Setelah kejadian itu, hidup Selena merasa seperti ada yang mengawasi, awalnya ia berpikir kalau semua ini hanya halusinasinya saja, akan tetapi lama kelamaan rasa itu semakin nyata, apalagi ketika dirinya berada di dalam pekerjaannya.
Selena masih membawa nampan mengantar pesanan di meja nomor 07 langkahnya begitu pelan sambil menelisik ke arah samping meja yang akan dia tuju, senyum ramah mulai nampak dari wajah gadis itu, namun di balik senyum itu, dirinya sedikit melirik, wajah seseorang yang tertutup dengan buku majalah.
'Perasaan sedari tadi orang itu duduk terus di meja ini,' ucapnya di dalam hati.
Selena segera kembali ke belakang melanjutkan pekerjaannya kembali, gadis itu begitu cekatan dan giat, tidak pernah pilih-pilih meskipun terkadang itu bukan bagiannya, jiwa rangkul merangkul sudah tertanam di benaknya sejak ia kecil, dan tak jarang para rekan kerja ataupun atasan banyak yang menyukai dengan cara kerja Selena.
"Selen, tolong antar ke meja nomor 08 ya," pinta seorang teman.
Selena berpikir sejenak, bukannya meja nomor 08 merupakan tempat pria misterius tadi, entah kenapa mendengar nomor itu disebut tubuh Selena merasa bergidik ketakutan, hal ini mengingatkannya pada kejadian malam itu.
"Selen ... kau dengar kan ucapanku?" tanya temannya itu yang memang sedang sibuk dengan urusan yang lain.
"I ...iya aku dengar," sahut Selena dengan nada sedikit gugup.
Mau tidak mau akhirnya Selena mencoba untuk memberanikan diri, melangkah ke meja tersebut sambil membawa nampan yang sudah berisi minuman diatasnya.
Langkah Selena sudah sampai ke tujuan, gadis itu langsung meletakkan gelas diatas meja, sambil mencoba senyum ramah seperti ke pengunjung kafe lainnya.
"Silahkan diminum Pak ...," ucapnya terdengar sedikit gemetar meskipun wajahnya tersenyum.
Pria di balik majalah itu langsung mengangguk, tanpa keluar satu kata pun, Selena mulai mundur lalu kembali ke belakang lagi.
☘️☘️☘️☘️
Malam sudah mulai larut tidak terasa pengunjung kafe satu persatu mulai meninggalkan tempat, begitu juga dengan meja nomor 08 yang terlihat sudah kosong, Selena segera jalan cepat untuk meninggalkan kafe tempatnya bekerja.
Di tengah jalan, tiba-tiba saja Selena merasakan hal aneh, meskipun suasana malam di pusat kota masih nampak ramai, entah kenapa hatinya merasakan dingin di tengah-tengah keramaian kota. Tidak ada yang aneh semuanya nampak seperti biasanya, akan tetapi di saat dirinya menengok ke belakang dia melihat seseorang memakai jaket kulit yang seperti sedang mengawasi dirinya, dan berpura-pura menunduk sambil memainkan handphone di saat Selena mulai menengok ke belakang.
"Dari segi pakaian sepertinya di... dia pria misterius di meja 08 tadi ...," gumamnya sedikit tercekat.
Selena mempercepat langkahnya, namun semakin dia mempercepat, langkah di belakangnya pun semakin gencar mengikuti dirinya, hingga pada akhirnya dia memutuskan untuk berbalik badan. Lagi-lagi nampak seperti biasa saja, namun mata Selena mulai menangkap seseorang bersembunyi di balik pohon besar itu hingga membuat langkahnya tertantang untuk mendekati pria itu.
Satu persatu langkah sudah ia lewati, hingga pada akhirnya Selena berada tepat di depan pohon besar itu.
"Anda siapa?" ucap Selena mencoba untuk bertanya.
Pria itu masih belum ada respon, dia masih bersembunyi di balik pohon besar itu, sementara Selena, langsung mengambil handphone dari tasnya tangannya segera terulur untuk memencet nomor darurat tapi ... sebelum dirinya sempat menghubungi nomor tersebut, tiba-tiba saja silau cahaya dari mobil datang dan berhenti tepat di hadapannya.
Seseorang berpakaian rapih, rambut hitam klimis disisir ke belakang, tengah turun dari mobil dengan tatapan tajam mengarah ke arahnya, Selena mulai mengambil langkah ke belakang dengan hati-hati namun langkahnya mulai terhenti ketika suara itu mulai terdengar.
"Jangan mencoba lari," ucapnya terdengar sebagai peringatan.
Langkah Selena terhenti seketika, di saat suara dingin itu mulai berucap. "A ... aku tidak kemana-mana," sahutnya ketika langkah tegap itu mulai menghampirinya.
"Aku sudah bilang jangan pernah mencoba untuk menghubungi siapapun," bisiknya terdengar sebagai belati yang menusuk di dadanya.
"A ... aku tidak bicara dengan ... Siapapun," sahutnya sambil memejamkan matanya.
"Bagus ... Kalau begitu," ucapnya pelan.
Selena terdiam, sejenak gadis cantik itu mulai membuka mata, dan melihat pria bermata elang itu mulai masuk ke dalam mobil dengan pintu yang masih terbuka, sorot matanya mulai melirik ke arah Selena dengan isyarat bukan main.
Pria itu langsung melirik ke arah kursi penumpang membuat jantung Selena semakin tidak aman.
"Untuk apa ....," ucap Selena tercekat.
“Nona…” suaranya kali ini lebih dalam, seperti bilah tipis yang siap menebas, “aku tidak menyarankanmu membuatku mengulang perintah," ucapnya sekali lagi.
Suasana hening seketika, sebelum akhirnya Selena memegang gagang pintu mobil, dengan hati yang berdebar tak kendali, saat dia duduk di kursi belakang aroma maskulin langsung menyergap hidungnya membuatnya mengingat kejadian malam itu di gang kecil.
Mobil melaju perlahan, malam ini Selena sadar kalau dirinya mulai melangkah jauh ke dalam kehidupan yang membuatnya susah untuk keluar dari jerat pria di hadapannya itu.
"Jangan menunduk." lagi-lagi suara itu mulai menggetarkan hatinya.
Gadis itu hanya terdiam meremas ujung roknya, dengan tangan yang sedikit bergetar. "To ... tolong jangan bawa a..ku," ucapnya sudah mulai tercekat.
Pria itu tersenyum menyeringai. "Kamu pikir setelah kejadian itu, aku akan membiarkanmu begitu saja? Heeeemb ...berpikirmu terlalu mudah gadis lugu."
Selena hanya bisa menelan ludahnya sendiri, dalam hati dirinya menjerit kenapa harus dia yang dipilih Tuhan untuk menyaksikan semua kejadian itu kenapa tidak orang lain saja, hidupnya sudah susah dan penuh perjuangan tapi kenapa takdir malah mempertemukannya dengan orang kejam seperti pria di hadapannya itu.
'Tuhan ... jika boleh memilih lebih baik jangan Engkau temukan aku dengan pria kejam ini,' batinnya penuh dengan ketakutan.
Ketika Selena berusaha untuk tenang di saat satu mobil dengan pria yang menguji mentalnya itu, tiba-tiba saja handphonenya berdering memecahkan keheningan di dalam mobil.
Seketika pria yang duduk di kemudi depan mulai melirik ke arah belakang, dengan tatapan yang tajam. "Ada masalah ya di gendang telinga mu, sehingga kau mendadak tuli," ucapnya selalu penuh sindiran yang menakutkan.
"E ... enggak," sahut Selena.
"Angkat!" perintahnya dengan tatapan yang mengintimidasi.
Selena mencoba meraih handphone dari tasnya, matanya begitu membelalak ketika nama yang muncul di layar merupakan nama ibunya, dan hal ini mengingatkan Selena kepada biaya SPP sang adik yang sampai sekarang belum ia bayar.
"Hidupkan spiker," suruh pria itu ketika Selena hendak menekan tombol hijau.
Selena mulai menyalakan spiker di ponselnya lalu disusul dengan ucapan dari sang ibu yang mendesaknya untuk segera mengirim uang.
"Nak ... kenapa belum di kirim uangnya, ayahmu sakit sudah seminggu, sementara adikmu merengek terus karena belum bayar SPP, Ibu bingung Nak, sudah usaha ke sana kemari tapi belum ada yang meminjami," suara ibu Selena yang terdengar langsung oleh Don Valen.
Bersambung ...
Siang kakak ... Soga suka ya .. Tipis dulu ya biasa untuk pemanasan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments
Amalia Putri
lanjut thor semangat ya /Ok//Ok//Ok//Rose//Rose//Heart//Heart/
2025-08-17
1
partini
bab kedua good 👍👍👍 lanjut thor
2025-08-17
1
Lanjar Lestari
widih langsung di dengar langsung sm sang bos Mafia bakalan sat set kasih uang dg 1 syarat jd istrinya atau simpanannya
2025-08-19
0