NovelToon NovelToon
The Heiress'S Scents

The Heiress'S Scents

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Cintapertama
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di balik kemegahan High School Los Angeles, Issabelle Reichenbach menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal klan mafia legendaris.

Demi bertahan hidup, ia menyamar sebagai murid beasiswa miskin yang patuh, sembari menahan penderitaan tinggal bersama ibu kandungnya yang lemah dan ayah tiri yang kasar.

Namun, penyamaran sempurna Issabelle terancam hancur saat ia berhadapan dengan Navarro Von-Riccardo, penguasa sekolah sekaligus pewaris tunggal terkuat di Pantai Barat.

Navarro menyimpan rahasia kelam klan Von-Riccardo: sebuah genetika yang membuatnya kehilangan indra penciuman sejak lahir.

Secara mengejutkan, aroma tubuh dingin menyerupai mawar es milik Issabelle menjadi satu-satunya wewangian yang bisa dicium oleh Navarro setelah 16 tahun hidupnya.

Terpikat oleh takdir yang tak terelakkan, Navarro mulai terobsesi untuk menguak topeng misterius gadis beasiswa tersebut, memicu perang insting yang mematikan di antara dua predator puncak.


Happy reading 🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#10

Pintu kaca kantor Wadde’s Automotive & Performance berderit terbuka, memutus kehangatan domestik yang baru saja tercipta di dalam sana.

Toby melangkah keluar lebih dulu, wajahnya tampak jauh lebih segar setelah menghabiskan waktu beberapa menit mengobrol dengan ayahnya.

Namun, di belakangnya, sosok besar Harrison Wadde’ ikut melangkah keluar.

Pria itu masih mengenakan pakaian kerja montirnya—sebuah kemeja katun tebal berwarna abu-abu gelap dengan noda oli yang tercetak di beberapa bagian, lengkap dengan sepasang sepatu bot kulit yang tampak kokoh.

Harrison sedang menyeka sisa saus semur dari sudut bibirnya menggunakan selembar tisu ketika sepasang matanya yang lelah mendadak menangkap sosok yang sedang duduk di bangku tunggu besi.

Langkah kaki Harrison seketika terhenti.

Raut wajahnya yang tadinya melunak saat bersama Toby, dalam sekejap kembali mengeras, dipenuhi oleh garis-garis ketegangan yang familiar.

Matanya menyipit, memandang Issabelle dengan kilatan rasa tidak suka yang tidak disembunyikan sama sekali.

"Apa yang dilakukan anak haram itu di sini, Toby?!" tanya Harrison, suaranya yang berat dan bariton meninggi, bersaing dengan deru mesin kompresor udara di ujung hanggar.

"Siapa yang mengizinkannya datang ke tempat usahaku?"

Toby sempat tersentak, ia melirik Issabelle dengan pandangan cemas. "Dad, dia cuma menemaniku. Jalanan agak sepi dan dia—"

"Aku tidak butuh teman untukmu jika temannya adalah pembawa sial!" potong Harrison ketus, melangkah maju hingga bayangan tubuhnya yang besar menutupi tempat Issabelle duduk.

Pria itu menyilangkan kedua tangan di dadanya, memandang Issabelle dari atas dengan tatapan mengintimidasi.

"Hei, Gadis Jerman. Apa rumahku belum cukup untuk tempatmu bermalas-malas, sampai kau harus datang kemari dan mengotori pemandangan di bengkelku, hah?!"

Issabelle tidak berkedip. Ia tidak menunjukkan keterkejutan, ketakutan, atau tanda-tanda terintimidasi sedikit pun.

Dengan gerakan yang sangat anggun dan tenang, ia menurunkan tudung hoodie hitamnya, membiarkan beberapa helai rambutnya jatuh membingkai wajah pucatnya.

Mata abu-abunya menatap lurus ke dalam manik mata Harrison—sebuah tatapan yang begitu dingin, stabil, dan sarat akan kalkulasi.

"Saya datang untuk menawarkan kerja sama, Tuan Wadde’," ucap Issabelle.

Suaranya datar, jernih, dan terdengar sangat kontras di tengah kebisingan mekanis bengkel.

Harrison tertegun sejenak, lalu sedetik kemudian sebuahi tawa sinis dan kasar lolos dari mulutnya.

"Kerja sama?! Kau bercanda?! Kau hanyalah anak miskin yang menumpang di rumahku, dan sekarang kau bicara tentang kerja sama di bengkel milikku? Apa kau tahu apa yang kami lakukan di sini? Kami tidak memperbaiki sepeda, Anak Sialan!"

"Anda sedang melakukan penyetelan ulang pada sistem mesin Porsche 911 Carrera di sebelah sana," potong Issabelle dengan tenang, jemari telunjuknya menunjuk tepat ke arah mobil sport Jerman yang kap belakangnya sedang terbuka di bawah lampu halogen.

Tawa Harrison seketika terhenti di tenggorokan. Matanya membelalak sedikit.

"Mekanik Anda di sana," lanjut Issabelle, tatapannya beralih pada seorang montir muda yang sedang kebingungan di depan monitor laptop yang terhubung ke mesin Porsche.

"Sejak sepuluh menit lalu , mekanikmu salah menyetel komputer mesin setelah pasang turbo baru. Kalau dipaksa jalan dengan kode biner itu, mesin mahal ini bakal mogok mendadak dan hancur seketika."

Suasana di sekitar bangku tunggu mendadak menjadi sangat sunyi, seolah-olah suara desing alat pneumatik di kejauhan langsung diredam oleh dinding tak kasat mata.

Harrison Wadde’ menatap Issabelle dengan pandangan yang sepenuhnya berubah—dari penghinaan murni menjadi kombinasi antara rasa tidak percaya dan syok yang amat sangat.

Bagaimana mungkin seorang remaja perempuan berusia enam belas tahun, yang baru kemarin menginjakkan kaki di Amerika dari jalur beasiswa miskin, bisa mengetahui detail tentang mesin Porsche keluaran terbaru?

Tanpa menunggu jawaban atau makian lebih lanjut dari Harrison, Issabelle bangkit berdiri dari bangku besi.

Ia melangkah melewati Harrison dengan ketenangan seorang eksekutif, menuju ke arah mobil Porsche 911 hitam yang sedang dikerjakan.

Montir muda yang berada di sana, seorang pria berusia awal dua puluhan bernama Greg, mendongak dengan wajah bingung saat melihat seorang gadis remaja mendekati area kerjanya.

"Hei, Kid, jangan dekat-dekat, ini wilayah berbahaya—"

"Geser," perintah Issabelle pendek.

Nada suaranya tidak tinggi, namun memiliki getaran mutlak yang membuat Greg secara refleks melangkah mundur dua tapak tanpa membantah.

Issabelle berdiri di depan laptop.

Sepasang mata abu-abunya bergerak cepat, membaca barisan kode dan kurva performa mesin yang terpampang di layar.

Tangannya bergerak ke atas papan ketik.

Dengan kecepatan yang luar biasa—warisan dari ratusan jam pelatihan peretasan dan sabotase di Frankfurt—jemari Issabelle menari di atas tombol-tombol laptop.

TAP! TAP! TAP! Enter.

Dalam waktu kurang dari empat puluh detik, barisan kode yang tadinya berwarna merah di layar seketika berubah menjadi hijau.

Monitor menampilkan status: Sinkronisasi Berhasil. Optimal.

Di dalam kap mesin Porsche, sebuah suara klik elektronik mekanis terdengar, menandakan katup bahan bakar dan sistem turbo telah selaras dengan sistem komputer pusat.

Greg membelalakkan matanya hingga hampir keluar, menatap layar laptop lalu beralih menatap Issabelle seolah-olah gadis itu baru saja merapalkan mantra sihir.

"Bagaimana... bagaimana kau bisa memecahkannya dalam waktu sesingkat itu? Aku bahkan sudah mencobanya sejak dua jam lalu!"

Issabelle tidak menjawab pertanyaan Greg.

Ia mengambil selembar tisu bersih di dekat meja kerja, menyeka ujung jarinya yang bahkan tidak terkena noda, lalu berbalik menghadapi Harrison yang kini sudah berjalan mendekat dengan wajah yang masih kaku karena syok.

"Itu adalah keahlian saya, Tuan Wadde’," ucap Issabelle, mempertahankan ekspresi sedatarnya.

"Di Jerman, saya terbiasa menangani hal-hal kecil seperti ini. Mekanik Anda memiliki kemampuan fisik yang baik, namun mereka tidak memiliki otak yang cukup cepat untuk memahami digital mobil-mobil Eropa modern yang masuk ke bengkel ini."

Harrison menelan ludah dengan susah payah.

Egonya sebagai pemilik bengkel sempat merasa tercoreng, namun di sisi lain, otak bisnisnya yang jeli langsung melihat peluang emas.

Masalah mobil Eropa adalah Ancaman terbesar di bengkelnya yang sering kali membuang waktu dan biaya pengerjaan hingga berhari-hari.

Jika gadis ini benar-benar memiliki kemampuan setingkat ini...

"Apa yang kau inginkan?" tanya Harrison, suaranya kini melunak beberapa oktaf, meski sisa-sisa arogansinya masih terdengar.

"Kenapa kau menunjukkan ini padaku?"

"Saya butuh pekerjaan," jawab Issabelle, singkat dan padat.

"Ibuku mengatakan bahwa saya harus bekerja agar tidak menjadi beban di rumah Anda. Saya akan bekerja di sini, setiap hari sepulang sekolah, mulai pukul empat sore hingga jam sembilan malam."

Harrison menyipitkan matanya, mencoba mencari celah atau motif tersembunyi dari tawaran tersebut.

"Aku tidak akan membayarmu dengan gaji penuh seperti mekanik profesional, Anak Baru. Kau masih di bawah umur, dan statusmu di rumahku—"

"Saya tidak meminta gaji penuh," potong Issabelle dingin, membuat Harrison kembali tertegun.

"Cukup bayar saya dengan upah legal untuk pekerja paruh waktu di California. Dan sebagai gantinya, Anda mendapatkan jaminan bahwa setiap mobil sport Eropa yang masuk ke bengkel ini akan selesai dengan cepat dari waktu biasanya tanpa ada kesalahan mekanis."

Harrison terdiam selama beberapa saat, menimbang-nimbang kalkulasi keuntungan yang ada di depan matanya.

Upah minimum untuk seorang teknisi genius yang bisa memecahkan masalah Porsche dalam hitungan detik? Itu adalah kesepakatan bisnis paling menguntungkan yang pernah ia temui sepanjang hidupnya.

"Satu syarat," ketus Harrison, menunjuk wajah Issabelle dengan jarinya yang kasar.

"Kau tidak boleh memberi tahu siapa pun di sekolah, terutama teman-teman Chloe, bahwa kau bekerja di sini. Aku tidak mau reputasi putriku rusak karena memiliki saudari tiri yang bekerja di lantai bengkel yang kotor. Paham?!"

Issabelle menatap jari Harrison dengan kilatan dingin yang tersembunyi, lalu menurunkan pandangannya.

"Kesepakatan yang adil. Saya juga tidak memiliki ketertarikan untuk memamerkan keahlian saya di sekolah."

"Bagus," sahut Harrison, menyembunyikan rasa puasnya di balik dengusan kasar.

"Kau bisa mulai besok sore. Greg! Berikan dia seragam mekanik cadangan yang paling kecil besok!"

Toby, yang sejak tadi menyaksikan itu dari dekat pintu kantor, tidak bisa menahan senyum lebarnya.

Ia berjalan mendekati Issabelle dengan binar kekaguman yang semakin besar di matanya.

"Kau... kau benar-benar hebat, Issa! Kau membuat Dad tidak bisa berkata-apa!"

Issabelle hanya melirik Toby sekilas, lalu menarik kembali tudung hoodie-nya untuk menutupi kepalanya.

"Ayo pulang, Bocah. Pekerjaanku untuk malam ini sudah selesai."

Malam semakin larut ketika sepeda yang dikayuh Toby kembali membelah jalanan pinggiran kota yang sunyi, membawa mereka kembali menuju rumah sederhana keluarga Wadde’.

Di sepanjang jalan, Issabelle kembali duduk di boncengan belakang, membiarkan angin malam yang dingin menyapu wajahnya.

Satu langkah telah berhasil dieksekusi dengan sempurna.

Ia kini memiliki pekerjaan tetap, alibi untuk berada di luar rumah, dan sumber penghasilan yang akan menjauhkan dirinya dari kecurigaan setempat.

Namun, tepat saat sepeda Toby berbelok memasuki halaman depan rumah mereka, lampu sorot dari sebuah mobil hitam pekat yang terparkir agak jauh di bawah bayangan pohon ek besar di seberang jalan mendadak menyala sekilas, lalu mati kembali dalam hitungan detik.

Insting tajam Issabelle seketika menangkap pergerakan tersebut.

Mata abu-abunya melirik tajam ke arah mobil itu melalui sudut matanya sembari ia turun dari sepeda.

Itu adalah sebuah mobil sedan mewah dengan kaca yang dilapisi antipeluru hitam pekat—tipe kendaraan yang sangat tidak cocok berada di kawasan pemukiman kelas pekerja seperti ini.

Dan yang lebih membuat sensor kewaspadaan Issabelle bergetar adalah seberkas angin malam yang mendadak berembus dari arah seberang jalan, membawa aroma samar yang sangat familiar ke dalam rongga hidungnya.

Bukan aroma parfum, melainkan aura bahaya yang sangat pekat, mirip dengan atmosfer yang ia rasakan di sudut kanan kantin Oakridge High School tadi siang.

Apakah itu mereka? batin Issabelle, matanya menyipit menatap kegelapan di dalam mobil hitam tersebut sebelum ia melangkah masuk ke dalam rumah bersama Toby.

Di dalam mobil sedan mewah yang terparkir di seberang jalan, suasana terasa begitu dingin dan mencekam.

Di kursi belakang, duduk seorang pria dengan rambut hitam yang acak-acakan dan urakan.

Navarro Von-riccardo menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kulit mobilnya, sepasang mata gelapnya menatap lurus ke arah pintu depan rumah keluarga Wadde’ yang baru saja tertutup setelah Issabelle masuk ke dalam.

Di tangannya, terdapat sebuah tablet komputer yang menampilkan seluruh data pribadi milik Issabelle dari database sekolah—data palsu yang menyatakan bahwa gadis itu hanyalah anak yatim piatu miskin dari panti asuhan di pinggiran Frankfurt yang diadopsi oleh Sloane sebelum wanita itu pindah ke Amerika.

Navarro menarik napas dalam-dalam melalui hidungnya, menatap keluar jendela dengan ekspresi wajah yang mengeras.

Begitu mobil beralih posisi dan angin malam berembus melewati ventilasi, ia tidak bisa menemukan apa pun.

Hidungnya kembali hampa. Jejak wangi mawar es yang ia cari sepanjang sore ini tetap tidak bisa ia temukan di sini.

"Tuan Muda," ucap pengemudi di depan, seorang pria paruh baya dengan setelan jas hitam formal, memecah keheningan.

"Apakah Anda ingin kami melakukan interogasi paksa pada keluarga itu untuk memastikan identitas gadis tersebut?"

"Jangan," jawab Navarro, suaranya rendah, bariton, dan dipenuhi oleh racun obsesi yang mematikan.

"Gadis itu... dia menyembunyikan sesuatu di balik wajah patuhnya. Menghancurkannya sekarang akan terlalu membosankan."

Navarro mematikan layar tablet di tangannya, membiarkan kegelapan kembali menguasai kabin mobil.

Sebuah senyuman tipis yang sangat dingin terukir di garis rahangnya yang tegas.

"Biarkan dia bermain dengan peran miskinnya untuk sementara waktu," desis Navarro pada kegelapan malam.

"Besok di sekolah, aku sendiri yang akan memburu jejak wanginya langsung dari dekat. Kita lihat, seberapa lama dia bisa mempertahankan topengnya di hadapanku."

Mobil sedan hitam itu perlahan bergerak pergi tanpa menimbulkan suara mesin yang berarti, meninggalkan kawasan perumahan menengah itu menuju pusat kota Los Angeles.

Dan di dalam kamarnya yang sempit di bawah tangga, Issabelle Reichenbach sedang duduk di tepi ranjang, bersiap menghadapi hari esok di mana penyamarannya dipastikan akan bersinggungan langsung dengan sang predator utama pantai barat.

Perang insting yang sesungguhnya di antara dua pewaris klan terbesar ini, kini telah resmi dimulai.

...****************...

Jangan lupa tinggalkan komentar ya kak 🙏🏻 kalo suka cerita ini 🫶🏻

1
Game Semut
semoga happy ending issabele dan navvaro serta putri nya Cassandra
Game Semut
ini cerita gmna ending nya nih thor kasian bngt kisah percintaan asmara antara issabele dan Navarro...semoga bs bersatu.
Mia Camelia
aduh isabel kok keras kepala banget sih mpe membenci navaro😔😔😔
gak adil nih klo navaro dan isabel trz salah paham mulu😔
ayolah thor bikin mereka baikan lagi😂😂😂
Game Semut: ini udh tamat apa msh lanjut thor
total 1 replies
Game Semut
kaciaaan bngt navvaro
Ros 🌷🦋: huhuhu🥲
total 1 replies
Mia Camelia
semoga isabel cepet muncul lgi thor, kasian navaro jadi patung es bgtu🤣
Ros 🌷🦋: dicairin sama kak reader 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yah kasiah issa ternyata di jebak doang suruh pulang ke jerman😂😂😂😂😂
Ros 🌷🦋: huhuhu😅🤭
total 1 replies
BONBON
aku tunggu kak, 22nya setara dan gk jomplang. bukan kisah Cinderella, mafia x gadis yg dijual oleh keluarganya blabla. 🤣🤣🤭
Ros 🌷🦋: hihi ma'aciww kak atas dukungannya 🫶🥰
total 1 replies
Angela Ghunu
karya kakak bagus skli, semoga semakin maju dan karya " kk makin bnyk🥰🥰
Ros 🌷🦋: Ma'aciww banyak kak🫶🥰
total 1 replies
Mita Paramita
navaro mati rasa sama perempuan 🤨 nunggu Isabella kembali.
Ros 🌷🦋: iyaaa kek nya 😅🤭
total 1 replies
Shusy Bharel
lanjut tho😍😍
Ros 🌷🦋: siap kak🥰
total 1 replies
Mita Paramita
see you again navaro 😘😘😘
Ros 🌷🦋: see you kak reader 🥰
total 1 replies
Mita Paramita
Isabella pecah perawan nya sama navaro 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: aku malah ngakak loh kak reader 🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
akhir nya 🥰🥰🥰
Ros 🌷🦋: wkwkw🤭
total 1 replies
Mia Camelia
yah masa baru bucin udah perpisahan aja thor🤣😂😂😂
Ros 🌷🦋: Berpisah dulu biar tau artinya rindu 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yaaah ketauan deh 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kwkwk😅
total 1 replies
Mita Paramita
sekarang Isabella punya tempat bersandar walaupun sih navaro plu mines 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kesayangan reader 🤣
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Ros 🌷🦋: siap kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
navaro diem diem nyelidikin asal usul Isabella 🤣🤣🤣 saking penasarannya
Ros 🌷🦋: kwkwk🤣
total 1 replies
Debu Nakal
lagi.. lagi... lagi... lagi...
Ros 🌷🦋: padahal sudah didraf sampai bab 20 kak😅
total 1 replies
Mia Camelia
wah gak sangka kalo claire pacar nya skylar?? thor ceritaiin dong mereka juga🤔😄
Ros 🌷🦋: author selipin dikit2 nanti mereka 😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!