Alma setelah kematiannya mengetahui bahwa sebenarnya dia hanyalah salah satu karakter sampingan di novel yang semua takdir kehidupannya sudah di tentukan oleh penulis.
Penderita yang telah dia lalui sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah kata-kata yang tertulis untuk mempromosikan plot tentang protagonis wanita di novel.
Dia marah, dan kecewa tidak menerima semua takdir itu, dia ingin membalas rasa sakit yang dia terima dari orang-orang yang telah menyakitinya.
Dan kesempatan itu muncul, dia di hidupkan kembali , hari di mana semua penderitaannya belum terjadi.
Dan dia bersumpah akan membalas setiap inci perbuatan mereka padanya menghancurkan mereka secara perlahan.
Alma ingin mereka membayarnya dengan lunas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bearbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Lampu kristal raksasa menjuntai megah dari langit-langit ballroom hotel bintang lima. Cahaya keemasan yang dipantulkannya menari di setiap permukaan kaca dan gelas, membuat seluruh ruangan berkilau bagai istana. Musik klasik yang dimainkan kuartet gesek mengalun lembut, berpadu dengan dentingan gelas sampanye yang beradu dalam percakapan penuh basa-basi.
Para pengusaha kaya berbaur dengan gaya elegan. Jas hitam mereka terjahit khusus, potongannya jatuh sempurna mengikuti lekuk tubuh pemakainya. Sementara para wanita tampil memesona dalam gaun malam berkilauan, dihiasi perhiasan berlian yang seolah berlomba memancarkan cahaya paling terang di antara sorotan lampu.
Di setiap sudut ruangan, pelayan-pelayan berseragam rapi berdiri sigap dengan nampan perak. Gelas wine impor dan canapés tersaji, lebih sebagai lambang gengsi daripada benar-benar dinikmati. Tawa kecil terdengar di sana-sini, namun di baliknya tersembunyi perhitungan dingin: siapa yang baru saja mengamankan proyek besar, siapa yang akan jatuh hanya karena satu langkah keliru.
Daniel Morrison merasa muak dengan semua itu. Sejak awal ia tak berniat hadir. Namun ayahnya memaksanya datang, beralasan bahwa ia harus membiasakan diri sebagai calon kepala keluarga. Ironisnya, pria itu kini mungkin tengah bersantai di rumah, bercengkerama mesra dengan mamahnya, sementara ia harus berdiri di tengah pesta yang penuh kepura-puraan.
"Calon kepala keluarga apanya," gumam Daniel dengan sinis, meneguk isi gelasnya hingga habis. Napas panjang lolos dari bibirnya. "Aku lebih merindukan gadis kecilku. Apa yang sedang dilakukan Alma sekarang, ya..."
Pandangan matanya mengitari pesta. Malam ini, acara diadakan oleh putra keluarga Sullivan, untuk merayakan dimulainya proyek pembangunan hotel megah yang akan segera dilaksanakan. Daniel berencana sekadar menyampaikan ucapan selamat, lalu segera pulang. Namun rencana sederhana itu tampaknya harus ditunda ketika sekelompok pria berjas menghampirinya.
"Bukankah ini Tuan Muda Morrison?" sapa seorang pria tua berbadan gemuk dengan senyum licin di wajahnya. Minyak di dahinya berkilau diterpa cahaya lampu. "Mengapa berdiri sendirian? Nikmatilah pestanya."
Daniel hanya mengangguk singkat, tidak berusaha menanggapi lebih jauh. Senyum pria itu tampak mengeras karena merasa diabaikan. Pandangan Daniel justru tertuju pada tuan muda Sullivan yang datang bergabung bersama rombongan mereka.
"Selamat atas proyek besarnya," ucap Daniel, kali ini dengan nada yang dibuat terdengar tulus.
Tuan muda Sullivan tersenyum lebar, jelas bangga dengan pencapaiannya. "Terima kasih. Tapi aku masih jauh di bawah Tuan Muda Morrison. Kudengar kau berhasil mendapatkan tanah di timur itu?"
Daniel menunduk sedikit, mencoba menampilkan kerendahan hati. "Ah, itu hanya kebetulan. Murni keberuntungan."
"Keberuntungan yang luar biasa," sela seorang pria lain sambil mengangkat gelasnya. "Setahuku, tuan tanah di wilayah itu terkenal sulit diajak bekerja sama. Jika bukan karena kecerdikanmu, tentu mustahil tanah itu bisa berpindah tangan."
Daniel hanya tersenyum samar, menahan diri untuk tidak berkomentar lebih jauh.
Namun, di sisi lain ruangan, seseorang mendengar percakapan itu dengan rahang mengeras. Sean, tak mampu menyembunyikan amarahnya.
"Tanah itu seharusnya menjadi milikku," batinnya penuh bara. Ia telah lama mengincar kawasan timur, berbulan-bulan berusaha membujuk tuan tanah yang keras kepala itu. Hampir saja ia berhasil, jika saja keluarga Morrison tidak mendahuluinya.
Ia meneguk sampanye dengan kasar, matanya menatap tajam ke arah Daniel. Jika bukan karena ulah putrinya belakangan ini, mungkin fokusnya tak akan goyah dan kesepakatan itu sudah di tangannya.
"Sepertinya kau sedang tidak menikmati pestanya, Sean." Suara berat seorang kolega membuyarkan lamunannya.
Sean menoleh, memaksakan senyum tipis. "Ah, hanya sedikit lelah."
"Tentu saja. Tapi aku dengar proyek di timur itu nyaris jatuh ke tanganmu. Sayang sekali."
Senyum Sean menegang. "Ya... sayang sekali."
Tatapannya kembali mengarah pada Daniel, yang masih berbincang ramah dengan putra keluarga Sullivan.
🥀🥀🥀
Ketika pintu besar itu terbuka, keheningan singkat melanda. Semua kepala menoleh, dan bisikan kecil segera menyebar. Philip Seymour, Perdana Menteri negara ini, memasuki ruangan. Wibawa dan karisma yang melekat pada dirinya segera mencuri perhatian seluruh tamu.
Kepala keluarga Sullivan yang berdiri di dekat panggung utama segera maju, senyumnya lebar penuh penghormatan. "Tuan Perdana Menteri, sungguh sebuah kehormatan besar Anda berkenan hadir di pesta kami."
Philip membalas dengan senyum terkendali, matanya menatap penuh wibawa. "Tentu saja. Rencana pembangunan hotel bawah laut ini tidak hanya sebuah kebanggaan keluarga Sullivan, tetapi juga akan menjadi dorongan besar bagi sektor pariwisata negara. Bagaimana mungkin aku melewatkan kesempatan untuk menyampaikan selamat, terlebih ini adalah langkah awal yang gemilang bagi putra Anda."
Para pengusaha di sekitarnya segera ikut menyambung percakapan.
"Benar sekali," ujar seorang pria paruh baya dengan jas armani biru tua. "Aku dengar proyek ini akan menjadi hotel bawah laut pertama di kawasan Asia. Putra Anda benar-benar memiliki visi yang jenius."
Tuan Sullivan tertawa renyah, suaranya menggema ringan di antara kerumunan. "Ya, ya. Anak itu memang telah tumbuh dewasa dan menunjukkan kemampuannya. Aku sebagai ayah tentu merasa bangga."
Seorang pengusaha lain menimpali, suaranya berbaur dengan nada kagum. "Dan para investor yang berhasil ia tarik, luar biasa. Mereka rela menanamkan modal dalam jumlah fantastis demi proyek ini. Itu bukan pencapaian kecil."
Namun, di balik suasana penuh pujian itu, satu suara terdengar menyelip licik, memecah harmoni percakapan. "Ngomong-ngomong soal investasi, aku dengar putra Anda sendiri pernah mengalami kegagalan yang cukup besar, Tuan Perdana Menteri. Kerugiannya... hampir tiga puluh miliar, bukan begitu?"
Sejenak suasana menegang. Senyum beberapa tamu membeku. Tatapan mereka berpindah ke arah Philip, menanti reaksinya. Semua tahu kabar itu memang beredar, tetapi tak seorang pun cukup berani membicarakannya secara langsung. Apalagi di hadapan ayah sang pemuda yang dimaksud.
Tuan Sullivan cepat-cepat menengahi, suaranya dibuat setenang mungkin.
"Hahaha, untung rugi adalah perkara biasa dalam dunia bisnis. Anak muda tentu wajar melakukan kesalahan kecil sebelum matang, bukankah begitu, Tuan Perdana Menteri?"
Philip Seymour memaksakan senyum tipis. Hatinya mendidih, amarah menuntut untuk keluar, tetapi posisinya memaksa menahan diri.
"Benar. Putraku memang kurang beruntung kali ini. Bagaimanapun, pengalaman adalah guru terbaik. Silakan nikmati pestanya, aku masih ada urusan yang perlu kuselesaikan."
Dengan langkah tenang namun dingin, ia meninggalkan ballroom. Semua mata mengikuti punggungnya yang tegap hingga hilang dari pandangan.
Begitu ia keluar, bisikan segera pecah di antara para tamu. "Lihatlah, dia terlalu angkuh. Jika bukan karena jabatannya sebagai perdana menteri, apa yang bisa dibanggakan dari keluarga Seymour?" desis seorang pengusaha dengan nada meremehkan.
"Benar. Dia bahkan tidak sebanding dengan lima keluarga besar itu. Harrington, Radcliffe, Tarrant, Morrison, dan Irvine adalah pilar bangsa ini sejak era reformasi. Seymour hanyalah pemain baru yang mencoba masuk ke lingkaran mereka."
Tuan Sullivan meneguk sampanye, senyum tipis terukir di wajahnya.
"Ya, aku mendengar dia berambisi masuk ke lingkaran itu. Tetapi bagaimana mungkin? Lima keluarga tersebut terlalu kokoh, tak mudah ditumbangkan."
"Ambisinya terlalu tinggi," sahut yang lain dengan cibiran halus.
Philip yang baru saja melewati pintu keluar masih dapat mendengar sebagian percakapan itu. Kedua tangannya terkepal erat, urat-uratnya menegang menahan emosi. Ia terus melangkah hingga tiba di pelataran depan, di mana sebuah mobil hitam mewah sudah menunggunya.
Begitu masuk ke dalam, sopir dan seorang sekretaris muda langsung menundukkan kepala memberi hormat. Philip duduk, menarik napas panjang, lalu suaranya terdengar tegas namun terkendali. "Bagaimana? Apakah semua persiapan sudah sesuai rencana?"
Sekretaris itu mengangguk hormat.
"Ya, Tuan. Nyonya Erika dan Nona Jasmine telah tiba di vila yang disiapkan. Semua informasi yang diperlukan sudah diberikan. Besok, Nona Jasmine akan mulai bersekolah sesuai identitas barunya."
Philip tersenyum tipis, kali ini senyuman penuh kepuasan dan ambisi. "Bagus. Tidak ada seorang pun yang mencurigai bahwa mereka telah kembali, bukan?"
"Tidak, Tuan. Kami berhasil menyembunyikan semuanya, bahkan dari Nyonya Serena."
Philip mengangguk pelan, matanya menyipit seakan melihat jauh ke depan. "Sangat baik. Sekarang, setelah Jasmine kembali... dia akan menjadi pion berharga. Inilah langkah awal untuk membuka jalan keluarga Seymour menuju tempat yang lebih tinggi."
🥀🥀🥀
Di sisi lain, jauh dari gemerlap pesta penuh cahaya dan tawa, sebuah mobil hitam melaju perlahan memasuki daerah pinggiran kota. Jalanan semakin sepi, lampu jalan hanya sesekali berpendar redup, menciptakan bayangan panjang yang menyerupai cakar kegelapan.
Jean duduk di balik kemudi dengan tenang, meski tangannya menggenggam setir lebih erat dari biasanya. Di kursi penumpang, Alma bersandar santai dengan mata terpejam, seolah-olah sedang menikmati perjalanan malam yang sunyi.
"Bagaimana keadaannya?" suara Alma akhirnya terdengar, memecah hening yang sejak tadi menggantung.
"Gadis bernama Aurel itu masih terguncang hebat," jawab Jean dengan nada hati-hati.
Alma tersenyum samar tanpa membuka matanya. "Aku sudah menduganya. Tidak mudah baginya... apalagi dengan kondisi mental yang rapuh seperti itu."
Jean melirik Alma melalui kaca spion. Ada kegelisahan yang tertahan di wajahnya. "Ya... lalu apa yang akan nona lakukan padanya?"
Kelopak mata Alma perlahan terbuka. Di balik sorotnya, tak ada lagi kilauan murni seorang gadis biasa. Matanya memantulkan dinginnya obsidian, menusuk siapa pun yang berani menatap terlalu lama.
"Latih dia. Aku ingin dia tahu, di dunia ini menjadi baik dan lemah tidak akan memberinya apa-apa."
Jean terdiam, menimbang kata-kata itu. Ia akhirnya memberanikan diri berkata, "Nona, hari ini Anda terlalu gegabah."
Yang ia maksud tentu saja perbuatan Alma siang tadi. Menghasut Aurel untuk menyerang di taman sekolah, peristiwa yang mengguncang semua orang.
Namun Alma hanya terkekeh pelan, tawa yang entah mengandung ejekan atau sekadar kepuasan pribadi. "Bukan gegabah, Jean. Aku hanya bosan bersembunyi di balik kegelapan. Sesekali muncul ke permukaan permainan... bukankah jauh lebih menyenangkan?"
Jean tidak menjawab. Mobil pun berhenti di depan gerbang besi tinggi yang mengarah ke sebuah villa.
Alma melangkah keluar dengan senyum tipis. Sebelum menutup pintu, ia sempat menoleh ke arah Jean. "Oh, Jean. Aku rasa kau perlu mengadakan reuni dengan mantan timmu. Dari sorot mata mereka, aku bisa melihat mereka merindukanmu... terutama mantan kaptenmu."
Jean hanya menunduk, membiarkan kalimat itu menggantung.
Alma berjalan perlahan melewati gerbang, langkahnya ringan namun membawa hawa dingin yang merambat hingga ke tanah. Begitu masuk ke dalam villa, ia langsung menuju ruangan khusus yang dulunya adalah ruang tamu. Kini, ruangan itu telah berubah menjadi galeri aneh. Lemari transparan menjulang tinggi memenuhi dinding, dengan dua manekin di dalamnya. Namun, siapa pun yang jeli akan segera tahu. Itu bukan sekadar manekin. Itu adalah tubuh manusia asli yang diawetkan, berdiri kaku bagai pajangan menyeramkan.
Di tengah ruangan, seorang gadis dengan seragam sekolah Athena terikat di kursi kayu. Rambutnya kusut, wajahnya penuh air mata, dan mulutnya tertutup rapat oleh lakban. Gadis itu adalah Violet.
Matanya membelalak, penuh ketakutan. Ia dipaksa menatap lurus ke arah kedua 'manekin' itu, seolah-olah mayat-mayat tersebut sedang mengawasinya, menertawakan nasibnya.
Ketika Alma masuk, pandangan Violet semakin panik. Ia mengenali sosok itu. Ingin sekali ia berteriak, tetapi lakban menahan suaranya.
"Violet..." ucap Alma dengan nada lembut yang justru membuat bulu kuduk berdiri. "Lama kita tidak bertemu." Senyumnya terlalu manis, terlalu hangat, sehingga justru terasa mengerikan.
Ia melangkah mendekat, berjongkok di depan Violet sambil menatap wajahnya dari bawah. "Bagaimana rasanya dilindungi oleh para polisi? Menyenangkan, bukan? Aku juga ingin, sebenarnya... dilindungi seperti itu. Sayangnya... mereka tidak bisa melindungimu selamanya."
Alma meraih dagu Violet dan memaksanya menatap lurus ke arah matanya. Violet bergetar hebat, air matanya mengalir tanpa henti.
Dari saku mantel hitamnya, Alma mengeluarkan sebuah belati kecil. Bilahnya tipis, berkilau dingin terkena pantulan lampu redup. Ia memutar-mutarnya di tangannya, lalu perlahan menempelkan ujungnya ke pipi Violet.
"Shhh..." bisiknya. "Jangan takut. Aku tidak akan langsung membunuhmu." Bilah itu menggores tipis kulit pipi Violet, meninggalkan garis merah kecil. Gadis itu meringis, matanya semakin membesar.
Alma tersenyum lebar. Ia menggerakkan belati ke lengan Violet, menyayat tipis di sepanjang kulit. Darah segar mengalir, menetes ke lantai. Violet mencoba meronta, kursi berderit, tetapi ikatan tali terlalu kuat.
"Aku suka ekspresi itu..." ucap Alma dengan nada riang, seolah sedang mengomentari lukisan. "Ketakutan yang murni. Air mata yang tidak dibuat-buat. Kau cantik sekali, Violet, ketika sedang ketakutan."
Ia menoleh sebentar ke arah manekin di dalam lemari, lalu kembali menatap Violet. "Kau tahu siapa mereka? Mereka... Boneka-boneka kecilku. Mereka tidak pernah meninggalkanku, selalu menatapku dengan setia."
Alma mengangkat dagunya, mendekatkan bibir ke telinga Violet. Suaranya menjadi bisikan dingin yang menusuk jantung. "Sekarang aku ingin bertanya padamu... apakah kau ingin menjadi boneka cantikku berikutnya? Atau... kau ingin menyusul Luci?"
Nama itu membuat Violet semakin gemetar. Apakah yang terjadi pada Luci adalah ulah Alma? Desas-desus gelap tentang apa yang menimpanya kini terjawab di depan mata.
Alma menunggu. Belati kembali menari di kulit Violet, kali ini menusuk pelan di bahunya, cukup dalam untuk membuat darah mengucur deras. Violet menahan jeritan, tubuhnya menggeliat tak berdaya.
"Pilihlah..." Alma menekankan pisau lebih dalam, lalu mendongakkan wajah Violet agar pandangan mereka bertemu. "Boneka... atau mati."
Air mata Violet jatuh tanpa henti. Ia mencoba menggeleng, mencoba berteriak meski lakban menghalangi.
Alma tertawa pelan, tawanya bergema aneh di ruangan yang sunyi. "Kau tidak bisa kabur dari permainan ini, Violet. Kau hanya bisa memilih bagaimana akhirnya."
Ia lalu berdiri, memutar belati di tangannya sambil berjalan mengitari kursi, seperti predator yang mengelilingi mangsanya. Setiap langkahnya di lantai marmer menimbulkan gema menegangkan.
"Lihatlah mereka," Alma menunjuk manekin di dalam lemari dengan ujung pisaunya. "Mereka juga tadinya menangis sepertimu. Tapi akhirnya... mereka jadi sangat cantik."
Violet menutup mata erat-erat, tubuhnya gemetar seperti daun diterpa badai. Alma mendekat lagi, menempelkan bibirnya di pipi gadis itu, lalu berbisik dengan nada manis yang mencekam.
"Boneka... atau mati. Kau hanya punya dua pilihan."
atau alma dengan kesadaran penuh yang bunuh orang2 sebelumnya?