NovelToon NovelToon
Sang Kaisar Abadi Yang Terlahir Kembali

Sang Kaisar Abadi Yang Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Seorang Kaisar Abadi yang berkuasa dan ditakuti di seluruh alam semesta dikhianati dan dibunuh oleh orang-orang terdekatnya. Namun, alih-alih jiwanya hancur, ia terbangun kembali sebagai seorang pemuda tak berguna di sebuah klan kecil yang hampir punah, ribuan tahun di masa depan. Dengan semua ingatan dan pengetahuannya yang luas dari kehidupan sebelumnya, ia memulai kembali perjalanan kultivasinya. Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Panggilan dari Menara Hitam

Panas dari liontin di dada Arga menjalar ke seluruh tubuhnya, membakar sisa-sisa kelumpuhan yang disebabkan oleh cahaya liontin bintang. Benang Emas di Dantian-nya berdenyut liar, merespons panggilan yang berasal dari menara batu hitam di kejauhan. Panggilan yang tidak bisa didengar oleh telinga biasa, tapi menggetarkan setiap serat jiwanya.

Tetua Abu masih berdiri dengan liontin bintang terangkat tinggi, cahaya keemasannya mendominasi lembah. Darmaji dan Sinta membeku di tempat, tubuh mereka kaku seperti patung. Hanya Arga yang bisa bergerak—perlahan, sangat perlahan, tapi pasti.

"Menarik." Tetua Abu menatapnya dengan mata menyipit. "Kau masih bisa bergerak. Darah Penjaga dalam dirimu lebih kuat dari yang kukira."

Arga tidak menjawab. Ia fokus pada panggilan dari menara. Suara itu bukan suara dalam arti sebenarnya—lebih seperti tarikan naluriah, seperti anak burung yang tahu persis ke mana harus terbang meski belum pernah melihat sarangnya. Liontin lingkaran di dadanya dan liontin bulan sabit di kotak logam Darmaji bergetar dengan frekuensi yang sama, menciptakan harmoni yang hanya bisa ia rasakan.

"Menara itu memanggilmu." Tetua Abu mengikuti arah pandangan Arga. "Aku juga merasakannya. Tapi aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Hanya keturunan Penjaga yang bisa." Ia menurunkan liontin bintangnya sedikit. "Apa yang dikatakannya?"

Arga tetap diam. Ia menutup mata dan membiarkan panggilan itu mengalir ke dalam dirinya.

"Datanglah..."

Suara itu. Bukan suara pria atau wanita. Suara yang seolah berasal dari masa lalu dan masa depan sekaligus.

"Datanglah, darah Penjaga. Bawa dua saudaranya. Satukan kami..."

Arga membuka matanya. "Menara itu ingin ketiga liontin disatukan."

Tetua Abu tersenyum lebar. "Persis seperti yang kuduga. Menara itu adalah kunci sebenarnya. Bukan gerbang di belakang kita." Ia menatap menara hitam dengan mata berkilat. "Di sanalah gerbang ke Langit Kesepuluh berada. Tersembunyi di dalam menara."

"Kau tidak akan bisa membukanya sendiri," kata Arga. "Menara itu hanya merespons darah Penjaga. Tanpaku, liontinmu tidak berguna."

"Benar. Itu sebabnya kau akan membantuku."

"Aku tidak akan—"

"Kau akan." Tetua Abu memotongnya. "Karena kalau tidak, dua temanmu ini akan mati." Ia menggerakkan jarinya, dan Sinta tiba-tiba terangkat ke udara, tubuhnya masih kaku. Wajahnya yang biasanya datar kini menunjukkan ketakutan yang tidak bisa ia sembunyikan.

"Lepaskan dia!" Arga mengepalkan tangannya.

"Buka menara itu untukku. Satukan ketiga liontin. Buka gerbang ke Langit Kesepuluh. Maka aku akan melepaskan mereka."

Arga menatap Sinta yang menggantung di udara, lalu Darmaji yang membeku dengan ekspresi marah. Dua orang yang—meski awalnya hanya rekan karena kepentingan bersama—kini telah menjadi lebih dari itu. Mereka telah bertarung bersamanya. Melindunginya. Memberinya tempat berlindung.

Sebagai Kaisar Langit, aku akan mengorbankan mereka tanpa berpikir dua kali. Kenangan lama berkelebat. Tapi sekarang...

"Baiklah." Suaranya berat. "Aku akan membuka menara itu."

Tetua Abu tersenyum puas. Ia menurunkan Sinta perlahan ke tanah, meski tidak melepaskan kelumpuhannya. "Pilihan bijak."

Arga mulai berjalan menuju menara. Setiap langkahnya terasa berat, bukan karena kelumpuhan, tapi karena beratnya keputusan yang ia ambil. Ia tahu membuka gerbang ke Langit Kesepuluh adalah bahaya besar. Tapi ia juga tahu bahwa di dalam menara itu, mungkin ada jawaban. Jawaban tentang siapa dirinya. Tentang ibunya. Tentang Pemangsa Langit.

Dan mungkin... cara untuk menghentikan Tetua Abu.

Menara batu hitam itu semakin dekat. Semakin ia mendekat, semakin kuat panggilannya. Liontin di dadanya kini berpendar terang, cahaya ungunya menembus bajunya. Di belakangnya, Tetua Abu mengikuti dengan liontin bintang di tangan, sementara Darmaji dan Sinta—masih kaku—melayang di udara, dibawa oleh kekuatan entah apa.

Mereka tiba di kaki menara. Di sana, di dasar menara, ada sebuah pintu batu tanpa gagang. Di atasnya, tiga ceruk: satu berbentuk lingkaran, satu berbentuk bulan sabit, satu berbentuk bintang.

"Letakkan liontinnya," perintah Tetua Abu.

Arga menatapnya. "Lepaskan kelumpuhan mereka dulu. Setidaknya biarkan mereka berdiri sendiri."

Tetua Abu menimbang sejenak, lalu mengangguk. Ia menggerakkan tangannya, dan Darmaji serta Sinta mendarat di tanah. Mereka masih kaku, tapi setidaknya bisa berdiri.

"Puas?"

Arga tidak menjawab. Ia merogoh balik bajunya dan mengeluarkan liontin lingkaran. Lalu ia menoleh ke Darmaji. "Liontin bulan sabit."

Darmaji, meski kaku, bisa menggerakkan matanya. Ada pertanyaan di sana—"Kau yakin?" Arga mengangguk pelan.

Darmaji menghela napas—gerakan kecil yang nyaris tak terlihat—dan dari sakunya, kotak logam hitam melayang keluar, dikendalikan oleh energi tipis yang masih bisa ia kerahkan. Kotak itu terbuka, memperlihatkan liontin bulan sabit.

Tetua Abu tersenyum lebar. "Bagus. Sekarang, letakkan di ceruknya."

Arga mengambil liontin bulan sabit dan melangkah ke pintu batu. Ia meletakkan liontin lingkaran di ceruk kiri, lalu liontin bulan sabit di ceruk tengah. Tetua Abu melangkah maju dan meletakkan liontin bintang di ceruk kanan.

Ketiganya berpendar bersamaan.

BRRRRRRR...

Menara berguncang. Pintu batu mulai bergeser terbuka, memperlihatkan tangga spiral yang menjulang ke atas, ke dalam kegelapan.

Panggilan dari dalam menara kini terdengar lebih jelas dari sebelumnya.

"Masuklah, darah Penjaga. Nasibmu menunggumu..."

1
Mommy Dza
So sweet 😁 akhirnya Arga bs tdur nyenyak
Mommy Dza
Masuk ke dalam kegelapan
kenangan pertama
Mommy Dza
Mencari pecahan
Mommy Dza
Pilihan yg sulit
Mommy Dza
pemangsa yg kesepian ternyata🥹
Mommy Dza
Lanjut💪
Mommy Dza
Tetap semangat Arga 💪
Mommy Dza
Cara memperkuat segel adalah
Mommy Dza
Bravo Arga 👍💪
BlueHeaven
Sekelas Penguasa Tertinggi kok sampe nggak tau sih, apalagi setetes demi setetes tiap harinya
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
Mommy Dza
Arga kembali 💪
Mommy Dza
Arga mau dimangsa 🥹 haddehh
hancurkan dia Arga
Mommy Dza
Memperbarui segel dan mengurung pemangsa 💪
Mommy Dza
Arga semakin kuat 💪
Mommy Dza
Nasib apa yg menunggunya 🥹
Mommy Dza
Lanjut thor
Mommy Dza
Wah ketemu pecahan kedua yah 💪
Mommy Dza
Siapa lagi yg muncul /Smug/
Mommy Dza
Bunuh dia Arga 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!