NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Sang Pewaris Ranch

Terjerat Cinta Sang Pewaris Ranch

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Showbiz
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: velvetsky

Ellara Dawson adalah gadis desa yang bekerja sebagai perawat kuda di Blackwood Ranch, peternakan kuda terbesar dan paling bergengsi di negara bagian itu. Hidupnya sederhana hingga kedatangan Noah Blackwood, pewaris tunggal kerajaan ranch bernilai miliaran dolar.

Noah sudah memiliki kekasih resmi, Bianca Laurent, seorang sosialita cantik yang dipersiapkan menjadi nyonya Blackwood. Namun takdir terus mempertemukan Noah dan Ellara. Dari jalur berkuda di hutan pinus, danau pribadi ranch, hingga malam-malam panjang di arena latihan kuda, keduanya perlahan menjadi semakin dekat.

Ketika cinta mulai tumbuh, Ellara sadar satu hal dia hanyalah pekerja biasa. Sedangkan Noah adalah pria yang sudah menjadi milik wanita lain.

Di balik kisah cinta mereka, tersimpan rahasia keluarga Blackwood yang bisa menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon velvetsky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tak Bisa Menolak

Sejak percakapan pagi itu, Ellara berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia telah membuat keputusan yang benar. Melupakan, menjaga jarak, menganggap semua yang terjadi antara dirinya dan Noah hanyalah kesalahan yang tidak boleh terulang. Namun kenyataannya tidak semudah itu. Sepanjang hari, pikirannya justru dipenuhi oleh kata-kata Noah.

"Aku tidak bisa."

"Aku akan berhenti mencarimu."

"Hanya sekali lagi."

Ellara menggeleng pelan sambil menuangkan pakan ke dalam palung. "Kau harus berhenti memikirkannya," gumamnya. Tetapi seekor kuda cokelat tua di depannya malah mendengus pelan, seolah mengejeknya. "Aku serius." Kuda itu kembali menggesekkan moncongnya ke bahu Ellara. Gadis itu tersenyum kecil. Setidaknya kuda-kuda di ranch ini tidak pernah membuat hidupnya serumit sekarang.

Sementara itu, Noah benar-benar menepati janjinya.

Ia tidak datang ke kandang, tidak mengirim pesan, tidak mencari alasan untuk bertemu.

Hari pertama, Ellara merasa lega. Hari kedua, ia mulai bertanya-tanya.Hari ketiga...ia mulai gelisah.

Tanpa sadar matanya sering mencari sosok pria tinggi itu. Di balkon mansion,di halaman depan, di arena latihan. Tetapi Noah tidak pernah terlihat. Dan itu membuat Ellara kesal. Kesal karena ia ternyata memperhatikannya. Kesal karena ia merindukan keberadaan pria itu.

"Aku benar-benar sudah gila," gerutunya.

Malam hari, hujan turun perlahan membasahi Blackwood Ranch. Ellara baru saja selesai merapikan kandang terakhir. Para pekerja lain sudah pulang. Lorong kandang kembali sepi, hanya ada suara hujan dan sesekali dengusan pelan dari para kuda. Ellara menghela napas lega, akhirnya selesai juga. Ia mengambil mantel tipisnya. Namun saat hendak keluar...lampu kandang tiba-tiba padam.

"Ck!"

Kegelapan langsung menyelimuti ruangan. Hanya cahaya samar dari petir di luar yang sesekali menerangi lorong. Ellara memejamkan mata sejenak.

Jangan bilang listrik mati. Ia meraba-raba mencari senter yang biasanya digantung di dekat pintu. Tetapi tidak menemukannya.

"Bagus sekali."

Hujan semakin deras. Suara petir menggelegar.

Dan tiba-tiba...seekor kuda muda di bilik sebelah meringkik panik. Ellara langsung menoleh.

"Tenang..."

Ia berjalan mendekat. Namun sebelum sampai—

Brak!

Seekor kuda lain ikut gelisah. Disusul kuda berikutnya. Suasana kandang berubah ricuh. Ellara panik.

"Tunggu! Tenang!"

Ia mencoba menenangkan mereka satu per satu. Tetapi suara petir berikutnya justru membuat para kuda semakin gelisah. Saat itulah...cahaya senter muncul dari ujung lorong. Seseorang berlari masuk ke dalam kandang.

"Ellara!"

Suara itu. Ellara langsung mengenalinya.

"Noah?"

Pria itu datang dengan napas sedikit memburu. Rambut hitamnya basah oleh hujan, kemeja gelapnya juga sudah basah sebagian.

"Apa kau baik-baik saja?"

Ellara mengangguk.

"Listrik mati."

"Aku tahu."

Noah langsung menuju panel listrik di dinding. Beberapa detik kemudian...Lampu kembali menyala.

Lorong kandang kembali terang. Para kuda perlahan tenang. Ellara menghembuskan napas lega, lalu menoleh. Dan mendapati Noah sedang menatapnya lama. Seolah ingin memastikan bahwa ia benar-benar baik-baik saja.

"Aku baik-baik saja," katanya pelan.

Noah mengangguk. Namun ia tidak pergi.

Mereka berdiri dalam keheningan. Suara hujan di luar justru membuat suasana semakin sunyi. Ellara menggigit bibir bawahnya. Bukankah Noah bilang akan berhenti mencarinya? Lalu kenapa ia ada di sini?

Seolah bisa membaca pikirannya, Noah berkata,

"Aku sedang pulang."

Ellara mengangkat alis.

"Kemudian aku melihat lampu kandang mati."

"Aku hanya ingin memastikan tidak ada yang terluka."

"Oh." Jawaban yang masuk akal.

Dan entah kenapa...Ellara sedikit kecewa. Noah tersenyum tipis. "Kau kecewa?"

"Apa?"

"Kau terlihat kecewa."

"Tidak."

"Kau bohong."

"Aku tidak bohong."

"Kau bohong."

Ellara memalingkan wajah. Dan itu membuat Noah tertawa pelan. Sudah tiga hari ia berusaha menjaga jarak. Tiga hari berusaha tidak mencari Ellara, tetapi begitu melihat kandang gelap di tengah hujan...kakinya justru berlari ke sini tanpa berpikir.

Dan sekarang, berada sedekat ini dengan Ellara...ia sadar, ia gagal total.

"Aku sudah berusaha."

Suara Noah membuat Ellara menoleh.

Pria itu berdiri di sampingnya. Tatapannya mengarah ke hujan di luar.

"Aku mencoba tidak datang, aku mencoba tidak memikirkanmu." Ia tertawa kecil.

"Ternyata aku tidak sehebat yang kukira."

Jantung Ellara berdetak lebih cepat.

"Noah..."

"Aku tahu."

Pria itu memotong.

"Aku bilang akan berhenti, lalu aku melanggar janjiku sendiri."

Ellara terdiam.

Noah mengusap wajahnya, lalu akhirnya menatap Ellara. Tatapan itu membuat napas gadis itu tertahan.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku, tapi setiap kali aku memutuskan untuk menjauh...aku justru semakin ingin melihatmu."

Hening.

Hanya suara hujan, Ellara menunduk. Karena ia juga merasakan hal yang sama. Dan itu yang paling menakutkan.

"Aku tidak seharusnya mendengarkan ini."

"Kenapa?"

"Kau punya Bianca." Kalimat itu keluar begitu saja.

Noah terdiam.

Untuk pertama kalinya, Ellara mengucapkannya secara langsung.

"Kau punya dunia yang berbeda dariku."

"Kau akan menikah dengannya."

"Aku hanya pekerja di ranch ini."

Semakin ia bicara...semakin sesak dadanya. Karena itulah alasan ia menjauh, bukan karena tidak ada perasaan. Tetapi justru karena ada.

Noah memandangnya. Lalu berkata pelan,

"Aku tidak pernah menjanjikan apa pun pada Bianca."

"Tapi semua orang tahu—"

"Aku tidak peduli semua orang."

Ellara mengangkat kepala.

Tatapan Noah begitu serius, dan itu membuatnya takut. Takut mempercayainya. Noah melangkah mendekat. Tidak terlalu dekat, tetapi cukup membuat Ellara gugup.

Noah berjalan perlahan mendekati Ellara. Satu langkah dua langkah, hingga akhirnya tidak ada lagi jarak yang berarti di antara mereka. Ellara refleks menahan napas. Jantungnya berdetak begitu keras sampai ia takut Noah bisa mendengarnya.

Wajah mereka kini hanya terpisah beberapa senti. Ia bisa mencium aroma samar whiskey dan kayu cedar yang selalu melekat pada pria itu.

"Noah..." bisiknya gugup.

Namun Noah tidak segera menjawab. Tatapannya turun ke bibir Ellara, lalu kembali menatap kedua matanya seolah meminta izin tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ellara menelan ludah pelan. Ia tahu seharusnya ia mundur, tetapi tubuhnya justru membeku. Dan saat itulah Noah bergerak. Dengan sangat hati-hati, ia mengecup bibir Ellara singkat.

Sebuah sentuhan lembut yang justru membuat dada Ellara berdebar semakin tak karuan. Noah menjauh sedikit, memberi ruang bagi Ellara untuk menolak.

Namun yang dilihatnya justru pipi gadis itu yang memerah dan tatapan gugup yang berusaha menghindarinya.

Senyum tipis muncul di sudut bibir Noah. Pria itu kembali melumat bibir Ellara dengan kasar dan menuntut, mengecap dan menghisapnya dalam. Tangannya menarik pinggang ramping Ellara merapatkan tubuh mereka tanpa celah.

"Ck..."

Terdengar suara kecupan singkat saat bibir mereka terlepas paksa. Ellara buru-buru memalingkan wajah, napasnya memburu, sementara Noah menatapnya dengan ekspresi terkejut sekaligus enggan melepaskan momen itu begitu saja.

Ellara buru-buru menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan wajahnya yang memanas.

"Aku... aku harus kembali ke asrama, Tuan," ucapnya gugup.

Tanpa menunggu jawaban, ia segera berbalik. Langkahnya cepat, hampir seperti berlari menyusuri lorong kandang. Boots kulit tuanya beradu dengan lantai kayu, menciptakan suara berirama yang perlahan menjauh.

"Ellara..."

Noah sempat memanggilnya, tetapi gadis itu tidak menoleh. Ia justru mempercepat langkahnya, seolah takut jika berhenti sedikit saja, ia akan kembali menatap pria itu dan kehilangan keberanian untuk pergi.

Beberapa detik kemudian, sosok Ellara menghilang di balik pintu kandang. Meninggalkan Noah seorang diri. Pria itu masih berdiri membeku di tempatnya. Jemarinya tanpa sadar menyentuh bibirnya sendiri, seakan masih bisa merasakan lumatan panas bibirnya tadi.

Noah menghembuskan napas pelan lalu tertawa kecil, tidak percaya pada dirinya sendiri. Noah justru menyadari satu hal. Ia menginginkan lebih, jauh lebih dari itu.

1
chiara azmi fauziah
wow gila noah
Mila Sari
up nya bnyakin thor🤭🤭 jgn nanggung², g enak bet penasaran🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Titik Ristiana
mn lanjutannya??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!