NovelToon NovelToon
Bangkitnya Pelayan Terbuang

Bangkitnya Pelayan Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

"Wajah bak dewa, namun nasib bak debu."
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng hanyalah seorang pelayan rendahan tanpa bakat kultivasi. Ia dihina, disiksa, dan dibuang ke hutan kematian hanya karena ketampanannya dianggap sebagai penghinaan bagi para tuan muda sekte yang sombong.
Namun, maut justru menjadi gerbang kebangkitannya.
Di ambang kematian, sebuah pusaka terlarang yang telah lama hilang—Sutra Dewa yang Terbuang—memilihnya sebagai wadah. Kitab itu hancur, menyatu ke dalam nadinya, merekonstruksi tubuhnya menjadi sempurna, dan menanamkan ribuan tahun pengetahuan dewa langsung ke dalam benaknya.
Kini, Han Feng kembali bukan untuk melayani, melainkan untuk menagih hutang darah. Dengan otak yang mampu membedah kelemahan lawan dan tubuh yang menyimpan kekuatan surgawi, ia akan membuktikan bahwa mereka yang dulu mengabaikannya akan berlutut di bawah kakinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PUNCAK-PUNCAK YANG MENYENTUH LANGIT

​Kota Seribu Awan bukan sekadar pemukiman; ia adalah sebuah ekosistem kekuasaan yang dibangun di atas kesombongan dan kemegahan. Han Feng melangkah menyusuri trotoar yang dilapisi marmer putih bersih, menghindari jalan utama yang penuh dengan kereta terbang mewah dan arogansi para murid sekte besar. Di sini, udara terasa tipis namun kaya akan energi spiritual, sebuah kemewahan yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang berada di ketinggian ribuan meter di atas permukaan laut.

​Han Feng menyadari satu hal dengan cepat: di tempat ini, statusnya sebagai ahli Pondasi Dasar Level 3 tidak akan memberinya rasa hormat. Ia melihat remaja berusia belasan tahun dengan jubah sutra yang sudah memiliki fluktuasi energi setara dengannya. Kota ini adalah saringan bagi seluruh jenius di wilayah tersebut, tempat di mana "yang luar biasa" menjadi "biasa saja".

​Tujuan pertamanya adalah mencari informasi. Di kota sebesar ini, bergerak tanpa peta kekuatan adalah tindakan bunuh diri.

​Setelah melewati beberapa gang yang lebih tenang di distrik bawah, Han Feng berhenti di depan sebuah kedai kayu yang tampak kusam dan terjepit di antara dua bangunan tinggi. Sebuah papan nama tua bertuliskan "Lentera Tak Berkedip" bergoyang ditiup angin.

​Di dalam, suasananya redup. Bau tinta tua dan asap cendana memenuhi ruangan. Tidak ada pelayan yang menyambut, hanya seorang pria paruh baya dengan satu mata yang tertutup kain hitam sedang duduk di balik meja panjang, asyik menulis di atas gulungan perkamen.

​Han Feng mendekat, tidak mengeluarkan suara. Ia meletakkan tiga koin emas di atas meja, namun si Mata Satu bahkan tidak mendongak.

​"Informasi murah bisa kau dapatkan di pasar, Anak Muda," suara si Mata Satu parau, seperti gesekan amplas. "Di sini, kami hanya menjual kebenaran yang berat."

​Han Feng tersenyum tipis di balik topi bambunya. Ia tidak bicara, melainkan melepaskan sedikit—hanya setitik—Qi Emas murninya ke atas meja. Meja kayu itu bergetar pelan, dan aura yang sangat padat merembes keluar, membuat api lentera di ruangan itu mendadak tegak lurus dan tak berkedip, seolah-olah tunduk pada otoritas yang lebih tinggi.

​Si Mata Satu berhenti menulis. Ia perlahan mendongak, mata satunya menatap Han Feng dengan minat yang baru. Ia menyapu koin emas itu ke dalam laci. "Qi yang sangat murni... jarang sekali ada pengembara liar yang memiliki pondasi sepadat ini. Apa yang ingin kau ketahui?"

​"Semuanya," jawab Han Feng singkat. "Skala kekuatan di kota ini, aturan seleksi, dan siapa yang harus kuhindari."

​Si Mata Satu menyandarkan punggungnya dan mulai berbicara dengan nada rendah. "Seleksi Sekte Langit Abadi tahun ini adalah yang paling berdarah dalam satu dekade. Mengapa? Karena hadiah utamanya adalah 'Buah Embun Langit', benda yang bisa menyempurnakan Pondasi Dasar menjadi kualitas emas tanpa cacat."

​Han Feng mendengarkan dengan saksama. Informasi selanjutnya adalah yang paling membuatnya waspada.

​"Saat ini, ada lebih dari sepuluh ribu murid Pondasi Dasar di kota ini. Rata-rata dari mereka berada di tingkat akhir, Level 7 hingga 9. Jika kau hanya Level 3, kau hanya dianggap sebagai pengisi kuota," Si Mata Satu terkekeh. "Tapi itu bukan masalah terbesarnya. Jenius sejati dari tiga sekte besar—Sekte Pedang Langit, Sekte Guntur Barat, dan Sekte Lembah Hijau—kabarnya telah membawa murid inti yang sudah menyentuh Ranah Inti Sejati (Jindan) awal. Di usia di bawah dua puluh tahun!"

​Han Feng mengangguk dalam hati. Inti Sejati di usia muda... mereka benar-benar monster.

​"Dan jangan pernah berpikir untuk membuat keributan besar," lanjut si informan. "Kota ini dijaga oleh dua belas Tetua dari berbagai sekte yang semuanya berada di Ranah Inti Sejati Puncak. Satu pikiran dari mereka cukup untuk menghancurkan jantungmu dari jarak satu mil. Leluhur keluarga kecil yang kau lawan di perbatasan? Di mata para Tetua ini, dia tak lebih dari seorang pelayan yang bertugas menyapu halaman."

​Han Feng merasakan darahnya sedikit bergejolak. Tantangan ini jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Ia berada di sebuah arena di mana predator paling rendah pun bisa menggigitnya hingga mati.

​Setelah mendapatkan peta wilayah dan daftar nama-nama jenius yang harus diwaspadai, Han Feng keluar dari kedai. Saat ia baru saja melangkah ke jalan utama yang menghubungkan distrik menengah, suasana mendadak riuh.

​"Minggir! Pasukan Sekte Pedang Langit lewat!"

​Han Feng segera menepi ke pinggir jalan, menundukkan kepalanya dalam-dalam di balik topi bambu. Dari kejauhan, serombongan pendekar berjubah putih bersih dengan sulaman pedang di punggung mereka berjalan dengan angkuh. Di depan mereka, seekor binatang buas berbentuk harimau bersayap menarik sebuah kereta kencana yang megah.

​Han Feng bisa merasakan aura yang sangat ia kenal.

​Di barisan depan murid inti, berjalan seorang pemuda dengan wajah tampan namun penuh kesombongan. Long Chen. Kekuatannya kini telah mencapai puncak Pondasi Dasar, auranya tajam seperti pedang yang baru diasah. Dan di sampingnya, berjalan seorang wanita dengan keanggunan yang dingin. Su Yan.

​Su Yan tampak jauh lebih cantik dari terakhir kali Han Feng melihatnya. Rambut hitamnya dihiasi jepit rambut giok, dan setiap langkahnya memancarkan aura es yang murni. Namun, mata Han Feng tetap datar. Tidak ada kebencian, tidak ada rindu, hanya ketidakpedulian yang mutlak. Baginya, mereka adalah bagian dari masa lalu yang sudah ia kubur bersama identitasnya sebagai "pelayan sampah".

​Saat rombongan itu lewat tepat di depan Han Feng, Su Yan tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah pinggir jalan, ke arah seorang pengembara bertopi bambu yang tampak biasa saja.

​Su Yan mengernyitkan keningnya. Ia merasakan sebuah tarikan Qi yang sangat samar, sebuah frekuensi yang entah bagaimana terasa sangat familiar di ingatannya. Siapa dia? Aura itu... seperti sesuatu yang pernah kukenal, tapi jauh lebih kuat dan lebih dalam.

​"Ada apa, Su Yan?" tanya Long Chen sambil menoleh, suaranya penuh perhatian yang dibuat-buat.

​Su Yan terdiam sejenak, matanya masih terpaku pada punggung Han Feng yang perlahan menjauh. "Bukan apa-apa. Hanya perasaanku saja. Mari lanjut."

​Han Feng terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun. Ia mempercepat langkahnya dan menggunakan teknik Pernapasan Kura-Kura Emas untuk menyembunyikan fluktuasi energinya hingga ke titik terendah. Baginya, bertemu mereka sekarang hanya akan membuang waktu. Ia punya naga yang harus dibangunkan, bukan drama lama yang harus diulang.

​Namun, ketenangan Han Feng terusik saat ia merasakan sebuah tekanan mental yang luar biasa tiba-tiba menyapu punggungnya.

​Seorang Tetua yang memimpin rombongan Sekte Pedang Langit, seorang pria tua dengan jubah abu-abu sederhana namun memiliki mata yang seolah-olah mengandung galaksi di dalamnya, tiba-tiba berhenti. Ia adalah Tetua Gu, seorang ahli Ranah Inti Sejati Akhir.

​Tetua Gu menoleh ke arah Han Feng yang sudah menjauh. Matanya menyipit, mencoba menembus lapisan perlindungan Qi yang menyelimuti pemuda bertopi bambu itu. Ia merasakan sesuatu yang aneh—sebuah kekosongan yang terlalu sempurna untuk seorang pendekar liar.

​Han Feng merasakan keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Ia tidak berhenti berjalan, namun tangannya diam-diam masuk ke dalam jubah, menyentuh lencana perunggu kusam pemberian Kakek Bo. Energi dari lencana itu seolah-olah memberikan lapisan perlindungan tambahan yang mengaburkan persepsi sang Tetua.

​Tetua Gu akhirnya membuang muka, menganggap itu hanya kebetulan atau mungkin efek dari formasi kota yang terkadang membiaskan indra mental.

​Han Feng menghela napas panjang setelah rombongan itu benar-benar menghilang di balik tikungan jalan menuju Istana Awan.

​"Hanya satu tatapan dari Ranah Inti Sejati Akhir sudah cukup untuk membuat darahku bergejolak," batin Han Feng dengan jantung yang masih berdetak kencang. "Kota ini benar-benar sarang naga... dan aku baru saja masuk ke dalam mulutnya. Tapi, naga tidak akan takut pada naga lainnya. Kita lihat saja, siapa yang akan benar-benar menguasai langit kota ini."

​Dengan tujuan yang makin jelas, Han Feng menghilang ke dalam kerumunan, mencari tempat untuk tinggal dan mempersiapkan diri. Seleksi akan dimulai dalam tiga hari, dan ia harus memastikan bahwa saat ia naik ke panggung nanti, seluruh Kota Seribu Awan akan gemetar mendengar namanya.

1
T28J
senior kuu
lia
menarik
Danzo28: "Selamat datang! Senang sekali kamu mampir. Semoga betah mengikuti perjalanan ini sampai akhir, ya!"
total 1 replies
lia
menarik
Manusia Ikan 🫪
aku tinggalin jejak dulu ya, nanti siang balik lagi, udah subuh soalnya😹
Danzo28: Terima kasih sudah mampir! Happy reading! ✨"
total 1 replies
Iwa Kakap
sepi pembaca agak nya ..
terlalu banyak kata2 mutiara thor hingga membuat cerita ini seakan jalan ditempat.🙏
Danzo28: Siap, terima kasih masukannya! Saya memang sedang bereksperimen dengan gaya narasi tertentu, tapi masukan ini sangat membantu saya untuk tahu mana yang perlu dikurangi supaya pembaca tidak bosan."
total 1 replies
T28J
cocok buat jadi koleksi 👍
T28J: iya thor, saya mampir terus kalau ada waktu..
kamu juga mampir ketempat saya ya, beri nilai novel pertama saya, kritik dan saran boleh kok👍
total 2 replies
Optimus prime
ga ush pakai bahasa inggris thor... cerita cukup bagus....
Danzo28: "Wah, makasih ya pujiannya! Mengenai bahasa Inggris, memang ada beberapa istilah yang sengaja saya pakai untuk menjaga vibes atau suasana ceritanya (misalnya istilah teknis atau gaya bahasa karakter). Tapi saya bakal coba kurangi pelan-pelan kalau dirasa terlalu mengganggu. Terima kasih sarannya!"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!