⚠️ ***+ | Kisah Cinta segitiga
Valencia kehormatannya direnggut, hatinya terbelah.
Valencia hancur saat kehormatannya direnggut oleh Ansel—pria yang hadir diantara cinta Valencia dan Zyro,. Namun Zyro, kekasihnya yang sangat mencintainya, tetap ingin menerima apa adanya dan ingin menikahinya.
Keduanya mengaku mencintainya, keduanya tak ada mau mengalah. Perkelahian sengit pun terjadi, hingga di batas keputusasaan, Valentina harus melukai dirinya sendiri hanya agar mereka mau berhenti...
Melihat wanita yang mereka cintai terbaring penuh darah, akhirnya kedua pria itu mengambil keputusan berat: mereka berdua akan menikahi Valen dan berjanji menjaganya bersama-sama.
Dua pria, satu wanita.
Akankah cinta bisa menyatukan mereka, atau malah membawa pada kehancuran yang lebih dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Wisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mau Kah Kau Menjadi Istriku dan Istrinya
"Bukan begitu, Zyro..." jawabnya lirih namun jelas. "Bukan itu maksudku... Aku juga tak mungkin bersamanya... saat aku pun tak bersamamu, aku tak ingin menambah luka dihatimu karena ku .. ..."
"Maksudmu apa, Valen...?" tanya Ansel perlahan, suaranya terdengar bergetar hebat, tangannya yang memegang sisi tempat tidur terlihat mengepal erat menahan rasa takut yang luar biasa. Tubuhnya gemetar ketakutan mendengar ucapan Valencia itu, takut jika wanita itu akan menolak mereka berdua dan pergi menjauh selamanya.
"Apa pun yang kau katakan, apa pun keputusanmu... Aku tak akan melepaskan mu, Valen!" seru Ansel dengan nada tegas dan penuh tekad yang tak tergoyahkan, matanya menatap lekat-lekat wajah wanita itu.
"Begitupun denganku, Valen! Aku juga takkan pernah melepaskan mu!" sambung Zyro dengan nada yang sama tegasnya, menegaskan pendiriannya. "Kami sudah membicarakan semuanya saat kau masih terbaring koma. Kami sudah sepakat... Jika nanti kau memilih salah satu di antara kami, maka pihak yang tidak terpilih akan ikhlas menerima, rela menjadi yang kedua, dan tetap akan ada di sisimu. Kami berjanji untuk tidak saling menyakiti dan tidak saling cemburu buta lagi, asalkan kami berdua bisa tetap bersamamu."
Valencia terdiam mendengarnya, matanya membelalak bingung di antara isak tangisnya. Ia menatap kedua pria itu bergantian, mencoba memahami maksud perkataan mereka yang terdengar begitu mustahil dan aneh baginya.
"Tidak bisakah kita hidup bersama dengan cara yang lain...?" tanya Ansel pelan dan ragu. "Tidak ada yang pertama dan tidak ada yang kedua... "
Zyro dan Ansel saling berpandangan sejenak, lalu keduanya kembali menatap Valencia dengan tatapan yang sama-sama dalam dan penuh harapan.
"Maukah kau menikah... bersamaku dan bersamanya?" tanya Zyro pelan namun tegas, matanya menatap tajam ke manik mata wanita itu.
"Apa maksudmu, Zyro...?" tanya Valencia tertegun, matanya berkedip bingung.
" Bersediakah kau memiliki dua suami, Valen? Kami berdua... bersedia menjadi suamimu bersama-sama. Kami akan menjagamu, mencintaimu, dan mendampingi mu bersama-sama selamanya."
Mata Valencia seketika terbelalak lebar, mulutnya terbuka sedikit karena keterkejutan yang luar biasa. Ia menatap mereka berdua bergantian seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Wajahnya tampak tercengang dan bingung setengah mati.
"Apakah... apakah kalian berdua masih waras?" tanyanya lirih, suaranya terdengar takjub dan sulit mempercayainya. "Memangnya hal seperti itu mungkin terjadi? Kalian berdua yang dulu saling bunuh demi aku, sekarang malah ingin menjadi suamiku bersama-sama?"
"Kami sangat waras, Valen. Kami sadar sepenuhnya dengan apa yang kami ucapkan dan apa yang kami inginkan," jawab Ansel dengan nada tenang namun tegas. "Keputusan ini sudah kami pikirkan baik-baik, bukan keputusan yang diambil dalam keadaan emosi sesaat."
Valencia menghela napas panjang, lalu bertanya kembali dengan nada ragu dan khawatir.
"Tapi... apakah jika aku menerima hal ini... apakah kalian benar-benar tidak akan saling cemburu lagi? Apakah kalian benar-benar tidak akan saling menyakiti lagi karena ketidak adilan ku? Aku ini hanya manusia biasa... Aku sadar aku tidak akan pernah bisa berlaku adil di antara kalian berdua. Pasti ada satu yang lebih ku sayangi atau lebih ku perhatikan... Bagaimana dengan hal itu?"
Ansel tersenyum lembut, lalu ia mengusap lembut rambut Valencia.
"Aku sudah memikirkannya, Valen... Aku akan memahaminya. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri dan pada Zyro. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mengerti, untuk sabar, dan untuk ikhlas. Selama aku masih bisa melihatmu, bersamamu, dan mencintaimu... Aku rela menerima segala kekurangan dan ketidakadilan apa pun. Karena bagiku, keberadaan mu di sisiku jauh lebih berharga daripada rasa cemburu atau egoku sendiri," jawab Ansel tulus dan mantap.
Zyro pun mengangguk setuju, lalu ia menambahkan dengan suara lembut namun tegas.
"Begitu juga denganku, Valen. Aku pun manusia biasa, pasti ada rasa cemburu sedikit atau rasa ingin memiliki sepenuhnya. Tapi cintaku padamu jauh lebih besar daripada semua itu. Dan rasa hormatku pada Ansel sebagai sahabat dan pendampingmu juga sudah tumbuh kuat. Kami berdua sudah berjanji, Valen... Kami akan menjaga perasaan satu sama lain, kami akan menjaga kebahagiaanmu. Jadi kumohon... terimalah kami berdua..."
Valencia menatap wajah mereka berdua secara bergantian. Ia melihat ketulusan, kesungguhan, dan cinta yang begitu besar terpancar jelas dari mata mereka. Ia sadar, hubungan ini memang tidak biasa, rumit, dan aneh menurut pandangan orang lain. Tapi di sini, di ruangan ini, ada dua pria yang rela melakukan apa saja, bahkan menekan egonya sendiri, hanya demi bisa bersamanya dan melihatnya bahagia.
Air mata bahagia kembali mengalir di pipinya, namun kali ini senyum lembut dan tulus mulai terukir di bibirnya. Ia merasa dicintai melebihi apa pun di dunia ini.
"Baiklah..." bisiknya pelan namun tegas, matanya menatap mereka berdua bergantian dengan penuh kasih sayang. "Aku menerima... Aku bersedia... Menjadi istri kalian berdua..."
Mendengar jawaban itu, wajah Zyro dan Ansel seketika bersinar cerah penuh kebahagiaan yang meluap-luap. Tanpa kata-kata lagi, mereka berdua sama-sama menundukkan kepala dan mengecup kening Valencia secara bergantian dengan sangat lembut, penuh rasa syukur dan cinta yang tak terhingga.
"Terima kasih, Valen... Terima kasih..." bisik mereka serentak di telinga wanita itu. "Kami mencintaimu, selamanya."
"Tapi aku tak kan bisa jika di posisi kalian, jadi jika suatu saat diantara kalian jatuh cinta pada wanita lain,, tolong beritahu aku, dan lepaskan aku"... Pinta Valen
" aku dan Ansel sudah membicarakan hal itu Valen,, kita berjanji andai jika suatu saat entah aku, entah itu Ansel, jika diantara salah satu dari kita mengalami hal yang tak terduga, mungkin contohnya kita khilaf menyentuh wanita lain selain dirimu, aku atau Ansel tidak akan menutupinya, dengan sadar diri untuk melepaskan mu, karena jika kita menyembunyikannya akan berakibat fatal buat mu buatku dan buat Ansel. Kita tidak ingin membawa penyakit yang berakibat fatal untuk kita.
Malam itu, sebuah hubungan yang tidak biasa, rumit, dan penuh cobaan, namun dibangun di atas dasar cinta yang tulus, pengorbanan yang besar, serta kesetiaan yang tak tergoyahkan terjalin. Dan mereka tahu, apa pun tantangan yang akan datang di masa depan, selama mereka bertiga bersatu hati dan saling mendukung, mereka pasti bisa melewati segalanya bersama-sama.
Hening menyelimuti ruangan, namun kali ini terasa hangat dan damai. Kata-kata Valencia masih terngiang jelas di hati mereka berdua.
"Terima kasih sudah mau menerimaku apa adanya. Aku tahu jalan kita takkan mudah, tapi aku janji akan berusaha membahagiakan kalian berdua," bisik Valencia lemah namun tulus.
"Justru kamilah yang berterima kasih padamu, Sayang," jawab Zyro sambil menggenggam tangan Valencia erat. "Selama kita bersama, tidak ada yang tak mungkin kita hadapi."
Ansel mengangguk setuju, matanya menatap tajam namun lembut ke arah Zyro.
"Benar. Biarkan orang bicara apa saja, yang terpenting adalah kebahagiaan kita bertiga. Kita sudah melewati masa terberat, jadi jangan pernah ragu lagi," ucap Ansel tegas.