Gejolak Yang Sulit Untuk Dihindari

Setelah memastikan gadis itu tidur dengan nyenyak Valen langsung duduk kembali di kursi kebesarannya bersama dengan Mateo asisten pribadinya, saat ini pembahasan mereka sudah berbeda, bukan tentang barang-barang ilegalnya yang akan di jual, melainkan berbicara tentang gadis itu, kepada asisten pribadinya.

  "Mateo, gadis tadi mencoba untuk kabur," ucap Valen dengan senyum yang terukir di sudut bibirnya.

 Mateo berbalas senyum seolah tahu kalau atasannya itu sedang menyembunyikan sesuatu. "Maksudnya, Selena Don?" tanya Mateo menjelaskan.

  "Iya siapa lagi, memangnya di sini ada gadis lain selain dia," sahutnya datar.

 "Don, kenapa kita harus menjerat gadis itu padahal kalau dari segi karakter gadis itu penakut, tidak mungkin dia berbicara kepada sembarang orang," ucap Mateo.

  "Tidak Mat, kita gak tahu dengan hati seseorang jangan menilai dia dari segi luarnya saja, di dalam hatinya kan tidak ada yang tahu, siapa tahu dia suruhan musuh untuk mengawasi kita," ungkapnya sedikit tak beralasan.

  "Ah, sepertinya tidak mungkin Don," sela Mateo dengan cepat.

  "Terserah kamu tapi menurutku dia ada hubungannya dengan musuh," sahut Valen.

 "Dengan musuh atau perasaanmu sendiri," sela Mateo yang membuat Valen terdiam sambil menatap Mateo dengan tatapan tajamnya.

 "Kau mulai bosan hidup Mateo!" seloroh suara bariton itu.

  Senyum Mateo terukir samar. "He ... he ... maaf Don," sahut Mateo.

  Setelah bercakap cukup panjang mengenai gadis itu, akhirnya Valen memutuskan untuk mengakhiri dan Mateo pun sudah pergi. Saat ini Valen hanya bisa mengingat bagaimana gadis itu dengan ketakutan memandangnya yang pada waktu itu sedang berlumuran darah.

  "Ah ... Gadis bodoh, sudah tahu kau masuk di kandang singa bukannya lari malah diam di tempat," gumamnya dengan senyuman yang terbesit indah di wajahnya.

 Valen baru kali ini merasakan ada yang berbeda ketika bertemu dengan seorang gadis, padahal sebelumnya dia begitu membenci dengan mahluk yang namanya perempuan, bukan berarti dia tidak ada rasa dengan lawan jenisnya, hanya saja masalalu yang pahit membuatnya membenci seorang wanita, padahal sudah beberapa kali dia ingin menikah akan tetapi dia pula yang sengaja membatalkan pernikahan itu karena trauma di masa lalunya, dan hal ini pula yang membuatnya banyak musuh, karena sebagian dari keluarga calon mempelai perempuan ada yang tidak terima anaknya dipermainkan oleh Valen.

  Adrian Valente Dirgantoro, lahir di Palermo, Italia, sejak kecil hidup Adrian sudah di kenalkan dengan dunia gelap dari sang ayah, bahkan ayahnya juga merupakan sindikat mafia terbesar pada jamannya, dan Adrian di bawa lari ke Jakarta ketika ayahnya ada peperangan dengan keluarga mafia di Italia.

  Sejak kejadian itu Adrian kecil harus berpisah dengan sang ibu yang merupakan wanita asal Indonesia, akan tetapi di dalam kejadian perang itu menyimpan luka terdalam bagi Adrian. Di mana sang ibu lebih memilih musuh bebuyutan sang ayah yang merupakan selingkuhan dari ibunya.

  Pada waktu itu ada sebuah kejadian di mana Adrian kecil harus terjebak diantara kobaran api karena ingin melindungi sang Ibu, akan tetapi sang ibu malah pergi dengan selingkuhannya dan membiarkan Adrian di tengah-tengah kobaran itu. Beruntung sang ayah Giovanni Valente segera menyelamatkan Adrian dari kobaran itu.

  "Mommy ... tolong aku ... di sini panas!" teriak Adrian kecil, yang membutuhkan pertolongan.

  "Sudah Boy, jangan nangis Mommy sudah pergi, sekarang kita bisa kok lewati kobaran ini," ucap Gio sambil menggendong anaknya dan keluar dari kobaran api tersebut.

Adrian kecil selamat dari kobaran itu, namun peperangan tidak berhenti sampai di sini, di mana pada waktu itu musuh tiba-tiba menyerang ketika anak buah dari ayah Adrian sudah tumbang, beruntung sang ayah pandai menyikapi musuh, dia lebih memilih bersembunyi di balik kobaran api hingga musuh mengira kedua anak dan bapak itu telah tiada dilahap si jago merah.

Sejak itu pula ayah Adrian langsung membawa Adrian lari ke Indonesia, dan menjalankan bisnis gelapnya hingga sekarang sang ayah, sudah meninggal, dan panggilan Adrian sudah berganti menjadi Don Valen.

☘️☘️☘️

Valen membuka pintu kamar perlahan, dengan samar tanpa menimbulkan suara, seketika langkahnya mulai mendekat ke arah gadis yang tengah tertidur pulas itu. Lampu kamar hanya menyala redup, menyinari wajah Selena yang tampak damai dalam tidurnya. Napasnya teratur, sesekali tubuhnya bergerak kecil, seakan masih dihantui mimpi buruk.

Valen masih berdiri memandangi wajah gadis itu dari dekat, entah kenapa hatinya yang tidak pernah disentuh oleh seorang perempuan, untuk kali ini dia merasa ingin mengikat gadis itu. 'Kenapa hanya sekedar melihat mu aku merasakan rasa yang lama sudah mati,' batinnya bergejolak.

Perlahan ia mulai mendekat duduk di samping gadis itu, tangannya yang biasa sering di gunakan untuk menarik pelatuk dan berlumur darah, kini mulai terulur untuk menyibak anakan rambut yang menutupi wajah cantik Selena.

"Dasar gadis bodoh," gumamnya dengan lirih. "Kau tidak tahu siapa yang kau hadapi? Tapi kenapa aku tidak bisa melepaskan mu," ucapnya sambil memandang wajah teduh itu.

Valen masih tetap saja memandang wajah polos Selena rasanya ia tidak pernah puas jika tidak menatap wajah gadis itu, sejenak bayangannya kembali teringat di malam itu di mana gadis itu menatapnya dengan wajah yang ketakutan, bukannya kesal justru bayangan itu yang selalu mengusik ketenangan hatinya.

Sejenak Valen mulai menarik napas, panjang untuk mengindari gejolak asing yang saat ini tinggal di dasar hatinya, untuk kali ini ia merasa bukan sebagai Don yang ditakuti melainkan sebagai pria yang membutuhkan kasih sayang.

Namun senyum itu perlahan hilang ketika hatinya mulai terusik, pikirannya mulai realistis. "Jika suatu saat nanti kau merupakan utusan dari musuh, maka ... aku tidak segan untuk membunuhmu sekalipun hatiku menolak untuk melakukan itu," desisnya tepat di telinga Selena.

Valen mulai berdiri perlahan membetulkan selimut Selena sembari menundukkan pandangannya, dari sinilah pria itu benar-benar melihat kecantikan seorang gadis dari depan, hingga dirinya tidak kuasa menahan getaran yang sudah tidak tertahankan lagi.

"Mulai sekarang kau adalah kelemahanku," ucapnya sambil mengutuk dirinya sendiri.

Perlahan pria itu mulai melangkah ke jendela besar, memandang udara malam yang terasa sunyi hening tidak ada suara apapun, semua orang terlelap di dalam tempat peristirahatan masing-masing kecuali ia, yang jarang sekali tertidur, karena terlalu banyak beban yang harus ia pikirkan dan perkirakan.

Valen tersenyum samar, terkadang hidup memang aneh bertahun-tahun berkecimpung di dunia gelap dan hiburan, banyak wanita cantik yang membanting tubuhnya untuk bisa menjebaknya ke dalam suatu hubungan, akan tetapi ia malah ada rasa dengan seorang gadis yang nampak lugu dan polos.

"Dasar gadis bodoh," ucapnya sambil tersenyum tipis.

Bersambung ....

Hayo ... Ada yang mulai berbunga-bunga nih...

Terpopuler

Comments

Lanjar Lestari

Lanjar Lestari

kl gadis bodoh knp bs hatimu menyukai dan km malah menyerah nya Don Valen,Mateo siapa ya🤔

2025-08-19

1

Ayi

Ayi

Aaaah dasar si Valen bisa-bisanya jatuh hati dengan gadis bodoh😂😂😂🤭🥰🥰🥰

2025-08-18

1

Ayi

Ayi

Si Mateo gak tahu ya kalau bos nya sedang jatuh cinta

2025-08-18

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!