NovelToon NovelToon
Sumpah Pengawal Kuno

Sumpah Pengawal Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mamah Nissa

Gugur dalam tragedi berdarah di abad ke-14, jiwa Nyai Kencana—kesatria wanita Kerajaan Sunda—terlempar ke masa modern. Ia merasuki raga Citra, mahasiswi beasiswa yang nekat melompat dari jembatan demi menjaga kehormatannya dari jebakan pemerkosaan.
​Kini, Citra bangkit dengan kepribadian baru: dingin, tegap, dan menguasai ilmu kanuragan kuno. Tidak ada lagi Citra lemah yang bisa ditindas!
​Perubahan drastis Citra membuat Elang Dirgantara, pewaris tunggal konglomerat yang angkuh dan sombong, penasaran sekaligus jengkel. Hubungan mereka layaknya anjing dan kucing yang selalu bergesek konflik.
​Namun, roda takdir berputar. Keluarga Elang bangkrut total dalam semalam. Diusir, dikhianati teman-temannya, dan nyaris bunuh diri.
Bagaimana kisahnya baca terus novelnya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Nissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 - Berkah di Balik Badai Viral

Semburat jingga di cakrawala barat Jakarta belum sepenuhnya luruh menjadi pekat malam. Namun, ruas trotoar di dekat pertigaan luar kampus Universitas Dirgantara sudah berubah menjadi lautan manusia yang merayap padat.

Pendaran merah dan kuning dari lampu-lampu kendaraan yang terjebak kemacetan berbaur dengan temaram lampu merkuri jalanan.

Cahaya itu memantul di atas kepala ratusan orang yang berjubel, mengular panjang hingga memakan sebagian besar jalur pejalan kaki. Pemicunya malam ini bukan lagi demo mahasiswa yang membakar ban, bukan pula kecelakaan lalu lintas yang jamak terjadi. Riuh rendah itu berpusat pada bentangan terpal plastik biru-oranye yang spanduk kainnya mulai miring ditarik massa, bertuliskan: Angkringan Tenda Arema.

Efek ledakan video berdurasi tiga puluh detik di jagat maya benar-benar bermanifestasi menjadi anomali visual yang gila sore ini.

Algoritma TikTok dan Instagram telah bekerja tanpa ampun, mendistribusikan rekaman ketegangan semalam ke gawai setiap mahasiswa, pekerja kantoran, hingga warga lokal di seluruh penjuru Jakarta Selatan.

Mereka yang mengantre di sana datang bukan murni karena perut yang lapar. Mereka didorong oleh rasa penasaran yang membakar, rasa haus akan gosip segar untuk melihat secara langsung sosok Citra, gadis yang dengan ketenangan mematikan berhasil menyekak anak konglomerat. Lebih dari itu, mereka ingin melihat siluet tampan sang mantan pangeran kampus yang kini terbungkus celemek kain yang kusam dan bernoda lemak.

Di balik gerobak kayu, kepulan asap dari pembakaran arang kelapa membubung tebal ke udara. Asap itu menciptakan tirai kelabu yang pekat, menusuk hidung dan membuat mata siapa pun di dekatnya perih berair.

Suasana di dalam ruang masak yang sempit itu sudah menyerupai medan laga yang kacau-balau. Suara dentang sutil, gemercik minyak, dan riuh pesanan beradu menjadi satu.

"Duh Gusti, arek-arek iki yo opo sih? Nasi kucingku jek dipanggang wis dijaluk! Sabar ta lah, Sam! Iki tangan mung loro, gak nggawe mesin!" Surya berteriak heboh. Suaranya yang serak meninggi di antara kebisingan.

Tangannya bergerak secepat kilat, menuangkan larutan teh manis hangat dari teko seng raksasa ke dalam jajaran gelas kaca setebal jempol. Uap teh yang wangi meluncur bersama kepulan asap arang.

Wajah Surya yang biasanya santai kini bermandikan keringat hingga kaus oblongnya basah kuyup. Namun, sepasang matanya tidak bisa menyembunyikan binar kegirangan yang luar biasa.

Setiap beberapa detik, lirikan matanya selalu turun ke arah laci kayu gerobak. Laci itu sudah tidak bisa menutup rapat akibat jejalan lembaran uang dua puluh ribuan dan lima puluh ribuan yang meluap kusut.

"Elang! Ojok ngelamun ae! Itu sate kikil di piring sebelah kanan buruan dibakar, ayo cepet, selak kaliren wong-wong iku!" bentak Surya tanpa menoleh.

Elang Dirgantara menarik napas pendek yang terasa berat. Ia membiarkan pasokan oksigen yang bercampur pekatnya asap arang merasuk, membakar tenggorokan dan paru-parunya. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun eksistensinya di dunia yang serbanyaman, ia dipaksa berdiri di titik ini. Menghadapi realitas baru yang mengikis habis seluruh sisa keangkuhan garis keturunan Dirgantara yang mengalir di darahnya.

Di bawah kepungan ratusan pasang mata yang tak henti-hentinya berbisik, menunjuk-nunjuk wajahnya, dan sesekali mengarahkan kilatan lampu flash kamera ponsel, Elang merasa telinganya berdenging. Ada rasa panas yang menjalar di tengkuknya, sebuah rasa malu yang luar biasa. Namun, malam ini, ia terpaksa membuang jauh-jauh gengsi itu, melemparnya dalam-dalam ke dalam tungku pembakaran yang membara.

Ia mulai bergerak cepat, mengabaikan rasa canggung yang sempat mengunci otot-ototnya. Tangan kanannya yang kini dibungkus sarung kain kusam mengayunkan kipas bambu dengan ritme yang konstan. Ia membalikkan belasan tusuk sate usus dan nasi bungkus kertas minyak di atas jeruji besi yang menyala merah. Kulit wajahnya terasa perih terpapar hawa panas bara api. Begitu makanan itu matang dan aromanya menguar gurih, ia tidak lagi ragu untuk melangkah keluar dari zona aman di balik gerobak. Elang berjalan membelah kerumunan, mengantarkan pesanan langsung ke atas meja-meja pendek tempat para pengunjung duduk bersila di atas tikar lesehan yang mulai lembap.

"Permisi, dua nasi kucing teri sama es tehnya," ucap Elang.

Suaranya parau, kehabisan tenaga. Intonasi baritonnya yang dulu selalu terdengar tinggi dan penuh perintah, kini terdengar lebih membumi. Tidak ada lagi sisa-sisa nada meremehkan yang biasa ia gaungkan di koridor fakultas hukum saat menolak ajakan bicara orang lain.

Setelah mengantarkan pesanan, tidak ada waktu baginya untuk sekadar meluruskan pinggang. Elang langsung berjongkok di samping ember plastik besar di sudut tenda.

Di hadapannya, tumpukan piring kotor dan gelas kaca sudah menggunung. Ia meraih spons, menggosok permukaan wadah-wadah itu menggunakan sabun colekan murahan yang baunya menyengat. Air dingin dan busa sabun mulai membuat kulit jemarinya terasa kaku, berkerut, dan perih di bagian kutikula. Otot-otot punggungnya menjerit kesakitan, mengirimkan rasa pegal yang berdenyut hingga ke leher. Pelipisnya terus mengucurkan keringat dingin akibat kelelahan fisik yang berada di ambang batas toleransi tubuh manusianya.

Namun, sebuah keajaiban kecil terjadi di dalam kepalanya.

Saat melihat bagaimana air bilasan piring itu mengalir keruh ke saluran pembuangan, dan mendengar tawa renyah Surya yang sesekali menghitung uang, sebuah sensasi aneh merayap di ulu hati Elang. Itu bukan rasa terhina. Itu adalah sebuah rasa kepuasan psikologis yang jujur dan murni. Rasa bangga yang lahir dari hasil cucuran keringatnya sendiri demi bertahan hidup malam ini, bukan dari selembar kartu kredit hitam pemberian kakeknya yang selama ini mendikte jalannya bernapas.

Di sudut meja lesehan yang paling dekat dengan gerobak, suasana tidak kalah intens. Kirana tampak sibuk bukan main hingga rambutnya yang dikuncir kuda mulai berantakan. Penanya bergerak dinamis, mencoret dan menuliskan barisan pesanan di atas kertas nota kecil yang lembarannya hampir habis.

"Aduh, sebentar ya, Mas! Satu-satu!" serunya setengah berteriak, sesekali menyumpah pelan dalam hati saat ada pengunjung yang mengubah pesanannya secara mendadak ketika nota sudah telanjur ditulis.

Sementara itu, tepat di sebelahnya, posisi duduk Citra kontras dengan kegaduhan sekitar. Ia duduk dengan posisi bersila yang teramat tegap, anggun, dan seolah memiliki benteng kasat mata yang membuatnya tak tersentuh oleh debu jalanan.

Jemarinya yang ramping bergerak dengan presisi yang menakjubkan, melipat lembar demi lembar kertas minyak cokelat untuk membungkus pasokan nasi kucing baru yang baru saja matang dari panci penanak. Pembawaannya teramat tenang, laksana seorang panglima perang yang sedang menyusun strategi krusial di tengah riuhnya pasar malam.

Namun, di antara sela-sela kesibukannya melipat kertas yang ritmis itu, sepasang mata bulat miliknya yang tajam tidak pernah benar-benar lepas dari raga Elang Dirgantara. Setiap tarikan napas Elang, setiap bungkukan tubuhnya saat mencuci piring, terekam jelas dalam jangkauan pandangnya.

Jiwa Nyai Kencana yang bersemayam jauh di dalam dada Citra diam-diam mengamati proses tersebut dengan kedalaman rasa takjub yang misterius. Getaran magis yang tenang bergolak di dalam batinnya. Ia melihat bagaimana ego pemuda itu, yang semula keras, kokoh, dan angkuh bagai batu karang yang menantang ombak, kini sedang digerus secara perlahan oleh roda takdir. Keangkuhan itu dilebur, dibakar di antara kepulan asap arang, dan dibilas oleh air sabun cuci piring yang kotor.

Raga ini mulai mengerti arti dari retakan tanah penderitaan,batin Kencana bergolak pelan, merasakan kepuasan purba yang aneh. Seulas senyum tipis yang teramat samar, hampir tak kentara bagi mata manusia biasa, terukir di sudut bibirnya yang ranum.

Sentuhan kehangatan, kerja keras, dan keberkahan yang pekat di tepi jalanan Jakarta malam itu rupanya berbanding terbalik dengan atmosfer yang sedang bergejolak di tempat lain. Jauh dari kepulan asap angkringan, di dalam sebuah kamar kos petak eksklusif ber-AC sentral yang terletak di kawasan hunian elite tidak jauh dari area lingkar luar kampus, sebuah ketegangan yang berbeda justru sedang mendidih hingga hampir meledak.

*

Prank!

Suara benturan itu terdengar begitu pekak dan solid. Sebuah botol kaca tebal berisi cairan parfum bermerek Prancis terhempas keras, menghantam dinding kamar yang dilapisi wallpaper beludru impor bermotif sulur emas. Botol itu hancur berkeping-keping dalam sekejap. Pecahan belingnya melesat ke segala arah, sementara cairannya merembes cepat ke dalam serat kain dinding, menyebarkan aroma wewangian yang teramat pekat, perpaduan melati dan mawar yang kini justru terasa memuakkan di dalam udara kamar yang mencekam.

Kamar itu kini tak ubahnya seperti zona perang. Jajaran kosmetik mahal yang biasanya tersusun rapi menurut gradasi warna kini berserakan di lantai marmer yang dingin. Cermin rias besar berbingkai lampu LED retak seribu di sudut kanan atas, memantulkan bayangan yang terdistorsi. Lembaran pakaian desainer, tas jinjing kulit, dan sepatu hak tinggi yang acak-acakan menjadi saksi bisu dari luapan amarah yang meledak tanpa kendali sejak satu jam lalu.

Natasha berdiri mematung di tengah ruangan. Napasnya memburu naik-turun, memompa dadanya secara tidak beraturan. Kedua telapak tangannya mencengkeram tepi meja rias dengan sangat erat, menyalurkan getaran hebat dari tubuhnya. Kuku-kuku jarinya yang panjang dan dihiasi cat kuku mahal sewarna merah marun memutih kaku, menahan beban tubuhnya yang nyaris ambruk oleh rasa murka.

Wajahnya yang biasa dipoles riasan tebal nan sempurna kini tampak kusut dan mengerikan. Sisa masker lumpur hijau di kedua pipinya telah mengering, retak pecah-pecah membentuk garis-garis putih akibat otot rahangnya yang tak henti-hentinya mengetat, menahan geram yang mengunci persendian mulutnya.

Dengan sentakan kasar, ia kembali menyambar ponsel pintarnya yang tergeletak di atas kasur king size. Layar gawai itu menyala, memantulkan cahaya biru yang menerangi sepasang matanya yang berkilat, memancarkan gumpalan dendam yang pekat dan pekat.

Angka penonton pada unggahan video amatir yang menampilkan kejadian semalam di Angkringan Surya seolah melesat tanpa rem. Angka digital itu kini telah menembus tiga juta tayangan dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. FYP TikTok dan kolom eksplor Instagram-nya seolah dikutuk untuk hanya menampilkan wajah menyebalkan itu.

Lebih menjengkelkan lagi bagi kondisi psikologis Natasha, kolom komentar di bawah video tersebut didominasi oleh jutaan kalimat pujian dari netizen. Mereka bertingkah seolah-olah baru saja menemukan juru selamat.

Kalimat-kalimat seperti:

"Real-Life Heroine yang Sesungguhnya"

"Cantiknya Alami Tanpa Filter"

"Kaya Aura Pendekar di Film-film Kerajaan ya Bikin Merinding"

Bertengger jumawa di barisan teratas dengan tanda suka terbanyak. Netizen bodoh yang tidak tahu apa-apa itu sibuk mengelu-elukan Citra.

Sebaliknya, reputasi sirkel elite miliknya bersama Samudra hancur lebur dalam semalam. Di mata publik digital, mereka bukan lagi kelompok mahasiswa kaya yang disegani, melainkan dicap sebagai komplotan perundung yang norak, gila pamer harta orang tua, dan tidak memiliki tata krama moral.

Akun media sosialnya bahkan terpaksa diprivat karena serbuan makian yang tak henti masuk ke kolom pesan.

"Menjijikan... Ini bener-bener gak masuk akal!" teriak Natasha frustrasi.

Suaranya melengking tinggi, memantul di dinding kamar yang kedap suara. Ia melontarkan umpatan kasar, hanya untuk meluapkan rasa sesak yang kini mencekik tenggorokannya.

Rencananya sudah matang semenjak awal minggu. Ia ingin mengucilkan Citra dari pergaulan kampus, menghancurkan mental gadis itu melalui tangan preman bayaran di gang gelap, dan menonton dari kejauhan saat jalang beasiswa itu merangkak di selokan meminta ampun.

Namun, takdir bajingan ini justru berbalik seratus delapan puluh derajat. Rencana itu menjelma menjadi bumerang raksasa yang melambungkan nama Citra ke takhta tertinggi popularitas digital. Keberadaan Citra kini dianggap sebagai simbol perlawanan, ikon kaum tertindas terhadap kesombongan kaum borjuis kampus seperti dirinya.

Natasha berjalan mondar-mandir, menginjak beberapa lembar pakaian mahalnya tanpa peduli. Langkah kakinya menimbulkan suara ketukan yang tidak sabar di atas lantai marmer. Gengsi psikologisnya menolak keras untuk menerima kekalahan telak ini. Bagi seorang Natasha, menyerah pada anak kampung seperti Citra adalah bentuk kehinaan yang lebih buruk daripada kematian.

Dengan bibir yang mengatup rapat membentuk garis tipis yang kejam dan dingin, jemarinya kini bergerak dengan kecepatan yang gila di atas layar sentuh ponselnya. Ia membuka sebuah aplikasi perpesanan yang tersembunyi di dalam folder privat.

Mengabaikan rasa gemetar di ujung jarinya, ia mulai mengetik sebaris pesan singkat dengan sandi terenkripsi. Pesan itu dikirimkan kepada sebuah kontak tanpa nama, sebuah nomor gelap yang terhubung langsung dengan jaringan dunia bawah Jakarta yang bergerak di balik bayang-bayang kriminalitas. Sebuah rencana baru yang jauh lebih kotor, lebih berdarah, dan tidak lagi melibatkan sekadar gertakan murahan di dalam gang sepi, kini mulai ia susun dengan kepala dingin yang mengerikan. Natasha akan memastikan, dengan cara apa pun, Citra Kencana harus menghilang dari muka bumi untuk selamanya.

*

Di belahan sudut kota yang berbeda, atmosfer kelam yang tidak kalah pekat juga menyelimuti interior sebuah kafe remang-remang. Tempat itu tersembunyi di lantai dasar sebuah ruko mati di kawasan bisnis tua yang separuh bangunannya sudah ditinggalkan penghuninya.

Cahaya lampu neon merah dan biru yang temaram berkedip sesekali, memproyeksikan bayangan-bayangan panjang yang patah dan distorsi di atas permukaan meja kayu yang kasar.

Meja itu dipenuhi oleh botol-botol minuman beralkohol murahan yang lengket, gelas-gelas kosong bermoda, serta beberapa asbak seng yang penuh dengan tumpukan puntung rokok kretek yang masih menyisakan bara abu yang tipis.

Samudra duduk bersandar di kursi kulitnya yang robek di bagian sudut, membiarkan busa bagian dalam kursi yang kuning mencuat keluar menekan punggungnya.

Kedua sikunya menopang di atas meja, sementara wajahnya tampak kusut, kusam, dan dipenuhi oleh amarah yang terpendam begitu pekat di bawah kantung matanya. Setelan kemeja sutra birunya yang semalam berkilat mewah di bawah lampu disko, simbol status sosial yang selalu ia banggakan, kini tampak lunglai dengan kancing atas yang terbuka asal-asalan, menampakkan tulang selangkanya yang menegang.

Di kanan kirinya, empat orang anak buahnya dari tim olahraga kampus duduk terdiam seribu bahasa. Mereka bahkan menahan napas, tidak berani menyulut bom waktu yang siap meledak dari rahang ketua mereka yang sejak tadi terus mengetat hingga otot-otot lehernya menonjol kaku.

Samudra menatap layar ponselnya yang diletakkan telentang di atas meja. Gawai itu tak henti-hentinya bergetar pendek, memancarkan cahaya berkala yang menampilkan ratusan notifikasi pesan hujatan, makian, serta mention dari akun-akun anonim maupun akun asli mahasiswa Universitas Dirgantara.

Setiap getaran ponsel itu terasa seperti tamparan fisik yang mendarat tepat di wajahnya. Harga dirinya sebagai putra tunggal pengusaha tekstil papan atas yang biasa menguasai hierarki tertinggi pergaulan anak muda Jakarta, runtuh seketika menjadi abu yang tak berharga. Dan yang paling membuatnya gila: semua kehancuran ini hanya dipicu oleh untaian kalimat tenang nan dingin yang dilontarkan oleh seorang gadis miskin di depan gerobak sate kotor.

"Sam... ini videonya gak bisa diturunkan. Pihak admin bilang datanya sudah terlanjur diretas dan disebar ke akun-akun luar," salah seorang anak buahnya berbisik pelan.

Cowok itu memecah keheningan yang menyiksa tersebut dengan nada suara yang bergetar penuh ketakutan, seolah takut kepalanya akan menjadi sasaran botol melayang setelah kalimat itu selesai diucapkan.

Samudra tidak menjawab dengan kata-kata. Responsnya jauh lebih dingin. Ia meraih botol minuman keras di depannya dengan sentakan kasar, lalu meneguk isinya langsung dari mulut botol. Cairan alkohol yang membakar itu mengalir tergesa-gesa, sebagian merembes keluar dari sudut bibirnya dan membasahi kerah kemeja sutranya hingga membentuk noda gelap.

Sepasang matanya berkilat memancarkan kegelapan. Baginya, urusan ini sudah melenceng jauh. Ini bukan lagi sekadar perkara memberi pelajaran fisik atau menindas Elang yang notabene sudah bangkrut dan melarat.

Masalah ini telah bermutasi menjadi sebuah obsesi psikologis yang salah alamat di dalam kepalanya. Sebuah rasa penasaran yang beracun, bercampur dengan dendam kesumat yang membara untuk menghancurkan Angkringan Tenda Arema tersebut hingga berkeping-keping menjadi debu. Ia terobsesi untuk menjinakkan dan mematahkan Citra, gadis yang pembawaannya terlalu tegap dan angkuh untuk ukuran seorang rakyat jelata yang menumpang hidup di kotanya.

"Gue gak bakal kalah sama anak beasiswa dan tukang sate Arema," desis Samudra.

Suaranya terdengar sangat berat, serak oleh alkohol, dan penuh dengan penekanan kriminal yang amat dingin. Bersamaan dengan kalimat itu, ia menghantamkan tinju kanannya ke atas meja dengan kekuatan penuh.

Brak!

Benturan itu membuat botol-botol kaca di atas meja berdenting nyaring, beberapa di antaranya terguling dan menumpahkan sisa cairan pekatnya ke atas lantai.

"Mereka pikir mereka bisa naik daun di atas penderitaan harga diri gue? Mereka salah besar," lanjut Samudra, matanya menyipit kejam menatap lurus ke depan.

"Panggil anak-anak dari pasar loak besok malam. Bawa apa aja yang bisa dipakai. Gue mau tempat itu rata tanah tanpa sisa. Dan gue mau cewek itu tahu... tahu betul apa akibatnya kalau berani menantang kendali gue di kota ini."

*

Kamera takdir seolah berputar cepat, beralih secara kilat meninggalkan kebusukan di sudut ruko mati itu dan kembali ke episentrum ketegangan di lokasi Angkringan Tenda Arema di pinggir jalan arteri kampus.

Malam telah bergeser jauh melewati pukul sebelas. Udara Jakarta yang biasanya mulai mendingin justru terasa pekat dan mengungkung di tempat ini. Antrean manusia yang didorong oleh rasa penasaran yang belum tuntas masih tampak mengular panjang, berjubel di balik bentangan terpal plastik biru-oranye yang sesekali berkibar pelan ditiup angin malam. Kepulan asap arang dari gerobak Surya kian menebal dan menggulung ke langit-langit tenda, menciptakan semacam kabut kelabu yang menyamarkan pandangan mata sekaligus mengunci hawa gerah di dalam interior tempat makan lesehan tersebut.

Elang berdiri tegak di dekat tungku panggangan yang membara merah. Ia mendongakkan kepalanya sedikit, menatap langit-langit terpal demi mengambil pasokan oksigen malam yang terasa kian tipis dan berat di tenggorokan.

Sudah berjam-jam tubuhnya dipaksa bergerak tanpa jeda satu sekon pun, sebuah pengalaman fisik paling ekstrem yang pernah ia lalui sepanjang hidupnya.

Rasa lelah yang luar biasa hebatnya membuat otot-otot paha dan betisnya bergetar samar. Napasnya terengah-engah pendek, dan pelipis hingga lehernya kini dipenuhi peluh kotor yang bercampur dengan jelaga hitam dari abu arang yang beterbangan.

Tepat pada detik itu, di antara sela-sela kebisingan riuh rendah suara pengunjung yang sedang mengobrol, dentang sendok, dan tawa yang bersahut-sahutan, Elang memutar tubuhnya. Ia berniat mengambil pasokan mangkuk bersih di rak bawah gerobak. Namun, gerakan tubuh yang refleks itu justru membuat sepasang mata elang miliknya tidak sengaja beradu pandang secara langsung dengan Citra yang baru saja melangkah mendekati area gerobak.

Citra mengulurkan tangan kanannya dengan gerakan yang teramat anggun, hampir menyerupai sebuah ritus halus di tengah kekacauan angkringan.

Gadis itu menyerahkan segelas wedang jahe bakar hangat yang uapnya mengepul wangi, menyodorkannya tepat ke arah genggaman tangan Elang yang masih dipenuhi noda hitam arang kotor.

Namun, ada yang aneh.

Di sela-sela riuhnya suara tawa pengunjung di tikaran sebelah yang sedang bersenda gurau, Citra tidak melepaskan gelas seng itu dengan segera. Jari-jarinya tetap menahan dasar gelas, sementara ia justru memajukan tubuhnya setengah depa lebih dekat, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma wangi tubuhnya yang samar, perpaduan bunga melati kering dan minyak kelapa tradisional, menusuk penciuman Elang.

Sepasang mata bulat milik Citra yang semula selalu menatap dunia dengan ketenangan datar yang membosankan, malam ini mendadak berubah total. Di balik temaram lampu teplok gerobak, mata itu berkilat, memancarkan kilatan hawa dingin yang pekat dan dipenuhi oleh kewaspadaan tingkat tinggi, sebuah tatapan tajam dan waspada milik seorang kesatria purba yang siap menghunus pedang di tengah medan laga.

Citra memicingkan sepasang matanya yang seolah mampu menembus malam. Ia menatap lurus, mengunci pupil mata Elang dengan kekuatan magis yang tak kasat mata.

Gadis itu lalu membisikkan sebaris kalimat pendek. Vokalnya teramat lirih, hampir tenggelam oleh suara riuh sekitar, namun memiliki tekanan psikologis yang begitu berat hingga detak jantung Elang seolah dipaksa berhenti berdetak.

Fokus batin pemuda Dirgantara itu seketika beralih seutuhnya, terserap total pada perubahan ekspresi wajah dan aura dingin yang mendadak menguar dari tubuh gadis di hadapannya tersebut.

"Ada bau besi tua dan derap langkah yang salah di ujung gang luar terpal, Elang..." desis Citra, suaranya kini terdengar memiliki gema ganda yang halus namun berwibawa, mencerminkan eksistensi lain yang sedang bergolak di dalam dadanya.

"Bersiaplah di belakangku. Badai yang sesungguhnya telah tiba lebih cepat dari perhitungan waktu."

1
Darma
hik kasihan citra
Apis
thor sebenernya ceritanya bagus tp gmn ya bnyk kata" yg g sat set ke inti jln ceritanya
Mamah Nissa: siap kk di bab awal lebih banyak bercerita, sedikit dialog ya. makasih sarannya kak, ini tanggung di draft udah sampe bab 32. bab 33 ke sana coba dibikin yang lebih simple.
total 1 replies
Sarah
Woahh, bab 1 yang keren. Meskipun kadang paragraf kerasa tetlalu panjang. Tapi masih enak diliat sih. 👍
Mamah Nissa: Makasih kakak sudah mampir mohon bimbingannya...
total 1 replies
Mamah Nissa
siap kk. makasih dah mampir mohon bimbingannya
putratunggal
mantaps ceritanya meski baru awal
Mamah Nissa: makasih kak mohon bimbinganya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!