Arlan Pramudya adalah seorang arsitek sukses yang hidupnya terukur seperti penggaris siku. Baginya, ketidakteraturan adalah musuh. Sejak kehilangan istrinya tiga tahun lalu, Arlan mengunci diri dalam rutinitas kerja yang kaku dan peran sebagai ayah tunggal yang terlalu protektif bagi putrinya, Mika (6 tahun). Rumah mereka megah, namun terasa dingin dan sunyi—sebuah monumen kesedihan yang tak kunjung usai.
Masalah muncul ketika Mika, yang mewarisi sifat keras kepala ayahnya, menolak semua guru privat yang didatangkan Arlan. Hingga akhirnya, muncul Ghea Anindita, mahasiswi pendidikan yang datang dengan tawa renyah, sepatu kets kotor, dan metode belajar yang jauh dari kata "formal".
Awalnya, Arlan skeptis. Ghea terlalu berisik dan sering melanggar batas-batas "profesional" yang ia tetapkan. Namun, Ghea adalah satu-satunya orang yang berhasil meruntuhkan tembok pertahanan Mika. Perlahan, kehadiran Ghea tidak hanya mengisi kekosongan di meja belajar Mika
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Dengan Versi Terbaik
Waktu terus berjalan, membawa perubahan yang perlahan tetapi pasti dalam kehidupan mereka. Di tengah gejolak emosi dan jarak yang sengaja diciptakannya dari Arlan, Ghea memutuskan untuk mencurahkan semua fokus dan tenaganya pada satu hal yang bisa ia kuasai: masa depannya.
Hari-hari yang penuh tantangan dan malam-malam yang panjang dihabiskan di hadapan tumpukan buku serta layar laptop, akhirnya membuahkan hasil yang memuaskan.
Pagi itu, suasana auditorium universitas terlihat megah dan sarat dengan emosi. Ghea berdiri di tengah ratusan wisudawan lainnya, mengenakan toga hitam dengan selendang di lehernya. Senyum manis terpancar di wajahnya saat namanya dipanggil untuk melangkah ke panggung.
Dengan langkah yang anggun dan percaya diri, Ghea maju untuk menerima ijazah serta ucapan selamat dari para petinggi universitas. Gelar akademis yang kini tersemat di belakang namanya bukan hanya tanda kelulusan, tetapi juga simbol kemandirian dan kekuatan baru yang berhasil ia raih setelah melewati masa-masa paling sulit dalam hidupnya.
Di bawah sorakan tepuk tangan hadirin, Ghea menggenggam ijazahnya erat. Ia telah membuktikan kepada dirinya sendiri—dan kepada dunia—bahwa ia bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Ia bukan lagi wanita yang lemah, terjebak antara rindu dan rasa bersalah.
Setelah acara wisuda selesai, Ghea keluar dari gedung menuju taman untuk berfoto. Di tengah keramaian keluarga dan teman-teman yang saling tertawa dan memberi buket bunga, Ghea terhenti sejenak.
Ia memandang ke kerumunan, seolah ada bagian dari hatinya yang tanpa sadar mencari sosok pria berpostur tegap di antara ribuan orang yang hadir.
Kenangan tentang malam panas di butik waktu itu, serta desahan napas Arlan yang menggebu, terkadang masih terlintas dalam pikirannya. Namun, Ghea segera menghela napas dalam-dalam dan tersenyum. Ia tahu, dengan gelar baru dan lembaran kehidupan yang kini terbuka di hadapannya, ia telah siap menghadapi apapun yang akan datang—termasuk jika takdir mempertemukannya kembali dengan Arlan dalam keadaan yang jauh lebih siap.
Hari-hari penuh penyesalan dan usaha keras mulai mengubah hidup Arlan. Setelah membiarkan Mika tinggal sementara dengan Shinta, Arlan menepati janjinya: ia memperbaiki dirinya, menjauhi dunia malam, dan sepenuhnya fokus pada memimpin perusahaan. Baginya, kantor adalah satu-satunya tempat di mana ia merasa dapat mengendalikan segalanya, sebuah benteng untuk mempertahankan diri dari kehidupan pribadinya yang sempat hancur.
Namun, pagi itu, sebuah agenda rutin mengubah segalanya.
Sebagai CEO, Arlan dijadwalkan untuk memimpin rapat evaluasi kuartalan serta menyambut beberapa tenaga ahli baru yang direkrut oleh divisi pengembangan bisnis untuk memperkuat proyek internasional mereka.
Arlan memasuki ruang rapat utama dengan setelan jas gelap yang rapi, memancarkan aura percaya diri yang biasa ia miliki. Suasana ruangan seketika menjadi hening saat ia duduk di tempat utama di ujung meja panjang.
"Mari kita mulai," ujar Arlan dengan tenang tanpa melihat sekeliling, sambil membuka berkas laporan di depannya. "Silakan perkenalan anggota tim baru yang akan memimpin divisi analisis data."
Kepala HRD berdiri sambil memberikan senyuman ramah. "Baik, Pak Arlan. Hari ini kita kedatangan wisudawan unggul dari universitas terkemuka yang baru saja menyelesaikan studinya dengan predikat cum laude. Kami percaya bahwa keterampilannya sangat sesuai untuk proyek baru kita. Silakan masuk."
Pintu ruangan pertemuan terbuka lebar. Suara langkah kaki yang lembut dan berirama tenang mulai terdengar mendekat. Arlan masih menundukkan kepala, bersiap untuk menandatangani sebuah dokumen, sampai suara yang sangat dia kenali memperkenalkan dirinya di depan forum.
“Selamat pagi, semuanya. Nama saya Ghea. Mulai hari ini, saya akan menjadi anggota…”
Saat mendengar nama dan nada suaranya, pena di tangan Arlan tiba-tiba berhenti. Jantungnya berdebar kencang, seolah mengalami benturan keras.
Arlan perlahan mengangkat wajahnya.
Di meja paling ujung, ada seorang wanita berpakaian formal dengan sangat elegan—blazer pas yang menonjolkan bentuk tubuhnya secara anggun, rambut rapi, dan sebuah map kerja di tangannya. Wajah Ghea kini terlihat lebih dewasa, mandiri, dan memancarkan kepercayaan diri yang tinggi.
Itulah Ghea. Wanita yang selama ini ia cari, yang sempat ia duga hanya ada dalam mimpi di malam yang liar di hotel boutique itu.
Arlan terdiam di kursinya, seolah kehilangan kemampuan untuk berbicara. Semua citra dingin yang biasa dia tunjukkan runtuh seketika di hadapan Ghea yang kini berdiri di bawah cahaya terang ruang rapat. Mata mereka bertemu.
Ghea tidak terlihat panik sedikit pun. Dengan senyum ramah yang profesional kepada anggota rapat lainnya, matanya menatap Arlan dengan tajam. Ada ketenangan dalam tatapan itu—bukti bahwa ia telah kembali sebagai wanita yang setara, bukan lagi sosok yang bisa dengan mudah terseret ke dalam kekacauan hidup Arlan.
Namun, di balik sikap tenangnya, kilasan kenangan malam yang panas di hotel boutique—napas Arlan yang terburu-buru, ciuman yang liar, dan sentuhan hangat di kulit mereka—sepertinya melintas cepat di antara tatapan mereka yang saling mengunci.
“Saya sangat bangga bisa menjadi bagian dari perusahaan ini, dan saya berharap bisa memberi kontribusi terbaik di bawah bimbingan Anda, Pak Arlan,” lanjut Ghea, menekankan nama Arlan dengan suara yang terdengar profesional, tetapi mengandung getaran rahasia yang hanya bisa mereka berdua pahami.
Arlan mengepal tangan dengan kuat di bawah meja untuk menyembunyikan getaran hebat di jarinya. Kejutan ini terlalu mendadak. Ghea kini berada di wilayahnya, bekerja di bawah arahannya, membawa kembali rahasia dari malam yang belum terpecahkan.
Selama sisa rapat, konsentrasi Arlan benar-benar teruji. Dokumen di depannya kini tampak kabur. Matanya, meskipun berusaha mempertahankan profesionalisme di depan para direksi, tetap tertarik pada satu titik: Ghea.
Arlan memperhatikan setiap detail wanita yang berada beberapa meter di depannya. Ghea benar-benar telah berubah.
Ghea yang ia kenal sebelumnya—wanita dengan kepolosan yang kadang terlihat rapuh dan bimbang di tengah masalah mereka—sekarang telah menjadi sosok yang sangat berbeda. Cara Ghea duduk, tegak namun tetap santai, menunjukkan keanggunan alami. Tidak ada lagi keraguan dalam gerak tubuhnya.
Ketika tiba gilirannya untuk menyampaikan draf analisis awal proyek, Ghea berdiri dengan tenang. Blazer formal berwarna pastel yang dikenakannya terlihat sempurna, menunjukkan siluet tubuhnya yang anggun dan proporsional. Setiap gerakan—dari cara ia merapikan rambut yang terurai di bahu hingga cara ia mengoperasikan layar presentasi—nampak sangat luwes dan elegan.
"Berdasarkan informasi tentang tren pasar untuk kuartal ini, kami memiliki potensi sebesar lima belas persen untuk melaksanakan penetrasi yang lebih cepat jika kita menerapkan metode ini," Ghea menyatakan. Suaranya jelas dan mendayu, namun penuh penekanan yang meyakinkan.
Arlan bersandar di kursinya, menyanggah dagunya menggunakan jari sambil terus memperhatikan. Ia merasa terpesona dan sedikit canggung. Keanggunan Ghea saat ini tidak hanya terlihat dari penampilannya yang rapi dan make-up-nya yang alami, tetapi juga dari sinar kecerdasan dan kemandirian yang terpancar kuat dari setiap kata yang diucapkannya.
Tiba-tiba, pikiran Arlan melayang kembali ke malam di hotel mewah itu. Di bawah cahaya kuning lembut, ia mengingat betapa lembut dan berserahnya Ghea saat berada di pelukannya. Namun sekarang, di bawah cahaya terang lampu neon ruang rapat, wanita itu tampil sebagai sosok profesional yang dingin, kuat, dan sangat sulit untuk dijangkau.
Ghea mengakhiri presentasinya dengan senyuman formal yang ditujukan kepada forum, sebelum matanya sengaja bertemu tatapan tajam Arlan. Ghea tidak mengalihkan pandangannya, ia justru membalas tatapan tersebut dengan ketenangan yang menantang, seolah ingin menunjukkan bahwa ia kini menguasai sepenuhnya atas dirinya.
“Apa pendapat Anda, Pak Arlan? Apakah ada hal yang perlu kita ubah?” Ghea bertanya langsung, suaranya yang tenang kini terdengar seperti suatu rayuan yang halus namun merupakan batasan yang sangat jelas di hadapan semua orang.
Arlan sedikit berdeham, mencoba mengusir kekaguman yang sempat membuatnya terdiam. Ia menyadari bahwa Ghea yang anggun dan mandiri di hadapannya ini bukan lagi sosok wanita yang bisa ia dekati hanya dengan berpijak pada kelemahan atau kekuasaan. Perang dingin yang baru, yang jauh lebih mendebarkan dan menegangkan, baru saja dimulai di dalam dinding kantornya sendiri.