NovelToon NovelToon
PENYESALAN SUAMI

PENYESALAN SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Tujuh tahun Pamela bertahan menjadi istri dari Zidan yang playboy, menantu yang ditindas, dan ibu yang tak dihargai anak-anaknya sendiri. Dia mengabdi dalam diam, hanya bermodalkan cinta.

​Puncaknya hancur saat Zidan membawa selingkuhannya yang hamil tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Tanpa air mata, Pamela meletakkan surat cerai di meja makan, lalu pergi menghilang di tengah malam.

​Awalnya keluarga Zidan bersorak senang si "miskin" telah pergi. Namun dalam hitungan minggu, rumah megah itu berubah menjadi neraka yang kacau tanpa kehadiran Pamela. Saat penyesalan mereka datang terlambat, Pamela ditemukan telah menjelma menjadi wanita sukses yang bersinar dan bahagia tanpa mereka.

​Saat mereka bersujud memohon maaf, sanggupkah Zidan memenangkan kembali hati "mantan istri miskin" yang kini telah menjadi ratu?

...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Halte Subuh

....

Semburat fajar di ufuk timur baru saja memecah keheningan langit pesisir, meninggalkan sisa-sisa warna biru keunguan yang dingin. Udara subuh itu terasa menusuk tulang, membawa aroma asin air laut yang berbaur dengan embun pagi yang tebal.

Pamela berdiri sendirian di sebuah halte bus kayu yang sudah mulai lapuk dimakan usia, beberapa ratus meter dari rumah panggungnya. Rambut panjangnya yang hitam kecokelatan dibiarkan tergerai bebas, bergerak-gerak lembut dipermainkan oleh embun dan angin malam yang enggan beranjak. Dia mengenakan sepotong sweter rajut longgar berwarna krem pudar yang membungkus tubuh rampingnya, dipadukan dengan celana kain sederhana. Tidak ada kemewahan, tidak ada riasan mahal di wajahnya yang bersih. Namun, di bawah temaram cahaya fajar, Pamela memancarkan keindahan yang alami sebuah ketenangan yang lahir dari kemerdekaan jiwanya.

Kedua tangannya saling bertaut di dalam saku sweter, menahan gigilan kecil akibat hawa dingin yang kian menggigit. Tatapan matanya lurus menatap aspal jalanan yang masih basah, menunggu bus antar-kota pertama yang biasa lewat pukul lima subuh untuk membawanya menuju rumah sakit di pusat kota besar.

Pikirannya berkecamuk. Semalaman dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dinding es di hatinya untuk Zidan memang sudah membeku sempurna, namun nuraninya sebagai anak yang kehilangan orang tua tidak bisa abai terhadap kondisi Papa mertuanya. Ditambah lagi, rasa rindu yang membakar dadanya untuk Ryan dan Riana membuat dadanya terasa sesak setiap kali dia menarik napas.

Dreeeeet...

Suara deru mesin mobil yang halus namun bertenaga memecah keheningan sunyi halte subuh itu. Sebuah sorot lampu depan yang terang benderang membelah kabut pagi, perlahan-lahan melambat dan berhenti tepat di depan halte, menghalangi pandangan Pamela ke arah jalan raya.

Itu mobil sport mewah milik Zidan.

Pamela mengerutkan keningnya pelan, matanya menyipit menembus kaca depan mobil yang berembun. Pintu kemudi terbuka, dan sosok Zidan melangkah keluar dengan tubuh yang tampak sangat lelah.

Kemeja putihnya yang kemarin kini sudah sangat kusut, dengan bercak-bercak tipis bekas embun pantai di bagian bahunya. Wajah tampannya yang biasa angkuh kini dipenuhi bayangan janggut tipis yang mulai tumbuh liar di sekitar rahangnya. Sepasang matanya merah, kuyu, dan menyiratkan kelelahan yang luar biasa.

Pamela tertegun sesaat. Pria itu... ternyata belum pulang ke kota semalaman. Dia masih berada di daerah ini, entah tidur di dalam mobil atau terjaga semalaman di tepi pantai hanya untuk menunggunya subuh ini. Sifat narsis dan gengsi Zidan yang biasanya menolak untuk terlihat menderita, pagi ini runtuh sepenuhnya di hadapan cuaca subuh yang dingin.

Zidan berjalan mendekati halte, menghentikan langkahnya beberapa meter di depan Pamela. Dia menatap mantan istrinya yang berdiri dengan rambut tergerai diterpa angin pagi. Ada debaran aneh yang kembali menghantam dada Zidan rasa kagum sekaligus perih yang mendalam karena menyadari wanita seindah ini pernah dia miliki namun dia sia-siakan demi keegoisannya sendiri.

"Bus pertama baru akan lewat satu jam lagi, Pamela. Jalur di depan sedang ada perbaikan jalan karena longsor kecil kemarin malam," ucap Zidan, suaranya terdengar sangat serak dan parau, kehilangan seluruh keangkuhan vokalnya. "Naiklah. Ikut mobil saya. Kita bisa sampai ke rumah sakit dua jam lebih cepat kalau lewat jalur alternatif."

Pamela menatap Zidan dengan pandangan yang datar dan dingin, tanpa ada riak emosi kekerasan atau kemarahan di dalamnya. "Saya bisa menunggu, Zidan. Saya tidak terburu-buru."

Zidan mengepalkan tangannya di dalam saku celana, menahan emosi batinnya yang bergejolak hebat. Gengsinya kembali tersentil, namun rasa takut akan kondisi ayahnya di kota jauh lebih mendominasi. Pria dingin itu menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara subuh yang beku mengisi paru-parunya.

"Saya mohon, Pam..." bisik Zidan, suaranya bergetar tipis, sebuah nada yang sangat asing keluar dari mulut seorang Zidan Arkatama. "Ini bukan tentang ego saya lagi. Kondisi Papa semakin memburuk sejak jam tiga subuh tadi. Mama terus menelepon saya sambil menangis. Tolong... buang dulu rasa bencimu kepada saya, demi Papa."

Pamela terdiam. Dia menatap mata Zidan, mencari sisa-sisa kebohongan atau manipulasi yang biasa pria itu gunakan dulu. Namun, pagi ini yang dia temukan di dalam manik mata mantan suaminya hanyalah keputusasaan yang telanjang dan penyesalan yang lambat laun mulai menggerogoti jiwanya.

Mengingat almarhum kedua orang tuanya dan bayangan anak-anaknya, Pamela akhirnya menghela napas pendek. Dia melangkah keluar dari dalam halte kayu, berjalan melewati Zidan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, lalu membuka sendiri pintu penumpang bagian depan mobil sport tersebut dan masuk ke dalamnya.

Zidan terpaku sejenak di tempatnya berdiri, merasakan sepercik kelegaan yang luar biasa merayapi dadanya yang sempat sesak. Dia segera berbalik, masuk ke dalam kursi kemudi, dan menyalakan penghangat kabin agar mantan istrinya tidak kedinginan.

Perjalanan menuju pusat kota berlangsung dalam keheningan yang teramat pekat dan mencekam.

Zidan sesekali melirik ke arah samping lewat sudut matanya. Pamela duduk bersandar pada kursi kulit mobil yang mewah, menatap kosong ke luar jendela kaca yang menampilkan jajaran pohon-pohon kelapa yang bergerak mundur. Rambut panjangnya yang tergerai sesekali menutupi sebagian wajah manisnya yang tampak sedingin es.

Suasana ini terasa begitu asing bagi Zidan. Dulu, setiap kali mereka berada di dalam mobil ini, Pamela akan selalu sibuk bertanya apakah suhu AC-nya terlalu dingin, menawarkan camilan yang dia siapkan dari rumah, atau menceritakan dengan antusias tentang perkembangan anak-anak mereka dengan senyuman hangat. Saat itu, Zidan selalu menanggapinya dengan dengusan malas, sibuk dengan ponselnya, atau bahkan membentak Pamela agar diam karena mengganggu konsentrasinya.

Kini, setelah semua itu hilang, Zidan baru menyadari betapa berharganya suara lembut yang dulu selalu dia abaikan. Sunyi yang diciptakan Pamela di dalam kabin mobil ini terasa jauuh lebih menyiksa daripada makian paling kasar sekalipun. Ini adalah kekerasan emosional yang berbalik arah hukuman tanpa kata dari seorang wanita yang hatinya telah mati untuknya.

"Pam..." Zidan mencoba memecah kesunyian, suaranya terdengar ragu-ragu. "Soal... soal anak-anak... mereka benar-benar merindukanmu. Ryan bahkan menolak memakai sepatu sekolahnya kalau bukan kamu yang mengikat talinya."

Zidan mencoba memancing reaksi Pamela, berharap naluri keibuan wanita itu akan mencairkan dinding es di antara mereka.

Namun, Pamela tetap bergeming. Dia tidak menoleh sedikit pun ke arah Zidan. Bibirnya yang tipis terkatup rapat, dan pandangan matanya tetap tertuju pada jalanan di luar. Sifat dingin yang kini membeku di dalam diri Pamela membuatnya benar-benar menutup akses bagi Zidan untuk menyentuh emosinya lagi. Bagi Pamela, menceritakan anak-anak dari mulut seorang pria narsis yang dulu sering membiarkan anak-anaknya melihat ibunya dihina adalah sebuah kepalsuan yang memuakkan.

Melihat respons dingin tersebut, Zidan kembali bungkam. Dadanya terasa seperti dihantam oleh ombak besar, meninggalkan rasa hampa yang membakar batinnya dengan penyesalan yang kian pekat.

Dua jam berlalu, mobil sport itu akhirnya memasuki pelataran parkir gedung VIP rumah sakit pusat kota. Begitu mobil berhenti sempurna, Pamela langsung membuka pintu dan melangkah keluar, tidak memberikan kesempatan bagi Zidan untuk membukakan pintu atau sekadar berjalan di sampingnya.

Pamela melangkah dengan setengah berlari menyusuri lorong rumah sakit yang harum obat-obatan, mengabaikan Zidan yang berusaha mengejar langkah kakinya dari belakang. Jiwanya bergetar hebat; rasa rindu pada anak-anaknya dan rasa khawatir pada sang Papa mertua kini telah mencapai puncaknya.

Begitu Pamela mendorong pintu kayu kamar rawat VIP nomor 402, pemandangan di dalam ruangan itu seketika membuat langkah kakinya terhenti, dan air mata yang sejak subuh dia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya yang mulus.

Di atas ranjang, Papa mertua terbaring dengan tubuh yang tampak sangat kurus, wajahnya pucat pasi tertutup masker oksigen dengan mata yang terpejam lemah. Di samping ranjang, Ryan dan Riana sedang duduk di atas kursi kecil, menangis sesenggukan sambil memegangi jemari tangan kakek mereka yang kaku.

"Mama...!!"

Suara jeritan nyaring dari Riana memecah keheningan kamar rawat. Kedua anak kembar itu langsung menoleh ke arah pintu dan, begitu melihat sosok Pamela berdiri di sana dengan rambut panjang tergerai, mereka langsung melompat turun dari kursi dan berlari sekencang-kencangnya, menubruk kaki dan pelukan ibunya dengan tangisan yang pecah histeris.

Pamela langsung berlutut di atas lantai marmer yang dingin, mendekap erat kedua tubuh mungil anaknya ke dalam dadanya. Dia menciumi pucuk kepala Ryan dan Riana berkali-kali, membiarkan air matanya mengalir deras membasahi seragam sekolah anak-anaknya yang tampak kusut tak terurus.

"Mama... Ryan kangen... Jangan pergi lagi, Ma... Ryan takut..." tangis Ryan pecah di ceruk leher ibunya.

Di ambang pintu, Zidan berdiri terpaku menyaksikan pemandangan yang seakan memiliki jiwa yang teramat rapuh itu. Di sudut ruangan, Mama mertua dan Keysha yang baru saja kembali dari kantin rumah sakit juga menghentikan langkah mereka, menatap Pamela dengan pandangan penuh penyesalan keluarga yang teramat dalam dan terlambat.

Kehadiran Pamela di dalam ruangan itu seketika mengembalikan seluruh sisa-sisa kehidupan yang sempat hilang, namun di saat yang sama, menegaskan sebuah garis batas yang amat tebal bahwa Pamela datang hari ini murni sebagai seorang ibu dan seorang anak manusia yang berbelas kasih, bukan lagi sebagai bagian dari keluarga Arkatama yang telah menghancurkan hidupnya.

...

1
it's me
ceritanya bagus tapi sayang gagk ad endingnya
kikyoooo: ditunggu up bab selanjutnya....
tenang aja1setiap satu hari pasti up. entah itu 1 bab atau lebih
total 1 replies
it's me
penulisnya gak jelas sih,masa ceritanya dibuat menggantung.
Adam Markelov izaan
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
Allea
mama mertua mulu ngetiknya kan si pamela lg dikampung bingung eike
Allea
kira2 endingnya balikan ga nih ,kesel kl balikan mah udah nunggu2 😁
Himna Mohamad
kereeen👍👍👍👍👍
Himna Mohamad
rasain
Himna Mohamad
lanjut kk
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉




saling support sabi kali ya😉
kikyoooo: siapp... gue kan baik dan tidak sombong hihihi😍 btw semangat thorr😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!