NovelToon NovelToon
Takdir Kaisar Bintang

Takdir Kaisar Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Benua Langit Azure, kekuatan bela diri dan kedalaman Qi menentukan segalanya. Ye Chen, seorang jenius dari keluarga cabang klan Ye, dikhianati dan "Akar Roh" miliknya dicuri oleh saudara sepupunya sendiri demi ambisi klan utama. Menjadi cacat dan dibuang ke pinggiran desa, nasibnya berubah ketika sebuah meteorit hitam jatuh di dekatnya. Meteorit tersebut menyimpan warisan dari "Kaisar Kekosongan" dari era kuno, memberikannya seni kultivasi terlarang yang tidak membutuhkan Akar Roh, melainkan menyerap energi bintang. Ye Chen kini harus merangkak dari bawah, bersembunyi dari musuh-musuh kuat, dan menapaki jalan kultivasi untuk membalas dendam serta mencari kebenaran di balik hancurnya para Dewa Kuno

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Tendangan Keluar Pintu

​Jeritan melengking Han Lie memecah kesunyian di Aula Utama. Wajah pemuda arogan yang sebelumnya setinggi langit itu kini berkerut jelek menahan rasa sakit yang menusuk tulang.

​"T-Tanganku! Kau menghancurkan tulangku?!" Han Lie mundur terhuyung-huyung, memegangi lengannya yang terkulai lemas. Matanya memerah menatap Lin Chen dengan tatapan membunuh yang gila.

​Sebagai Utusan Kuil Alkemis Suci, ke mana pun ia pergi di Benua Langit Azure, para Pemimpin Sekte selalu berlutut menjilat sepatunya. Tapi hari ini, di sekte pelosok yang udik, seorang pelayan fana tanpa Qi berani mematahkan tangannya!

​"BERANINYA KAU! KAU MENCARI MATI!" raung Han Lie.

​Dengan tangan kirinya yang masih utuh, ia menepuk cincin penyimpanannya. Sebuah jarum merah menyala yang memancarkan hawa panas mengerikan melesat keluar.

​"Itu Jarum Api Neraka! Senjata rahasia tingkat Inti Emas Puncak!" jerit Pemimpin Sekte Liu Zhen yang langsung bersembunyi di balik pilar aula saking takutnya. "Lin Chen, lari! Benda itu bisa melelehkan tulang Inti Emas menjadi genangan air!"

​Jarum sekecil lidi itu melesat membelah udara dengan kecepatan luar biasa, membidik tepat di antara kedua alis Lin Chen.

​Namun, di mata Lin Chen, jarum itu melesat selambat kura-kura yang kelelahan.

​Bukannya menghindar, Lin Chen hanya mengangkat dua jarinya. Di ujung jarinya, seutas kilatan petir ungu sebesar benang jahit berderak pelan. Itu adalah sebagian sangat kecil dari energi Inti Bintang Petir miliknya.

​Ting!

​Dua jari Lin Chen menjepit Jarum Api Neraka itu dengan sangat presisi.

​Api neraka yang membara di jarum itu mencoba membakar jari Lin Chen, tapi begitu bersentuhan dengan petir ungu miliknya, api itu langsung padam seketika seolah disiram air es.

​"Senjata yang lumayan bagus," gumam Lin Chen datar. "Tapi sayangnya, jarum jahit lebih cocok dipakai oleh penjahit, bukan anjing yang suka menggonggong."

​KRAK!

​Lin Chen mematahkan jarum pusaka tingkat tinggi itu menjadi dua bagian seolah sedang mematahkan lidi kering, lalu membuangnya ke lantai.

​"A-Apa?!" Han Lie memuntahkan seteguk darah. Jarum itu terhubung dengan jiwanya, dan hancurnya senjata itu membuat organ dalamnya terluka parah.

​Teror absolut akhirnya menyelimuti hati pemuda sombong itu. Ia bukan orang bodoh. Seseorang yang tidak memancarkan Qi tapi bisa mematahkan pusaka Inti Emas Puncak dengan dua jari... ini jelas bukan pelayan fana! Ini adalah monster tua yang menyamar!

​"K-Kau... siapa kau sebenarnya?!" Han Lie gemetar, melangkah mundur menuju pintu keluar.

​"Aku? Aku hanya asisten pribadi Tetua Su," jawab Lin Chen santai. Ia melangkah maju satu kali, dan dalam sekejap sudah berada tepat di depan wajah Han Lie.

​Sebelum Han Lie sempat berkedip, kaki Lin Chen sudah melayang dan mendarat telak di dada pemuda itu.

​BAAAM!

​Suara benturan tulang terdengar keras. Tubuh Han Lie terpental seperti bola meriam, menabrak pintu utama aula hingga hancur berkeping-keping, dan terus terbang keluar hingga jatuh berguling-guling di pelataran batu sejauh puluhan meter!

​Han Lie memuntahkan darah berkali-kali. Pakaian putih keemasannya kini robek dan kotor oleh debu.

​Lin Chen berjalan pelan keluar dari aula, menatap utusan yang sedang sekarat di tanah itu.

​"Pulanglah ke kuil sucimu itu," ucap Lin Chen dengan suara yang menggema memekakkan telinga Han Lie. "Beri tahu tuanmu, Su Yue akan datang ke Ibukota Benua Tengah untuk mengambil posisi pertama di Turnamen Seratus Api. Jika ada anjing lain yang berani menggonggong di depannya lagi, siapkan peti mati yang banyak."

​Han Lie tidak berani menjawab. Ia langsung memanggil sisa Qi di tubuhnya untuk mengaktifkan jimat pelarian spasial. Dalam sekejap, tubuhnya dibungkus cahaya putih dan menghilang dari tempat itu, lari terbirit-birit kembali ke Benua Tengah.

​Begitu Han Lie menghilang, suasana di aula terasa sangat berat.

​"Habislah... Habislah kita semua!" Pemimpin Sekte Liu Zhen jatuh merosot ke lantai, memegangi kepalanya dengan putus asa. "Kuil Alkemis Suci tidak akan melepaskan penghinaan ini! Mereka akan mengirim master Jiwa Baru Lahir untuk meratakan Sekte Pedang Awan menjadi tanah datar!"

​Melihat kepanikan Pemimpin Sekte, Su Yue melangkah maju dengan ekspresi tenang yang mengejutkan. Pemandangan Han Lie dipukuli Lin Chen barusan entah mengapa membuatnya merasa sangat puas dan lega.

​"Pemimpin Sekte, Anda tidak perlu khawatir," kata Su Yue tegas. "Mulai detik ini, saya mengundurkan diri dari Sekte Pedang Awan. Semua yang saya pelajari akan saya kembalikan dengan resep pil yang sudah saya tinggalkan di paviliun. Jika Menara Suci datang mencari masalah, katakan pada mereka bahwa saya sudah keluar dan bertindak atas nama saya sendiri."

​Liu Zhen mengangkat kepalanya, menatap gadis muda itu dengan tatapan rumit. Ia tahu, kolam kecil sektenya memang sudah tidak bisa lagi menampung bakat naga seperti Su Yue.

​"Maafkan aku, Su Yue. Sebagai Pemimpin Sekte, aku terlalu lemah untuk melindungi muridku sendiri," desah Liu Zhen dengan rasa malu yang mendalam.

​"Anda sudah melakukan yang terbaik, Pemimpin Sekte," Su Yue menundukkan kepala untuk terakhir kalinya, lalu menoleh ke arah Lin Chen.

​Pemuda berpakaian pelayan itu tersenyum tipis, sorot matanya tajam seolah sudah melihat jalan panjang yang membentang di depan mereka.

​"Ayo berkemas, Kakak Senior," kata Lin Chen. "Dunia yang jauh lebih besar menanti kita."

​Malam itu juga, Lin Chen dan Su Yue meninggalkan Sekte Pedang Awan.

​Su Yue menggunakan Perahu Terbang Daun Hijau, sebuah pusaka transportasi tingkat menengah miliknya. Lin Chen tidak lagi memakai baju pelayan abu-abu, melainkan jubah hitam sederhana yang rapi, membuatnya terlihat misterius dan tajam layaknya pedang yang tersembunyi di dalam sarung.

​Mereka terbang ke arah utara, melintasi ribuan mil pegunungan, meninggalkan wilayah pinggiran dan menuju pusat peradaban Benua Langit Azure: Benua Tengah.

​Setelah tiga hari perjalanan tanpa henti, Perahu Terbang Daun Hijau perlahan menurunkan kecepatannya.

​Di depan mereka, langit biru tiba-tiba berubah menjadi gelap gulita layaknya malam hari, padahal saat itu masih siang. Awan-awan hitam bergulung sangat rendah, menutupi sebuah hutan raksasa yang membentang tanpa ujung.

​JDAAARRR! BZZZTTT!

​Ribuan kilat berwarna ungu, biru, dan hitam terus-menerus menyambar dari langit, menghantam pepohonan kuno di bawahnya tanpa henti. Udara di tempat itu dipenuhi bau ozon yang sangat menyengat dan tekanan penghancuran yang membuat napas sesak.

​"Kita sudah sampai," Su Yue menelan ludah, wajahnya sedikit pucat menatap lautan badai petir di depannya. "Ini adalah Hutan Kematian Seribu Petir. Batas alam pembatas antara wilayah luar dan Benua Tengah. Hanya kultivator Inti Emas Puncak yang berani melintasi langitnya, itupun dengan risiko tersambar petir ilahi."

​Di dalam kepala Lin Chen, suara tawa Guru Lin Tian menggelegar penuh kepuasan.

​"Hahahaha! Tempat yang sangat indah! Energi petir yang sangat murni dan kacau! Ini bukan sekadar hutan, Lin Chen. Ini adalah piring makan malammu!"

​Lin Chen tidak bisa menahan senyum lebarnya. Ia berdiri di geladak perahu, angin badai meniup rambut hitamnya. Ia bisa merasakan Inti Bintang Petir di pusarnya berdenyut liar, seolah kelaparan dan tak sabar ingin memangsa lautan badai di depan mereka.

​"Kakak Senior," kata Lin Chen santai. "Turunkan perahunya. Kita tidak akan terbang melintasi langit."

​"Apa? Tapi jalan darat dipenuhi Binatang Roh Elemen Petir yang sangat ganas!" Su Yue memprotes panik.

​"Percayalah padaku," Lin Chen menoleh, mata hitamnya memancarkan setitik kilatan petir ungu yang mempesona. "Di dalam hutan itu, tidak ada satupun petir atau binatang buas yang akan berani menyentuh sehelai rambutmu."

​Dengan ragu namun penuh kepatuhan yang sudah terbentuk, Su Yue menurunkan perahu terbangnya di tepian hutan.

​Begitu kaki Lin Chen menyentuh tanah yang hangus oleh petir, langit seolah merespons kehadirannya. Awan hitam di atasnya bergolak marah, seakan menantang penyusup yang berani masuk ke wilayah kekuasaannya.

​JDAAARRRR!

​Sebuah petir ungu raksasa setebal batang pohon melesat turun dari langit, menyambar langsung ke arah kepala Lin Chen dengan kecepatan cahaya!

​"LIN CHEN! AWAS!" jerit Su Yue histeris.

​Alih-alih menghindar, Lin Chen merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, mendongak menatap petir mematikan itu dengan senyum seringai yang sangat buas.

​"Datanglah padaku!" raungnya melawan suara guntur.

​BZZZZAAAP!

​Petir raksasa itu menghantam tubuh Lin Chen telak. Cahaya ungu yang menyilaukan menelan sosoknya sepenuhnya. Su Yue menutup mata sambil menangis, mengira temannya itu telah hangus menjadi abu.

​Namun, ketika cahaya itu meredup...

​Lin Chen masih berdiri tegak di tempatnya. Baju hitamnya tidak terbakar sedikit pun. Alih-alih terluka, tubuhnya kini memancarkan cahaya perak kosmis, dan busur-busur petir ungu liar itu terlihat sedang "dihisap" masuk ke dalam pusarnya, layaknya air laut yang tertelan oleh pusaran samudra.

​Lin Chen menghela napas panjang, menghembuskan uap yang bercampur percikan listrik. Wajahnya menampakkan kenikmatan yang luar biasa.

​"Satu petir..." gumam Lin Chen, melirik Su Yue yang rahangnya hampir lepas jatuh ke tanah. "Masih ada sembilan ratus sembilan puluh sembilan petir lagi yang harus kumakan hari ini. Ayo jalan, Kakak Senior."

1
nanonano
kapan gelutnya nih
Arinto Ario Triharyanto
joss gandozzz 💪
Gege
mantabb...💪👍
Gege
hancurkan lawan, sita harta rampasan, pergi...💪🤣
Gege
biar nambah kosakatanya "dan tak lupa cincin ruang penyimpanan segera diamankan" lumayan buat genapin 10k kata Thor...🤣
Arinto Ario Triharyanto
mantaappp... ga usah malu-malu, yg pamer sok kuat sok keras, tenggelam kan saja, ga pake lama 😎
Arinto Ario Triharyanto
Yoi joss gandozzz💪
Arinto Ario Triharyanto
joosss Thor 💪👍
Arinto Ario Triharyanto
bagus 👍👍👍
Arinto Ario Triharyanto
lanjut ya Thor, jangan berhenti di tengah jalan 😎
Arinto Ario Triharyanto
bagus bagus, sekalian biji nya di cabut 🤭
Arinto Ario Triharyanto
cabut aje, ambil lagi
Arinto Ario Triharyanto
bantai... kagak usah basa-basi
Gege
mantap Thor... gass teroos 10k kata tiap update
Nanik S
Keren sekali Tor👍👍👍
Nanik S
Bijih Api Surgawi
Nanik S
Akhirnya naik menjadi penunggu Api
Nanik S
Lin Chen.... menarik sekali dengan kekuatan Fisiknya
Nanik S
Shiiiiiip
Nanik S
Masuk Sekte pedang awan walau sebagai murid Luar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!