Aura membuka mata melihat dirinya sudah ada di ruangan putih dengan peralatan medis. Awalnya Aura hanya binggung, hingga dia merasa kalau dia bermimpi panjang." Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganku,:guman Aura melihat sekitarnya. Tampak orang tua yang dia rindukan sudah ada didepan matanya. Apa yang terjadi dengan Aura sebenarnya, ingin tahu kisahnya silakan datang membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pendahuluan: Aura Brenda Anila dan Kenangan Pintu Perunggu
Lima Putra Raja Biadab: Memori Koma dan Makam Terkutuk
Kebangkitan dan Aroma Desa Anila
Pendahuluan: Aura Brenda Anila dan Kenangan Pintu Perunggu
Aura Brenda Anila merasakan kekosongan yang dingin, bukan dari tempat tidur yang asing, melainkan dari jiwanya sendiri. Dua bulan. Ia terbaring koma, tetapi baginya, waktu itu adalah perjalanan epik melintasi dimensi lain, untuk beberapa tahun lamanya dengan sebuah pertempuran yang tak terhindarkan.
Pikirannya kini dipenuhi fragmen "mimpi panjang" yang menuntut penjelasan. Itu bukan sekadar mimpi; itu adalah pertualangan nyata untuk menemukan kesembilan pintu perunggu satu-satunya jalan pulang menuju Bumi. Ia ingat rasa frustrasi, ketakutan, dan juga kehangatan persahabatan.
Nama-nama itu melintas: Harits, dengan tatapan tenang yang selalu menjadi jangkar baginya yang membuat dirinya memiliki perasaan diam-diam; Baki dan Bani, yang penuh semangat dan teman serta kakak baik; dan Paman Aliy, yang bijaksana seperti orang tuanya sendiri. Mereka semua membantunya. Mereka adalah rekan seperjuangan.
Kepulangan terjadi di ambang pintu kesembilan. Aroma tembaga tua dan energi kosmik. Ia tahu, sekali ia melangkah, semua akan kembali normal di Bumi.
Saat itu, di depan pintu perunggu, ia memejamkan mata dan menarik Harits mendekat. Ciuman perpisahan di kening pria itu adalah pengakuan diam-diam atas perasaan yang tumbuh di tengah pertualangan dan persahabatan. Itu adalah kenangan terakhir yang membakar sebelum ia terlempar kembali ke realitas.
Di hadapankan sebuah pintu terbuka lembar menuggu dirinya masuk ke dalam, kepulangannya yang sesungguhnya selalu di ingikan oleh jiwanya. Cahaya melahan tubunya bersama dengan pintu perunggu tertutup kembali. Tubuhnya masih lemah, seolah baru saja menahan badai hebat. Ia membuka matanya melihat sekitaranya dengan cahaya dan benda yang tidak asing. “Apa aku sudah kembali ke tempat asalku,”batin Aura masih dalam posisi berbaring dengan alat medis terpasang di tubuhnya.
Pintu terbuka tampak dua orang masuk. Wajah yang terkejut dengan air mata senang segera berlari ke arah Aura.
"Terima kasih Tuhan, Nak. Kamu kembali," suara Ibunya bergetar, membelai rambut Aura.
Aura hanya tersenyum tipis. Ia kehilangan berat badan, namun merasa membawa beban pengalaman ribuan ton di pundaknya. Bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa ia telah memimpin pasukan di dimensi lain sementara ia hanya terbaring di ranjang rumah sakit?
Setelah dokter selesai melakukan pemeriksaan terakhir dan menyarankan istirahat total, Ayah, Ibu meninggalkan ruangan sebentar untuk mengurus administrasi. Suasana sunyi, hanya ada bunyi detak jam dinding dan mesin medis yang berbisik pelan.
Kegelisahan Aura memuncak. Ia harus membuktikan. Ia harus tahu apakah 'mimpi' itu hanya halusinasi terminal, ataukah itu adalah kemampuan yang terbawa pulang.
Ia menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata, dan berkonsentrasi memegang salah satau tangannya terhubung dengan sebuah ruangan penyimpannya. Hanya dengan satu sentuhan gelang transparan menyatuh dengan kulit Aura.
“Segel terbuka. Ruangku muncul.”
Ia mengucapkan mantra itu dalam hati, tangannya terangkat gemetar. Tiba-tiba, ia merasakan tarikan energi yang famipak Andir, sama seperti saat ia memanggil perlengkapan di dimensi perunggu.
"Srek!"
Di samping tempat tidurnya, tanpa suara, muncul sebuah ruang transparan berbentuk kubus. Di dalamnya, tergeletak beberapa benda yang ia gunakan: sebuah pisau kecil beruki indah, sebuah gulungan peta dan buku serta catatan yang ia gunakan untuk meneliti semua hal ia temukan, dan yang paling mengejutkan, sebotol kecil cairan berwarna ungu yang ia kenali sebagai obat penyembuh, didalam juga ada sebuah pakaian ia gunakan dan makanan ia simpan termasuk perhiasan dan hartanya juga ada didalamnya.
Aura terkesiap, napasnya tertahan. Matanya membelalak tidak percaya. Semua perlengkapan itu nyata. Ia tidak gila.
Seketika, ia mendengar langkah kaki yang mendekat di koridor. Tanpa berpikir, dengan sisa-sisa energi mentalnya, ia memaksa ruang transparan itu menghilang. Pisau, peta, dan obat ungu itu lenyap seolah tidak pernah ada.
Pintu terbuka. Ayah masuk sambil tersenyum. "Kita bisa pulang sekarang setelah dua hari lagi."
Aura hanya mengangguk, jantungnya masih berdebar kencang.Tapi selama dua hari di ranjang rumah sakit.Aura mendengar gosip dari para perawat yang berkeliling. Tepat dua hari berlaIu kondisi Aura sudah pulih dan dokter sudah memeriksa kondisi Aura sudah stambil. Ia bisa kembali ke rumah.
Pak Andi yang menjemput Aura dan dua orang tuanya. Karena ayahnya tidak bisa menggunakan mobil hanya bisa meminta bantuan tentangga untuk mengemudikannya. Wajahnya sumringah dari pak Andi. "Aura senang sekali kau terbangun dari koma. Aku kira kamu tidak akan bangun. Tapi apa yang terjadi denganmu,kenapa bisa kamu koma lama sdekali. Orang tuamu sangat khawatir tahu tidak."
"Aku juga sangat senang bisa bangun pak Andi. Aku juga tidak tahu kenapa bisa koma. Tapi aku bersyukur kalau Allah masih sayang denganku, memberikan kesempatan untuk bertemu dengan ayah dan ibu," jawab Aura, menatap pemandangan Desa PandaSari Anila yang perlahan menyambutnya.
Suasana haru di rumah. Ayah dan Ibu, Aura yang sebelumnya menyambutnya di rumah sakit, kini menyiapkan pesta kecil-kecilan. Tangisan bahagia, tawa, dan aroma masakan tradisional semuanya terasa nyata dan hangat.
Namun, di tengah kehangatan itu, Aura mulai merasakan kejanggalan.
"Pak Andi, kenapa mobil-mobil asing itu banyak sekali di dekat Balai Desa?" tanya Aura, menunjuk beberapa mobil berplat nomor kota yang terparkir rapi.
Pak Andi yang hendak memarikirkan mobil bersuara. "Oh, itu. Sejak seminggu yang lalu, ada beberapa orang kota yang datang. Katanya mereka sedang melakukan penelitian tentang banguan yang ditemukan. Mereka mendirikan pos pemeriksaan di balai desa. Banyak warga yang berobat ke sana."
Mata Aura menyipit. "Bangunan? Kenapa mereka harus datang dari kota dan melakukannya di sini?"
"Entahlah. Tapi kata Pak RT, mereka sangat membantu untuk mencari sejarah dunia. Mereka orang-orang asing yang ramah dan berpakaian rapi," jawab Pak Andi, kembali fokus pada pengemudinya.
Apakah 'banguan yang dikatakan itu' hanyalah kedok?
Beberapa hari berlalu. Aura berjuang untuk pulih. Kadang Aura berjalan keluar rumah agar kondisi fisiknya kembali. Tapi ditengah mimpi yang ia alami memunculkan sebuah ide baru.
Di malam hari, ia berusaha menuliskan pengalamannya yang ada dalam mimpinya, tetapi kegelisahan Desa Pandasari Anila terus mengganggunya. Keheningan malam desa terasa mencekam, dan Aura masih mencium aroma tipis yang mengganggu bau yang kini ia yakini bukan sekadar tembaga, melainkan sulfur dan tanah yang baru digali.
Saat makan malam, berita dari Ayahnya mengubah segalanya.
"Aura kamu tidak akan percaya apa yang ayah lihat dan dengar tadi sore," kata Ayah, wajahnya menunjukkan campuran rasa takut dan penasaran. "Tadi sore, ada kabar dari para tetangga yang dekat dengan utara desa. Katanya ditemukan..." Ayah merendahkan suaranya, seolah takut didengar dinding. "...sebuah makam kuno."
Aura meletakkan sendoknya, tiba-tiba kehilangan nafsu makan. "Makam kuno? Di mana?"
"Di dekat area hutan pinus lama, yang berbatasan dengan bukit di sana. Tempat yang tidak pernah kita sentuh karena mitos-mitos lama," jelas Ayah. "Orang-orang kota yang datang untuk 'Bangunan' itu yang pertama kali menemukannya. Mereka bilang itu penemuan arkeologis penting."
Kak Yeni menyela. "Iya, dan mereka mengerahkan banyak pekerja untuk menggali. Makanya ada bau aneh belakangan ini, Aura. Bau tanah basah dan mungkin dupa dari makam itu."
Aura menatap Ayahnya, matanya tajam. "Ayah, apakah Makam Kuno itu... Apa ada hal aneh didalamnya?"
Ayah terdiam, menatap Aura aneh. "Bagaimana kamu tahu kalau ada yang aneh?. Tapi kamu tidak usah khawatir Aura hanya penemuan sejarah kerajaan yang terkubur saja yang ada seperti candi yang ada di jogja."
Sebuah kebenaran yang dingin menghantam Aura. Ini sangat aneh. Ini bukan kebetulan.
Aura merasakan konflik internal yang menyakitkan. Mimpinya, kekuatan yang ia bawa, kedatangan orang asing yang menyamar, dan sekarang Makam Kuno di utara desa semuanya terhubung menjadi satu rangkaian kejadian.
Ia tidak bisa lagi membohongi dirinya sendiri. Ia mungkin telah berhasil melewati Sembilan Pintu Perunggu, tetapi ia tidak pulang, melainkan mendarat tepat di garis depan peperangan itu sendiri.