NovelToon NovelToon
DOSENKU, SUAMIKU

DOSENKU, SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dosen / Nikahmuda
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi Wahyu

“Aku benci dosen perfeksionis.”
Itu kalimat pertama yang Rhea tulis di buku catatannya setelah bertemu Arga...dosen muda favorit kampus yang terkenal dingin, disiplin, dan sulit didekati.
Sayangnya, hidup Rhea perlahan mulai dipenuhi pria itu.
Dari kelas pagi yang melelahkan, bimbingan yang selalu berubah menjadi perdebatan, hingga tatapan-tatapan kecil yang mulai terasa berbeda.
Rhea tidak pernah berniat jatuh cinta pada dosennya sendiri.
Masalahnya…Arga sendiri juga mulai merasa sulit melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fokus Rhea..

...****************...

Arga berdiri di depan kelas sambil menatap seluruh mahasiswanya yang masih sibuk mengeluh sejak kata “kuis” keluar dari mulutnya. Tangannya bergerak pelan mengambil spidol hitam di meja, lalu menuliskan sesuatu di papan tulis dengan tulisan rapi dan tegas.

KUIS ESSAY — 30 MENIT

“Pak…” salah satu mahasiswa langsung mengangkat tangan dengan wajah menderita. “Hari indah kenapa harus dirusak dengan essay?”

“Karena hidup kalian memang tidak selalu indah,” jawab Arga santai tanpa menoleh.

Satu kelas langsung ricuh kecil.

Sementara itu Arga tetap terlihat tenang. Setelah selesai menulis waktu pengerjaan di papan, ia membalik badan lalu menyandarkan pinggulnya ke meja dosen sambil melipat kedua tangan di depan dada.

“Keluarkan satu lembar kertas.”

Suara gesekan kursi dan resleting tas langsung memenuhi ruangan. Beberapa mahasiswa mulai sibuk mencari kertas dengan panik.

Di bangku depan dekat jendela, Rhea ikut mengeluarkan buku dan alat tulisnya pelan. Namun ekspresinya terlihat jauh lebih tidak fokus dibanding mahasiswa lain.

Pikirannya masih terus dipenuhi ponselnya yang sekarang ada di tangan Arga.

“Rhea.”

Suara Arga mendadak terdengar dari depan kelas.

Rhea langsung tersentak kecil dan spontan mengangkat kepala.

“I-Iya, Pak?”

Tatapan Arga lurus tertuju padanya.

“Kamu ikut kuis hari ini atau mau lanjut melamun?”

Beberapa mahasiswa langsung menahan tawa kecil mendengar itu. Bahkan ada yang sampai menoleh ke arah Rhea sambil menyenggol temannya pelan.

Sementara wajah Rhea seketika memerah malu.

“Ikut, Pak…”

“Bagus.” Arga mengangguk kecil. “Karena saya tidak menerima nilai dari orang yang pikirannya jalan-jalan.”

Rhea langsung mendecih pelan sambil buru-buru menunduk lagi.

"Nyebelin banget asli…" batinnya kesal sambil mengambil selembar kertas dari dalam tasnya dengan gerakan agak kasar.

Di depan kelas, Arga akhirnya mengambil setumpuk lembar soal dari meja dosen lalu mulai membagikannya satu per satu ke setiap barisan. Langkahnya tenang menyusuri sela-sela bangku mahasiswa yang langsung berubah tegang begitu lembar kuis itu sampai di tangan mereka.

Keluhan mulai terdengar dari berbagai arah, membuat suasana kelas kembali ramai sesaat. Namun Arga hanya melirik sekilas tanpa ekspresi.

“Mulai sekarang,” ucapnya tenang sambil meletakkan satu lembar soal di meja Rhea, “yang banyak bicara saya anggap sudah selesai lebih dulu.”

Seketika satu kelas langsung hening total.

...****************...

Perlahan suasana kelas berubah semakin hening.

Keluhan para mahasiswa yang tadi memenuhi ruangan kini berganti menjadi suara gesekan pena di atas kertas dan lembar soal yang dibalik pelan satu per satu. Beberapa mahasiswa terlihat mengernyit serius menatap soal mereka, sebagian lagi sibuk mengetuk-ngetukkan ujung pulpen ke meja sambil berpikir keras mencari jawaban.

Di depan kelas, Arga berdiri tenang sambil sesekali berjalan menyusuri tiap barisan meja mahasiswa, memperhatikan suasana kelas dengan tatapan datarnya yang seperti biasa sulit ditebak.

Namun berbeda dengan mahasiswa lain yang terlihat fokus mengerjakan kuis... Rhea justru sama sekali tidak benar-benar masuk ke dalam soal.

Pulpennya memang bergerak sesekali di atas kertas, tetapi pikirannya melayang entah ke mana. Tatapannya kosong menatap lembar jawaban di depannya, sementara otaknya masih dipenuhi satu hal yang sama sejak pagi tadi.

Rhea mengembuskan napas pelan sambil memijat keningnya sendiri kecil, berusaha mengusir pikirannya yang sejak tadi terus berputar ke mana-mana. Namun bukannya kembali fokus ke lembar soal di depannya, ia malah kembali melamun sambil menatap kosong tulisan yang bahkan belum ia baca benar-benar.

Saking sibuknya dengan pikirannya sendiri, Rhea sama sekali tidak menyadari jika langkah Arga sejak tadi sudah berhenti tepat di depan mejanya.

Pria itu berdiri tegak di sana dengan satu tangan masuk ke saku celana, sementara tangan lainnya memegang gulungan kertas kecil. Tatapannya jatuh lurus ke arah Rhea yang masih melamun di tengah suasana kelas yang serius.

Beberapa mahasiswa yang duduk di sekitar mereka bahkan mulai sadar Arga sedang berdiri di sana, tetapi tidak ada yang berani bersuara sedikit pun.

Lalu tanpa aba-aba...

Tuk.

“Eh?!”

Rhea langsung tersentak kaget sampai bahunya ikut terangkat. Tangannya refleks memegang bagian atas kepalanya sambil mendongak cepat.

Di depannya, Arga berdiri dengan wajah datar seperti biasa sambil memegang gulungan kertas tadi.

“Fokus, Rhea.”

Suaranya rendah. Tegas. Tidak keras, tetapi cukup membuat Rhea langsung duduk tegak seperti mahasiswa paling patuh sedunia.

“I-Iya pak… maaf…”

Wajahnya langsung memerah malu saat menyadari beberapa mahasiswa di dekatnya diam-diam melirik sambil menahan reaksi mereka sendiri.

Namun Arga sama sekali tidak menanggapi lagi. Tatapannya masih tertahan beberapa detik di wajah Rhea, seolah memastikan gadis itu benar-benar kembali sadar penuh, sebelum akhirnya ia berbalik dan berjalan lagi menuju depan kelas dengan langkah tenang.

Sementara Rhea langsung menunduk cepat sambil menggenggam pulpennya lebih erat.

Setelah itu suasana kelas kembali tenggelam dalam keheningan. Waktu terus berjalan perlahan di bawah hawa dingin pendingin ruangan dan suara samar lembar jawaban yang dibalik satu per satu.

Sebagian mahasiswa mulai terlihat panik karena waktu yang semakin menipis, sementara yang lain sibuk menulis cepat di baris terakhir jawaban mereka.

Hingga tanpa terasa, tiga puluh menit akhirnya berlalu begitu saja.

Di depan kelas, Arga melirik jam tangannya sekilas sebelum menutup map di atas meja dosen pelan.

“Waktu habis.”

Seketika terdengar beberapa helaan napas berat dan erangan pelan dari berbagai sudut kelas.

“Yang belum selesai, kumpulkan tetap sekarang.”

Nada suaranya tetap tenang, tetapi tidak memberi celah untuk protes sedikit pun.

Suasana kelas langsung kembali ramai oleh suara kursi yang bergeser dan langkah kaki mahasiswa yang mulai maju satu per satu membawa lembar jawaban mereka ke depan kelas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!