NovelToon NovelToon
Petualangan Dua Bersaudara

Petualangan Dua Bersaudara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:258
Nilai: 5
Nama Author: LanLan.CNL

membalas dendam atas kematian keluarga dari seorang penghianat.

bercerita tentang Kenzie Laurent dan Reinzie Laurent yang telah menjadi yatim piatu, dua sosok saudara yang memiliki sifat yang berbanding terbalik Kenzie memiliki selera humor yang teramat konyol dan santai sedangkan Reinzie memiliki sifat normal dan sangat serius.

mereka berdua melakukan petualangan di dunia. Kaka beradik ini ingin membalas nyawa pada seorang penghianat yang telah membunuh orang tua mereka.

dan keduanya diseguhkan oleh petualangan yang mengubah takdir dari yang konyol menjadi sosok yang sangat di hargai serta di agungkan dan yang satunya akan menjadi seorang pendekar hebat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanLan.CNL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 10

...10: MEMBUKA GERBANG DANTIAN...

...****************...

Setelah beberapa saat atmosfer di dalam gubuk kembali diselimuti keheningan yang pekat, Arvendel memecah kesunyian tersebut. Pandangan mata elangnya menatap Kenzie dengan tatapan menyelidik yang tajam. "Apakah waktu istirahat sejenakmu sudah cukup? Jika raga payahmu itu sudah bisa digerakkan, segera bergegas dan ikutlah denganku keluar."

"Iya, Master. Sesuai dengan arahan Anda," jawab Kenzie sembari menghela napas pasrah. Ia memaksa dirinya bangkit, menepis rasa ngilu yang masih tersisa di sekujur persendiannya akibat siksaan lari naik-turun gunung tadi.

Arvendel menuntun Kenzie menuju sebuah area kliring yang jauh lebih tenang di bawah naungan pohon purba. Hari ini, Kenzie tidak akan dipaksa berlari hingga paru-parunya pecah atau pingsan karena dehidrasi.

Alih-alih menyiksa raga, Arvendel berniat membawa muridnya untuk mempelajari dasar paling sakral dalam dunia beladiri: mengontrol energi *Ki* internal. Kenzie harus dipaksa mampu mengalirkan arus *Ki* murni miliknya menyusuri seluruh jalur meridian tubuh. Sebuah fondasi absolut agar kelak ia bisa memanifestasikan energi tersebut menjadi pelindung eksternal yang memperkuat struktur fisiknya.

"Duduklah di depanku," perintah Arvendel datar, langsung mengambil posisi bersila di atas batu datar. "Aku akan mengajarkanmu cara mengendalikan kemudi energi *Ki*, agar kamu bisa segera memulai fase latihan yang sebenarnya."

"Baik, Master," sahut Kenzie santai. Tanpa beban moral sedikit pun, ia langsung menjatuhkan bokongnya ke tanah dan duduk selonjoran sembari meregangkan kedua kakinya ke depan dengan posisi yang sangat tidak sopan.

Arvendel seketika menggelengkan kepalanya perlahan, menahan kedutan jengkel di pelipisnya melihat tingkah laku sang murid yang terlampau polos. "Duduk yang benar! Jaga sikap dan etikamu di hadapan ilmu kuno. Kita tidak sedang melakukan gerakan senam lantai istana yang lentur itu, melainkan sebuah proses kultivasi sakral yang akan menentukan hidup dan matimu sendiri! Duduk bersila tegak, dan kunci tulang belakangmu!" titah Arvendel dengan nada suara yang seketika mengintimidasi udara sekitar.

"Ah, b-baik, Master! Laksanakan!" kata Kenzie gelagapan. Wajahnya memerah menahan malu saat ia buru-buru membetulkan posisi duduknya menjadi bersila sempurna. Semangat di dalam dadanya kembali terpacu, beriringan dengan rasa tegang yang perlahan merayap naik ke tenggorokannya.

"Bagus, pertahankan posisi tegak itu. Dengar baik-baik, Kenzie. Mulai detik ini, kamu dituntut untuk memiliki fokus mutlak. Rasakan dengan sangat teliti setiap denyutan energi *Ki* eksternal yang akan aku salurkan ke dalam tubuhmu," instruksi Arvendel tegas.

"Baik, Master. Aku siap!" Kenzie perlahan memejamkan kedua matanya. Garis wajah remajanya yang biasa terlihat polos kini bertransformasi menjadi sangat serius dan kaku.

Arvendel kemudian bergeser dengan gerakan seringan kapas, mengambil posisi tepat di belakang tubuh Kenzie. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan fokus batinnya, lalu mengulurkan kedua telapak tangannya hingga menempel kokoh pada punggung pemuda itu.

*Wuuung...*

Udara di sekitar kliring mendadak bergetar halus, menciptakan riak gelombang tak kasat mata. Denyutan energi *Ki* murni milik Arvendel yang teramat masif dan pekat mulai mengalir deras, menembus lapisan kain pakaian, dan meresap masuk ke dalam pori-pori kulit Kenzie.

"Fokus. Jangan melawannya. Rasakan arah arusnya, dan gunakan aliran energiku sebagai pemandu untuk menjebol jalur-jalur meridian tubuhmu yang selama belasan tahun ini tersumbat total," bisik Arvendel, suaranya bergema tepat di telinga batin Kenzie.

"Hmm...!" Kenzie menggertakkan rahangnya kuat-kuat.

Pada beberapa detik pertama, gelombang energi yang merembes masuk memang terasa hangat dan menenangkan, persis seperti aliran air hangat di pemandian istana. Namun, sensasi nyaman itu hancur berantakan dalam sekejap. Ketika energi *Ki* milik Arvendel yang bertekanan tinggi mulai dipaksa mengalir menyusuri jalur pembuluh darah Kenzie yang masih sempit, rasanya mendadak bermutasi menjadi siksaan mengerikan. Kenzie merasa seolah-olah ada cairan lava panas vulkanis yang dipompakan paksa masuk ke dalam pipa-pipa tubuhnya.

Seluruh raga Kenzie mulai bergetar hebat. Butiran keringat dingin sebesar biji jagung mulai bercucuran deras dari dahinya, membasahi pakaian. Ia mencengkeram lututnya sendiri, menahan rasa sakit yang membakar itu sekuat tenaga, mencoba mengarahkan aliran panas yang bergolak tersebut menuju ke satu titik: pusat Dantian di bawah pusarnya.

Arvendel yang menggunakan indra batinnya merasakan bahwa struktur tubuh Kenzie mulai menunjukkan tanda-tanda adaptasi yang tepat. Tanpa menunda waktu, ia segera menarik kembali kedua telapak tangannya. Aliran energi eksternal pembimbing seketika terputus.

"Baik, sekarang komando sepenuhnya berada di tanganmu sendiri. Terobos dan hancurkan sisa sumbatan gerbang *Ki* di dalam dirimu dengan memanfaatkan sisa energi yang sudah kutanamkan," ucap Arvendel tegas sembari melangkah mundur.

Kenzie tidak lagi memiliki kapasitas untuk menyahut secara verbal. Kesadaran eksistensinya kini telah tenggelam sepenuhnya, meluncur jauh ke dalam lanskap dunia spiritual di dalam dirinya sendiri.

"Dengarkan tuntunanku dari luar," suara Arvendel kembali menggema sebagai pemandu. "Saat ini, kesadaranmu sedang memasuki fase pembentukan dunia semu di dalam raga. Ingat instruksiku, isi kekosongan di pusat Dantianmu dengan sisa energi *Ki* panas tadi. Gunakan imajinasimu untuk mengubah wujud energi itu menjadi air suci yang jernih."

"Begitu kamu berhasil menghancurkan dinding hambatannya, biarkan air suci tersebut mengalir bebas tanpa batas, mengisi seluruh ruang kosong di pusat Dantian hingga membentuk sebuah danau energi yang tenang."

Di dalam ruang kesadarannya yang gelap gulita dan sunyi, Kenzie terus mencoba mengeksekusi setiap arahan dari Arvendel. Namun pada realitasnya, mempraktikkan teori kultivasi jauh lebih rumit dan mengerikan daripada sekadar mendengarkan penjelasan.

*Sialan... Ini benar-benar susah sekali!* batin Kenzie mengeluh frustrasi di tengah badai rasa sakit. Jalur menuju Dantiannya terasa seperti dinding benteng batu purba yang teramat tebal, kokoh, dan menolak untuk ditembus. *Untuk menjebol sumbatan pada jalan masuk energi ini, aku harus menemukan titik koordinat yang benar-benar presisi. Jika aku salah mengerahkan sisa energi lava ini dan menghantam jalur yang salah, meridianku bisa pecah dan aku akan lumpuh cacat seumur hidup!*

Arvendel yang mengamati dari luar melihat raut wajah Kenzie yang kian berkerut drastis, menyiratkan rasa frustrasi yang memuncak. Kulit wajah pemuda itu memucat pasi, nafasnya memburu tidak teratur—sebuah indikasi fatal bahwa Kenzie sedang kehilangan arah dan berada di ambang kebingungan.

Tak ingin membiarkan murid tunggalnya mengalami fenomena mengerikan berupa penyimpangan energi (*qi deviation*) yang bisa menghancurkan jiwa, Arvendel terpaksa mengambil tindakan ekstrem. Ia memproyeksikan riak kesadaran batinnya sendiri, menembus dinding pertahanan pikiran Kenzie untuk menciptakan koneksi mental langsung.

"Kenzie, dengarkan aku! Katakan padaku melalui batinmu, apa yang menjadi kendala utamamu saat ini?!" suara Arvendel menggema menggelegar di dalam kepala Kenzie, mengusir kegelapan yang membingungkan.

*M-Master?! Apakah itu suara Master? Bagaimana bisa Anda berada di sini?!* Kenzie terkejut bukan main di dalam ruang spiritualnya.

"Jangan membuang energi untuk terkejut! Aku terhubung dengan pikiranmu. Sekarang katakan dengan cepat, bagian mana dari struktur Dantianmu yang sulit untuk ditembus?!"

*Master, aku benar-benar kesulitan untuk menemukan titik sumbatan yang tepat! Jalur menuju pusat energi ini terlampau gelap gulita, aku sama sekali tidak bisa melihat di mana letak gerbang Dantianku berada agar sisa energi Ki ini bisa masuk!* adu Kenzie panik.

"Bodoh! Tenangkan jiwamu! Jangan pernah mencoba mencari esensi energi dengan menggunakan matamu, melainkan gunakan kepekaan perasaanmu!" bimbing Arvendel dengan nada suara yang mendadak melunak, menenangkan namun tetap sarat akan otoritas mutlak. "Coba pusatkan fokusmu dan dengarkan baik-baik dari arah mana tekanan pusaran energi *Ki* yang kutinggalkan itu mencoba mendobrak. Rasakan di titik mana gelombang hangat itu tertahan paling kuat."

Kenzie menarik napas dalam-dalam di dunia nyata, menyelaraskan detak jantungnya. Di dalam lanskap pikirannya, ia mulai menutup mata spiritualnya rapat-rapat. Ia mempertajam pendengaran batin, mematikan seluruh distraksi ego, dan memusatkan seluruh sisa fokusnya pada getaran energi yang sedang bergolak hebat.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan batin yang tegang... hingga akhirnya...

*...Aku merasakannya, Master! Aku bisa mendengarnya dengan sangat jelas! Sisa energi Ki Anda sedang mencoba menerobos dengan brutal dari arah sudut kanan bawah!* seru Kenzie antusias di dalam pikirannya, sembari mengarahkan seluruh atensi kesadarannya ke sebuah titik hitam pekat yang tampak berdenyut kencang bagai jantung mekanis.

"Bagus! Fokuskan seluruh kesadaranmu di titik itu! Sekarang, kumpulkan seluruh sisa tekad dan emosimu, hantam titik sumbatan tersebut hingga hancur berkeping-keping agar bendungan energi *Ki* bisa membanjiri ruang Dantianmu!"

*Aku mengerti, Master! Terima kasih!*

Kenzie mengerahkan seluruh energi spiritual dan harga diri yang ia miliki sebagai keturunan Laurent. Di dalam ruang batinnya yang semula gelap, ia memanifestasikan sebuah pukulan imajiner tak kasat mata yang teramat besar, lalu menghantamkannya tepat pada titik hitam sumbatan tersebut dengan kekuatan penuh tanpa sisa.

*BLAM!*

Sebuah dentuman hebat tanpa suara bergema dahsyat di dalam struktur raga Kenzie. Dinding sumbatan yang keras dan kaku itu seketika hancur berkeping-keping, runtuh menjadi abu spiritual. Bersamaan dengan hancurnya pembatas tersebut, gelombang energi *Ki* yang tadinya tertahan langsung meluncur bebas dengan debit yang sangat deras, membanjiri, mengisi, dan menenangkan ruang kosong di pusat Dantiannya hingga penuh bergejolak membentuk sebuah danau energi yang jernih.

Seketika itu juga, rasa sakit membakar yang menyiksa raganya mendadak sirna tanpa bekas, digantikan oleh sensasi dingin, segar, dan melegakan yang luar biasa nikmat.

*Aku berhasil, Master! Aku berhasil menghancurkannya!* teriak Kenzie penuh kebanggaan yang membubung tinggi di dalam benaknya.

"Kerja bagus, Bocah. Sekarang kembalilah ke kesadaran fisikmu di dunia nyata. Aku akan langsung mengajarimu cara mengontrol kemudi energi tersebut," sahut Arvendel tenang sebelum menarik kembali proyeksi batinnya.

"Siap, Master!"

Mata Kenzie terbuka tersentak, mengembalikan kesadarannya ke dunia nyata. Napasnya masih terengah-engah, namun sepasang manik mata merah padamnya kini berbinar cerah memancarkan kilatan energi yang hidup. Namun, belum sempat ia membuka bibirnya untuk merayakan keberhasilan besar tersebut, suara dingin Arvendel sudah lebih dulu memotong gerakannya.

"Jangan berani menggeser tubuhmu barang satu inci pun dari tempatmu duduk. Tetap diam di posisimu, dan tutup kembali matamu," perintah Arvendel tanpa ruang kompromi.

"Sekarang adalah fase krusial yang sesungguhnya. Mulailah menjinakkan dan mengontrol energi *Ki* internal yang baru saja terkumpul di dalam danau Dantianmu. Alirkan energi itu keluar secara perlahan, gunakan sebagai energi *Ki* eksternal untuk menyelimuti kulit, memperkuat struktur fisik, dan meningkatkan kapasitas tenagamu secara instan."

Tanpa niat untuk membantah sepatah kata pun, Kenzie langsung mematuhi perintah tersebut. Ia menekan rasa bangganya dalam-dalam dan kembali fokus penuh, mengendalikan arus energi baru yang bergejolak di dalam tubuhnya.

Satu jam pun berlalu dalam keheningan kliring yang terasa mencekam.

Perlahan namun pasti, sebuah fenomena magis mulai terjadi. Tubuh Kenzie yang semula berlumuran debu kini mulai memancarkan pendaran cahaya tipis berwarna putih keperakan yang sangat jernih. Kenzie akhirnya berhasil menjinakkan keliaran energi *Ki* miliknya sendiri. Kini, seluruh permukaan kulit dan pakaian tubuhnya dibalut oleh lapisan tipis energi eksternal yang murni. Aura penampilannya berubah drastis dalam sekejap; ia tidak lagi terlihat seperti seorang pangeran muda yang lemah dan ringkih, melainkan seorang kultivator pemula yang telah memiliki fondasi dasar yang teramat kokoh dan bersih.

"Luar biasa. Harus kuakui, mampu mengontrol kemudi energi eksternal dengan sesempurna itu dalam kurun waktu satu jam adalah pencapaian yang mengagumkan. Sekarang, tubuh payahmu itu setidaknya telah siap untuk menerima porsi sesi latihan yang jauh lebih berat dari sebelumnya," puji Arvendel tulus, yang seketika membuat Kenzie membuka mata dan mengulas senyuman bangga yang lebar.

Namun, kalimat lanjutan yang keluar dari bibir Arvendel berikutnya dalam sekejap langsung meruntuhkan seluruh kebahagiaan yang baru saja singgah di hati Kenzie.

"Ingat baik-baik di kepala kecilmu itu, Bocah. Menu latihan melelahkan yang kamu lakukan sejak pagi tadi... itu hanyalah sebuah pemanasan sepele yang tidak ada harganya. Latihan sesungguhnya yang akan datang setelah ini... akan jauh lebih menyiksa, lebih berdarah, dan lebih tidak manusiawi dari apa pun yang pernah mampu dibayangkan oleh otak manjamu itu."

Kenzie seketika melongo sempurna. Mulutnya menganga lebar, dan matanya berkedip tidak percaya mendengar rentetan untaian kalimat dingin tanpa riak dari sang Master. Di dalam benaknya, Kenzie mati-matian menyaring kalimat tersebut, berdoa dan berharap dengan sangat khusyuk kepada leluhur bahwa apa yang baru saja diucapkan Arvendel hanyalah sebuah bualan kosong atau lelucon selingan untuk menakut-nakuti mentalnya saja.

Namun, saat matanya berbenturan dengan sepasang mata elang Arvendel yang menatapnya datar, dingin, dan tanpa ekspresi main-main... Kenzie tahu dengan sangat pasti... neraka dunia yang sesungguhnya baru saja membuka gerbangnya lebar-lebar untuk dirinya.

Mungkin akan menjadi latihan yang sangat ekstrim pada setiap hari dan malam hari, karena tubuh Kenzie telah sepenuhnya terbentuk oleh arvendel.

...****************...

1
LanLan.CNL
Tolong dong setelah membaca novelnya berikan tanggapan kalian agar aku sebagai author bisa menjadi lebih semangat lagi updatenya🙏🙏

setiap bab yang kalian baca berikan tanggapan kalian agar author tau apa yang kurang dari novelnya /Grievance//Whimper//Whimper/
Ibar, {iba'rat Askar}
Dari sini kita tahu bahwa kebaikan seseorang bisa jadi adalah?...
Ibar, {iba'rat Askar}: @Abdul Halim @💕NEKO DES!🐈 @Mystorios _ Writer @Yedija Agung@أسوين سي @knovitriana @Yedija Agung @nia♡ @zichani @Gaizra
total 1 replies
LanLan.CNL
berbagi pengalaman itu adalah kebaikan.. jadi sering seringlah menerima kebaikan Kenzie ya🤣🤣
Ibar, {iba'rat Askar}
gue komentar pertama disini..
jadi ingat untuk memberi like yaa😄..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!