NovelToon NovelToon
Wasiat Terakhir Ibu

Wasiat Terakhir Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dokter / Romansa
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

🍀AYO, MAMPIR 🍀
Galang Langit jatmika sama sekali tidak mengenal sosok Hanum Sekar Salsabila.

Tapi di ranjang kematian ibunya, ia di paksa mengucap ijab Kabul untuk menikahi gadis itu.

"Nikahi Sekar, jaga gadis itu untuk ibu."

Pernikahan tanpa cinta, masa lalu yang datang, dan rumah tangga yang semakin terasa hambar.

Tapi bagaimana kalau wasiat itu justru jadi jalan satu-satunya untuk menyembuhkan hati mereka berdua yang penuh luka?


Yuk, cari jawabannya di sini 🍀

°°°°°°°°

Jangan lupa subscribe, like, vote, dan komen🫶

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 10. Cemburu

Galang baru saja meneguk air putih terakhirnya ketika suara ponsel berdering memecah keheningan. Nada dering itu berasal dari ruang tamu.

Pria itu langsung bangkit dari kursinya.

"Kamu lanjut makan aja," ucapnya pendek.

Sekar hanya mengangguk pelan.

Namun kedua matanya mengikuti punggung Galang yang menjauh dari meja makan. Langkah pria itu tenang, tinggi tubuhnya membentuk bayangan panjang di lantai rumah yang diterpa cahaya pagi.

Dan entah kenapa...dada Sekar terasa sesak.

Ia tahu siapa yang menelepon.

Melisa.

Nama itu seperti duri kecil yang diam-diam menancap sejak semalam saat ia tanpa sengaja melihat pesan good night di layar ponsel Galang. Sekar tidak punya hak untuk marah. Tidak punya hak melarang. Pernikahan ini bahkan bukan lahir dari cinta.

Ia hanya amanah terakhir Bu Rahman.

Hanya perempuan yang dititipkan.

Sekar menunduk, lalu mulai membereskan meja makan. Jemarinya mengambil piring-piring kotor dengan gerakan pelan, sesekali ia melirik ke arah ruang tamu.

Galang berdiri dekat jendela kayu yang terbuka lebar. Tubuhnya sedikit bersandar, satu tangan ia tumpu di atas jendela, sementara tangan lainnya memegang ponsel di telinga.

Sekar tidak bisa mendengar jelas awal percakapan mereka.

Sampai kemudian suara wanita itu terdengar samar dari speaker ponsel yang terlalu dekat dengan telinga Galang.

Suara itu ceria, dan manja.

"Ya ampun, A Galang sibuk banget sih sekarang."

Sekar menahan napas.

Ia membawa piring ke wastafel lalu membuka keran air lebih besar, seolah suara gemericik bisa menutupi sesuatu di dadanya.

"Aku hari ini ulang tahun, lho." Lanjut suara perempuan itu terdengar samar. "Makan siang bareng, ya?"

Sekar diam.

Tangannya yang sedang mengosok piring mendadak melambat. Ia tidak tahu kenapa dadanya terasa panas, sangat panas.

"A Galang?" suara itu kembali memanggil dari ponsel.

Pria itu tampak memejamkan mata sebelum menjawab lesu, "iya...nanti aku usahakan datang."

Sekar menatap kosong aliran air di wastafel. Lalu suara perempuan itu terdengar begitu bahagia.

"Asyiiikkk! Pokoknya harus datang. Aku tunggu!"

Dan sesuatu dalam diri Sekar runtuh begitu saja.

Prang!

Suara pecahan piring memekakkan dapur.

Piring putih di tangan Sekar menghantam lantai cukup keras hingga pecahannya menyebar ke segala arah. Bahkan beberapa serpihan kecil terpental sampai dekat ambang pintu dapur.

Galang langsung menoleh cepat.

"Sekar!"

Pria itu langsung mematikan posisi bersandarnya di jendela lalu melangkah lebar menuju dapur.

Sekar terpaku beberapa detik menatap pecahan beling di bawah kakinya sendiri. Napasnya naik turun.

Bukan karena takut.

Melainkan karena dadanya terlalu sesak.

Galang berhenti di pintu dapur. Ponselnya masih menyala di tangan, layar itu jelas memperlihatkan nama Melisa yang masih tersambung.

Tatapan Sekar sampai jatuh ke arah ponsel yang ada pada genggaman tangan suaminya. Dan entah kenapa matanya langsung memanas.

"Ada apa?" tanya Galang pelan.

Sekar buru-buru jongkok, memunguti pecahan beling dengan tangan gemetar.

"P-piringnya licin," jawabnya lirih.

Galang diam. Tatapannya menyapu lantai dapur yang dipenuhi pecahan kecil tak beraturan.

Ia tahu.

Sangat tahu.

Piring itu tidak jatuh karena licin. Ia yakin jika Sekar melempar piring itu. Kalau hanya terpeleset, pecahannya tidak mungkin sampai sekecil ini.

Galang memandang punggung gadis itu yang tampak menegang. Bahunya kecil, tapi seolah sedang memikul sesuatu yang berat sekali.

Dari ponsel terdengar suara Melisa memanggil-manggil.

"Halo? Dok Galang? Kamu masih di sana?"

Pria itu akhirnya mematikan sambungan telepon tanpa menjawab lagi.

Klik.

Sunyi.

Hanya ada suara napas Sekar dan gemericik keran air. Galang kemudian berjalan ke sudut dapur mengambil sapu ijuk.

"Aku bantu." Katanya.

Sekar tidak menjawab. Ia tetap berjongkok memunguti pecahan beling satu per satu dengan mata berkaca-kaca. Penglihatannya mulai buram karena air mata yang terus tertahan.

Jangan nangis.

Jangan nangis.

Kamu enggak punya berhak cemburu!

Kalimat itu terus berulang di kepalanya. Tetapi justru semakin membuat tenggorokannya sakit.

Saat Sekar hendak mundur agar Galang bisa menyapu, telapak kakinya tak sengaja menginjak serpihan beling yang tajam.

"Ah--"

Seketika tubuhnya meringis.

Galang refleks menoleh.

Darah merah langsung muncul di telapak kaki Sekar, menetes ke lantai putih dapur.

"Sekar!"

Pria itu buru-buru berjongkok di depannya. Namun yang membuat Galang terkejut bukan hanya darah itu, melainkan air mata yang akhirnya jatuh dari mata Sekar.

Gadis itu menangis.

Bukan tangisan keras. Hanya air mata yang mengalir diam-diam bersama napasnya yang gemetar. Galang menatap wajah itu beberapa detik.

"Kamu kenapa?" tanyanya pelan.

Sekar cepat-cepat mengusap pipinya kasar. "Sa...sakit," jawabnya serak.

Jawaban itu terdengar sederhana. Tetapi Galang tahu ada sesuatu yang lain dibalik tangisan itu.

Pria itu segera meraih lengan Sekar hendak membantunya.

"Sini, aku obati--"

Namun Sekar langsung menepis tangan Galang. Gerakannya tidak keras, tetapi cukup membuat pria itu membeku.

"Aku bisa sendiri," ucap Sekar lirih.

Galang menatapnya.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, ia melihat Sekar benar-benar marah. Bukan marah dengan suara tinggi. Melainkan marah yang dipendam terlalu dalam sampai berubah menjadi air mata.

Sekar bangkit berdiri meski sedikit pincang. Darah di telapak kakinya meninggalkan bercak kecil di lantai.

Galang ikut berdiri.

"Jangan dipaksa jalan."

"Aku nggak apa-apa."

"Kakimu berdarah."

Sekar tertawa kecil.

Aneh sekali suara tawanya.

Tipis dan rapuh.

"Nggak separah itu."

Galang mengerti, "Sekar--"

"Aku bilang nggak apa-apa."

Kali ini suara gadis itu sedikit meninggi.

Lalu ia langsung membuang muka karena takut tangisnya semakin pecah.

Galang terdiam.

Pria itu memperhatikan wajah Sekar yang memerah menahan emosi. Hidungnya memucat, bibirnya bergetar samar.

Dan tiba-tiba saja Galang merasa dadanya tidak nyaman. Perasaan asing yang sejak beberapa hari terakhir mulai sering muncul ketika melihat Sekar sedih.

Sekar mengambil kain lap dan mulai membersihkan darah di lantai. Gerakannya cepat, seolah ingin menyembunyikan diri agar tidak menangis.

"Udah, biar aku aja," ujar Galang.

Sekar tidak menggubris.

"Neng." Panggilannya lagi seraya menatap Sekar.

Sekar tetap diam.

Galang akhirnya menahan pergelangan tangannya pelan.

Sekar membeku.

"Kamu marah sama aku?" tanya Galang rendah.

Pertanyaan itu membuat tenggorokan Sekar semakin sakit.

Ia ingin bilang iya.

Ingin bilang kalau hatinya panas mendengar wanita lain mengajak suaminya makan siang dengan nada manja seperti itu.

Ingin bilang kalau ia benci karena ternyata dirinya mulai berharap lebih.

Tetapi Sekar sadar diri.

Pernikahan ini bukan karena cinta. Galang tidak pernah menjanjikan apa pun padanya.

Maka ia hanya menunduk sambil berkata lirih, "nggak."

"Bohong."

Sekar langsung menepis lagi tangan Galang.

"A Galang mau makan siang sama siapa juga bukan urusan aku."

Kalimat itu berhasil membuat dapur mendadak sunyi.

Galang memandang Sekar cukup lama. Sementara gadis itu langsung menggigit bibirnya sendiri, menyesali ucapan yang terlanjur keluar.

Matanya kembali panas.

Ia malu.

Sangat malu.

karena tanpa sadar... kecemburuan itu akhirnya terlihat juga.

.

.

.

Hai.....

Yuk komen, like, vote, subscribe dan bintang limanya. Jangan lupa follow juga ya, bantu Yehppee menaikan performa novel ini🫶

Jangan loncat-loncat bab🙏

Bersambung...

1
Gemuruh riuh
kiw, mulai ada rasa nih
Gemuruh riuh
awas aja kalo tiba-tiba jadi asing
Gemuruh riuh
cie cie 🤭
Gemuruh riuh
yu Galang Pepet terus istrimu! jangan sampe di ambil mantan nya😭
Gemuruh riuh
cie cie mulai gombal, pasti di ajarin Ardi nih🤣🤭
Gemuruh riuh
ah baru aja mau gosip🤣
Gemuruh riuh
Ardi ini tipe rusuh banget 🤭
Gemuruh riuh
iya sih rata-rata kenapa ya suka padanya kapan hamil, seolah pertanyaan itu tuh udah biasa
Gemuruh riuh
waduh 😲
Gemuruh riuh
Galang berantem yuk🫵
Gemuruh riuh
Bu Dian ini tipe tetangga kalau nurunin kulkas langsung kepanasan
Gemuruh riuh
nih orang blak-blakan banget 😭🤣
Alia Chans
Jleb😯😯
falea sezi
lanjut bkin cerai aja dah laki. bloon bgt dikira istrimu g ada yg suka apa
falea sezi
istrimu di gondol pebinor kapok lu lang😒 jd suami cuek bgt🤣 arif uda siap tuh nrima janda mu🤣
falea sezi
🤣kampret di prank
falea sezi
😍 ganteng amat dokternya aduhh
🍀 YEHPPEE 🍀: silahkan di pilih kak😁
total 1 replies
Gemuruh riuh
ih Galang jahat banget mulutmu! awas aja nanti-nanti nelen ludah sendiri
Gemuruh riuh
wkwkwkw teh Emi lucu nih, jangan sampe Sekar satu circle sama teh emi🤣
Gemuruh riuh
Jangan-jangan Sekar putus sama dokter Arif gara-gara milih nikah sama Galang ya???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!