Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.
Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.
Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2
Dalam keremangan ruang tamu yang tenang, ingatan Fadhlan melayang jauh ke masa tiga belas tahun silam. Di sana, di sebuah halaman rumah sederhana di Kota T, ada seorang gadis kecil berusia lima tahun yang selalu mengekor ke mana pun ia pergi.
"Aku maunya jadi pengantin sama Kakak kalau sudah besar nanti! Habisnya, kakak ganteng dan baik sama aku," celetuk Syifa kecil kala itu, bibirnya mengerucut lucu.
Fadhlan remaja, yang saat itu baru saja mengenal dunia pesantren, hanya bisa terkekeh sembari mencubit pelan pipi tembam adik angkatnya itu.
"Menikah itu untuk orang dewasa, Syif. Harus saling mencintai. Kita kan saudara."
"Nggak mau! Berarti Kakak nanti menikah sama orang lain dan punya anak? Sama saja aku ditinggal dong!"
"Enggak, sayang. Kakak akan selalu ada buat kamu," janji Fadhlan waktu itu. Sebuah janji yang ternyata harus dibayar mahal oleh waktu.
Perpisahan itu datang terlalu cepat. Penyakit yang merenggut ibundanya, disusul kepergian ayahnya tak lama kemudian, membuat dunia Fadhlan runtuh. Di tengah duka itu, Kakek Nizar mengirimnya belajar ke luar negeri setelah ia menyelesaikan pendidikannya di pondok pesantren. Sejak saat itu, garis hidupnya dan Syifa seolah terputus oleh samudera dan benua.
...(Ilustrasi tokoh M. Fadhlan Ganendra) ...
...----------------...
Dua bulan sebelum Kakek Nizar berpulang, di sebuah ruang perawatan rumah sakit, sebuah percakapan mengubah segalanya.
"Aku bingung dengan cucuku, Al," keluh Kakek Nizar pada Kakek Ali. "Umurnya sudah hampir tiga puluh tahun, tapi dia masih sendiri. Anak pengusaha, bahkan anak kyai tempatnya mondok dulu, semua dia tolak dengan halus."
Kakek Ali terkekeh pelan. "Mungkin dia masih ingin berkarir sepertimu"
"Sudah tua begini, cucu belum juga menikah. Aku khawatir cucuku tidak normal, Al"
"Hushh, jangan berprasangka yang buruk pada cucu sendiri"
"Entahlah Al. Dia persis seperti Fadil"
Kakek Nizar terdiam sejenak, menatap layar TV tanpa minat.
"Tunggu! Cucumu Asyifa, umur berapa dia sekarang?" sambung beliau menyebut cucu kakek Ali dengan panggilan kesayanganya.
"Syifa? Dia belum genap 20 tahun. Kuliahnya saja baru semester 3"
"Kita jodohkan saja bagaimana?" celetuk beliau tiba-tiba.
"Uhukk..uhukk..apa aku tidak salah dengar?" tanya kakek Ali terkejut mendengarnya.
"Ya, kita jodohkan mereka. Tidak ada salahnya bukan?"
"I-itu..kamu serius? Cucuku hanya gadis dari desa, bukan keturunan orang kaya seperti keluargamu" jelas kakek Ali merasa pesimis mengingat latar belakang keluarganya.
"Kamu ini bicara apa? Cucumu juga cucuku, keluargaku juga keluargamu. Aku yakin cucuku pasti tidak akan menolak. Toh sampai saat ini cucuku masih menyimpan foto masa kecilnya dengan Asyifa di ruang kerja dan di kamarnya"
Kakek Ali tidak menyangka kalau cucu kakek Nizar masih ingat dengan cucunya, Asyifa Humaira. Padahal sudah belasan tahun mereka tidak bertemu, bahkan mungkin Syifa tidak mengingat cucu sahabatnya.
"Benarkah? Apa aku tidak salah dengar ini?"
"Ya, Al. Kenapa tidak dari dulu terpikir olehku untuk menjodohkan mereka ya? Padahal sudah jelas dari dulu Fadhlan sangat perhatian dengan Asyifa. Aku akan tenang dan bahagia kalau melihat mereka bersama lagi" senyuman terukir di wajah kakek Nizar.
"Tapi Zar, saat itu mereka masih anak-anak. Mungkin cucumu perhatian dan sayang seperti halnya kakak pada adiknya"
"Tidak ada salahnya kan, Al? Siapa tahu mereka mau dan jatuh cinta nantinya"
"Baiklah Zar, aku mendukung keputusanmu. Semoga Allah juga meridhoi perjodohan ini. Yang terpenting sekarang kamu kembali sehat dulu"
"Hm sahabatku, jika umurku tidak panjang. Aku titipkan keinginanku padamu, persatukan mereka dalam sebuah ikatan pernikahan. Supaya persaudaraan kita juga tidak terputus"
Kakek Ali tercekat mendengar ucapan dari sahabatnya. Dia berfikir kalau sahabatnya memberikan tanda-tanda bahwa usianya sudah tidak lama lagi.
Firasat kakek Ali benar, satu bulan kemudian, kakek Nizar meninggal dunia.
...----------------...
Namun, ada satu rahasia pahit yang baru diketahui Fadhlan saat ia kembali ke Kota T untuk memenuhi wasiat kakeknya. Di kediaman keluarga Ganendra, Abi Musthofa menceritakan peristiwa nahas dua belas tahun lalu.
"Syifa mengalami kecelakaan tepat di hari ulang tahunnya, Nak Fadhlan," suara Abi Musthofa bergetar, matanya menerawang membayangkan tubuh kecil putrinya yang berlumuran darah setelah terpental di aspal panas. "Dia koma tiga hari. Saat terbangun, dia mengingat kami semua, mengingat keluargamu... tapi dia kehilangan satu nama."
Fadhlan merasa jantungnya diremas hebat. "Apakah... nama saya, Bi?"
Kakek Ali mengangguk lirih. "Hanya namamu yang terkunci rapat di memorinya, Nak. Seolah-olah otak Syifa mencoba menghapus trauma kehilanganmu dengan cara melupakan keberadaanmu sepenuhnya."
......................
Malam itu, di bawah langit Kota T yang tenang, Fadhlan Ganendra, pria yang dikenal sedingin es, merasakan dadanya sesak oleh rasa bersalah yang menghujam.
'Ya Rabb, jika memang ini takdir dari-Mu supaya ingatan Syifa kembali. Hamba memohon ridho-Mu akan perjodohan ini Ya Rabb. semoga Engkau mudahkan dan lembutkan hatinya ketika nanti hamba datang untuk mengkhitbahnya'
...****************...