Menandatangani Surat Perjanjian

Tangan Selena mulai bergetar, ketika pria bermata elang itu mulai menyuruhnya membaca surat perjanjian yang berisi seperti kontrak selamanya, dan seketika wajah Selena berubah menjadi pucat pasih.

Selena menatap dalam-dalam wajah pria bermanik elang itu lalu mulai berbicara. "Apa! Selamanya aku berada dibawa perlindunganmu Tuan ... terus kapan aku bisa menghirup udara bebas?" tanyanya memberanikan diri.

  Pria itu langsung menyunggingkan senyuman seolah mengejek apa yang menjadi pertanyaan gadis itu. "Kau tanya tentang kebebasan Nona Selena ....," tawanya menggema. "Kau tahu kan siapa aku, dan orang yang sudah terlibat denganku ... kemungkinan besar tidak akan pernah terlepas dari jeratanku," ucap Valen dengan seringai yang terbesit di wajahnya.

Seketika Selena mulai menggelengkan kepalanya ini sungguh tidak mungkin, dan tidak adil untuk dirinya sebisa mungkin gadis itu harus mencari cara untuk keluar dari belenggu Don Valen secepatnya juga.

  'Tidak ... aku tidak boleh seperti ini aku harus cari cara untuk keluar,' ucapnya dalam hati.

 Sementara pria itu hanya menyeringai melihat gelagat gadis di hadapannya yang mulai berpikir. "Jangan coba cari cara untuk kabur dari sini," cetus pria itu membuat tubuh Selena merinding ketakutan.

 Tubuh Selena mendadak lemas ia terpaksa mengikuti apa yang menjadi perintah dari Don Valen meskipun di dalam hatinya masih mencari cara untuk kabur dari tempat ini, tempat yang mungkin susah untuk mencari jalan pulang jika sudah terperangkap.

  Setelah menandatangani surat perjanjian itu, Selena pun mulai di bawa ke sebuah kamar yang begitu luas dengan dominasi warna gelap, di ruangan kamar ini terdapat lemari kayu yang panjangnya memenuhi dinding dan ada sesuatu yang mencuri perhatian Selena di kamar ini, yaitu sebuah foto keluarga yang terpajang dengan ukuran cukup besar di kamar ini. Akan tetapi yang jadi pertanyaan foto tersebut hanya ada Don Valen kecil yang begitu tampan dan lucu bersama seorang ayah tanpa di dampingi seorang ibu.

Selena mulai bertanya kepada maid yang mengantarnya ke kamar ini. "Bu, kenapa aku dibawa ke kamar ini?" tanya Selena, kepada wanita paruh baya itu.

Wanita paruh baya itu merupakan kepala maid di sini, dan ia pun sudah ikut dengan Valen selama 32 tahun jadi dirinya paham betul dengan karakter dan sifat atasannya itu.

  "Kalau mau aman jangan banyak bertanya diam saja, maka hidupmu dan keluargamu akan aman," sahut kepala maid itu dengan nada tegas.

  Selena langsung terdiam dan sepertinya semua orang yang ada di rumah ini sudah di sumpah untuk setia kepada tuannya.

  ☘️☘️☘️

 Setelah sepersekian detik, akhirnya maid tersebut membawakan baju tidur untuk Selena, gadis itu mau tidak mau harus patuh, dan tidur tepat waktu sebelum Don Valen datang.

  "Nona, ini baju tidur anda, segera pakai dan cepat tidur sebelum Don datang kemari," perintah Ibu Maria kepala maid di sini.

  Selena tertegun, mendengar kata-kata Don Valen akan datang kemari. "Apa! Bu, kenapa dia harus datang kemari?" tanya Selena heran.

  "Karena ini kamarnya Don Valen," sahut Maria segera.

 "Apa!" sentak Selena.

  "Iya ini kamar Don Valen, dan harus diketahui, kamu merupakan perempuan pertama yang dibawa Don, datang ke istananya, jadi aku harap jangan membangkang jika hidupmu ingin baik-baik saja," kata wanita paruh baya itu memperingati.

  Selena hanya bisa terdiam tanpa mengeluarkan lagi kata-kata, karena terlihat percuma, semua maid di sini sudah dibawah sumpah oleh pemilik istana kegelapan.

Saat ini Selena mulai mengganti baju tidur, setelah itu dirinya mulai mencoba untuk memejamkan mata di tengah-tengah ranjang empuk milik Don, entah kenapa matanya sulit terpejam meskipun berada di dalam tempat yang begitu nyaman.

  "Tuhan ... tolong bebaskan aku dari semua ini," ucap Selena sambil mencoba memejamkan matanya.

☘️☘️☘️☘️

 Sementara saat ini Valen sedang sibuk di sebuah gedung tua dekat pelabuhan, dari luar nampak sekali gedung itu sepi, hanya bermodalkan lampu temaram yang menggantung tertiup angin laut.

 Valen langsung masuk dengan didampingi para pengawalnya, meskipun di luar nampak terlihat sepi, akan tetapi di dalam para pekerja sangat sibuk, mengemas senjata api yang sudah dimasukkan di peti kayu. Para pengawal bertubuh kekar itu, mulai mengangkat peti yang sudah di kasih cap buah impor. Padahal isi di dalamnya lebih dari sekedar buah.

  Valen berdiri tegap mengenakan jas hitam sambil menyesap sebatang roko di tengah-tengah jemarinya. matanya mulai mengawasi para anak buahnya yang sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing.

 "Hati-hati kalian dengan peti itu jika jatuh dan terbuka bisa mampus kita semua," ucap Valen dengan nada yang cukup pelan tapi penuh dengan tekanan.

Setelah itu seorang pria mulai menghampiri sambil membungkuk hormat membuka sebuah catatan pengiriman. “Don, kapal kargo berangkat tengah malam. Dari sini, barang masuk ke kontainer dingin, jadi orang-orang bea cukai nggak bakal curiga. Semua dokumen palsu udah siap," ucapnya memberi sebuah laporan.

Valen mengangguk ia mulai melangkahkan kakinya menghampiri peti-peti itu, tangannya perlahan mulai menggeser sedikit papan kayu tersebut, deretan senjata laras panjang yang berkilap tertata dengan rapi, sekilas senyuman tipis terbesit di sudut bibir sambil menutup kembali peti tersebut.

"Kerja bagus," ucapnya menyeringai.

Di luar, suara klakson panjang terdengar. Truk kontainer tiba. Anak buahnya segera bergerak cepat, mengangkat peti-peti ke dalam truk. Valen menyalakan rokok lagi, menatap jarum jam tangannya. Tepat tengah malam, pengiriman senjata ilegal itu pun bergerak meninggalkan gudang, menuju pelabuhan yang sudah dibeli dengan uang suap.

Setelah memastikan semua sudah aman pria itu dengan ditemani para pengawal dan asisten pribadinya memutuskan untuk kembali pulang di istana kekuasaannya.

Mobil mulai melaju menembus jalanan malam yang mulai berkurang kendaraan yang berlalu lalang, suasana sunyi mencekam, sekilas bayangan pria itu teringat akan gadis yang saat ini menjadi tawanannya, entah kenapa selain ia menjerat Selena dengan peristiwa malam itu, akan tetapi di dalam dasar hatinya ada sesuatu lain yang membuatnya harus menjerat gadis itu selamanya

"Pak, tambah kecepatannya," perintahnya singkat.

Driver itu hanya mengangguk, dan menambahkan kecepatan lajunya seperti yang diperintah oleh bosnya, dan tidak lama kemudian mobil sudah sampai di depan rumahnya.

Valen segera masuk ke dalam rumahnya yang nampak gelam dengan pencahayaan lampu temaram saja, suasana sunyi di lorong-lorong rumahnya terasa mencengkam, hingga pada akhirnya pria yang memiliki rahang tegas itu mulai memegang gagang pintu, dan setelah pintu terbuka tatapannya mendadak teduh ketika melihat gadis yang sudah terlelap di atas ranjangnya.

"Ah, gadis polos yang bodoh ...," ucapnya pelan lalu mulai menutup kembali pintu tersebut, setelah memastikan gadis itu masih ada di dalam kamarnya.

Bersambung ....

Terpopuler

Comments

Amalia Putri

Amalia Putri

Wah rupa nya Don valen jatuh cinta sama selena lanjut thor,met makan siang dan istirahat siang ,buat para pembaca juga met siang/Ok//Ok//Ok//Heart//Heart//Heart/

2025-08-18

1

partini

partini

gadis bodoh yang akan membuat hidup kamu berwarna ga seperti rumah mu yg ga ada warna sama sekali ,,

2025-08-18

1

Lanjar Lestari

Lanjar Lestari

ya benih benih cinta telah hadir di hatimu Don Valen,dg Selena di dekatmu hatimu tenang Selena yg ketar ketir.😍terjerat selamanya

2025-08-19

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!