Angka bukan sembarangan Angka, Angka yang di pilih semuanya menunjukkan hadiah besar kecilnya yang di dapat.
Tapi jika kamu beruntung, kau akan mendapatkan hadiah besar.
Dan itulah yang di alami oleh Alneo setelah ia mendapatkan penyiksanya oleh ayah jika ia tidak mendapat uang.
Bukan hanya itu, yang membuatnya murka adalah Adik perempuan ingin di jual ayahnya pada rentenir untuk membayar hutang, saat ia mencoba menghalangi, ia malah mendapatkan pukulan berat oleh ayahnya hingga pingsan.
Dan saat itulah, ia mendapatkan sebuah sistem misterius yang mengubah hidupnya.
Ia memenjarakan ayahnya karena sang ayah agar tidak menganggu kehidupan mereka lagi.
Dengan sistem pilihan angka, ia bagaikan menemukan jetpot di hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15 Membayar Ongkos Taksi
Alneo menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan detak jantungnya karena mendengar rumah paling mewah. Matanya masih tertuju pada layar transparan virtual yang kini berkedip cepat.
[Sistem Notification: Jarak ke lokasi: 1,8 Kilometer.]
"Riani, diam dan percaya saja sama Kakak. Nanti setelah sampai, Kakak jelaskan semuanya," bisik Alneo dengan nada yang tidak menerima bantahan.
Ia kemudian memajukan tubuhnya, mendekat ke arah kursi supir.
"Pak, bisa tolong injak gasnya lebih dalam lagi? Saya tambah ongkosnya tiga ratus ribu kalau kita bisa sampai di sana dengan cepat," ujar Alneo sambil mengeluarkan selembar uang seratus ribuan baru dari dompetnya sebagai jaminan awal.
Mata supir taksi itu berbinar melihat uang merah yang disodorkan Alneo. "Wah, siap, Mas! Tenang saja, bapak hapal jalan tikus daerah sini. Pegangan yang kuat, ya!"
Mobil sedan tua itu langsung menderu, melesat melaju di jalanan kota dengan kecepatan tinggi.
Riani terpekik kecil saat tubuhnya terlempar ke samping akibat taksi yang berbelok tajam memasuki kawasan jalan protokol.
Suasana di luar jendela mobil berubah drastis. Jika beberapa menit lalu mereka masih melihat ruko-ruko kusam dan warung tenda di pinggir jalan, kini di kanan-kiri mereka berdiri pagar-pagar beton setinggi tiga meter yang megah. Pohon-pohon palem raja berbaris rapi di sepanjang trotoar yang bersih tanpa sampah.
Taksi melambat saat melewati sebuah gerbang pos penjagaan yang sangat besar dengan lampu sorot yang terang. Dua orang satpam bertubuh tegap dengan seragam lengkap tampak berjaga.
Namun, anehnya, saat taksi mereka mendekat, palang pintu otomatis langsung terbuka, dan kedua satpam itu memberikan hormat yang sangat formal ke arah kursi belakang taksi.
Supir taksi itu bergumam heran. "Aneh... biasanya kalau taksi umum masuk sini harus tinggal KTP dan diperiksa ketat. Ini kok malah langsung disuruh masuk?"
Alneo hanya tersenyum tipis. Ia tahu ini pasti ulah dari pengaruh sistem misteriusnya yang telah mengatur segala otoritas dan legalitas atas namanya.
[Sistem Notification: Target berada 200 meter di depan.]
"Itu Pak, di depan yang pagarnya warna hitam kombinasi emas," tunjuk Alneo saat melihat sebuah bangunan megah yang mendominasi ujung jalan.
Taksi kuning itu akhirnya berhenti tepat di depan gerbang raksasa nomor 20. Di balik pagar besi yang menjulang tinggi, berdiri sebuah mansion bergaya Eropa modern tiga lantai yang sangat megah.
Lampu-lampu taman yang temaram memberikan kesan mewah sekaligus sedikit misterius.
"S-sudah sampai, Dek," kata supir taksi itu, suaranya agak bergetar karena takjub melihat kemegahan rumah di depannya.
Alneo langsung menyerahkan tiga lembar uang seratus ribuan tambahan ke tangan sang supir. "Terima kasih, Pak. Ambil saja kembaliannya!"
"Baik, Mas! Terima kasih banyak ya!" Supir taksi itu dengan sigap keluar dan membuka pintu.
Ting!
[Saldo Anda di kurang 300.000]
[Sisa Saldo Anda 32.800.000]
Alneo menarik tangan Riani keluar dari mobil. Angin malam di kawasan ini terasa jauh lebih dingin.
Riani hanya bisa berdiri mematung, mulutnya sedikit terbuka menatap rumah yang bahkan dalam mimpi paling indahnya pun tidak pernah berani ia bayangkan.
"Kak... ini... ini rumah siapa?" tanya Riani berbisik, suaranya gemetar.
Alneo tidak menjawab.
Alneo melangkah mendekati gerbang. Tepat saat ia menyentuh gagang besi gerbang tersebut.
KLIK.
Sebuah suara mekanis yang halus terdengar dari dalam gerbang, diikuti oleh suara gerendang besar yang terbuka secara otomatis.
Pagar besi raksasa itu perlahan-lahan bergeser membuka, menyambut kedatangan mereka.
Bersamaan dengan itu, sebuah suara bergema di dalam kepala Alneo, disusul dengan munculnya teks berwarna emas.
[Selamat! Hak Kepemilikan Mansion Jalan Bunga Melati No. 20 telah sepenuhnya dialihkan atas nama: Alneo]
Alneo mengembuskan napas lega yang teramat sangat. Ia berbalik menatap Riani yang masih syok, lalu tersenyum lebar.
"Ayo masuk ke rumah baru kita, Dek."