NovelToon NovelToon
The Farmer'S Muse

The Farmer'S Muse

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Cintapertama
Popularitas:693
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】

Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpang​Kehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.​Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Tina perlahan menghapus sisa air mata di sudut kelopaknya, mencoba meredakan sisa gemuruh di dalam dadanya. Namun, Andry masih menatapnya dengan tatapan yang sarat akan rasa kagum sekaligus rasa penasaran yang menggelitik benak pria itu sejak lama.

"Tapi, Tina..." Andry kembali bersuara, memecah keheningan yang sempat merayap di antara mereka. "Kalau aku ingat-ingat kembali masa lima tahun lalu itu, ada satu hal yang sempat membuatku senang karena mendapatkan informasi tentang mu yang mendapatkan beasiswa S2, namun aku juga terkejut sekaligus bingung karena mendapatkan informasi kalau kau menolaknya. Mengapa, kamu menolaknya?"

Tina tersentak kecil, kepalanya langsung mendongak menatap Andry dengan dahi berkerut heran. "Dari mana... dari mana kamu tahu tentang hal itu? Seingatku, pengumuman itu hanya disebarkan secara internal di kalangan terbatas fakultas dan forum alumni saja."

Andry terkekeh pelan, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kayu sembari melipat tangan di dada. "Itu karena setelah lulus pun, aku masih sangat aktif mengikuti perkembangan dan pembaruan terbaru dari kampus kita. Dan suatu hari, aku melihat nama lengkap serta fotomu terpajang dengan sangat jelas di halaman utama forum kelulusan kampus sebagai salah satu mahasiswi terbaik yang lolos seleksi beasiswa penuh."

Mendengar penjelasan itu, senyuman pahit sekaligus sarat akan kerinduan perlahan terukir di bibir Tina. Ia menatap kosong ke arah kotak makanannya, memori tentang masa-masa kritis itu kembali berputar di kepalanya.

"Kamu benar," ucap Tina dengan nada suara yang perlahan memberat. "Saat melihat namaku ada di daftar itu, aku sangat bahagia. Rasanya semua air mata, rasa lapar, dan malam-malam tanpa tidur yang aku lalui selama kuliah terbayar lunas. Aku mendapatkan beasiswa S2 penuh sampai selesai di kota. Impianku untuk menjadi seorang dosen dan mengangkat derajat keluarga rasanya sudah berada tepat di depan mata."

Tina menjeda kalimatnya, dadanya mendadak naik turun menahan rasa sesak yang tiba-tiba datang menyerang ingatan masa lalunya.

"Tapi... tepat satu hari setelah wisuda dan pengumuman itu keluar, takdir berkata lain," lanjut Tina, suaranya mulai bergetar halus. "Abah tiba-tiba jatuh sakit keras di desa akibat kelelahan bekerja di kebun. Di kota, aku tidak tahu apa-apa sampai suatu malam, Lisa meneleponku dengan suara yang menangis histeris. Dia bilang keadaan rumah sangat kacau, Fandi berbuat onar dan membuat Abah pingsan karena terkejut."

Setitik air mata kembali lolos dari pelupuk mata Tina, membasahi pipinya yang mulus. "Waktu itu, aku langsung menelepon balik ke rumah. Abah yang baru sadar memaksakan diri berbicara denganku di telepon. Suara Abah terdengar sangat parau, lemah, dan tersengal-sengal karena menahan sakit yang luar biasa di dadanya. Tapi tahu apa yang Abah katakan saat itu? Beliau bilang, *'Nak... jangan khawatirkan keadaan Abah di desa. Lanjutkan saja pendidikanmu di kota, ambil beasiswa itu dan jadilah orang yang sukses. Abah cuma sakit biasa.'*"

Tanpa Tina sadari, air matanya kini mengalir semakin deras, membasahi permukaan meja kayu di hadapannya. Rasa bersalah dan haru yang mendalam akibat kejadian beberapa tahun lalu itu seolah kembali segar di dalam ingatannya. Andry yang duduk di hadapannya pun terdiam seribu bahasa. Dada pria kota itu berdenyut nyeri, ikut merasakan kesedihan dan beban mental yang luar biasa berat yang harus dipikul oleh seorang gadis muda sedalam Tina pada masa itu.

"Di tengah tangisan Lisa dan suara parau Abah di telepon, malam itu aku terduduk di lantai kosan yang dingin," bisik Tina sembari terisak kecil. "Aku berpikir... pendidikan, gelar, dan cita-cita, semuanya masih bisa dicari dan dilanjutkan di masa depan apabila harus tertunda hari ini. Tapi orang tua... jika mereka sudah pergi menghadap Yang Maha Kuasa, hanya kenangan pahit dan penyesalan seumur hidup yang akan tinggal di dalam dada kita. Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika aku egois mengejar gelar S2 di kota sementara Abah meregang nyawa di desa tanpa ada yang merawat. Itulah mengapa keesokan harinya, aku langsung mengepak semua barangku, melepaskan beasiswa berharga itu, dan memilih pulang ke Desa Sukamaju untuk selamanya."

Suasana di dalam kantor guru itu mendadak menjadi begitu khidmat. Andry menatap Tina dengan pandangan yang kini dipenuhi oleh rasa takjub yang tak terlukiskan. Pengorbanan gadis di hadapannya ini jauh lebih besar dari apa yang pernah ia bayangkan. Di saat gadis-gadis lain akan egois mengejar masa depan mereka di kota besar, Tina justru menukar impian besarnya demi sebuah bakti yang suci kepada orang tuanya.

Tina tiba-tiba tersadar dari larutnya emosi. Ia buru-buru meraba tasnya, mengeluarkan selembar tisu lalu menghapus air matanya dengan gerakan yang terburu-buru. Wajahnya kembali merona merah saat menyadari bahwa ia telah menceritakan rahasia terdalam hidupnya kepada pria yang statusnya masih belum resmi menjadi siapa-siapanya.

"Ah... maaf," ujar Tina kikuk, matanya bergerak ke segala arah menghindari tatapan lekat Andry. "Sepertinya aku... aku keterusan curhat kepadamu. Maaf membuat suasana makan siangnya menjadi tidak nyaman."

Andry tersenyum sangat hangat, menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak apa-apa, Tina. Sama sekali tidak apa-apa. Justru aku sangat berterima kasih karena kamu sudah mempercayai aku untuk mendengarkan bagian dari perjalanan hidupmu yang luar biasa ini."

Pria itu kemudian melirik ke arah dua kotak makan di atas meja yang sejak tadi terabaikan. "Oh iya, gara-gara kita mengobrol terlalu lama dan terlalu serius, makanan yang enak ini jadi nganggur dan hampir dingin."

Kalimat Andry yang bernada mencairkan suasana itu seketika membuat mereka berdua kembali tersenyum dan tertawa kecil secara malu-malu. Rasa canggung yang sempat mengudara perlahan-lahan mengendap runtuh. Mereka pun melanjutkan aktivitas makan siang yang sempat tertunda itu dengan ritme yang lebih santai, sesekali bertukar senyum tipis di antara suapan nasi pandan yang gurih.

Setelah beberapa saat, kedua kotak makan premium itu akhirnya kosong tak tersisa. Tanpa sengaja, setelah merapikan sendok plastiknya, pandangan mata Tina beralih menatap jam dinding bundar yang terpasang di atas pintu kantor guru. Jarum jam bermerek tua itu rupanya sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang.

Tina seketika terperanjat dari duduknya. "Ah, Andry! Sepertinya kita... kita harus segera pulang sekarang. Ini sudah mau jam dua belas siang."

Andry ikut melihat ke arah jam dinding lalu mengangguk setuju sembari membereskan kotak makan kosong ke dalam kantong kertas tebalnya. "Ah, benar juga. Obrolan kita tadi memang terlalu panjang dan seru sampai membuat waktu berjalan begitu cepat. Kalau begitu, mari... biar saya antar kamu pulang ke rumah, Tina."

"Jangan!" tolak Tina dengan refleks dan nada suara yang sedikit meninggi, membuat Andry sempat terkejut di tempatnya berdiri.

Tina yang menyadari reaksinya terlalu berlebihan langsung memelankan suaranya, wajahnya kembali dihiasi rona merah yang kentara. "Maksud saya... jangan, Andry. Rumah saya dan sekolah ini kan berada di tengah desa. Kalau warga melihat kita keluar berdua dari lingkungan sekolah dan naik ke dalam mobil mewahmu siang-siang begini, saya takut hal itu malah akan menimbulkan fitnah dan gosip baru yang lebih aneh lagi di antara ibu-ibu."

Mendengar alasan yang keluar dari bibir gadis desa itu, Andry justru menahan senyum jahilnya. Ia melangkah mendekati pintu, lalu membalikkan badannya menatap Tina dengan binar mata yang menggoda. "Kalau begitu... jalan satu-satunya agar tidak menimbulkan fitnah adalah dengan meresmikan hubungan kita secepatnya, bukan? Jadi, sah-sah saja kalau seorang suami mengantar istrinya pulang kerja."

*Blush.*

Wajah Tina yang tadinya sudah mulai tenang kini benar-benar berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus mendengar kalimat gombalan yang meluncur mulus dari bibir Andry. Tanpa memberikan jawaban atau sanggahan apa pun karena terlanjur sangat malu, Tina langsung meraih tas kainnya, berjalan cepat melewati tubuh Andry yang sedang terkekeh puas, lalu bergegas mengunci pintu kantor guru dari luar dengan tangan yang sedikit bergetar gugup. Setelah memastikan semua aman, ia langsung melangkah lebar meninggalkan area sekolah PAUD tanpa menoleh lagi ke belakang.

"Tina, tunggu dulu! Ayo lah, Tina!" seru Andry dari belakang, berjalan cepat mengejar langkah kaki gadis itu yang sangat gesit menuruni selasar sekolah.

Andry menyusul di sampingnya saat mereka sudah sampai di dekat mobil sedan hitam yang terparkir. "Biar aku mengantarmu sampai ke depan rumah panggung Pak Rahman. Kalau kamu memang tidak ingin dilihat atau digosipkan oleh orang-orang desa di sepanjang jalan nanti, kita tinggal tutup saja seluruh kaca mobilnya sampai rapat. Mereka tidak akan tahu siapa yang ada di dalam."

Tina menghentikan langkah kakinya tepat di dekat gerbang sekolah. Ia mendongak, menatap ke arah langit Desa Sukamaju yang siang itu memang terasa sangat terik. Sinar matahari terasa begitu menyengat kulit, membuat udara di sekitar jalanan berdebu itu tampak bergoyang karena hawa panas yang membakar.

Merasa tidak enak hati karena terus-menerus ditawari dengan penuh ketulusan oleh Andry, ditambah rasa lelah dan hawa panas yang mulai membuat keringat menetes di balik jilbab kainnya, Tina akhirnya mengembuskan napas pasrah.

"Baiklah... kalau begitu," sahut Tina dengan nada pelan seraya membuang muka demi menutupi rasa salah tingkahnya.

Andry tersenyum penuh kemenangan. Dengan sigap dan sangat sopan, ia membukakan pintu depan mobil sedan mewahnya untuk Tina. Setelah memastikan gadis itu masuk dan duduk dengan nyaman di dalam kabin mobil yang sejuk karena pendingin ruangan, Andry memutari moncong mobil lalu masuk ke kursi kemudi.

Mobil sedan hitam metalik itu pun perlahan bergerak membelah jalanan Desa Sukamaju yang berdebu. Sesuai janjinya, Andry menutup rapat seluruh kaca mobil yang gelap, membiarkan kendaraan mewah itu melaju tenang mengantarkan sang pujaan hati tepat hingga berhenti di depan pekarangan rumah Tina dengan aman, menandakan awal baru yang penuh harapan bagi masa depan mereka berdua.

1
Mamah Dini11
ya mendingan di ambil tin kan gajinya gede ,jdi bisa bantu ortumu. kalau masalah paud carikan dulu penggantimu, ya setidaknya kalau gajinya gede kan bisa mengurangi bebanmu
Mamah Dini11
kenapa gk ngontrak aja tin atau ngekos gitu biarkan kakamu yg malas dan benalu itu yg ngerjain di rumah itu , permisi thor mampir ni...moga ceritanya menarik 🙏
Imi Omi
yah ngayal 🤣
Imi Omi
aku suka ceritanya, lanjut terus Thor 👍
Imi Omi
😤
Imi Omi
katanya nunggu tapi kalau ngak di terima kayaknya dia bakalan buat rencana gila lagi🤣
Imi Omi
jadi bahan gosip sekampung🫠
Imi Omi
mungkin yang di maksud Lisa tu, aku atau kak Tina 🤣🤣🤣
Imi Omi
🤣
Imi Omi
waduh di lamar dong 🤭
Imi Omi
😭😭
Imi Omi
Akhirnya dia sadar juga😭
Imi Omi
baru juga dinasehati udah nasehatin orang 🤣
Imi Omi
Dimarahin Bu Yuna gak tuh🤣
Imi Omi
uwah ketahuan
Imi Omi
ngak tahu diri banget si jadi anak laki-laki 😤
falea sezi
buruk bgt cerita muter doank g jelas. MC. nya bodoh mood baca jd anjlok
falea sezi
MC oon semua😒
falea sezi
🤣🤣 tina goblok novel apaaan ini muter doank😒 MC nya bloon kok lulusan sarjana lulusan SD. kali. makanya oon ma adek g bs tegas. ma. ortu jg gt
Imi Omi
🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!