Rania terlahir kembali ke lima tahun sebelum tragedi dalam hidupnya terjadi. Di masa depan setelah ia menikah dengan Arya, Rania dijebak oleh Salsa dan dibunuh tepat di malam pertamanya. Di kesempatan kedua ini, ia akan menghindar dari pernikahan itu agar tidak mengalami nasib yang sama.
Berhasilkah ia kabur dari genggaman sang Tuan Muda dan menghindari takdir kematiannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Aplikasi Pelacak
Sejak kejadian malam itu, Bagas selalu muncul di manapun disitu ada Arya. Dulu di kehidupan sebelumnya, Dona menghasut Rania untuk menerima Bagas sebagai teman.
"Bagas orang baik, dia hanya tidak beruntung untuk masalah finansial-nya saja."
Ucapan itu berhasil mengetuk moral Rania dan akhirnya menerimanya masuk sebagai teman. Memberinya akses bergaul dengan kalangan atas bahkan ikut memodalinya mulai dari gaya berpakaian hingga uang saku. Arya yang melihat Rania tidak keberatan dengan keberadaan Bagas pun mau tidak mau ia menerimanya juga. Membiarkannya menempel seperti parasit di sekitarnya.
Tapi karena di kehidupan ini Rania sengaja menjauhi Arya dan hubungannya dengan Dona juga memburuk, maka dari itu Bagas baru muncul sekarang ini.
"dulu Bagas mengandalkan nama Arya dan namamu untuk berbuat onar di mana-mana. Aku ingat dulu kamu sampai ribut besar dengan orang tuamu karena membela ulah Bagas yang sudah keterlaluan."
Rania meringis mendengar cerita Salsa. Ia merasa dulu benar-benar sangat bodoh hingga melakukan semua itu. Mungkin saja ada yang menghipnotisnya selama ini.
"karena sekarang tidak ada perantara dari Dona, jadi dia langsung datang ke aku begitu?"
"kemungkinan besar seperti itu. Ini hanya pemikiranku, Bagas sedang mengincar mu."
"kenapa?"
"karena kamu tidak bersama dengan Arya lagi, dan dia mencari pendukung dari orang sepertimu."
Dulu dia benar-benar tidak memperhatikan siapa saja yang mendekati Arya dan dirinya. Bahkan sampai saat ini ia masih tidak ingat kapan dan bagaimana Bagas bertemu dengannya.
"aku tidak mengingatnya sama sekali. Tapi kalau tujuannya karena uang, sudah dipastikan orang itu bukan orang baik kan?"
Salsa mengangguk setuju dengan pendapat Rania. Tidak hanya itu, ia setuju juga karena sudah melihat sifat asli pemuda itu.
Hari-hari yang mengganggu terus berlanjut. Bagas dengan gigihnya mendekati Rania. Mulai dari memberikan kado, menunggunya di depan kelas, hingga mencoba mengajaknya makan bersama. Tapi Rania sama sekali tidak menggubris nya. Arya yang melihat semua itu pun mulai merasa risih. Awalnya ia tidak pernah peduli dengan laki-laki yang mendekati Rania karena ia tau, Rania hanya melihatnya seorang. Tapi sejak sikapnya berubah, Arya mulai merasakan kegelisahan di dalam hatinya. Di matanya sekarang tidak hanya ada Arya seorang, tapi ia mulai melihat orang lain.
"awalnya teman, lalu menjadi pacar," gumam Arya.
Waktu menunjukkan pukul empat sore, seharusnya ini adalah kelas terakhir Rania hari ini. Arya sudah menunggu di depan kelasnya. Tepat saat Rania keluar, Bagas juga datang.
Rania tentu saja terkejut melihat dua orang yang paling dihindarinya sudah berdiri di depan pintu kelasnya. Dewi pun tidak bisa diajak kerja sama dan malah meninggalkan dirinya.
"sudah ada yang menunggumu ternyata, kalau begitu aku duluan ya," bisik Dewi di telinga Rania. Tanpa menunggu jawaban dari Rania, ia langsung berjalan cepat meninggalkannya begitu saja.
"dasar pengkhianat!" makinya tanpa suara.
Rania tersenyum canggung melihat Arya dan Bagas secara bergantian.
"ayo pulang!" ucap Arya yang lebih terdengar seperti perintah daripada sebuah ajakan.
Mendengar itu, Bagas langsung menyelanya sebelum Rania memberikan jawaban.
"Rania, kita makan bersama ya. Aku yang traktir, kemarin aku dapat bonus dari tempat kerjaku."
Telinga Rania sedikit berkedut mendengar Bagas berbicara. Ia merasa pemuda itu sedikit berbeda dari sebelumnya. Tidak ada nada ataupun kalimat memelas. Hanya ada ajakan murni kepada teman pada umumnya. Rania melihat Bagas dengan penuh penasaran. Tapi lengannya langsung ditarik oleh Arya. Dibawanya pergi menjauh dari Bagas tanpa bisa protes sedikitpun.
Lengannya terasa panas merasakan cengkeraman yang cukup kuat. Sesampainya di tempat parkir, Rania menghentakkan tangan Arya dengan cukup keras hingga terlepas.
"sakit tau!" keluhnya membuat raut wajah Arya sedikit melunak.
"maaf, aku tidak sengaja," ucapan yang kembali membuat telinganya berkedut dan alisnya terangkat.
Seorang tuan muda Arya Putra Pradana dengan rendah hatinya meminta maaf secara langsung. Itu adalah sebuah keajaiban yang hanya terjadi di kehidupan saat ini saja. Dulu bahkan ketika orang lain yang salah, maka orang itu jugalah yang tetap meminta maaf.
"sudahlah, aku mau pulang!"
Arya membukakan pintu mobil untuk Rania dan lagi Ia sedikit curiga dengan sikapnya yang berubah drastis. Dulu tidak akan pernah ada perhatian seperti ini diberikan olehnya. Yang ada hanyalah dirinya yang selalu memperhatikannya.
Selama perjalanan, tidak ada percakapan sedikitpun hingga Arya tiba-tiba bertanya.
"HP kamu baru ya?"
Rania melirik ponselnya lalu melihat ke Arya. Waktu itu ponselnya sengaja ia rusak lalu membeli yang baru. Tapi ponsel baru ini ia ambil merek, warna, dan tipe yang sama dengan sebelumnya. Bahkan Dewi dan Salsa saja tidak sadar kalau ponselnya baru.
"kelihatan baru kah?" tanyanya sambil membolak-balikan ponselnya.
"oh tidak ya? Nanti aku pinjam ponselmu sebentar ya?"
Rania memicingkan matanya, ia merasa curiga dengan apa yang akan dilakukan Arya terhadap ponselnya. "baiklah," langkah aman sekarang adalah menyetujuinya. Nanti ia akan mencari tau sendiri apa yang membuatnya merasa ada sesuatu yang janggal. Sesampainya di rumah, Arya benar-benar meminjam ponselnya cukup lama. Setelah itu, ia mengembalikannya dan langsung pergi begitu saja.
Di rumah, Rania meminjam ponsel ibunya untuk menghubungi Salsa dan memintanya bertemu. Ponselnya sendiri sengaja ia matikan tidak lama setelah Arya pulang.
Kali ini firasatnya begitu kuat, namun ia tidak berani mengatakan apapun sebelum ada bukti nyata.
Pukul tujuh malam, Rania keluar dari rumahnya menuju restoran langganannya dengan Salsa. Di sana Salsa sudah sampai dan ditemani oleh seorang siswa SMA jika dilihat dari seragamnya. Rania melihat sekeliling sebelum duduk di depan Salsa. Kemudian ia mengeluarkan ponselnya yang sudah mati.
"kenapa HP nya?" tanya Salsa.
"aku butuh orang yang bisa ngecek HP," ucap Rania dengan wajah yang sangat serius.
"ya tinggal bawa ke tukang service saja, kenapa malah di bawa ke sini?" ucap Salsa yang masih tidak paham maksud Rania.
"kan kamu sendiri yang curiga kalau ada pelacak di HP ku."
Mendengar topik itu, Salsa langsung memajukan tubuhnya dan menatap Rania dengan wajah serius.
"di situ? beneran ada?" tanyanya sambil menunjuk ponsel yang tergeletak di atas meja. Rania menjawabnya dengan menganggukkan kepala.
"kalau begitu, aku tidak salah bawa teman."
Salsa memperkenalkan siswa SMA yang duduk di sampingnya. Dia adalah Gavin, sepupunya dari ibu. Suka bermain komputer tapi jarang yang tau kalau dia adalah seorang hacker. Meskipun bukan hacker ahli, tapi untuk sekedar mengecek software yang tertanam di ponsel ia bisa melakukannya.
"bisa kan?" tanya Salsa kepada sepupunya itu.
"bisa sih bisa, tapi males ah."
"bantu teman kakak dong, nanti kamu minta apa bakal dikasih sama teman kakak."
Rania memukul pelan tangan Salsa lalu menunjuk dirinya sendiri sambil bertanya, "kok aku?"
"lah kan kamu yang minta bantuan."
"iya sih, yaudah pokoknya apapun keinginan kamu, aku kabulkan deh. Asal jangan aneh-aneh."
"apapun ya?"
"iya apapun."
"oke deal."
Gavin mengulurkan tangannya ke depan lalu disambut oleh Rania, mereka berjabat tangan untuk mengesahkan kerjasama diantara mereka berdua.
"kerjakan di rumah kak Rania saja, kalau memang benar tertanam semacam pelacak di dalamnya, itu artinya kakak dipantau dua puluh empat jam oleh pelaku."
Mendengar ucapan Gavin, keduanya langsung merasa merinding. Bulu kuduknya berdiri dan merasa ini jauh lebih menyeramkan daripada film horor di bioskop.