Di atas karpet merah pertunangannya, Aeryn Valerine menyaksikan dunianya runtuh. Tunangannya berselingkuh dengan sang adik tiri, lengkap dengan rencana licik mencuri seluruh warisannya. Namun, Aeryn bukan wanita yang akan menangis di pojokan. Dengan gaun sutra yang memikat, ia melangkah tenang menghampiri Xavier Arkananta—sang CEO "Ice King" yang paling ditakuti.
"Nikahi aku, dan aku akan memberimu kekuasaan yang tak bisa dibeli uang," bisik Aeryn dingin.
Xavier menerima kesepakatan gila itu, tapi ia punya motif tersembunyi yang jauh lebih gelap. Saat dendam mulai terbalaskan secara elegan, Aeryn menyadari satu hal: Menikahi setan adalah cara terbaik untuk menghancurkan iblis. Tapi, bagaimana jika sang setan menginginkan lebih dari sekadar kontrak bisnis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puteri Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Mobil Rolls - Royce hitam milik Xavier berhenti tepat di depan pilar-pilar megah kediaman Valerine. Rumah itu, yang dulu di sebut Aeryn sebagai rumahnya, malam ini tampak seperti sarang ular yang bersolek. Lampu-lampu taman menyala benderang, namun suasananya terasa mencekam.
Xavier turun lebih dulu, lalu memutari mobil untuk membukakan pintu bagi Aeryn. Ia mengulurkan tangan. Aeryn menatap telapak tangan kokoh itu sejenak sebelum menyambutnya. Genggaman Xavier hangat, kontras dengan jemari Aeryn yang se dingin es.
"Jangan tunjukkan sedikit pun keraguan," bisik Xavier, suaranya hampir tak terdengar di tengah deru angin malam. "Kau bukan tamu di sini. Kau adalah ancaman."
Aeryn menarik napas dalam. "Aku tahu."
Mereka melangkah masuk. Di ruang tamu, Baskara Valerine—ayah Aeryn—sudah menunggu dengan senyum yang dipaksakan. Di sampingnya berdiri Bianca yang tampak puas, dan Kaelan yang berusaha keras menjaga wibawanya meski bayang-bayang kebangkrutan mulai menghantuinya.
"Ah, Xavier! Selamat datang. Suatu kehormatan bisa menjamu Arkananta di sini," Baskara melangkah maju, tangannya terulur ingin menjabat tangan Xavier.
Xavier hanya mengangguk tipis, tangannya tetap berada di saku tuksedo. Penolakan halus yang membuat suasana langsung menjadi canggung. "Mari kita langsung ke meja makan, Tuan Valerine. Saya tidak punya banyak waktu untuk basa-basi."
Baskara berdehem, wajahnya sedikit memerah. "Tentu, tentu. Silakan."
Meja makan kayu jati itu penuh dengan hidangan mewah. Namun, tak ada satu pun orang yang tampak bernafsu makan. Bianca duduk di seberang Aeryn, matanya berkilat penuh kebencian yang dibungkus senyum palsu.
"Aeryn, sayang," Bianca memulai, suaranya terdengar manis dan berbisa. "Aku terkejut kau berani datang setelah... yah, kejadian di butik kemarin. Media benar-benar kejam, ya? Semua orang membicarakan 'latar belakang' itu."
Aeryn meletakkan serbet di pangkuannya dengan gerakan sangat pelan. "Media hanya membicarakan apa yang diberikan oleh orang yang putus asa, Bianca. Sayangnya, keputusasaan sering membuat orang melakukan kesalahan konyol. Seperti pemalsuan dokumen."
Kaelan tersedak minumannya. "Pemalsuan? Apa maksudmu?"
"Aku sudah melakukan audit forensik terhadap laboratorium yang mengeluarkan hasil DNA itu, Kaelan," suara Xavier memotong, dingin dan tajam. "Laboratorium itu sekarang sedang dalam pengawasan pihak berwajib atas tuduhan suap. Kau ingin menjelaskan dari mana aliran dana dua miliar ke rekening pemilik lab itu berasal?"
Keheningan seketika menyelimuti ruangan. Baskara menatap Kaelan dengan tatapan bertanya, sementara Bianca mulai meremas serbetnya.
"Xavier, ini pasti salah paham—" Baskara mencoba menengahi.
"Bukan salah paham, Papa," Aeryn memotong dengan tenang. Ia mengeluarkan sebuah tablet dari tasnya dan meletakkannya di tengah meja. Layar itu menampilkan rincian transaksi perbankan. "Tapi ini jauh lebih menarik. Bianca, kau menggunakan dana operasional Valerine Jewels sebesar lima miliar rupiah bulan lalu. Tanpa persetujuan dewan direksi."
Wajah Bianca pucat pasi. "Itu... itu untuk riset pasar!"
"Riset pasar di kasino Makau?" Aeryn menaikkan alisnya. "Atau lebih tepatnya, untuk menutupi utang judi Kaelan agar dia tidak didepak dari posisi direksi di perusahaannya sendiri? Kau mencuri uang perusahaan kita hanya untuk menyelamatkan pria yang bahkan tidak bisa menjaga kesetiaannya padamu."
Baskara berdiri dengan kasar. "Bianca! Apa ini benar?"
"Papa, Aeryn berbohong! Dia hanya ingin membalas dendam!" teriak Bianca panik.
"Data tidak pernah berbohong, Bianca," sahut Aeryn. Ia menyesap segelas air putih yang ada di depannya untuk membasahi tenggorokannya yang mulai terasa kering. "Malam ini, aku membawa dokumen ini bukan hanya untuk menunjukkan siapa pencuri sebenarnya, tapi untuk memberimu pilihan. Kembalikan uang itu dalam dua puluh empat jam, atau aku akan membawa kasus ini ke jalur hukum atas nama pemegang saham terbesar."
"Kau bukan pemegang saham lagi!" Kaelan menggebrak meja. "Om Baskara sudah menandatangani surat penghapusan hak warismu!"
Xavier mendengus sinis. "Surat yang tidak sah secara hukum karena didasarkan pada informasi palsu. Coba saja kau ajukan ke pengadilan, Kaelan. Aku akan memastikan kau membusuk di penjara sebelum sidang pertama dimulai."
Aeryn merasa kepalanya sedikit berdenyut. Ia merasa telah menang. Wajah-wajah di hadapannya tampak hancur. Bianca menangis sesenggukan, Kaelan mematung, dan Baskara tampak kehilangan arah.
Namun, sesuatu terasa aneh.
Detak jantung Aeryn mulai berpacu tidak beraturan. Udara di ruangan itu mendadak terasa sangat tipis. Ia mencoba mengambil napas dalam-dalam, namun tenggorokannya terasa menyempit.
"Aeryn? Kau baik-baik saja?" tanya Xavier, suaranya mendadak berubah waspada.
Aeryn mencoba menjawab, namun suaranya hanya keluar sebagai bisikan parau. Penglihatannya mulai kabur. Lampu-lampu kristal di atas meja seolah berputar dan menyatu. Ia menunduk, menatap gelas air putihnya yang kini sudah kosong setengah.
Di seberang meja, melalui kabut yang menutupi matanya, Aeryn melihat Bianca. Tangisannya sudah berhenti. Wanita itu menatap Aeryn dengan senyum miring yang mengerikan—senyum seorang pemenang yang menyembunyikan kartu terakhir.
Bunga lili.
Aeryn tiba-tiba teringat aroma yang samar saat ia pertama kali duduk tadi. Bukan aroma bunga di vas, tapi aroma ekstrak konsentrat yang sangat kuat. Bianca tahu Aeryn memiliki alergi parah terhadap serbuk sari lili jenis tertentu yang bisa menyebabkan syok anafilaksis.
"Xavier..." Aeryn meraih lengan Xavier, jemarinya mencengkeram kain tuksedo pria itu dengan sisa-sisa kekuatannya.
"Aeryn!" Xavier menangkap tubuh Aeryn yang mulai lunglai. "Apa yang kalian lakukan?!"
"Dia mungkin hanya terlalu stres karena skandalnya sendiri," ucap Bianca dengan nada dingin yang di buat-buat.
Aeryn tidak bisa lagi mendengar suara mereka dengan jelas. Kesadarannya mulai meredup. Hal terakhir yang ia rasakan adalah dekapan hangat dari lengan Xavier dan aroma maskulin yang kini terasa seperti satu-satunya jangkar yang menjaganya agar tidak tenggelam.
Tubuh Aeryn terkulai sepenuhnya. Kepalanya jatuh di bahu Xavier, wajahnya yang cantik kini pucat pasi dengan keringat dingin yang membanjiri dahi.
Xavier mengangkat tubuh Aeryn dalam satu gerakan mantap, memeluknya dengan sangat posesif. Untuk pertama kalinya, topeng ketenangan "The Ice King" retak sepenuhnya. Matanya berkilat dengan kemarahan yang begitu murni dan mematikan—jenis kemarahan yang sanggup membakar siapa pun yang ada di depannya.
Ia menatap Baskara, Kaelan, dan Bianca satu per satu dengan tatapan yang seolah menjanjikan kematian.
"Jika terjadi sesuatu pada istriku," suara Xavier rendah, bergetar karena amarah yang tertahan, "aku bersumpah, bukan hanya perusahaan kalian yang akan hancur. Aku akan memastikan kalian bertiga tidak akan pernah melihat matahari besok pagi."
Tanpa menunggu jawaban, Xavier melangkah lebar keluar dari rumah itu, meninggalkan keluarga Valerine yang terpaku dalam ketakutan yang luar biasa. Malam itu, perjamuan telah berakhir, dan perang yang sesungguhnya baru saja di mulai.