NovelToon NovelToon
Suami Yang Tak Di Inginkan

Suami Yang Tak Di Inginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Queen adalah seorang Mahasiswa cantik dan salah satu anak dari donatur terbesar di kampusnya, tapi sayangnya nasib Queen tidak seberuntung wajah dan popularitasnya. Di kampus ia di puji karena kecantikkannya. Tapi nilai-nilai Queen sering anjlok, karena gadis itu tidak pernah belajar dengan serius, hidupnya hanya di habiskan untuk clubbing dan nongkrong bersama teman-teman nya. Kini ia terancam di Drop Out dari kampus kalau nilai skripsinya masih buruk.
Meskipun Queen anak dari donatur terbesar... Ibu Farah selaku orangtuanya tidak pernah memanjakannya. Bahkan ia meminta pihak kampus untuk berlaku adil pada anaknya sendiri. Ibu Farah berusaha membuat nilai-nilai skripsi Queen bagus, dengan cara ia memanggil guru privat kerumahnya. Setelah adanya guru privat, hidup Queen semakin tersiksa. Karena tanpa ia sadari sang mama justru menjodohkan pria itu dengannya. Bagaimana hidup Queen setelah menikah dengan guru privatnya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10 : Di Kejar Waktu

Jam sudah menunjukkan pukul dua siang saat Queen akhirnya sampai di rumah. Begitu memasuki ruang keluarga, ia melihat Ibu Farah sedang duduk santai di sofa sambil membaca majalah.

Queen langsung menghampiri. "Ma."

"Hmm?" jawab Ibu Farah tanpa mengalihkan pandangan dari majalahnya.

Queen duduk di samping sang ibu. "Kalau nanti malam Queen keluar sama Anggi boleh nggak?"

Baru kali ini Ibu Farah menurunkan majalahnya dan menatap putrinya. "Ya nggak bisa dong."

"Hah?"

"Kamu itu harus beresin skripsimu dulu."

Queen langsung menghela napas panjang.

"Ma..."

"Kamu kan tahu hari ini ada jadwal Privat sama Nak Revan."

"Iya, Queen tahu."

"Terus."

"Tapikan jadwal privatnya sore."

Ibu Farah hanya mengangkat alis.

"Jadi aku bisa dong keluar jam delapan?" bujuk Queen. "Bentar aja kok. Janji nggak akan pulang pagi."

Ibu Farah terlihat ragu. "Bukan Mama mau melarang."

"Terus kenapa?"

"Tapi tadi sebelum kamu pulang tadi, Nak Revan telepon Mama."

Queen langsung menoleh. "Telepon Mama?"

"Iya."

"Ngapain?"

Ibu Farah meletakkan majalahnya di meja. "Katanya dia masih ada meeting sama beberapa dosen."

Wajah Queen perlahan berubah. "Terus?"

"Meetingnya selesai sekitar jam empat."

Queen mulai punya firasat buruk.

"Setelah itu dia harus menyelesaikan laporan kampus yang harus dikirim hari ini."

Dan kalimat berikutnya langsung membuat Queen membeku.

"Jadi kemungkinan Nak Revan baru bisa datang sekitar jam tujuh lewat."

"Apa!" Suara Queen langsung menggema ke seluruh ruang keluarga.

Ibu Farah sampai terkekeh melihat reaksinya. "Kenapa kaget begitu?"

"Ma!"

"Hm?"

"Jadi Pak Revan datangnya malam?"

"Iya."

Queen langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa. "Astaga..."

Kalau Revan datang jam tujuh lewat, lalu belajar dua jam seperti biasa. Selesainya bisa jam sembilan bahkan lebih. Sedangkan Nathan berencana menjemputnya pukul delapan. Selesai sudah.

"Mukamu kenapa begitu?" tanya Ibu Farah santai.

"Nggak kenapa-kenapa."

"Yakin?"

Queen langsung mengambil ponselnya. "Tidak."

Ibu Farah tertawa kecil.

Beberapa detik kemudian Queen sudah mengirim pesan kepada Nathan. Dia mengabarkan kalau jadwal privatnya di undur. Jadi malam. Beberapa saat Nathan tidak membalas...

Queen masih menunggu balasan dari kekasihnya itu. Tapi setelah Nathan membalas dan akan menunggu Queen sampai selesai. Wajah Queen mulai berseri lagi.

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Tidak seperti biasanya yang selalu mengulur-ulur waktu sebelum sesi bimbingan dimulai, kali ini Queen sudah duduk rapi di ruang tengah.

Semua berkas revisi yang dikerjakan sejak semalam sudah tersusun di atas meja. Laptop menyala. Beberapa buku referensi terbuka. Bahkan alat tulis yang biasanya tercecer entah di mana kini tersusun rapi di samping notebook.

Sesekali Queen melirik jam di layar ponselnya.

19.05

Belum datang.

Ia kembali membuka pesan dari Nathan.

Nathan : Aku tunggu ya, sayang.

Nathan : Santai aja. Selesai privat langsung kabarin aku.

Nathan : Aku jemput.

Senyum kecil muncul di wajah Queen.

Setelah itu ia berdiri menuju cermin.

Malam ini ia mengenakan blouse lengan panjang berwarna krem yang pas di tubuhnya dipadukan dengan celana panjang hitam. Penampilannya terlihat lebih rapi dan dewasa dari biasanya. Rambut panjangnya juga dibiarkan tergerai rapi.

Karena setelah belajar nanti, ia memang berniat langsung pergi ke acara ulang tahun sepupu Nathan.

"Harusnya sih udah oke," gumamnya sambil memperhatikan pantulan dirinya. Tidak berlebihan. Tapi cukup membuatnya terlihat cantik.

Ibu Farah muncul sambil membawa sepiring buah potong. Lalu wanita itu langsung berhenti begitu melihat putrinya yang sedang berdiri di depan cermin.

Alisnya terangkat. "Wah."

Queen langsung salah tingkah. "Kenapa Ma?"

"Kamu mau belajar atau mau pemotretan?"

"Ma!"

Ibu Farah tertawa. "Rapi sekali."

Queen berdeham pelan. "Ya masa belajar sama dosen pakai baju tidur."

"Hm..."

Tatapan Ibu Farah semakin curiga.

"Kenapa?"

"Kamu habis ini mau pergi ya?"

Queen langsung membeku. "Eh..."

"Nah kan."

"Ya nanti mungkin."

Ibu Farah terkekeh geli.

Sebelum sempat mengatakan sesuatu lagi, suara bel rumah terdengar dari lantai bawah.

Ting tong.

Queen dan Ibu Farah sama-sama menoleh.

Jantung Queen langsung berdebar.

"Kayaknya Nak Revan datang," ujar Ibu Farah.

Beberapa menit kemudian terdengar suara pintu dibuka dari bawah. Disusul suara Bi Inah yang menyambut tamu.

"Silahkan masuk, Den Revan."

Tak lama kemudian langkah kaki terdengar menaiki tangga.

Queen segera kembali duduk di kursinya sambil berpura-pura sibuk membuka laptop. Padahal beberapa detik sebelumnya ia masih berdiri di depan cermin.

Revan sudah berdiri di sana dengan kemeja biru gelap yang lengan bajunya digulung sampai siku. Di tangannya terdapat laptop dan beberapa map dokumen.

Namun langkah pria itu sempat terhenti sesaat. Tatapannya tanpa sengaja jatuh pada Queen. Hari ini penampilan gadis itu berbeda dari biasanya. Lebih rapi dan lebih manis. Entah kenapa membuat Revan mengernyit tipis.

"Kenapa, Pak?" tanya Queen yang menyadari tatapan itu.

Revan langsung tersadar. "Tidak kenapa-kenapa."

Pria itu masuk ke dalam kamar lalu meletakkan dokumennya di meja. Namun beberapa detik kemudian ia kembali bertanya santai.

"Kamu mau pergi setelah ini?"

Queen yang sedang membuka laptop langsung menoleh. "Hah?"

"Pakaian kamu sudah rapi."

Queen refleks melihat dirinya sendiri. "Oh." Lalu gadis itu tersenyum kecil. "Iya Pak."

Revan mengangguk pelan. "Ke mana?"

"Acara ulang tahun teman."

"Jam berapa?"

"Jam delapan."

Kali ini Revan melirik jam tangannya. Lalu kembali menatap Queen. "Jam delapan?"

"Iya."

"Berarti satu jam lagi."

Queen langsung nyengir canggung. Sedangkan Revan hanya menghela napas pelan sebelum membuka berkas revisinya.

"Baiklah."

Queen langsung lega.

"Tapi."

Senyum Queen menghilang seketika.

"Kalau revisinya tidak beres malam ini..." Pria itu menatapnya datar. "Kamu tidak akan ke mana-mana."

"Pak Revan!"

Sudut bibir Revan terangkat tipis.

"Saya serius."

Queen langsung mengerang pelan sambil menjatuhkan kepalanya ke meja. "Kenapa sih hidup saya jadi sudah sekali.«

"Karena selama dua tahun terakhir kamu selalu menyepelekan skripsi."

"Itu tidak perlu diungkit lagi."

"Perlu."

"Pak..."

"Queen."

Keduanya saling menatap beberapa detik. Lalu Revan membuka laptopnya dengan santai.

"Duduk yang benar."

Queen mendengus kesal. "Iya, Pak."

"Nah begitu baru benar."

Sesi bimbingan pun dimulai..Awalnya Queen masih beberapa kali melirik ponselnya yang berada di samping laptop. Namun setiap kali layar ponselnya menyala, Revan langsung menangkap gerakannya.

"Fokus."

"Saya cuma lihat jam."

"Fokus."

"Lihat notifikasi."

"Fokus."

Queen mengembuskan napas panjang.

"Iya, Pak Revan."

Revan terlihat cukup puas.

Sekitar empat puluh menit kemudian, suasana mulai jauh lebih serius. Queen menjelaskan revisi yang sudah dikerjakannya semalam. Kali ini Revan tidak terlalu banyak mengkritik.

"Hm."

Queen langsung curiga.

"Hm itu artinya apa?"

"Bagus."

Queen membeku. "Hah?"

"Bagus."

Queen langsung menatapnya seolah baru saja melihat keajaiban dunia. "Pak Revan barusan muji saya?"

"Saya memuji hasil revisinya."

"Berarti saya juga."

"Tidak."

"Pak!"

Revan terkekeh pelan.

Queen sampai melongo.

Karena semakin lama, pria itu ternyata jauh berbeda dibanding kesan pertamanya yang dingin dan menyebalkan.

Ibu Farah masuk membawa teh hangat dan beberapa camilan.

"Nah, istirahat dulu sebentar."

"Terima kasih, Tante," ucap Revan sopan.

Ibu Farah tersenyum lalu memperhatikan meja yang penuh berkas. "Gimana? Anak saya masih keras kepala?"

"Sangat."

"Pak Revan!"

Ibu Farah malah tertawa. "Kalau malasnya?"

"Masih."

"Pak Revan!"

"Tapi..."

Queen langsung berhenti protes.

"Tapi jauh lebih baik dibanding pertama kali saya datang."

Untuk sesaat suasana menjadi hening. Queen sendiri tidak menyangka mendengar kalimat itu.

Sedangkan Ibu Farah terlihat tersenyum lega. "Itu berarti ada kemajuan ya?"

"Iya, Tante."

Queen yang biasanya selalu membantah kini hanya menunduk pura-pura memperhatikan laptop. Entah kenapa, pujian sederhana itu membuat hatinya sedikit hangat.

Beberapa menit kemudian ponselnya kembali bergetar.

Nathan.

Queen melirik layar sekilas.

Nathan : Masih belajar?

Nathan : Aku udah siap berangkat.

Nathan : Kabarin ya sayang.

Senyum kecil kembali muncul di wajahnya.

Namun saat mengangkat kepala, ia mendapati Revan sedang menatapnya.

"Pacar?"

Queen hampir tersedak. "Hah?"

"Yang kirim pesan."

"Oh..."

Queen langsung salah tingkah. "Iya."

Revan hanya mengangguk pelan. "Lumayan sabar."

"Maksudnya?"

"Masih mau menunggu."

Queen langsung tersenyum kecil. "Nathan memang baik."

Entah kenapa, setelah mendengar jawaban itu, Revan terdiam beberapa detik lebih lama dari biasanya.

Lalu ia kembali membuka dokumen. "Baik. Kita lanjut."

"Pak."

"Hm?"

"Jam berapa sekarang?"

Revan melirik jam tangannya. "Delapan lewat sepuluh."

"Apa!"

Queen langsung berdiri dari kursinya. "Delapan lewat sepuluh?!"

Revan mengangguk tenang. "Iya."

"Astaga!"

Queen buru-buru meraih ponselnya dan langsung mengetik pesan panjang untuk Nathan. Melihat kepanikan gadis itu, Revan hanya menggeleng kecil.

Namun diam-diam, sudut bibirnya terangkat tipis. Karena untuk pertama kalinya sejak mengenal Queen, gadis itu justru lupa waktu karena mengerjakan skripsinya. Dan itu adalah sesuatu yang bahkan Kevin mungkin tidak akan percaya jika mendengarnya.

1
Amoera
Queen jangan khianatin pak Revan. kasian dia. lagian mau aja sama sih mokondo🤣
Arditya
cie... akhirnya nikah juga🤭
It's me Sky: hhheeee🤣
total 1 replies
Arditya
sejauh ini keren banget thoor👍
Siska Amelia
good
It's me Sky: terimakasih kaka🙏
total 1 replies
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉






Saling support sabi kali ya😉
It's me Sky: wihh makasih kakak/Smile/
total 1 replies
Reichan Muhammad
ya ampun torrr keren bgttt kmu punya 4 novel yg on going semua
It's me Sky: iya kakak, selama lagi ada ide jalan terus🤭
total 1 replies
Arditya
jadi inget inggit dan mas Arya, tapi ini kemasannya beda top lah thoor👍
It's me Sky: wkwkwkwkwk🤭
total 1 replies
Arditya
wajah di baca ini cerita menarik banget, remajanya dapet kisahnya fresh. suka sma Revan dan Queen. sukses thoor/Smile/
It's me Sky: makasih bnyk/Hey/
total 1 replies
Arditya
seru banget thoor😍
It's me Sky: wihhh makasihhh/Tongue/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!