NovelToon NovelToon

Tejerat Cinta Mafia Posesif

Kejadian Malam Itu.

Pada malam itu di sebuah gang kecil seorang gadis cantik sedang berjalan dengan wajah yang lelah sambil memegang tas selempangnya, kakinya mulai melangkah pelan, akan tetapi di tengah-tengah gang ia mendengar suara rintihan seseorang yang tengah merasakan kesakitan.

  Selena mulai menghentikan langkahnya wajahnya mulai menengok ke kanan dan kiri dari sanalah, matanya menangkap seorang pria bertubuh tinggi tegap, berdiri dengan kepala sedikit menunduk. Tangannya sibuk mengelap telapak yang berlumur cairan merah, menggunakan kain putih.

  Di sini Selena langsung membekap mulutnya dengan kedua tangannya langkahnya perlahan mulai mundur. Namun baru satu langkah ia tarik ke belakang, kepala pria itu terangkat. Sepasang mata tajam menembus gelap, mengarah tepat padanya.

Selena menahan napas. Dunia terasa membeku seketika. 'Ah tidak... dia mengetahui... keberadaanku,' batin Selena dengan mata yang membulat sempurna.

Tatapan itu begitu menusuk, membuat bulu kuduk Selena meremang. Kakinya kaku, seperti terikat rantai tak kasatmata. Pria itu mulai melangkah mendekat, gerakannya tenang namun mengancam, seolah setiap langkah sudah diperhitungkan.

“Siapa kau?” suaranya dalam, serak, dan mengandung nada perintah.

Selena menelan ludah, mencoba berpikir jernih. “A… aku… hanya le... lewat,” jawabnya terbata, suaranya nyaris hilang bersama rasa takutnya.

Pria itu berhenti hanya beberapa langkah di depannya. Dalam pencahayaan yang temaram, Selena bisa melihat dengan jelas garis rahang tegas, tatapan dingin, dan kilatan samar yang entah karena cahaya atau memang matanya seperti itu. Di tangannya, kain putih yang ia gunakan untuk menghapus darah kini terlipat rapi, namun noda merahnya jelas masih terlihat.

“Melewatkan gang ini… di jam segini?” Nada suaranya lebih terdengar seperti tuduhan daripada pertanyaan.

Selena memeluk tas selempang di dadanya lebih erat, mencoba mundur lagi. Namun punggungnya justru membentur dinding gang yang lembap. Nafasnya mulai cepat.

  "A... aku sudah terbiasa pulang kerja di...jam seperti ini," sahutnya mencoba untuk memberanikan diri di tengah-tengah rasa takutnya.

Pria itu mendekat satu langkah lagi, membuat jarak di antara mereka hanya tinggal sejengkal. “Kau tidak melihat apa-apa… mengerti?”

ucapannya itu lebih terdengar seperti ancaman dan peringatan yang ditujukan khusus untuk dirinya. Selena hanya bisa mengangguk, tak berani menatap terlalu lama ke arah pria yang memiliki tatapan elang itu.

Senyum tipis terbentuk di sudut bibir pria itu, entah itu tanda puas atau ancaman lanjutan. “Bagus. Karena jika kau lupa pada kata-kataku…” Ia menunduk sedikit, berbisik tepat di telinganya, “aku akan memastikan kau mengingatnya… dengan cara yang tidak kau sukai," bisiknya terdengar samar namun menusuk sampai ke dasar hati Selena.

Udara dingin malam mendadak terasa menyesakkan. Saat pria itu melangkah pergi, aroma parfum maskulin bercampur samar bau anyir darah itu masih tercium di indera penciumannya, Selena sadar, wajah itu akan menghantui pikirannya untuk waktu yang lama.

  Selena segera melanjutkan kembali langkahnya dengan hati-hati apalagi di saat ia mulai melewati seorang pria tergeletak tak bernyawa dengan sekujur tubuh yang dilumuri oleh cairan merah kental itu.

  Langkahnya cukup hati-hati namun pasti, ia meninggalkan tubuh itu dengan perasaan yang bergidik antara ngeri dan ketakutan, akan tetapi perlahan ia mulai berhasil meninggalkan gang tersebut dengan langkah yang bergetar dan juga rasa ketakutan yang teramat besar.

  Perlahan langkah demi langkah Selena mulai sampai di depan kontrakan kecilnya, gadis itu mencoba untuk masuk dengan cepat dan mengunci rapat-rapat pintu kontrakannya.

  "Hah ... hah ....," nafas Selena terengah, bukan karena habis berlari berkilo-kilo meter melainkan karena ketakutan, seumur-umur dia tidak pernah menyaksikan sendiri manusia di eksekusi dengan begitu kejamnya.

  "Tuhan ... segera lupakan ingatanku dari kejadian ini, sungguh aku tidak mau mengingatnya kembali kejadian yang membuat hidupku susah bernafas seperti ini," ucapnya sambil mengontrol nafas yang susah beraturan.

  Selama bertahun-tahun tinggal di kontrakan kecilnya, baru kali ini Selena melihat kejadian aneh yang mungkin akan menjeratnya seumur hidup, dengan pria yang dia temui di gang kecil tadi.

 Setelah meredam ketakutannya Selena langsung menuangkan air putih ke dalam gelas, untuk membasahi tenggorokannya yang sudah kering akibat kejadian tadi.

"Glek ...glek ...." Air putih sudah membasahi tenggorokannya, rasa lelahnya sedikit berkurang akan tetapi tidak dengan rasa takutnya yang semakin membuncah.

  "Tidak ... aku tidak boleh berdiam diri, aku harus cari cara agar bisa pergi dari tempat ini," ucapnya penuh tekad.

  Namun di saat dirinya dilanda ketakutan seperti ini handphonenya mulai berdering, nama ibu terpampang di layar utamanya, Selena pun segera mengambil nafas sebelum mengangkat telepon seolah kondisinya saat ini tengah baik-baik saja.

  "Halo Bu," sapanya mencoba untuk tenang.

  "Nak, Minggu depan adikmu harus bayar SPP sekolah, Ibu harap kamu bisa membantu ya," ucap Ria yang memang sedang membutuhkan biaya untuk anak keduanya.

  "Baiklah Bu, kalau begitu akan Selena usahakan," sahutnya dengan helaan nafas berat.

 Telepon sudah di akhiri saat ini Selena mulai menghempaskan nafas dengan berat, bagaimana dia mau pindah dan cari kontrakan lain sementara di kampung sana ibunya terus-menerus mengandalkan dia untuk membiayai sekolah adiknya.

  Gadis itu hanya bisa memejamkan matanya, mencoba untuk berpikir positif, kalau hari esok tidak akan terjadi apa-apa di dalam hidupnya.

  "Ok Selen, mungkin untuk sementara ini kamu tidak bisa pindah dari kontrakan ini, tapi setelah urusan Adik selesai akan ku pastikan aku bisa pindah dari tempat ini," ucapnya sendiri agar situasi hatinya tenang.

☘️☘️☘️☘️

  Sementara di dalam markas sana seorang pria terlihat menyeringai puas setelah berhasil mengeksekusi musuhnya yang sudah mencoba untuk menggagalkan bisnis ilegalnya.

 Di ruangan yang dipenuhi dengan lampu temaram, pria yang memiliki nama panjang Adrian Valente Dirgantoro duduk di kursi kebesarannya dengan di dampingi para asisten dan orang-orang kepercayaannya yang sudah disumpah untuk tetap setia dan melindungi sang atasan.

  "Setelah ini saya tidak ingin mendengar barang itu di tahan ... paham kan apa maksudku," ucapnya singkat tapi penuh intimidasi.

  "Paham Don Valente," sahut asisten pribadinya yang bernama, Mateo.

  Semua orang yang ada di ruangan ini menunduk, bergerak cepat untuk mengurus kendala yang sedikit menghambat, akan tetapi dari salah satu asistennya ada yang bertanya mengenai gadis yang tadi sempat mengetahui gerak-geriknya.

  "Don ... bagaimana dengan gadis tadi yang sudah mengetahui gerak-gerik kita?" tanya Mateo.

 Valen hanya tersenyum tipis seolah sudah tahu apa yang akan ia perbuat untuk gadis yang nantinya akan dia jerat karena sudah mengetahui semuanya.

  "Kau awasi saja gerak-gerik gadis itu, jika ada yang mencurigakan segera laporkan padaku," perintah Valen dengan nada yang cukup pelan tapi tegas.

  Valen mulai menatap ruangan sekitar dengan tatapan dingin dan seringai licik yang tersirat di dalam wajahnya.

  "Gadis kecil, bisa-bisanya kau berurusan denganku," senyumnya tipis seolah ingin menjerat gadis kecil itu.

Bersambung ....

  Halo kakak...

Aku datang lagi nih, kali ini genre sedikit berbeda ya semoga saja kalian suka.🥰🥰🥰🥰🙏🙏🙏

Mulai Diikuti

Setelah kejadian itu, hidup Selena merasa seperti ada yang mengawasi, awalnya ia berpikir kalau semua ini hanya halusinasinya saja, akan tetapi lama kelamaan rasa itu semakin nyata, apalagi ketika dirinya berada di dalam pekerjaannya.

Selena masih membawa nampan mengantar pesanan di meja nomor 07 langkahnya begitu pelan sambil menelisik ke arah samping meja yang akan dia tuju, senyum ramah mulai nampak dari wajah gadis itu, namun di balik senyum itu, dirinya sedikit melirik, wajah seseorang yang tertutup dengan buku majalah.

  'Perasaan sedari tadi orang itu duduk terus di meja ini,' ucapnya di dalam hati.

Selena segera kembali ke belakang melanjutkan pekerjaannya kembali, gadis itu begitu cekatan dan giat, tidak pernah pilih-pilih meskipun terkadang itu bukan bagiannya, jiwa rangkul merangkul sudah tertanam di benaknya sejak ia kecil, dan tak jarang para rekan kerja ataupun atasan banyak yang menyukai dengan cara kerja Selena.

"Selen, tolong antar ke meja nomor 08 ya," pinta seorang teman.

 Selena berpikir sejenak, bukannya meja nomor 08 merupakan tempat pria misterius tadi, entah kenapa mendengar nomor itu disebut tubuh Selena merasa bergidik ketakutan, hal ini mengingatkannya pada kejadian malam itu.

  "Selen ... kau dengar kan ucapanku?" tanya temannya itu yang memang sedang sibuk dengan urusan yang lain.

  "I ...iya aku dengar," sahut Selena dengan nada sedikit gugup.

  Mau tidak mau akhirnya Selena mencoba untuk memberanikan diri, melangkah ke meja tersebut sambil membawa nampan yang sudah berisi minuman diatasnya.

  Langkah Selena sudah sampai ke tujuan, gadis itu langsung meletakkan gelas diatas meja, sambil mencoba senyum ramah seperti ke pengunjung kafe lainnya.

  "Silahkan diminum Pak ...," ucapnya terdengar sedikit gemetar meskipun wajahnya tersenyum.

  Pria di balik majalah itu langsung mengangguk, tanpa keluar satu kata pun, Selena mulai mundur lalu kembali ke belakang lagi.

☘️☘️☘️☘️

Malam sudah mulai larut tidak terasa pengunjung kafe satu persatu mulai meninggalkan tempat, begitu juga dengan meja nomor 08 yang terlihat sudah kosong, Selena segera jalan cepat untuk meninggalkan kafe tempatnya bekerja.

  Di tengah jalan, tiba-tiba saja Selena merasakan hal aneh, meskipun suasana malam di pusat kota masih nampak ramai, entah kenapa hatinya merasakan dingin di tengah-tengah keramaian kota. Tidak ada yang aneh semuanya nampak seperti biasanya, akan tetapi di saat dirinya menengok ke belakang dia melihat seseorang memakai jaket kulit yang seperti sedang mengawasi dirinya, dan berpura-pura menunduk sambil memainkan handphone di saat Selena mulai menengok ke belakang.

  "Dari segi pakaian sepertinya di... dia pria misterius di meja 08 tadi ...," gumamnya sedikit tercekat.

  Selena mempercepat langkahnya, namun semakin dia mempercepat, langkah di belakangnya pun semakin gencar mengikuti dirinya, hingga pada akhirnya dia memutuskan untuk berbalik badan. Lagi-lagi nampak seperti biasa saja, namun mata Selena mulai menangkap seseorang bersembunyi di balik pohon besar itu hingga membuat langkahnya tertantang untuk mendekati pria itu.

  Satu persatu langkah sudah ia lewati, hingga pada akhirnya Selena berada tepat di depan pohon besar itu.

  "Anda siapa?" ucap Selena mencoba untuk bertanya.

  Pria itu masih belum ada respon, dia masih bersembunyi di balik pohon besar itu, sementara Selena, langsung mengambil handphone dari tasnya tangannya segera terulur untuk memencet nomor darurat tapi ... sebelum dirinya sempat menghubungi nomor tersebut, tiba-tiba saja silau cahaya dari mobil datang dan berhenti tepat di hadapannya.

Seseorang berpakaian rapih, rambut hitam klimis disisir ke belakang, tengah turun dari mobil dengan tatapan tajam mengarah ke arahnya, Selena mulai mengambil langkah ke belakang dengan hati-hati namun langkahnya mulai terhenti ketika suara itu mulai terdengar.

"Jangan mencoba lari," ucapnya terdengar sebagai peringatan.

Langkah Selena terhenti seketika, di saat suara dingin itu mulai berucap. "A ... aku tidak kemana-mana," sahutnya ketika langkah tegap itu mulai menghampirinya.

"Aku sudah bilang jangan pernah mencoba untuk menghubungi siapapun," bisiknya terdengar sebagai belati yang menusuk di dadanya.

"A ... aku tidak bicara dengan ... Siapapun," sahutnya sambil memejamkan matanya.

"Bagus ... Kalau begitu," ucapnya pelan.

Selena terdiam, sejenak gadis cantik itu mulai membuka mata, dan melihat pria bermata elang itu mulai masuk ke dalam mobil dengan pintu yang masih terbuka, sorot matanya mulai melirik ke arah Selena dengan isyarat bukan main.

Pria itu langsung melirik ke arah kursi penumpang membuat jantung Selena semakin tidak aman.

"Untuk apa ....," ucap Selena tercekat.

“Nona…” suaranya kali ini lebih dalam, seperti bilah tipis yang siap menebas, “aku tidak menyarankanmu membuatku mengulang perintah," ucapnya sekali lagi.

Suasana hening seketika, sebelum akhirnya Selena memegang gagang pintu mobil, dengan hati yang berdebar tak kendali, saat dia duduk di kursi belakang aroma maskulin langsung menyergap hidungnya membuatnya mengingat kejadian malam itu di gang kecil.

Mobil melaju perlahan, malam ini Selena sadar kalau dirinya mulai melangkah jauh ke dalam kehidupan yang membuatnya susah untuk keluar dari jerat pria di hadapannya itu.

"Jangan menunduk." lagi-lagi suara itu mulai menggetarkan hatinya.

Gadis itu hanya terdiam meremas ujung roknya, dengan tangan yang sedikit bergetar. "To ... tolong jangan bawa a..ku," ucapnya sudah mulai tercekat.

Pria itu tersenyum menyeringai. "Kamu pikir setelah kejadian itu, aku akan membiarkanmu begitu saja? Heeeemb ...berpikirmu terlalu mudah gadis lugu."

Selena hanya bisa menelan ludahnya sendiri, dalam hati dirinya menjerit kenapa harus dia yang dipilih Tuhan untuk menyaksikan semua kejadian itu kenapa tidak orang lain saja, hidupnya sudah susah dan penuh perjuangan tapi kenapa takdir malah mempertemukannya dengan orang kejam seperti pria di hadapannya itu.

'Tuhan ... jika boleh memilih lebih baik jangan Engkau temukan aku dengan pria kejam ini,' batinnya penuh dengan ketakutan.

Ketika Selena berusaha untuk tenang di saat satu mobil dengan pria yang menguji mentalnya itu, tiba-tiba saja handphonenya berdering memecahkan keheningan di dalam mobil.

Seketika pria yang duduk di kemudi depan mulai melirik ke arah belakang, dengan tatapan yang tajam. "Ada masalah ya di gendang telinga mu, sehingga kau mendadak tuli," ucapnya selalu penuh sindiran yang menakutkan.

"E ... enggak," sahut Selena.

"Angkat!" perintahnya dengan tatapan yang mengintimidasi.

Selena mencoba meraih handphone dari tasnya, matanya begitu membelalak ketika nama yang muncul di layar merupakan nama ibunya, dan hal ini mengingatkan Selena kepada biaya SPP sang adik yang sampai sekarang belum ia bayar.

"Hidupkan spiker," suruh pria itu ketika Selena hendak menekan tombol hijau.

Selena mulai menyalakan spiker di ponselnya lalu disusul dengan ucapan dari sang ibu yang mendesaknya untuk segera mengirim uang.

"Nak ... kenapa belum di kirim uangnya, ayahmu sakit sudah seminggu, sementara adikmu merengek terus karena belum bayar SPP, Ibu bingung Nak, sudah usaha ke sana kemari tapi belum ada yang meminjami," suara ibu Selena yang terdengar langsung oleh Don Valen.

Bersambung ...

Siang kakak ... Soga suka ya .. Tipis dulu ya biasa untuk pemanasan.

Ketegangan Di Istana Kegelapan

Ucapan dari seberang sana benar-benar membuat hati Selena tertegun, sangking sibuknya dia sampai lupa berusaha untuk meminjam uang ke salah satu temannya seperti bulan-bulan sebelumnya ketika ia masih belum pegang uang sama sekali.

 "I ... iya Bu. Maaf ya aku lupa," sahut Selena dengan nada getirnya.

"Tolong ya Nak, diusahakan masalahnya Ibu sudah tidak ada pegangan sama sekali, jadi Ibu minta tolong sama kamu ya Nak," ucap Ria seraya memohon.

  "Iya Bu, akan aku usahakan," sahut Selena meskipun saat ini ia belum tahu caranya mendapatkan uang di saat masih belum gajian seperti ini.

  Telepon sudah dimatikan, tatapan pria itu tajam namun penuh selidik, entah kenapa dia tidak mau melihat wajah gadis itu menahan sedih karena telepon dari ibunya di kampung.

"Berapa yang ibumu butuhkan?" tanya suara bariton itu.

 Selena tertegun sambil menundukkan wajahnya, bukan karena apa, akan tetapi jika dia sampai meminta bantuan kepada pria itu sudah pasti dirinya akan susah terlepas dari jeratan sang penguasa kegelapan itu. "Eeeeemb ... maaf saya bisa mencarinya sendiri," tolak Selena dengan halus.

Mata elang itu mulai meliriknya dengan tajam. "Saya tidak menerima penolakan Nona, kau tinggal sebut berapa nominalnya saja, jika tidak ... maka jangan salahkan siapa-siapa jika takdir buruk menimpamu," ucapnya tenang akan tetapi penuh dengan ancaman.

  Selena tidak mempunyai pilihan lain hingga pada akhirnya ia mulai menyetujui permintaan pria itu karena memang dirinya tidak bisa melawan di saat kondisi terhimpit seperti ini. "Biasanya aku kirim ibuku 3 juta," sahut Selena dengan tatapan yang menunduk.

  "Baiklah kalau begitu berikan nomor rekeningmu," pinta pria itu dengan nada datarnya.

 Dengan tangan yang gemetar Selena mulai memberikan nomor rekeningnya kepada pria di hadapannya itu, dan tidak lama kemudian sebuah notifikasi masuk di handphonenya, gadis cantik itu mulai mengecek dan jantungnya semakin syok melihat nominal yang diberi tiga kali lipat yang ia pinta.

  "Tuan ... ini terlalu banyak," ucap Selena sambil menoleh ke arah pria itu.

  "Sisanya buat kamu, dan jangan pernah tanya lagi, karena saya tidak mau mendengar apapun alasan dari kamu," larang pria itu agar gadis di hadapannya itu tidak banyak bicara.

  Mobil masih terus melaju menembus jalanan ibu kota, yang di padati dengan sorot lampu kendaraan, di sini Selena masih duduk di kursi penumpang sambil sesekali melirik punggung pria di hadapannya itu, yang sedari tadi hanya diam tak banyak bicara setelah memberikan uang yang cukup banyak nominalnya itu.

  Pria itu masih tetap diam akan tetapi pandangannya tajam, dan sesekali ia tahu kalau gadis di belakangnya itu mencuri-cuti pandang ke arahnya, namun dia tidak mau membahas masalah sepele semacam ini.

  'Dasar gadis polos,' gumamnya dalam hati.

 Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah bangunan tinggi bercat abu gelap, berdiri mencolok di antara gedung-gedung modern. Arsitekturnya berbeda, bergaya klasik dengan pilar kokoh, jendela besar, dan halaman depan yang hanya bisa dimasuki lewat gerbang besi tinggi.

Begitu pintu mobil terbuka, dua pria berjas hitam langsung menundukkan kepala dalam-dalam.

“Don Valente,” suara salah satu dari mereka terdengar penuh hormat, nyaris bergetar.

Selena membeku di tempat ketika suara itu ia dengar sendiri dari salah satu pria ber jas yang menyambut pria di depannya itu, nama itu dulu sangat familiar di kalangan teman-teman fakultas hukum di saat dirinya masih sempat mengenyam bangku kuliah meskipun harus berhenti di tengah jalan karena kendala biaya.

Teman-teman cowoknya dulu sering membicarakan nama itu dengan nada yang sangat lirih seolah tidak mau orang lain ikut mendengarkan, sangking bahayanya nama tersebut dan nama itu sering sekali mendapat julukan sang penguasa kegelapan yang tak tersentuh hukum.

  "Don Valen," gumamnya lirih.

Seketika wajah tegas itu meliriknya dengan tatapan elang yang begitu mencengkam, Don hanya menatapnya sekilas, lalu mulai berbisik. "Sekarang kau tahu berhadapan dengan siapa," ucapnya lirih namun membuat nyali Selena menciut.

Ia melangkah masuk ke dalam gedung, tanpa menoleh lagi. Selena terpaksa mengikuti, meski hatinya terasa ingin melarikan diri.

Interior gedung itu memancarkan kekuasaan. Lantai marmer hitam mengkilap, dinding dihiasi lukisan klasik, dan derap sepatu hitam yang berjalan beriringan dari arah koridor membuat suasana gelap semakin mencengkam. Setiap pria berbadan kekar yang lewat langsung menunduk dalam-dalam begitu melihat Valen.

 Selena tertegun melihat semua ini lututnya bergetar, aura itu bukan hanya rasa takut melainkan kepatuhan tanpa syarat, yang dilakukan oleh para pengawal.

  Saat ini mereka masuk di dalam ruangan yang begitu luas dan di dominasi dengan warna gelap, di bagian sisi kiri dipenuhi rak buku dan lemari kayu berwarna gelap. Di tengah-tengah ruangan terdapat meja kayu yang berukuran besar. Ruangan ini nampak seperti ruang kerja, tapi sekaligus seperti pengadilan bagi sang pemilik untuk memberikan hukuman mati bagi siapapun yang melanggar ataupun berkhianat.

 Valen mulai melepas jas hitamnya, lalu duduk di kursi kebesarannya sambil menatap wajah gadis itu dengan tatapan tajamnya. "Duduk!" perintahnya dengan nada datar.

 Seketika tubuh gadis itu terasa kaku ketika suara serak itu mulai bergema di ruangan ini. Selena terpaksa mengikuti perintah Don Valen meskipun kakinya terasa kaku untuk duduk berhadapan dengan pria bermanik elang itu.

  Valen menatap lekat wajah gadis itu, bukan tatapan biasa antara pria dan wanita melainkan sebagai tatapan antara predator pada mangsanya. "Tadi kamu berusaha kabur kan dariku," katanya cukup terdengar tenang, namun mematikan bagi pendengarnya. "Kau tahu apa yang terjadi kepada orang yang berani melawan Don Valen," imbuhnya kembali.

  Sementara Selena hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Tidak Tuan ...aku tidak akan mengulangi hal serupa," sahut Selena dengan cepat.

  "Baiklah kalau begitu, mulai sekarang kau harus berhenti dari pekerjaan mu itu," perintahnya tanpa bisa dibantah.

  Selena cukup terkejut mendengar semua ini. "Tapi Tuan, aku butuh pekerjaan," ucap Selena.

"Jangan membantah," cetus pria itu dengan tatapan elangnya. Dan dengan yang bersamaan seseorang berjas hitam mengetuk pintu ruangan.

"Masuk," perintah Valen.

Tidak lama kemudian seorang pri masuk dengan membawa sebuah berkas yang ditunjukkan kepada Valen. "Don, ini berkas yang anda pinta," ucap pria itu.

"Baiklah, sekarang kau boleh keluar!" perintah Valen.

Suasana terasa mencengkam ketika pria bertubuh tegap itu keluar meninggalkan ruangan ini, Selena mulai menundukkan kembali tatapannya sebelum akhirnya pria itu bersuara lagi.

Valen mulai membuka berkas tersebut dan sedikit menoleh ke arah Selena. "Mulai sekarang kau berada di bawah perlindunganku, jadi tidak ada yang boleh menyentuhmu kecuali aku."

Selena langsung terperanjat mendengar kata-kata yang terdengar sebagai ancaman dan pengumuman mutlak yang keluar dari mulut pria itu.

"Ta ... tapi Tuan ...," ucapnya dengan nada yang tercekat.

"Aku tidak butuh bantahan dari siapapun, dan aku lebih senang jika kamu pandai menempatkan diri kamu sendiri,"

Selena hanya terdiam, nadanya tercekat sekedar untuk mengeluarkan suara. Dan di saat itulah Selena sadar, kalau saat ini hidupnya benar-benar dibawah tekanan pria itu.

Bersambung ...

Malam ... Tipis aja ya Kak. Dan semoga suka ya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!