NovelToon NovelToon
Sekretaris Calon Istri Pilihan Nenek

Sekretaris Calon Istri Pilihan Nenek

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyelamat / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Elfesya terjebak perjodohan paksa dengan Ravion Arshaka, CEO angkuh yang terus menghinanya. Luka semakin dalam saat Elfesya tahu ayah Ravionlah yang menghancurkan bisnis ayahnya. Ia melarikan diri ke pesisir, hidup nestapa sebagai buruh ikan demi harga diri.
Sadar akan dosanya, Ravion melepaskan kemewahan demi menyusul Elfesya ke gubuk reyot. Di tengah bau laut dan kemiskinan, ego sang CEO runtuh demi meraih kembali hati sang sekretaris. Ini adalah kisah tentang pengkhianatan korporasi, penebusan dosa yang perih, dan cinta yang akhirnya berlabuh di dermaga ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sangkar emas yang terbagi

Resepsi pernikahan itu berakhir saat jarum jam menyentuh angka sebelas malam. Di bawah sorot lampu kristal yang mulai meredup, Ravion berdiri dengan wajah yang tidak bisa dibaca. Ia menatap Elfesya yang sedang berlutut kecil untuk memeluk adiknya, Elric, yang sudah terkantuk-kantuk.

"Elric akan tinggal di sini, di rumah besar, bersama Nenek," suara Ravion menginterupsi momen itu, dingin dan mutlak.

Elfesya berdiri, matanya membelalak. "Apa? Tapi saya tidak bisa meninggalkan adik saya sendiri. Kami tidak pernah berpisah."

Nenek Lastri mendekat, mengelus bahu Elfesya. "Jangan khawatir, Nak. Di sini banyak pelayan, ada Nenek, dan ada Papa Ravion. Elric akan aman. Sekolahnya dekat dari sini, supir akan mengantarnya setiap hari. Biarkan dia menikmati fasilitas yang seharusnya dia dapatkan sebagai adik dari istri seorang Arshaka."

Ravion menatap Elfesya dengan tatapan tajam yang seolah berkata: Ikuti skenarionya atau kontrak batal.

"Lalu, saya?" tanya Elfesya pelan.

"Kamu akan ikut denganku," jawab Ravion. "Kita akan tinggal di rumah pribadiku di pinggiran kota. Hanya kita berdua. Aku tidak suka ada orang luar di rumahku, termasuk adikmu atau pelayan yang terlalu banyak."

Nenek Lastri tersenyum puas, mengira cucunya ingin menghabiskan waktu berdua demi membangun kemesraan. Padahal, Elfesya tahu itu adalah taktik Ravion agar bisa memisahkan diri dari pengawasan Nenek dan tetap menjalankan hidup bebasnya.

Satu jam kemudian, sebuah mobil hitam melaju membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang. Di dalam mobil, keheningan terasa mencekik. Begitu sampai di sebuah rumah minimalis modern dengan dinding kaca besar namun tertutup gorden gelap, Ravion turun tanpa membantu Elfesya.

Elfesya menyeret koper kecilnya masuk. Rumah itu indah, namun terasa mati. Tidak ada foto keluarga, tidak ada tanaman, hanya furnitur mahal yang kaku.

"Dengar," ucap Ravion begitu mereka masuk ke ruang tengah. Ia melepas dasinya dan melemparkannya ke sofa. "Hanya karena Nenek memaksa kita tinggal bersama, bukan berarti kita benar-benar hidup sebagai suami istri."

Ia berjalan menuju sebuah lorong dan menunjuk dua pintu yang berseberangan.

"Itu kamarmu. Dan ini kamarku. Jangan pernah berani masuk ke kamarku tanpa izin, dan jangan pernah mengetuk pintuku jika tidak ada urusan kantor yang sangat mendesak," tegas Ravion.

Elfesya menghela napas lega, namun juga merasa sedikit getir. "Bapak tidak perlu khawatir. Saya juga butuh ruang untuk bernapas dari sikap kasar Bapak."

"Satu lagi," Ravion berbalik di ambang pintu kamarnya. "Aku punya jadwal sendiri. Kalau aku pulang larut malam dengan aroma parfum wanita lain atau bahkan membawa seseorang ke sini, tutup telingamu dan tetaplah di kamarmu. Jangan berlagak seperti istri yang tersakiti karena kamu dibayar untuk tidak punya perasaan."

Elfesya terdiam, menatap punggung suaminya yang menghilang di balik pintu kayu jati yang berat. Ia menoleh ke arah gorden jendela besar di ruang tamu yang tertutup rapat. Meski hari sudah malam, ia tahu gorden itu tidak akan pernah dibuka di waktu senja.

Ia masuk ke kamarnya yang asing. Di atas tempat tidur yang empuk, Elfesya meringkuk. Ia merindukan napas teratur adiknya di sampingnya. Ia merasa seperti burung yang dibeli untuk menghias sangkar, namun pemiliknya bahkan benci melihatnya berkicau.

Di kamar sebelah, Ravion tidak langsung tidur. Ia duduk di kegelapan, menatap ponselnya yang penuh pesan dari teman-teman wanitanya. Namun, pikirannya justru tertuju pada keberanian Elfesya yang memilih tinggal terpisah dari adiknya demi memenuhi kontrak ini.

"Hanya setahun," gumam Ravion pada kegelapan. "Setelah setahun, aku akan bebas dari Nenek, dan gadis itu akan pergi dengan kantong penuh uang."

Namun, di dalam kesunyian rumah itu, ada sesuatu yang mulai terasa berbeda. Sesuatu yang tidak tertulis di dalam kontrak yang mereka tandatangani di atas kertas basah itu.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
merry
Terima ajj el wlpun sakit hncur tp dr pihak musuh ada yg mau kembalikan milikmu ywd trma ajj aset aset emng milik ayah trs kembangkan buktiin pd org org yg hina kmu, buktiin kmu pengusaha hebat biar gk diremehkan lgg,mau lari kmn pun klo dh takdir tetap akn balik ke kmu
falea sezi
moga g meninggal
Nurjana Bakir
wanita kuat😍
falea sezi
lanjut donkk😍
falea sezi
laki bekas kayak. lu g cocok lu sama. bapak lu sama aja sama sama sampah.. g ada bedanya lu ma bapak lu yg main jalang ampe ibu lu meninggal😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!