NovelToon NovelToon
PENYESALAN SUAMI

PENYESALAN SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

Tujuh tahun Pamela bertahan menjadi istri dari Zidan yang playboy, menantu yang ditindas, dan ibu yang tak dihargai anak-anaknya sendiri. Dia mengabdi dalam diam, hanya bermodalkan cinta.

​Puncaknya hancur saat Zidan membawa selingkuhannya yang hamil tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka. Tanpa air mata, Pamela meletakkan surat cerai di meja makan, lalu pergi menghilang di tengah malam.

​Awalnya keluarga Zidan bersorak senang si "miskin" telah pergi. Namun dalam hitungan minggu, rumah megah itu berubah menjadi neraka yang kacau tanpa kehadiran Pamela. Saat penyesalan mereka datang terlambat, Pamela ditemukan telah menjelma menjadi wanita sukses yang bersinar dan bahagia tanpa mereka.

​Saat mereka bersujud memohon maaf, sanggupkah Zidan memenangkan kembali hati "mantan istri miskin" yang kini telah menjadi ratu?

...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Tembok Gengsi

...

Kalimat pendek yang keluar dari bibir Pamela bagai hantaman palu godam yang meremukkan seluruh urat saraf di kepala Zidan. Pria itu berdiri kaku, napasnya tertahan di tenggorokan, sementara matanya menatap tidak percaya pada wanita yang kini berdiri tegak di hadapannya.

Selama tujuh tahun pernikahan mereka, Pamela tidak pernah sekalipun menjawab kalimatnya dengan nada sedingin itu. Biasanya, jangankan mendengar kabar Papa mertuanya kritis, mendengar Zidan bersin sekali saja saat pulang kerja sudah cukup membuat Pamela panik dan sibuk meracik teh jahe hangat di dapur. Namun sekarang, wanita di depannya ini menatapnya seolah-olah Zidan hanyalah seonggok kerikil jalanan yang kebetulan menghalangi langkah kakinya.

Gengsi seorang Zidan Arkatama seorang CEO muda yang terbiasa dipuja dan memegang kendali penuh atas hidup orang lain seketika bergejolak hebat di dalam dada. Rasa bersalah dan rindu yang sempat menyergapnya beberapa detik lalu, langsung tertutup oleh dinding keangkuhan narsisistiknya yang menolak untuk terlihat lemah di depan umum.

Zidan memundurkan langkahnya satu senti, menegakkan bahunya yang tadi sempat layu, lalu melipat kedua tangannya di dada. Wajahnya kembali berubah menjadi topeng es yang angkuh, mencoba mengintimidasi Pamela dengan status sosialnya yang jauh lebih tinggi.

"Kamu sengaja bicara begitu hanya untuk membalas dendam kan, Pamela?" desis Zidan, suaranya kembali dingin dan penuh dengan nada merendahkan yang dipaksakan. "Kamu sengaja bersembunyi di kota sekecil ini, bekerja menjadi babu dapur di kedai kopi pinggiran, hanya untuk membuat saya kelihatan seperti suami yang jahat di mata hukum? Jangan kekanak-kanakan."

Pamela tidak menunjukkan reaksi emosional apa pun. Dia tidak menangis, tidak juga membalas dengan bentakan. Sifat dingin yang kini membeku di dalam hatinya justru membuatnya tampak jauh lebih berkuasa daripada Zidan yang sedang mengamuk menahan gengsi.

"Kekanak-kanakan?" Pamela mengulang kata itu dengan senyuman tipis yang teramat hambar. "Zidan, putusan pengadilan sudah keluar tadi siang. Di mata hukum, kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi. Jadi, apa pun yang saya lakukan di sini apakah saya menjadi babu dapur atau apa pun itu sudah bukan lagi urusanmu. Dan satu hal lagi... saya tidak sedang membalas dendam. Kamu terlalu tinggi menilai dirimu sendiri di dalam hidup saya yang sekarang."

"Pamela!" bentak Zidan, langkahnya maju satu kali, tangannya reflex bergerak ingin mencengkeram pergelangan tangan Pamela seperti yang biasa dia lakukan di rumah jika emosinya sedang meluap. Kekerasan emosional dan fisik yang biasa dia gunakan kini nyaris keluar lagi karena egonya yang terdesak.

Namun, sebelum tangan Zidan sempat menyentuh kulit Pamela, sebuah tubuh tegap bergaya tegap dari Joni pelayan pria kedai sudah lebih dulu memasang badan di depan Pamela. Di sampingnya, Ibu Sarah menatap Zidan dengan pandangan mata yang sangat tajam, siap memanggil polisi setempat jika pria kota ini berani melakukan tindakan nekat.

"Pak, saya ingatkan sekali lagi. Ini tempat usaha saya, dan Mbak Pamela adalah karyawan saya yang dilindungi di sini," ucap Ibu Sarah dengan suara baritonnya yang tenang namun penuh wibawa. "Jika Anda berani menyentuh seujung kuku pun dari dia, saya pastikan malam ini Anda akan tidur di sel polsek terdekat. Jangan pikir uang dan jabatan Anda di kota bisa mengatur hukum di kampung pantai ini."

Zidan menarik kembali tangannya dengan kasar. Rahangnya mengatup rapat hingga urat-urat di lehernya menonjol kemerahan. Gengsinya terluka parah. Dia, seorang miliarder, diancam oleh seorang pemilik kedai kopi kecil dan seorang pelayan rendahan. Rasa terhina itu membakar dadanya, membuat emosinya bergolak tidak menentu.

Dia melirik Pamela dari balik bahu Joni. Wanita itu bahkan tidak sudi menatapnya lagi. Pamela sudah membalikkan tubuhnya dengan tenang, berjalan kembali masuk ke dalam dapur dalam seolah-olah kehadiran Zidan di sana tidak lebih penting dari kepulan uap air di atas kompornya.

"Sialan!" umpat Zidan dengan suara rendah yang penuh dengan kekecewaan yang mendalam.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Zidan berbalik dengan sentakan kasar, melangkah lebar meninggalkan area Kedai "Selasih". Langkah kakinya terdengar begitu kaku saat dia kembali masuk ke dalam mobil sportnya, membanting pintu kemudi dengan sangat keras hingga menimbulkan bunyi dentuman yang mengejutkan beberapa burung camar di tepi pantai.

Di dalam dapur yang harum oleh aroma gula aren dan daun pandan, Pamela bersandar pada meja konter besi yang dingin. Tangannya yang memegang sodet kayu sedikit bergetar, bukan karena takut pada ancaman Zidan, melainkan karena sisa-sisa energi negatif dari masa lalu yang mendadak datang menerjang ruang damainya.

Ibu Sarah berjalan masuk ke dapur, meletakkan segelas air putih hangat di samping Pamela. "Kamu gak apa-apa, Neng?"

Pamela menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan sembari meminum air pemberian Ibu Sarah hingga tandas. "Saya gak apa-apa, Bu. Terima kasih banyak sudah membela saya tadi. Saya minta maaf karena urusan masa lalu saya malah membawa keributan di kedai Ibu."

Ibu Sarah tersenyum lembut, mengusap punggung Pamela dengan penuh kasih sayang. "Jangan minta maaf, Pamela. Kamu tidak salah apa-apa. Pria seperti itu... dia tidak sedang mencari istrinya karena cinta. Dia datang ke sini hanya karena egonya terluka melihat barang yang biasa dia sia-siakan ternyata bisa bersinar terang di tempat lain. Gengsinya terlalu besar untuk mengakui kalau dia sudah kehilangan wanita berharga seperti kamu."

Pamela mengangguk pelan, membenarkan kata-kata Ibu Sarah di dalam hatinya. Dia tahu betul sifat Zidan. Pria itu adalah perwujudan dari narsisisme yang sempurna. Zidan tidak akan pernah sudi berlutut memohon maaf, yang dia inginkan hanyalah kepatuhan kembali agar dunianya yang runtuh di kota bisa tegak lagi tanpa dia harus menurunkan dagunya.

"Saya sudah selesai dengan dia, Bu. Mulai hari ini, nama Zidan Arkatama sudah benar-benar mati di dalam kamus hidup saya," ucap Pamela dengan nada suara yang teramat datar dan dingin, membuktikan bahwa dinding es di hatinya kini telah membeku dengan sempurna.

...

Sementara itu, malam mulai menjemput jalanan luar kota saat mobil sport Zidan melaju kembali menuju pusat kota. Kecepatan mobilnya begitu tinggi, mencerminkan isi kepala pengemudinya yang sedang dilanda badai emosi yang tak berujung.

Gengsi yang dia pertahankan di depan Pamela tadi kini perlahan-lahan mulai menguap seiring dengan keheningan kabin mobil yang terasa begitu menyiksa. Di kursi belakang, Ryan dan Riana kembali tertidur karena kelelahan menangis sepanjang sore.

Zidan mencengkeram setir mobilnya hingga buku-buku jarinya memutih. Kalimat Pamela terus terngiang di telinganya bagai hantaman ombak yang tiada hentinya.

'Lalu, apa hubungannya semua itu dengan saya?'

Pertanyaan sederhana itu terasa begitu kejam, memotong seluruh akses manipulasi yang biasa Zidan gunakan. Dulu, Pamela selalu bisa digerakkan dengan rasa iba dan kewajiban moral sebagai seorang istri. Namun hari ini, Zidan dipaksa menerima kenyataan pahit bahwa tameng itu telah hancur. Pamela benar-benar sudah tidak peduli lagi apakah keluarganya akan hidup atau mati.

Tepat pukul sembilan malam, Zidan sampai di rumah sakit. Begitu dia melangkah masuk ke dalam kamar rawat VIP, dia disambut oleh tangisan histeris Keysha yang sedang ditenangkan oleh Mama di sudut ruangan.

"Ada apa lagi ini?!" tanya Zidan dengan suara dingin yang sarat akan kelelahan fisik dan batin.

Mama mendongak dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua, air matanya menetes deras membasahi pipinya yang keriput. "Zidan... Papa kamu... Papa kamu tadi sore nekat mencopot sendiri selang infusnya, Zid. Beliau bilang kalau sampai besok pagi Pamela gak datang, beliau menolak untuk cuci darah lagi. Beliau mau pulang ke rumah lama saja, nunggu mati di sana..."

"Kak Zidan! Tolong bawa si Pamela pulang! Keysha capek! Keysha gak mau Papa mati!" jerit Keysha sambil memegangi kaki celana kakaknya, meluapkan seluruh ketakutan dan penyesalan keluarganya yang kini sudah terlambat.

Zidan memejamkan matanya rapat-rapat, bersandar pada pintu kayu kamar rawat yang tertutup. Dadanya terasa begitu sesak, seolah pasokan udara di dalam ruangan itu telah habis. Gengsi tingginya yang tadi siang dia pamerkan di depan kedai pantai kini terasa begitu murah dan tidak berguna di hadapan maut yang sedang mengancam ayahnya.

Pria narsis itu perlahan menurunkan pandangannya, menatap dua wanita dari keluarganya yang kini merangkak di lantai dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Badai penyesalan yang lambat namun mematikan kini telah benar-benar meruntuhkan seluruh sendi kehidupan keluarga Arkatama, meninggalkan mereka dalam kehampaan yang teramat pekat, tanpa tahu bagaimana cara menjemput kembali ketenangan yang telah mereka usir dengan kejam.

...

1
it's me
ceritanya bagus tapi sayang gagk ad endingnya
kikyoooo: ditunggu up bab selanjutnya....
tenang aja1setiap satu hari pasti up. entah itu 1 bab atau lebih
total 1 replies
it's me
penulisnya gak jelas sih,masa ceritanya dibuat menggantung.
Adam Markelov izaan
⬜🟥⬜⬜⬜🟥⬜
🟥🟥🟥⬜🟥🟥🟥
🟥🟥🟥🟥🟥🟥🟥
⬜🟥🟥🟥🟥🟥⬜
⬜⬜🟥🟥🟥⬜⬜
⬜⬜⬜🟥⬜⬜⬜
 🌷🌸🌷🌸
🌸🌷🌸🌷🌸
Λ🌷🌸🌷🌸🌷
( ˘ ᵕ ˘🌷🌸🌷
ヽ つ\ /
UU / 🎀 \
Allea
mama mertua mulu ngetiknya kan si pamela lg dikampung bingung eike
Allea
kira2 endingnya balikan ga nih ,kesel kl balikan mah udah nunggu2 😁
Himna Mohamad
kereeen👍👍👍👍👍
Himna Mohamad
rasain
Himna Mohamad
lanjut kk
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉




saling support sabi kali ya😉
kikyoooo: siapp... gue kan baik dan tidak sombong hihihi😍 btw semangat thorr😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!