan kedua tangannya.
Rana melirik suaminya sebentar lalu menatap putrinya serta terkekeh pelan. Dan tanpa disadari, Dipta terlihat ikut tersenyum. Melihat kepolosan putri mereka.
Dipta menatap putrinya beberapa detik, memperhatikan betapa gemasnya anak itu. Hingga pada akhirnya ia menghela napas dan menyerah memilih menuruti kemauan Masayu.
"Ya sudah..." gumamnya.
Ia melepaskan istrinya, lalu gegas mendekati ranjang dan di susul oleh Rana. Hingga beberapa detik kemudian ketiganya berada dalam satu pelukan yang agak sempit dinatas ranjang rumah sakit.
~
Pelukan kecil itu belum sepenuhnya terlepas ketika suara getaran ponsel terdengar.
Bzzzt...bzzzt...
Suaranya memang tidak terlalu keras, tapi cukup untuk memecah kehangatan yang baru saja tercipta.
Dipta menghela napas pelan.
Dengan enggan, ia melepaskan pelukannya dari Rana dan Masayu, lalu berdiri tegak. Tangannya merogoh saku celana bahan yang rapi- potongan klasik, mahal dan selalu presisi. Layar ponselnya menyala.
Livia, sekretarisnya di kantor. Rana menoleh menatap suaminya yang mana rahang tegas itu mengeras sedikit, itulah yang di sukai oleh Rana sejak kali pertama bertemu.
Ia mengangkat pandangan sejenak ke arah ranjang, melihat Masayu yang kini bersandar kecil, dan Rana yang sudah berdiri di sampingnya sejak suara getaran ponsel terdengar.
"Aku harus mengangkatnya," ucapnya singkat, lebih seperti pemberitahuan daripada izin.
Rana tidak menjawab, hanya mengangguk kecil saja menatap suaminya.
Dipta melangkah sedikit menjauh, menjawab panggilan dengan suara rendah dan profesional. Nada bicaranya berubah- tegas, cepat, penuh kendali. Beberapa kalimat singkat, instruksi, lalu jeda dan keputusan.
Panggilan itu tidak sampai dua menit, ia mematikan sambungan lalu menatap putrinya dan istrinya.
"Mas harus balik ke kantor," katanya kemudian, ia berjalan mendekat lagi ke arah mereka.
Masayu kembali cemberut kecil.
"Cepat banget..." gumamnya dengan suara lirih, masih agak serak karena efek obat.
Dipta menatap putrinya, lalu tanpa ragu mengusap pelan rambut halus itu.
"Ayah kerja dulu..." jawabnya memberi pengertian dengan nada lebih lembut.
Masayu mengangguk pelan, seolah mengerti... meskipun jelas belum sepenuhnya rela.
Sementara itu, Rana sudah mengambil kantong makan siang dari atas nakas, lalu menyodorkannya ke arah Dipta.
"Ini buat kamu," ucapnya.
Dipta sedikit mengernyit. "Itu buat kamu."
"Aku bisa pesan lagi nanti," jawab Rana tenang. "Kamu dari tadi belum makan, kan?"
Hening sebentar.
Perkataan Rana barusan cukup sederhana, akan tetapi sangat hangat. Dipta menatapnya beberapa detik, lalu akhirnya menerima kantong itu.
"Ayah jangan lupa makan, ya."
Suara kecil itu muncul kembali.
Dipta menoleh.
Masayu menatapnya serius, terlalu serius untuk anak tiga tahun.
"Kalau Ndak makan nanti sakit uga," lanjutnya, logikanya sederhana, tapi nadanya seperti sedang menasehati orang dewasa.
Rana menahan senyum.
Sementara Dipta... sedikit terdiam.
Lalu, tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat tipis.
"Iya," jawabnya singkat. "Ayah makan."
Masayu mengangguk puas, seolah misi pentingnya sudah selesai.
Dipta menoleh dan menatap Rana yang terkekeh mendengar celotehan putrinya. Perempuan itu sudah biasa lagi, bahkan tawanya sudah terlihat seperti biasanya.
"Yasudah, kalau gitu ayah berangkat dulu." Ucap Dipta seraya melambaikan tangan kepada putrinya.
"Dadah ayah!" seru anak itu membalas lambaian tangan ayahnya.
Gegas Dipta berbalik, melangkah menuju pintu kamar rumah sakit. Pada saat tangannya sudah menggenggam knop pintu ia kembali menoleh menatap lekat istri dan anaknya, rasa ingin lebih lama itu muncul kembali.
"Ada apa?" tanya Rana.
Dipta menggeleng, "cepat pulang ke rumah. Mas Al nungguin kalina di rumah." Ujarnya.
Rana tersenyum, "mudah-mudahan nanti sore Ayu bisa pulang,"
"Kalau begitu, Mas pamit. Kalau ada apa-apa cepat hubungi Mas. Ayu, dadah!"
Dipta pun gegas membuka pintu, melangkah menjauh meninggalkan Rana dan Masayu di dalam ruangan tersebut.
...****************...
Bersambung...