Asisten Ceroboh & Presdir Galak
Bagian 4
ENJOY THE SWEETNESS (。•̀ᴗ-)✧
Dimas Santoso
[Menutup pintu perlahan, lalu berjalan kembali ke arah meja Adrian. Melepas kacamatanya sebentar, mengusap wajah letihnya.]
Dimas Santoso
[Menarik kursi asal lalu menjatuhkan diri ke sana, menatap Adrian dengan senyum geli]
Dimas Santoso
Kau tega sekali dengan anak baru itu, Bro. Tidak lihat? Tadi dia sampai gemetar seperti kucing kehujanan.
Adrian Wiratama
[Tidak mengangkat kepala dari berkas yang sedang diperiksanya]
Adrian Wiratama
Kalau dia tidak tahan tekanan sekecil itu, lebih baik keluar sekarang daripada membuat masalah nanti.
Dimas Santoso
[Mencondongkan tubuh ke depan, nadanya separuh menggoda]
Dimas Santoso
Ayolah … kau tahu itu hanya gadis magang, bukan kandidat direksi. Sedikit lebih ramah tidak akan membuat saham perusahaan jatuh.
Adrian Wiratama
[Akhirnya mendongak, menatap Dimas dengan alis terangkat. Tatapannya tetap tajam, tapi ada kilasan keakraban]
Adrian Wiratama
Kau pikir aku mengangkat asisten untuk main-main?
Dimas Santoso
[Tertawa pelan, mengangkat tangan menyerah]
Dimas Santoso
Tidak, Tuan Direktur. Aku tahu kau perfeksionis. Tapi jujur saja … ada sesuatu di matamu tadi.
Adrian Wiratama
[Mengerutkan kening]
Apa maksudmu?
Dimas Santoso
[Senyumnya makin lebar, menggoda]
Dimas Santoso
Tatapanmu. Biasanya kau dingin, penuh perhitungan. Tapi saat melihat si Hana itu … entah kenapa lebih lama sepersekian detik.
Adrian terdiam sejenak, lalu mendengus pendek sambil kembali menunduk ke berkasnya.
Adrian Wiratama
Kau terlalu banyak bicara, Dimas. Fokus saja pada persiapan keberangkatanmu.
Dimas Santoso
[Berdiri. Menopang kedua tangan di meja. Menatap Adrian dari bawah dengan ekspresi nakal]
Dimas Santoso
Heh … aku ini asisten sekaligus sahabatmu. Kalau aku tidak menggoda siapa lagi?
Adrian hanya menghela napas panjang, pura-pura tidak mendengar. Tapi ujung bibirnya nyaris terangkat, nyaris.
Hana hampir tersandung saat membuka pintu ruang rapat. Map tebal di pelukannya hampir jatuh, tapi berhasil dia tangkap kembali dengan kedua tangan gemetar.
Hana Ayu Pramesti
*Lima belas menit. Astaga … ini bukan ujian, ini penyiksaan.* [Keluh Hana dalam hati]
Ruangan itu luas, meja panjang dari kayu mengkilap membentang di tengah. Kursi-kursi kulit hitam berjejer rapi, tapi ada beberapa yang bergeser tidak sempurna. Proyektor di ujung ruangan masih mati, kabelnya terlepas dari colokan.
Tanpa buang waktu, Hana meletakkan map di meja lalu berlari kecil ke kursi-kursi. Dia mendorong, menarik, merapikan satu per satu, hingga semuanya sejajar. Keringat mulai membasahi pelipisnya meski ruangan ber-AC.
Selanjutnya, proyektor. Hana jongkok, mencari colokan dengan cepat. Kabelnya sempat macet, membuatnya hampir panik.
Hana Ayu Pramesti
Ayo … ayo, jangan macam-macam sekarang.
Setelah beberapa detik yang terasa abadi, layar akhirnya menyala, menampilkan logo perusahaan.
Hana Ayu Pramesti
YES! [Berseru pelan, hampir melompat kegirangan, tapi segera menutup mulutnya sendiri]
Hana Ayu Pramesti
[Melirik map besar di meja. Menghela napas]
Hana Ayu Pramesti
[Membuka map besar itu]
Ada puluhan lembar kertas. Hana lari keluar menuju mesin fotokopi di lorong. Jantungnya berdetak kencang saat kertas keluar satu per satu. Tangan kecil Hana sibuk menata, menghitung ulang.
Hana Ayu Pramesti
Sepuluh rangkap, pas. [Bergumam pelan]
Hana Ayu Pramesti
[Kembali ke ruang rapat dengan langkah terburu, menyusun dokumen di setiap kursi dengan hati-hati]
Tangan Hana gemetar, tapi semua akhirnya selesai. Tepat ketika Hana menarik napas panjang, mencoba mengatur degup jantungnya—
Pintu besar terbuka. Seorang pria dengan setelan mahal masuk, diikuti beberapa pria lain yang tampak jelas investor asing. Mereka berbicara dalam bahasa Inggris pelan, nada suara serius.
Dan di belakang mereka, tampak Adrian dan Karina.
Adrian Wiratama
[Menatap sekilas meja rapat yang sudah rapi. Lalu … berhenti sebentar pada Hana yang masih berdiri di sisi ruangan]
Hana Ayu Pramesti
[Reflek menunduk]
Adrian Wiratama
Hmm. [Bergumam singkat]
Tapi di telinga Hana, rasanya seperti pujian besar.
Hana Ayu Pramesti
*Hana Ayu Pramesti … kau masih hidup. Untuk sekarang.* [Menyemangati diri di dalam hati]
Comments