NovelToon NovelToon
Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Angin laut pagi itu berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja yang tumbuh liar di pinggir pantai Pulau Chenghai.

Namun, pemandangan yang selama ini menjadi pelipur lara bagi Lin Xin Yi tak mampu meredakan gumpalan berat yang menghimpit dadanya.

Di depan rumah kayu sederhana tempat ia tinggal bersama Nenek Lin sejak bayi, berdiri sebuah koper kecil berwarna biru pudar—satu-satunya barang berharga yang menampung seluruh pakaian dan kenangannya selama tujuh belas tahun hidup.

"Nenek, Xin Yi pergi dulu," bisiknya, suaranya serak saat berusaha menahan tangis. Tangannya yang kasar menyentuh foto neneknya di dalam dompetnya.

Ayahnya. Pria yang namanya bahkan jarang disebutkan Nenek selama dia hidup, kini terbaring lemah di ranjang sakitnya di Kota ibu kota yang jauh, megah, dan asing baginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

Setelah memberikan hadiah kepada Quan Yubin, Xin Yi menoleh ke arah ibu tirinya yang duduk di sofa utama.

"Ibu, untuk Ibu juga ada," ucapnya pelan.

Gadis itu berjalan mendekat, lalu meraih tangan halus Huo Feilin dengan lembut. Di telapak tangan wanita itu, ia meletakkan sebuah butiran mutiara yang unik.

Bentuknya tidak bulat sempurna layaknya mutiara pada umumnya, sedikit lonjong dan memiliki tekstur alami yang unik seperti hati kecil. Namun warnanya... memancarkan kilau merah muda yang sangat lembut dan hangat, seperti warna senja yang indah.

Huo Feilin menatap benda berharga itu di tangannya dengan napas tertahan.

Kemudian, suara lembut Xin Yi kembali terdengar,

"Mutiara yang bentuknya tidak sempurna seperti ini katanya sangat langka, mungkin hanya muncul seratus tahun sekali. Aku memberikannya untuk Ibu."

Wajah gadis itu tampak tulus saat menambahkan, "Aku tidak tahu apakah nanti bisa menemukannya lagi untuk Ibu di tahun-tahun mendatang, jadi aku ingin Ibu menyimpannya hari ini."

Tes...

Satu butir air mata jatuh membasahi pipi putih Huo Feilin.

Diikuti oleh butiran lainnya yang tak sanggup lagi ditahan. Wanita itu menutup mulutnya dengan tangan gemetar, menatap putri tirinya dengan mata yang berkaca-kaca penuh haru.

Ia tidak menangis karena nilai materi benda itu, melainkan karena menyadari betapa besarnya perhatian dan kasih sayang yang tersimpan di dalam hati gadis kecil itu.

Meskipun hanya anak tirinya, meskipun baru bersama sebentar, tapi Xin Yi benar-benar menyayanginya dengan tulus dan memberikan hal termahal dan terlangka yang ia miliki.

"Terima kasih, Yi Yi... Ibu sangat menyukainya," bisik Huo Feilin parau. Ia segera menarik tubuh kecil itu ke dalam pelukannya erat-erat, membiarkan rasa hangat dan cinta menyelimuti hati mereka berdua.

Di dalam pelukan hangat itu, Xin Yi menyadari sesuatu dengan sangat jelas.

Saat pertama kali ia melihat Huo Feilin, ia telah bersiap diri untuk menerima segala bentuk kebencian, cemoohan, atau perlakuan dingin.

Bagaimanapun juga, ia adalah anak yang lahir dari hubungan yang tidak diizinkan, anak yang mungkin dianggap sebagai "gangguan" dalam kehidupan keluarga. Sungguh sangat wajar jika seorang istri yang sah merasa tidak nyaman dengan kehadiran anak dari pasangan suaminya sebelumnya.

Namun kenyataannya... sama sekali tidak demikian.

Di mata Huo Feilin, Xin Yi tidak melihat sedikit pun rasa benci.

Yang ada hanyalah rasa kasihan, toleransi, dan penerimaan. Wanita itu mulai memperlakukannya setara dengan anak kandungnya sendiri, bahkan mungkin lebih perhatian karena tahu gadis ini pernah kehilangan banyak hal.

Penyadaran ini membuat hati Xin Yi terasa campur aduk. Ada rasa bersalah yang mendalam karena kehadirannya yang mungkin pernah menyakitkan hati wanita ini di masa lalu, namun di saat yang sama ada rasa syukur yang tak terhingga.

Syukurlah... Ibu tidak membenciku.

Kini, kehidupannya telah berubah total. Ayah, Ibu, dan Kakaknya mulai menerimanya sepenuhnya. Mereka mendukung, mereka mengayomi, dan mereka mencemaskan dirinya layaknya keluarga yang utuh.

Perasaan memiliki seorang ibu yang sesungguhnya, yang peduli dan menyayanginya tanpa syarat... itu adalah kebahagiaan terbesar yang pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Di dalam dekapan itu, air mata bahagia pun tanpa sadar menetes dari sudut mata Xin Yi, membasahi bahu baju Huo Feilin.

Hari ini, di hari ulang tahunnya yang ke-18, ia merasa telah mendapatkan hadiah termahal di dunia: Sebuah Keluarga.

Tiga bulan telah berlalu sejak momen hangat dan penuh kejutan di vila pantai itu.

Kini, Quan Yubin duduk bersandar di kepala ranjang di kamarnya yang luas dan tenang. Kesibukan sebagai pewaris keluarga membuatnya kembali disibukkan dengan berbagai urusan bisnis dan rapat, begitu pula dengan Xin Yuning dan teman-temannya yang lain.

Mereka jarang memiliki waktu luang untuk berkumpul lagi seperti dulu.

Namun, berita mengenai Xin Yi tetap selalu sampai ke telinganya lewat cerita Xin Yuning.

Ia mendengar bahwa gadis itu berhasil meraih nilai tertinggi saat ujian kelulusan, bahkan melampaui ekspektasi semua orang. Prestasi itu membuat seluruh keluarga Xin merasa sangat bangga dan gembira.

Terutama Xin Yuning, pemuda itu seolah tidak bisa menahan rasa bangganya. Ia terus memamerkan foto nilai dan sertifikat adiknya di grup obrolan mereka, bahkan sampai membuat teman-temannya yang lain merasa geli namun ikut senang melihatnya.

Quan Yubin mengangkat tangannya perlahan.

Di telap jarinya, ia memainkan sebuah benda kecil yang kini selalu ia simpan rapat-rapat di dalam kotak khusus, namun sering ia keluarkan untuk dilihat saat sendirian.

Itu adalah mutiara hitam pemberian Xin Yi.

Warnanya yang gelap pekat dan kilauannya yang misterius selalu berhasil membuat pikirannya melayang kembali ke masa lalu.

Sejak hari itu... sejak melihat gadis itu muncul dari air laut dengan rambut basah, sejak melihat ketulusan di matanya, dan sejak menerima hadiah berharga ini...

Ada sesuatu yang berubah di dalam hati pria itu.

Perasaan yang seharusnya tidak pernah muncul, perasaan yang seharusnya hanya sebatas rasa hormat dan kekaguman pada adik teman baiknya, kini perlahan tumbuh dan menjalar menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam dan rumit.

Ia tidak tahu harus menyebutnya apa. Namun setiap kali mengingat wajah gadis itu, dadanya terasa terisi oleh kehangatan yang sulit dijelaskan.

"Xin Yi..." gumamnya pelan, menatap mutiara itu dalam-dalam.

"Kau benar-benar membawa banyak perubahan dalam hidupku."

Di tempat lain, Xin Yi tampak sangat sibuk namun tenang.

Gadis itu sedang membersihkan debu di sekitar rumah, sesekali mengusap hidungnya yang terasa gatal karena debu. Setelah selesai, ia kembali berjalan ke halaman belakang dan melanjutkan kegiatannya: menanam dan merawat tanaman lobak bersama Bibi Ming.

Sungguh aktivitas yang sangat sederhana dan jauh dari kesan putri orang kaya.

Mengingat hari kelulusan dan perayaan penting semakin dekat, orang-orang di sekitarnya—terutama para pelayan dan keluarga—mulai memperlakukannya dengan sangat hati-hati. Mereka takut gadis itu merasa tertekan atau stres memikirkan masa depan.

Namun Xin Yi tetaplah Xin Yi. Ia tidak berubah. Ia tetap hidup dan beraktivitas sebagaimana biasanya, tenang dan penuh disiplin.

Sore harinya, saat mereka sedang beristirahat sejenak, kedatangan seorang tamu membuat suasana berubah sedikit canggung.

Xin Yi yang melihat sosok yang datang dari jauh langsung ingin mencari celah untuk kabur.

Tidak... jangan... kenapa dia datang lagi?!

Orang itu adalah Bai Liu.

Pria dengan wajah tampan dan senyum yang selalu terlihat lembut itu berjalan mendekat. Ia menatap Xin Yi dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Nona Xin, apa kabar?" sapanya pelan.

"Apakah kamu sudah siap? Hari ini kita harus melakukan pengukuran baju untuk acara nanti. Ayo ikut Kakak," ucapnya ramah sambil menunjuk kotak alat jahit yang dibawanya.

Xin Yi hanya bisa menghela napas pelan dan menunduk pasrah.

Kenapa harus dia yang menjadi penjahit dan perancang bajunya... pria ini terlalu lembut dan membuatku merasa canggung.

Saat Xin Yi sedang berdiri tegak membiarkan Bai Liu melakukan pengukuran pada bahu dan panjang lengannya, langkah kaki seseorang terdengar mendekat.

Xin Yuning baru saja turun dari lantai atas. Melihat tamu yang sedang sibuk bekerja itu, ia pun bertanya dengan santai namun penuh perhatian,

"Hei Bai Liu, berapa sebenarnya tinggi badan adikku sekarang? Sudah bertambah belum dari terakhir kali diukur?"

Tanpa ragu, Bai Liu menjawab dengan nada ringan dan pasti sambil mencatat angka di bukunya,

"169 sentimeter."

DEG!

Mata Xin Yi seketika membelalak lebar.

Ia menoleh cepat menatap pita pengukur di tangan Bai Liu, lalu menatap kakaknya dengan wajah yang bersinar.

169 cm?!

Untuk pertama kalinya, ia merasa sangat puas dengan apa yang dikatakan pria itu. Angka itu berarti ia sudah tumbuh cukup tinggi, tidak lagi terlihat seperti anak kecil yang mungil dan pendek.

Xin Yuning yang mendengar jawaban itu pun langsung menghela napas panjang lega, lalu tersenyum lebar.

"Syukurlah! Bagus, bagus!" serunya bangga.

"Berarti asupan gizi yang Kakak berikan selama ini tidak sia-sia. Ternyata kamu tumbuh subur dan cepat besar ya di rumah ini. Dulu kan kurus dan kecil banget, sekarang sudah setinggi ini."

Ia memang sangat memperhatikan pertumbuhan adiknya. Melihat Xin Yi semakin tinggi dan sehat membuatnya merasa bahagia luar biasa, seolah berhasil menyelesaikan misi penting.

Xin Yi menyentuh dagunya sendiri, tersenyum tipis penuh rasa percaya diri.

Akhirnya... saya juga memiliki tinggi badan yang layak dan normal.

Melihat interaksi hangat antara kedua saudara itu, tatapan Bai Liu menjadi sedikit menerawang.

Di hadapannya sekarang, Xin Yuning dan Xin Yi terlihat begitu akrab, saling menyayangi, dan memiliki ikatan yang sangat kuat layaknya dua keping magnet yang saling tarik menarik.

Namun ingatan Bai Liu langsung melayang kembali ke masa beberapa bulan yang lalu.

Ia masih sangat ingat jelas kejadian di toko sepatu itu.

Saat itu, suasana begitu tegang dan mencekam. Xin Yuning yang dingin dan sombong beradu argumen dengan Xin Yi yang keras kepala dan tidak mau kalah.

Mereka bertengkar hebat hanya karena masalah sepele soal sepatu, saling diam, dan suasana di antara mereka saat itu dipenuhi oleh tembok ketidakpercayaan dan jarak yang jauh.

Siapa yang akan menyangka...

Bahwa anak laki-laki yang dulu begitu menolak kehadiran adik tirinya, kini bisa berubah menjadi sosok yang begitu posesif, manja, dan sayang?

Dan siapa yang akan menyangka...

Bahwa gadis kecil yang dulu selalu waspada dan dingin, kini bisa tersenyum dan merasa nyaman di dekat kakaknya sendiri?

Perubahan itu terjadi begitu cepat dan begitu indah, membuat Bai Liu hanya bisa tersenyum kecil menyadarinya.

"Memang benar, tidak ada ikatan yang lebih kuat daripada hubungan keluarga," gumamnya pelan sambil melipat kembali pita ukurnya.

"Walaupun sempat terpisah dan bertengkar, pada akhirnya mereka akan tetap menjadi saudara yang paling dekat."

 

1
Asrid 😊
yes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!