NovelToon NovelToon
Teror Maut Di Pabrik Karet

Teror Maut Di Pabrik Karet

Status: sedang berlangsung
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Hantu / Horor
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: UncleHoon

Bambang, pengangguran yang jadi bulan-bulanan tetangganya, nekat tanda tangan kontrak satpam di pabrik karet Kalimantan. Gaji lima belas juta. Kamar mewah. Tapi denda lima ratus juta jika berhenti sebelum setahun. Malam pertama ia dengar suara karet diregangkan dari gudang produksi.

Malam kedua ia lihat bayangan tanpa tubuh di dinding pos satpam. Malam ketiga ia sadar: pabrik ini tak pernah menghasilkan karet. Yang keluar dari gerbang setiap subuh adalah sesuatu yang meniru wajah manusia. Dan kontrak yang ia tanda tangan bukan kontrak kerja. Tapi daftar korban berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UncleHoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Kabur

Bambang tidak bisa tidur malam itu. Setiap kali dia memejamkan mata, yang muncul adalah bayangan Joni yang duduk di lantai kamar mandi dengan pakaian basah, menunjuk ke cermin dan berkata ada orang lain di sana. Kemudian bayangan itu berganti dengan bayangan Ucok yang berbisik tentang rencana kabur, tentang hutan, tentang mati sebagai manusia. Lalu bayangan itu berganti dengan bayangan Ibu, yang tersenyum di dapur dengan air mata di pelupuk matanya, melepaskan kepergian Bambang ke tempat yang tidak pernah dia duga akan seburuk ini.

Duduk di ranjang, Bambang menatap ponselnya. Layar retak itu gelap. Tidak ada sinyal. Tidak ada tanda bahwa dunia luar masih ada. Sejak tiba di pabrik ini, ponselnya hanya berfungsi sebagai jam dinding dan sesekali senter darurat. Tidak ada panggilan keluar. Tidak ada SMS masuk. Seolah-olah pabrik ini adalah pulau terpencil yang terputus dari peradaban.

Dia meletakkan ponselnya di samping bantal. Tangannya meraba buku harian Dul yang masih terselip di saku celananya. Buku itu sudah dia baca berkali-kali. Setiap kata sudah dia hafal di luar kepala. Tapi dia tetap membacanya lagi, mencari sesuatu yang mungkin terlewat, satu petunjuk kecil yang bisa menyelamatkan mereka semua.

Halaman terakhir. Gambar kolam. Tulisan kecil. Darah.

Bambang menghela napas. Ucok bilang Agus sudah mencoba darah. Agus berhasil melukai satu makhluk, tapi makhluk-makhluk lain menyerang balik dan Agus tewas. Itu artinya darah memang ampuh, tapi tidak cukup untuk melawan kawanan. Mereka butuh lebih dari sekadar darah setetes dua tetes. Mereka butuh banyak darah. Cukup banyak untuk meracuni kolam induk.

Tapi dari mana? Darah siapa?

Bambang memejamkan mata. Pikirannya berputar. Jika dia bisa mengalirkan banyak darah ke kolam itu, mungkin kolamnya akan mati. Tapi berapa banyak darah yang dibutuhkan? Satu liter? Dua liter? Sepuluh liter? Dan dari mana dia bisa mendapatkan darah sebanyak itu tanpa mati kehabisan darah?

Tidak mungkin dari dirinya sendiri. Atau dari Ucok. Atau dari Herman. Atau dari Joni yang sudah sekarat. Mereka hanya berempat. Darah mereka mungkin tidak cukup.

Tapi bagaimana dengan darah orang lain? Dua belas korban sebelumnya? Mereka sudah berubah menjadi makhluk. Darah mereka bukan lagi darah manusia. Tidak akan berpengaruh.

Bambang membuka mata. Kepalanya pusing. Pikiran ini tidak membawanya ke mana-mana. Mungkin lebih baik fokus pada rencana kabur dulu. Selamat dulu dari tempat ini. Berpikir nanti setelah aman.

Jam menunjukkan pukul tiga pagi. Di luar, angin bertiup kencang. Daun-daun kering berterbangan di halaman. Suara dari arah hutan terdengar lebih keras dari biasanya. Seperti ada banyak makhluk yang bergerak di antara pepohonan. Seperti mereka tahu ada sesuatu yang akan terjadi.

Bambang menggigil. Bukan karena dingin. Tapi karena firasat buruk yang tidak bisa dia jelaskan.

Pagi harinya, Bambang bangun dengan tubuh yang terasa seperti ditumbuk. Kurang tidur. Kurang makan. Kurang segalanya. Dia berjalan ke kamar mandi dan membasuh wajahnya dengan air keruh yang dingin. Di cermin, dia melihat wajah yang semakin asing. Lingkar hitam di bawah matanya semakin tebal. Kulitnya pucat. Bibirnya pecah-pecah. Matanya sayu.

Apakah ini yang dimaksud Ucok dengan perubahan perlahan? Apakah Bambang juga mulai berubah tanpa sadar?

Dia menampar pipinya sendiri. Keras. Sampai terasa perih. Aku masih manusia, katanya pada diri sendiri. Aku masih ingat nama Ibu. Aku masih ingat nama Bapak. Aku masih ingat rumah kontrakan di gang sempit. Aku masih manusia.

Dari kamar mandi, Bambang berjalan ke ruang tamu. Joni sudah bangun. Duduk di sofa dengan selimut melingkar di bahunya. Matanya menatap TV yang tidak menyala. Bibirnya bergerak-gerak, tapi tidak ada suara.

"Jon," panggil Bambang.

Joni menoleh. Matanya kosong beberapa detik, lalu berkedip, lalu sorotnya kembali seperti sadar. "Eh, Bang. Pagi."

"Kamu makan belum?"

"Belum. Nggak laper."

"Kamu harus makan. Biar kuat."

Joni tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. "Buat apa kuat, Bang? Buat bertahan lebih lama di sini? Buat makin lama menderita?"

Bambang duduk di samping Joni. "Buat pulang, Jon. Buat ketemu keluarga kamu."

Joni tertawa kecil. Tertawa yang pahit. "Gue bahkan nggak ingat wajah nyokap gue, Bang. Gue nggak ingat nama bokap gue. Gue cuma ingat... gue punya keluarga. Tapi gue nggak tahu siapa mereka."

"Tapi kamu masih ingat kamu punya keluarga. Itu artinya kamu masih ingat siapa kamu."

Joni menatap Bambang dengan mata basah. "Bang, gue takut."

"Takut apa?"

"Gue takut besok pagi gue bangun dan gue nggak ingat apa-apa. Gue takut gue berdiri di tepi hutan dan gue nggak tahu kenapa gue di sana. Gue takut gue berubah jadi... itu."

Bambang menggenggam bahu Joni. "Nggak akan terjadi, Jon. Kita akan selamatkan kamu."

"Gimana caranya?"

Bambang ragu. Haruskah dia cerita tentang rencana kabur? Ucok bilang jangan bilang siapa-siapa. Tapi Joni adalah teman mereka. Joni berhak tahu.

"Kita akan kabur," bisik Bambang. "Malam ini. Lewat hutan belakang. Cari jalan ke desa. Cari pertolongan."

Joni terkejut. Matanya membelalak. "Kabur? Tapi kontrak? Denda?"

"Lebih baik bayar denda daripada mati di sini."

"Tapi keluarga..."

"Aku tidak tahu, Jon. Tapi kalau kita mati di sini, keluarga kita juga tidak akan selamat. Setidaknya kalau kita kabur, kita masih punya kesempatan."

Joni terdiam. Matanya berpikir. Tangannya yang memegang selimut gemetar.

"Gue ikut," kata Joni akhirnya.

"Kamu tidak bisa. Kamu terlalu lemah. Kamu hanya akan memperlambat kami."

"Gue nggak mau ditinggal, Bang. Gue nggak mau mati sendirian di sini."

"Kamu tidak akan mati. Kita akan kembali untuk kamu. Setelah kita dapat bantuan, kita akan kembali."

Joni menggeleng. Air matanya jatuh. "Kamu nggak akan kembali, Bang. Nggak ada yang pernah kembali."

Bambang tidak bisa menjawab. Karena Joni benar. Mungkin dia tidak akan kembali. Mungkin dia hanya berkata-kata manis untuk menenangkan Joni. Tapi dia tidak punya pilihan. Dia harus memikirkan yang hidup. Joni sudah hampir habis. Ucok masih kuat. Herman masih kuat. Bambang masih kuat. Mereka bertiga yang harus selamat.

"Jon, maafkan aku."

Bambang berdiri dan berjalan meninggalkan Joni. Dari belakang, dia mendengar Joni menangis. Tangis yang tertahan. Tangis orang yang tahu bahwa ini mungkin perpisahan terakhir.

Dia menemui Ucok di belakang blok satpam. Ucok sedang duduk di drum kosong, merokok seperti biasa. Matanya menatap ke arah hutan. Pemandangan yang sama setiap hari. Seperti Ucok sedang mengawasi sesuatu. Atau seperti Ucok sedang menunggu sesuatu.

"Ucok, aku sudah bilang ke Joni."

Ucok menoleh cepat. Matanya tajam. "Apa? Aku sudah bilang jangan bilang siapa-siapa."

"Joni berhak tahu. Dia teman kita."

"Dia juga mulut. Dia bisa cerita ke Herman. Kalau Herman tahu, Herman akan cegah kita. Herman takut. Herman sudah jadi budak perusahaan."

"Joni tidak akan cerita."

"Kamu yakin?"

"Aku yakin."

Ucok membuang rokoknya dan menginjaknya. Dia berdiri dan mendekati Bambang. Tingginya hampir satu kepala di atas Bambang. Badannya besar. Wajahnya menyeramkan. Tapi matanya... matanya penuh ketakutan.

"Kamu tahu kenapa aku masih hidup lima tahun di sini?" tanya Ucok.

"Karena kamu kuat."

"Bukan. Karena aku tidak pernah percaya siapa pun. Tidak pernah. Setiap orang di sini bisa jadi mata-mata perusahaan. Setiap orang di sini bisa jadi pengkhianat. Termasuk Joni. Termasuk Herman. Termasuk kamu.

"Aku bukan pengkhianat."

"Belum tentu. Kamu sendiri mungkin tidak sadar kalau kamu sudah dimasuki mereka. Mereka bisa bisikkan apa saja ke pikiran kamu. Termasuk dorongan untuk mengkhianati kami."

Bambang terdiam. Ucok punya poin. Kalimat tentang darah yang muncul di kepalanya entah dari mana bisa jadi adalah bisikan makhluk. Bisa jadi makhluk-makhluk itu ingin Bambang mendekati kolam. Ingin Bambang jadi korban berikutnya.

"Jadi kita tetap kabur malam ini?" tanya Bambang.

"Iya. Jam dua belas malam. Herman mulai shift. Kita bilang kita mau tidur. Tapi kita kumpul di sini. Lewat hutan belakang. Jangan bawa senter. Jangan bawa apa pun yang bisa memantulkan cahaya. Mereka tertarik pada cahaya."

"Bawa pisau?"

"Bawa. Untuk berjaga-jaga. Tapi ingat, pisau tidak akan melukai mereka. Hanya darah yang bisa. Jadi kalau terdesak, sayat tangan kamu. Percikkan darah ke arah mereka. Tapi jangan terlalu banyak. Kamu butuh darah untuk lari."

Bambang mengangguk. "Baik."

"Sekarang istirahat. Jangan makan banyak. Perut kenyang bikin kamu lambat. Minum air secukupnya. Dan jangan tidur. Kita berangkat jam dua belas malam tepat."

Ucok berbalik dan berjalan ke kamarnya. Bambang berdiri sendirian di belakang blok satpam, menatap ke arah hutan. Pepohonan lebat itu sekarang terlihat seperti mulut raksasa yang siap menelannya. Tapi di balik mulut itu, ada kebebasan. Atau setidaknya ada kematian yang lebih terhormat.

Dia kembali ke kamarnya dan berbaring. Dia tidak bisa tidur. Pikirannya terlalu sibuk. Tapi dia memejamkan mata, mencoba menghemat energi. Tubuhnya butuh istirahat meskipun pikirannya tidak mau diam.

Jam menunjukkan pukul sebelas malam ketika Bambang membuka mata. Dia tidak sadar sudah tertidur. Tapi tubuhnya terasa sedikit lebih segar. Mungkin tidur meskipun hanya sebentar.

Dia duduk di ranjang dan memeriksa persiapannya. Pisau dapur kecil yang dia ambil dari kantin sore tadi. Dia selipkan di ikat pinggang belakang, tertutup bajunya. Air minum dalam botol plastik bekas. Dia taruh di saku jaket. Jaket tebal untuk melindungi dari dingin dan ranting-ranting di hutan.

Dia keluar dari kamar. Lorong gelap. Lampu-lampu redup sudah mati beberapa. Hanya satu lampu di ujung lorong yang masih menyala, berkedip-kedip seperti akan mati kapan saja.

Dia berjalan ke ruang tamu. Kosong. Sofa tempat Joni biasa tidur kosong. Selimutnya terlipat rapi di atas sandaran sofa. Itu aneh. Joni tidak pernah melipat selimutnya.

Bambang berjalan ke kamar Joni. Pintu terbuka sedikit. Dia mendorongnya perlahan.

Kamar kosong.

Ranjang Joni kosong. Seprai berantakan. Seperti Joni bangun terburu-buru. Atau seperti Joni ditarik paksa dari tidurnya.

Bambang merasakan dadanya sesak. "Joni?" panggilnya pelan.

Tidak ada jawaban.

Dia keluar dari kamar Joni dan berjalan ke kamar Ucok. Pintu terkunci. Dia mengetuk.

"Ucok, Joni hilang."

Pintu terbuka. Ucok berdiri dengan jaket tebal dan pisau besar di pinggangnya. Wajahnya tegang.

"Apa maksudnya hilang?"

"Kamar kosong. Selimut terlipat di sofa. Tidak ada di mana-mana."

Ucok menggerutu. "Aku sudah bilang jangan percaya siapa pun. Joni mungkin pergi ke Herman. Cerita semuanya."

"Joni tidak mungkin."

"Kamu tidak kenal Joni. Joni bisa apa saja untuk selamat. Joni sudah hampir habis. Orang yang hampir habis tidak punya logika. Yang mereka punya hanya naluri bertahan hidup. Dan naluri itu bisa membuat mereka melakukan apa saja, termasuk mengkhianati kita."

"Kita harus cari dia."

"Tidak ada waktu. Jam hampir dua belas. Herman akan segera ke pos satpam. Kita harus pergi sekarang."

"Tapi Joni..."

"Joni sudah tidak bisa diselamatkan. Maaf. Tapi itu kenyataan."

Ucok berjalan melewati Bambang menuju pintu belakang blok satpam. Bambang mengikutinya dengan langkah berat. Hatinya sakit meninggalkan Joni. Tapi Ucok benar. Tidak ada waktu.

Mereka keluar melalui pintu belakang. Halaman gelap. Rumput-rumput tinggi basah karena embun. Langit tidak ada bulan. Bintang-bintang tertutup awan. Hanya kegelapan di mana-mana.

Mereka berjalan menuju pagar belakang. Hutan hanya berjarak seratus meter dari pagar. Tapi seratus meter itu terasa seperti seratus kilometer.

"Kita panjat pagar di sini," bisik Ucok. "Ikuti aku. Jangan bicara. Jangan buat suara."

Ucok memanjat pagar besi dengan gerakan cepat meskipun badannya besar. Bambang mengikutinya. Tangannya terasa sakit memegang besi pagar yang dingin dan sedikit berkarat. Tapi dia terus memanjat. Begitu sampai di atas, dia melihat ke bawah. Di sisi lain pagar, tanah hutan menunggu. Gelap. Lembab. Bau tanah dan daun busuk menyengat.

Mereka berdua melompat turun. Kaki Bambang mendarat di tanah yang lunak. Dia hampir terjatuh, tapi berpegangan pada pagar.

"Pergi dari pagar," bisik Ucok. "Jangan terlalu dekat. Mereka bisa muncul dari mana saja."

Mereka berjalan ke dalam hutan. Perlahan. Setiap langkah terasa berat. Ranting-ranting kering patah di bawah sepatu mereka. Suara itu terdengar seperti teriakan di dalam kesunyian malam.

"Jangan injak ranting," bisik Ucok. "Angkat kaki lebih tinggi."

Bambang mengikuti. Dia mengangkat kakinya lebih tinggi, melewati ranting-ranting, mendarat di tanah yang lebih lunak. Suara langkah mereka sekarang hampir tidak terdengar.

Mereka berjalan sekitar lima belas menit ketika Bambang mendengar sesuatu. Suara dari belakang. Suara seperti karet diregangkan. Cepat. Mendekat.

"Ucok," bisik Bambang. "Dia datang."

Ucok menoleh. Matanya tajam menatap ke arah suara. "Jangan berhenti. Terus jalan. Cepat."

Mereka mempercepat langkah. Kaki Bambang mulai terasa lelah. Tanah hutan tidak rata. Akar-akar pohon menjulang di mana-mana, siap menjatuhkannya kapan saja.

Suara di belakang semakin dekat.

Bambang menoleh sekilas. Di antara pepohonan, dia melihat bayangan. Hitam. Tinggi. Bergerak cepat. Lebih cepat dari mereka.

"Ucok, dia hampir sampai!"

"Lari!" teriak Ucok.

Mereka berlari. Bambang tidak peduli lagi dengan ranting-ranting kering. Tidak peduli dengan suara yang bisa menarik perhatian makhluk lain. Yang dia peduli hanya satu. Jauh. Sejauh mungkin dari bayangan hitam itu.

Tapi bayangan itu terlalu cepat.

Dalam hitungan detik, bayangan itu sudah di depan mereka. Berdiri di tengah jalan setapak. Menghadang.

Tinggi. Lengan panjang. Hitam seperti karet. Wajahnya... wajahnya samar-samar mirip seseorang yang Bambang kenal.

Dul.

Itu Dul. Atau apa pun yang tersisa dari Dul.

Makhluk itu membuka mulutnya. Tidak ada suara. Hanya kegelapan. Hanya kekosongan.

"Ucok, ini Dul!"

"Aku tahu. Mundur pelan. Jangan berlari. Jangan buat gerakan mendadak."

Mereka mundur perlahan. Makhluk itu tidak bergerak. Hanya berdiri di sana, menatap mereka dengan mata kosong.

Lalu makhluk itu tersenyum.

Senyum yang sama seperti di monitor. Lebar. Mengerikan. Mulut yang tidak seharusnya ada di wajah yang tidak seharusnya ada.

Dan di belakang makhluk itu, dari balik pepohonan, bayangan-bayangan lain mulai muncul. Satu. Dua. Tiga. Banyak.

Mereka datang.

Bambang meraih pisau di ikat pinggangnya. Tangannya gemetar. Darah. Satu-satunya senjata.

Ucok melakukan hal yang sama. Pisau besar di tangannya.

"Kalau mereka maju, kita sayat tangan kita," bisik Ucok. "Percikkan darah ke arah mereka. Jangan sampai mereka menyentuh kita."

Makhluk-makhluk itu mulai bergerak. Mendekat. Perlahan. Seperti kucing yang mengelilingi mangsanya sebelum menerkam.

Bambang mengangkat pisau ke telapak tangannya. Siap menyayat kapan saja.

Tapi sebelum dia sempat melukai dirinya sendiri, terdengar suara dari kejauhan.

Suara teriakan.

Suara manusia.

"JONI!"

Itu suara Herman.

Makhluk-makhluk itu berhenti. Mereka menoleh ke arah suara. Seperti ada sesuatu yang lebih menarik di sana.

Dan di antara makhluk-makhluk itu, Bambang melihat sesuatu yang membuat jantungnya berhenti berdetak.

Joni.

Joni berdiri di antara mereka. Matanya kosong. Kulitnya mulai menghitam. Senyum yang sama. Senyum makhluk.

Joni sudah berubah.

Tapi di matanya yang kosong itu, untuk sesaat, Bambang melihat kilasan kesadaran. Joni masih ada di sana. Terperangkap di dalam tubuh yang sedang berubah.

Mulut Joni bergerak. Tanpa suara. Tapi Bambang bisa membaca gerak bibirnya.

"Maaf."

Kemudian Joni berbalik. Bersama makhluk-makhluk lain, dia berjalan menjauh. Menuju suara Herman. Menuju korban berikutnya.

Bambang ingin berteriak. Ingin berlari mengejar Joni. Ingin menyelamatkannya.

Tapi Ucok menarik tangannya. "Cepat. Sekarang. Lari sebelum mereka kembali."

Mereka berlari. Berlari sekencang mungkin. Ranting-ranting mencambuk wajah Bambang. Akar-akar pohon membuatnya tersandung berkali-kali. Tapi dia terus berlari. Tidak menoleh ke belakang.

Di belakang mereka, terdengar suara Herman berteriak. Kemudian diam. Tiba-tiba. Seperti suara itu dipotong oleh sesuatu.

Bambang tidak mau memikirkan apa yang terjadi pada Herman.

Yang dia pikirkan hanya satu. Lari. Selamatkan dirinya sendiri.

Karena sekarang, dia dan Ucok sendirian di hutan. Dikepung oleh makhluk-makhluk di setiap sudut. Jauh dari pabrik. Jauh dari keselamatan.

Dan di depan mereka, hanya ada kegelapan.

1
Mega Arum
semoga segare terpecahkan misteri apa sbnrnya yg ada di pabrik karet,
Mega Arum
lanjut kak...
Astuti Puspitasari
jangan lupa sholat nak 👍
Astuti Puspitasari
Hati2 mbang, kamu hanyalah anak yang ingin berbakti/Whimper/
Mega Arum
sereem
Mega Arum
mampir thor.. semoga cerita nya bagus
Ma Vin
seru,,,, bikin deg_deg'n tpi pnasaran
Seindah Senja
lanjut Thor,ceritanya seruu bangeet,😍ikut deg² kan bacanya😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!