Di Era Keruntuhan Surga, langit terbelah dan hujan darah mengubah dunia fana menjadi neraka. Para dewa telah kehilangan keseimbangan, melepaskan Bencana yang meruntuhkan sekte-sekte agung dan melahirkan Yao Aberasi pembawa maut.
Zeng Niu adalah seorang bocah desa dengan akar spiritual sampah. Ia tidak memiliki guru yang bijaksana, tidak ada klan besar yang melindunginya, dan takdir tidak memberinya keajaiban. Ketika hujan darah membasahi desanya dan mengubah segalanya menjadi monster buas, Zeng Niu harus menyaksikan seluruh penduduk desa, termasuk orang tuanya, dikoyak hingga tak bersisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Gulungan Pengembara
Hutan Kematian begitulah tempat ini kini disebut. Dulu, ini adalah hutan bambu spiritual tempat para kultivator muda berlatih. Kini, pepohonan bambu itu berwarna hitam legam, mengeluarkan getah berbau bangkai, dan tanahnya dipenuhi tulang belulang.
Zeng Niu bersandar di dalam rongga pohon beringin mati, napasnya pelan dan teratur. Dua tulang rusuknya yang patah telah ia ikat erat dengan kulit babi mutan. Rasa sakit itu masih menderanya pada setiap tarikan napas, sebuah pengingat bahwa ia masih hidup. Tangannya yang berlumuran darah kering sedang membuka sebuah gulungan bambu usang harta rampasan yang ia temukan dari mayat setengah hancur milik seorang kultivator pengembara beberapa mil dari desa.
Gulungan itu berjudul Catatan Bencana. Sang penulis tampaknya mencatat dengan putus asa perubahan dunia ini sebelum akhirnya tewas dimakan monster. Melalui gulungan inilah, Zeng Niu mulai memahami neraka macam apa yang sedang ia hadapi.
Di Era Keruntuhan Surga, langit kehilangan keseimbangan. Qi Spiritual yang dulu murni kini tercemar oleh Bencana. Makhluk yang menghirupnya mengalami mutasi mengerikan dan berubah menjadi Yao Aberasi. Mereka berasal dari tiga sumber utama: hewan liar yang menghirup Qi kacau, manusia fana yang terkena hujan darah, dan yang paling mengerikan para kultivator yang gagal menahan distorsi energi saat berkultivasi, tubuh dan jiwa mereka hancur, namun raga mereka bangkit sebagai monster.
Ciri utama makhluk-makhluk ini adalah ketidakstabilan wujud mereka, rasa haus yang tak berujung akan Qi, darah, dan jiwa, serta insting membunuh yang menekan akal sehat.
Dalam kesunyian rongga pohon, Zeng Niu membaca klasifikasi ancaman di gulungan itu dengan mata yang dingin.
Tingkat Rendah: Mereka hanyalah monster yang bergerak murni berdasarkan insting haus darah. Tidak ada kecerdasan. Contohnya adalah Serigala Retak (Cracked Wolf) makhluk dengan kulit kasar seperti batu pecah dan mulut yang terbelah hingga ke dada. Serangan mereka brutal dan mudah diprediksi, tapi bagi manusia fana, mereka adalah malaikat maut.
Tingkat Brutal (Menengah): Pada tahap ini, monster mulai beradaptasi. Mereka memiliki kecerdikan berburu dan bisa menjebak mangsa. Zeng Niu teringat pada Beruang Tulang Hitam yang membunuh rombongan pengungsi kemarin tulang-tulangnya mencuat membentuk zirah baja, sanggup menghancurkan batu raksasa dengan satu tamparan. Yang lebih tragis di tingkat ini adalah Manusia Terkoyak (Split Ghoul) kultivator gagal yang wujudnya terbelah dua namun tetap hidup, dan secara naluriah masih bisa menembakkan teknik sisa sekte mereka.
Tingkat Inti: Setara dengan ranah Foundation Establishment manusia. Mereka telah memadatkan Qi kacau menjadi "Inti Energi", memiliki kemampuan unik, dan kecerdasan taktis layaknya jenderal perang.
Tingkat Raja: Setara Nascent Soul. Mereka bukan sekadar monster, melainkan tiran yang menguasai suatu wilayah. Di mana pun mereka berada, monster lain akan tunduk.
Tingkat Bencana & Dewa: Eksistensi legendaris yang membawa kepunahan. Kehadiran mereka merusak hukum alam. Sekte-sekte besar hancur lebur hanya karena makhluk Tingkat Bencana terbang melintasi langit di atas mereka. Makhluk Tingkat Dewa? Mereka setara dengan tetua Immortal, bencana hidup yang tak bisa ditatap oleh mata telanjang.
Zeng Niu menutup gulungan itu. Mutasi monster di dunia ini sangat tidak tertebak. Penulis gulungan memperingatkan tentang tiga jenis mutasi: Mutasi Fisik (pertumbuhan mata ganjil, tubuh cair, tulang ekstra), Mutasi Energi (monster yang meledakkan diri atau memancarkan racun saat mati), dan Mutasi Mental (monster yang gila total, atau sebaliknya, sangat licik hingga mampu meniru suara manusia untuk menjebak mangsa).
Hukum paling mutlak dari Yao Aberasi adalah Evolusi. Jika seekor monster memakan manusia atau menyerap Qi kacau cukup lama dan bertahan hidup, mereka akan bermutasi menjadi lebih kuat. Monster Tingkat Rendah yang gagal dibunuh hari ini bisa kembali sebagai Tingkat Brutal esok hari.
"Di dunia ini, yang kuat memangsa yang lemah. Evolusi mereka dibangun di atas tulang manusia," guman Zeng Niu perlahan.
Tiba-tiba, telinganya menangkap suara gemerisik daun kering.
Zeng Niu mengintip dari celah pohon. Seekor Serigala Retak sedang mengendus-endus darah yang menetes dari balutan luka Zeng Niu. Mulutnya yang membelah dada meneteskan liur hitam.
Zeng Niu tidak panik. Ia sudah menyiapkan ini. Dua puluh persen kecerdikannya bekerja. Ia sengaja meneteskan sedikit darahnya ke arah sebuah gundukan daun yang menutupi lubang jebakan, yang dasarnya telah ia penuhi dengan tombak bambu tajam yang dilumuri getah beracun.
Serigala itu menerjang ke arah sumber bau. Brak! Tanah pijakannya runtuh. Serigala itu melolong keras saat bambu-bambu beracun menusuk perut dan paha belakangnya.
Namun, itu adalah monster. Rasa sakit hanya membuatnya semakin beringas. Ia mulai merangkak naik, cakarnya yang keras merobek tepi lubang.
Zeng Niu melesat keluar dari persembunyiannya. Ia tidak menyerang dengan teknik indah. Ia menggunakan berat tubuhnya dan sebuah batu besar yang telah disiapkannya, menghantamkannya tepat ke tengkorak serigala yang sedang mencoba memanjat itu.
KRAK! Tengkorak serigala itu retak, tubuhnya terhempas kembali ke dalam lubang, tertusuk bambu lebih dalam hingga tak bergerak lagi.
Napas Zeng Niu memburu. Ia segera turun ke dalam lubang untuk mengambil belatinya, namun matanya tertuju pada dada serigala yang terbelah. Di antara daging dan darah yang hitam, ada sebuah gumpalan seukuran kelereng yang berdenyut pelan. Itu bukan Inti Energi sejati, hanya gumpalan Qi kacau awal yang memadat di jantung monster Tingkat Rendah.
Zeng Niu mengulurkan tangannya yang gemetar dan mengambil gumpalan itu. Hawa dingin dan buas langsung menjalar ke jari-jarinya. Buku-buku kultivasi manapun akan melarang keras manusia menyerap ini. Itu adalah energi murni Bencana. Menyerapnya sama dengan menelan racun, menjamin kehancuran Dantian dan mengubah pelakunya menjadi Manusia Terkoyak.
Namun, Zeng Niu menatap gumpalan itu dengan keheningan yang kelam. Akar spiritualnya adalah sampah. Dantian-nya cacat. Metode ortodoks tidak akan pernah membawanya melewati Penempatan Tubuh. Jika ia berkultivasi seperti orang normal, ia akan mati sebagai mangsa di era ini.
Ia teringat air sumur yang tercampur darah mutan. Saat itu ia tidak bermutasi, melainkan menerobos ke Penempatan Tubuh Tahap 1. Tubuhnya yang telah hancur dan ditempa ulang oleh energi liar sepertinya telah beradaptasi, membentuk sebuah "ruang" untuk energi buas ini.
Dunia memaksaku menelan keputusasaan, batinnya, matanya menajam. Maka akan kujadikan keputusasaan ini sebagai pedangku.
Tanpa ragu sedikit pun, Zeng Niu memasukkan gumpalan Qi liar monster itu ke dalam mulutnya dan menelannya bulat-bulat.
Seketika, gelombang panas yang brutal meledak di perutnya. Kegilaan, rasa haus darah, dan raungan serigala bergema di dalam kepalanya. Otot-ototnya mengejang, urat nadinya berubah warna menjadi hitam. Rasa sakitnya seolah merobek jiwanya berkeping-keping.
Zeng Niu menggigit bibirnya hingga berdarah. Ia duduk bersila di atas mayat serigala itu, memaksakan ketekunan yang lahir dari penderitaan mutlak untuk menekan energi liar tersebut. Ia tidak membiarkannya menguasai pikirannya. Ia memecahnya, memaksanya tunduk, dan menyerapnya ke dalam daging dan tulang fana-nya.
Satu jam kemudian, Zeng Niu membuka matanya. Warna hitam di urat nadinya telah mereda. Napasnya menghembuskan uap abu-abu pucat.
Ia mengepalkan tangannya. Sebuah kekuatan baru mengalir mulus, jauh lebih kuat dari sebelumnya. Luka patah tulang rusuknya terasa sedikit lebih ringan. Ia baru saja menyerap esensi kehidupan monster itu, dan secara tak terduga, melangkah setengah jalan menuju Penempatan Tubuh Tahap 2.
Zeng Niu bangkit berdiri. Ia telah menemukan jalannya sendiri jalan kultivasi mematikan yang belum pernah ada dalam sejarah: mencuri kekuatan langit yang runtuh dengan memakan langsung inti dari Bencana itu sendiri.