Danu merasa hidupnya benar-benar di kutuk oleh Lila gadis kecil yang dulu dia rawat, empat kali sudah dia gagal memiliki pasangan hidup hingga dia di juluki Perjaka Tua di kampus di mana dia mengajar.
"Siang Pak Dosen" Suara itu benar-benar Danu hafal, siapa lagi kalau bukan Lila si Pengutuk kecil.
"Ada apa?"
"Pak saya ada masalah, mohon bantuan"
"Bantuan apa? apa ada materi yang sulit di fahami?" Danu mencoba bersikap professional.
"Ada pak"
"Materi apa?"
"Materi tentang bagaimana cara menjadi istri Pak Danu Pramana"
'Uhuk uhuk'
Danu sampai tersedak mendengar Lila kembali berulah.
"Lila ....."
Lila langsung berlari keluar setelah menaruh buku tugasnya di meja kerja Danu.
Akankah Lila berhasil mendapatkan cinta sang Dosen? yuk kepoin cerita serunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
"Ryan?"
Ryan tersenyum dia menghampiri Lila dengan seikat bunga mawar merah.
"Kog kamu di sini?"
"Kenapa? aku sekarang salah satu mahasiswa di sini"
"Apa! Lu gila ya? Bukannya Lo siswa terbaik? Lo dapat beasiswa ke luar negeri gratis! Gue rasa guru salah menilai deh, lu sekarang justru terlihat bodoh yan"
Bukan Lila yang mengatakan itu, tapi Rania.
Rania kira cowok tampan tadi adalah seorang artis atau mahasiswa senior mereka. Tapi begitu mendekat, ternyata itu adalah Ryan. Teman kelas mereka di SMA. Teman terpintar di kelas mereka namun Rania selalu merasa dia bodoh, sejak dulu Ryan mengejar Lila, mendekati Lila, selalu mengikuti Lila, tapi tidak pernah berani bicara kalau dia suka. Sekalinya bilang saat mereka akan berpisah.
Harusnya sejak awal Ryan bilang ke Lila, harusnya dia mengejar Lila sejak dulu, jadi ada kesempatan. Bukannya mau lulus baru berani bicara. Benar-benar lelaki bodoh.
"Apa sih! Nilai gue satu provinsi tertinggi, lu bilang gue bodoh?"
"Emang. Memangnya gue salah? banyak orang pengen kuliah di luar negeri kayak elu, elu nya malah balik lagi. Apa namanya kalau nggak bodoh!"
Kedua orang ini sejak dulu memang sering bertengkar, Lila sudah biasa mendengarnya, Lila justru masih menatap Danu yang masih memijat kaki Bu Dian, rasanya dia ingin sekali ke sana dan menginjak kaki Bu Dian agar sandiwara nya itu benar-benar jadi kenyataan.
"Ini nggak bodoh, ini namanya pengorbanan cinta! ya kan Lil?"
"Mmmmm"
Ryan meminta Lila menatap ke arahnya, namun kepala Lila selalu kembali lagi ke arah Danu.
"Kamu lihatin apa sih Lil?"
Mata Ryan tertuju ke arah seseorang yang tengah di tatap Lila. Ryan sepertinya pernah melihat lelaki di sana.
"Lihat calon imamnya sedang di godain wanita lain"
Ryan langsung melirik tajam ke Rania, dia tidak sedang bertanya pada Riana. Jawaban Riana juga membuat dia kesal.
"Lelaki itu? Calon suami Lila? Lu ngarang ya! Dia kan Om nya Lila"
"Om dari Hongkong. Mereka tidak punya hubungan darah"
"Apa itu benar Lila? Apa dia calon suami kamu?"
Bukannya menjawab, Lila justru buru-buru masuk ke mobil Danu.
Ryan menarik tubuh Lila ke luar.
"Aku antar kamu"
Karena tubuhnya yang kalah tinggi, Lila benar-benar tertarik ke luar, dia hampir jatuh menubruk Ryan. Mereka seperti sedang berpelukan sekarang.
Lila ingin menjauh, namun Ryan justru memeluknya erat.
"Aku kangen banget sama kamu Lil"
Danu yang tengah memapah Bu Dian langsung melepas Bu Dian begitu saja. Dia menghampiri Lila dan melepaskan pelukannya itu.
Danu juga tidak tahu kenapa dia refleks melakukan hal itu. Bahkan Bu Dian sampai jatuh ke tanah karena di lepas begitu saja oleh Danu.
"Kenapa Om?"
Ryan terlihat marah saat pelukannya di lepas paksa oleh Danu.
"Ini mobil saya bukan tempat pacaran!"
Amarah Danu meluap-luap, dia juga tidak tahu kenapa dia marah, mungkin karena dia merasa di permainkan Lila. Kemarin mereka berciuman begitu mesra, tapi sekarang dia harus melihatnya memeluk lelaki lain, apalagi lelaki itu lebih muda darinya.
Lila menghela nafas panjang, baru melihat dia di peluk lelaki lain saja Mas Danu sudah emosi, itu tanda kalau dia cemburu. Mereka juga sudah berciuman, tapi kenapa Mas Danu masih tidak mengakuinya?
"Wah ada murid baru, katanya kamu rela pindah dari luar negeri demi mengejar cinta pertama kamu ya? Wah ternyata dia Lila ya?"
Suara Bu Dian yang berjalan dengan kaki terpincang-pincang membuat semua orang menoleh. Lila tentu tahu Bu Dian sengaja mengatakan itu, biar Mas Danu makin jauh dari dirinya.
"Kami hanya teman biasa Bu" Jawab Lila yang tak mau Danu salah faham lagi.
Ryan terlihat kecewa, namun dia sudah memutuskan untuk mengejar Lila, jadi dia akan bersabar.
"Hanya teman? tapi kog sudah berpelukan di depan umum? Kalian sangat cocok lho, satunya ganteng, satunya cantik. Benar-benar pasangan serasi"
Lila mendengus, dia hanya cocok dengan Mas Danu, ini hanya modus Bu Dian agar dia bisa dengan mudah mengejar Mas Danu nya, Lila tahu Bu Dian ingin menjauhkan dirinya dari Mas Danu, sengan begitu berkurang lah saingan Bu Dian. Benar-benar perhitungan yang sangat matang.
"Oh ya Lusa ada undangan ulang tahun putri pak Rektor, kita jadi datang bersama kan Pan Dan?"
Lila melotot, dia tidak bisa membiarkan Mas Danu datang di acara seperti itu berdua dengan Bu Diana, dia harus ikut.
"Lila ikut, Mas Danu sama Lila saja"
Danu menghela nafas berat, apa sebenarnya yang di inginkan Lila? Baru saja dia memeluk cowok di depan umum, sekarang sudah mau merayunya lagi.
Sepertinya Lila harus di beri pelajaran.
"Saya sudah janji datang dengan Bu Dian, memang kamu punya undangan?"
Danu langsung membuka pintu mobil, meminta Bu Dian untuk masuk.
"Lusa kamu jemput aku kan Mas.." Bu Dian sengaja menunjukkan kedekatan nya dengan Danu pada Lila.
"Boleh"
Bu Dian merasa menang hari ini, dia sepertinya berhasil mendapatkan perhatian Danu. semoga saja sebentar lagi status jandanya akan berganti dengan Nyonya Danu.Bu Dian menutup pintu mobil, meninggalkan Lila yang nampak sangat kecewa berat.
Kenapa Mas Danu seperti ini padanya? Dia sangat kecewa, dia terang-terangan mengatakan kalau dia cinta, tapi Mas Danu sengaja mempermainkan hatinya.
"Kamu mau ikut datang ke acara itu?" Tanya Ryan.
"Mau, tapi gimana? kita bukan teman dekat anaknya pak Rektor, kita juga bukan dosen. Mau dapat undangan dari mana?"
"Aku bisa bantu kamu"
"Benarkah?"
"Jangan PHP kamu Yan" Sahut Rania yang merasa itu mustahil.
"Aku tidak PHP, aku benar-benar bisa membawa kalian ke sana, tapi dengan satu syarat"
"Memang apa syaratnya?"
"Kamu harus mau ngedate satu hari full sama aku'
Lila nampak berpikir lama, dia tidak yakin Ryan bisa mengajak nya.
"Pak Rektor di sini Om aku, yang berulang tahun adalah saudara sepupu ku, jadi aku bisa ajak kalian ke sana, bahkan tanpa undangan"
"Benarkah?"
"Tentu. Jadi gimana? Mau ngedate seharian sama aku nggak?"
"Ok deal"
Ryan rasanya ingin melompat kegirangan saat itu juga. Akhirnya dia di beri kesempatan jalan-jalan berdua dengan Lila.
"Kalian sajalah yang ikut, gue nggak mau ikutan"
****
Jam sudah menunjukkan angka delapan malam, tapi Lila tak kunjung terlihat pulang ke rumahnya. Danu begitu hawatir pada Lila. Tidak biasanya dia pulang malam begini. Apa dia bersama lelaki muda itu?
Pikiran Danu tak tenang, dia mencoba keluar rumah untuk menunggu Lila, kalau sampai sepuluh menit lagi dia tidak nampak pulang, dia akan menelfon Lila.
Danu membuka pintu, namun betapa terkejutnya Danu saat melihat Lila sudah ada di depan pintu rumahnya dalam kondisi tertidur.
"Kamu ngapain tidur di depan pintu rumah Lila!"