Berawal dari pertemuan di sebuah pernikahan menjadi kisah cinta yang rumit. Kisah antara Devika Nala Arutala dengan Raditya Arya Wijaya. Bagi Arya, Nala bukan hanya masa kini namun juga masa lalu. Masa lalu yang tak mungkin bisa ia lupakan begitu saja.
Berawal dari pertemuan tanpa sengaja di sebuah pernikahan. Sekian lama kembali bertemu, Arya mengetahui sebuah rahasia tentang kisah mereka di masa lalu, membuat tekadnya yang padam menjadi membara.
Pertemuan mereka bukanlah hanya sebuah kebetulan, namun takdir. Bertemu kembali, mengulang kisah. Jika dahulu berakhir menyedihkan, maka kini haruslah indah. Air mata yang dulu tumpah haruslah berganti menjadi pelangi.
Waktu mungkin saja berjalan, namun hati selalu tahu tempat mereka pulang. Bunga yang layu mampu kembali mekar, sama seperti manusia. Ada saatnya kita layu untuk merenung dan mekar untuk bersinar. Cinta sejati tidak pernah benar-benar mati, ia hanya layu untuk mengajarkan kita cara merawatnya dengan lebih baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyelir 02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 - Umbra
Saat lelaki itu berlalu, Nala mencium aroma parfum oceanic yang tertinggal dari lelaki itu. Aroma segar lautan, begitu familiar. Seketika, sebuah bayangan masuk ke dalam kepala Nala. Terasa sakit, seolah ada yang memaksa untuk masuk.
“Apa itu?” gumam Nala saat melihat bayangan itu.
Pak Santo yang berdiri tak jauh dari Nala, melihat nona mudanya tampak kesakitan segera menghampirinya.
“Non, nona baik-baik saja?”
Merasa lebih baik. Nala menggelengkan kepalanya. “Tak apa, pak. Mari kita masuk. Kita sarapan disimi hari ini. Nala yang traktir!”
“Tapi, non—“
“Tenang pak, sudah tak terasa sakit. Tadi hanya sedikit pusing, tapi sekarang pusing itu tiba-tiba hilang begitu saja!”
“Sudahlah, ayo masuk!” Nala menarik Pak Santo agar segera mengikutinya.
...****************...
Arya POV
Semarang, kota penuh akan kenangan. Kota tempat ia mengenyam pendidikan sekaligus tempat ia mengenal cinta. Tempat pertama kali ia bertemu dengan gadis yang begitu cantik dan pemberani. Berawal penasaran, menjadi cinta. Pengalaman masa muda yang tak mungkin bisa ia ulang. Hanya kenangan yang mampu ia simpan.
Teringat Kafe Lokananta, tempat pertama kali ia bertemu dengannya sekaligus tempat favorit keduanya. Semasa menjadi taruna, mereka selalu menyempatkan waktu ke kafe itu saat hari pesiar atau liburnya.
“Kevin, kek Lokananta!”
“Baik, tuan!”
Suasana Kafe dengan desain Jawa yang kental begitu memanjakan mata. Memasuki kafe, seketika ingatan masa lalu kembali terngiang. Tempat favoritnya, di samping jendela dekat taman kafe. Tempat yang selalu ia tempati di masa lalu. Berjalan ke arah meja itu, ingatan demi ingatan berputar layaknya sebuah kaset.
“Tuan, ingin sarapan disini atau di hotel?” Suara Kevin menyadarkannya. Duduk, kemudian melihat buku menu.
“Hotel, kita take away saja!”
“Tuan ingin memesan seperti biasa atau memesan menu yang lain?”/
“Sandwich tuna. Jangan lupa kopi dan salad buahnya.”
“Baik tuan!” Kevin pergi untuk memesan makanan yang diminta.
Melihat deretan bunga melati yang tumbuh, wangi kesukaan sang kekasih. Teringat itu, kenangan itu tak pernah berhenti. Berjalan perlahan ke arah bunga itu, menciumnya perlahan. Wangi yang selalu ia hirup saat bersamanya.
“Vika,” lirihku saat mengingat sosok Vika.
“Tuan, pesanan sudah siap. Kita kembali sekarang?”
“Kau duluan. Aku akan segera menyusul.”
“Baik tuan!”
Kembali dengan membawa dokumen yang sempat ia baca.
Bruk!
“Maaf, saya tak sengaja!” ujarnya sambil membantuku mengambil dokumen yang berserakan.
“Melati!” batinku
Dapat kulihat rasa bersalahnya yang begitu tinggi. Namun, aku tak mempedulikannya.
“Tidak masalah.” ujarku dingin, kemudian menunggalkannya yang terus saja menunduk itu. Namun, secara samar dapat ia cium aroma melati dari wanita itu. Tapi tak kupedulikan, ada rapat yang lebih penting yang harus dihadirinya.
Meskipun begitu, suara wanita itu tampak tak asing. Terdengar familiar, namun juga tampak berbeda.
“Kevin, cari tau wanita yang menabrakku tadi!”
“Wanita?”
“Ya, wanita yang menabrakku di Lokananta.”
“Baik tuan, akan segera cari tau wanita itu!”
“Siapa wanita itu? Sepertinya dia bukan wanita biasa karena berhasil menarik perhatian Tuan Arya,” batin Kevin yang ikut penasaran.
...****************...
Hari berjalan begitu cepat. Malam pun datang, mengharuskannya bermalam di Semarang. Esok hari adalah hari kepulangannya, sehari sebelum acara pernikahan sepupu kembarnya itu.
Rasa lelah begitu terasa. Beban pekerjaan yang terus saja datang, menjadi lelahnya. Soda dingin menjadi pelipurnya saat ini.
Tok...
Tok...
“Tuan, ini saya.”
“Masuklah!”
“Ini tuan, laporan yang anda minta.” Kevin menyerahkan laporan keuangan serta data mengenai partner bisnis barunya. Dirinya tak ingin kecolongan dan mengulang kejadian di masa lalu.
Teringat sesuatu, dirinya melihat ke arah Kevin.
“Data yang kuminta pagi tadi, mana?”
Deg...
Deg...
Jantung Kevin berdegup kencang. Dirinya telah memegang laporan yang di minta bosnya. Hanya saja, Kevin tak sanggup untuk memberikannya. Sungguh, ini akan menjadi bencana yang seharusnya belum terjadi. Namun, takdir seolah mendukung keduanya untuk kembali bertemu.
“Kevin!”
“Ya, tuan! Soal tadi pagi, i-ini la-laporannya, tuan.” Dengan tangan gemetar, Kevin memberikan dokumen itu kepada Arya.
Membaca laporan itu, matanya berhenti pada sebuah nama yang tak mungkin mampu ia lupakan. Devika Nala Arutala, nama yang indah sesuai dengan pemiliknya. Nama yang tak mungkin ia lupakan. Vika, nama panggilan ia sematkan untuk gadis itu.
“Jadi, tadi itu Vika?” gumamku tak percaya. Sekian lama tak bertemu, takdir membawa mereka bertemu secara tak sengaja.
“Pantas saja wangi dan suaranya tampak familiar,” gumamku mengingat momen pertemuan mereka tadi pagi. Sungguh tampak konyol baginya.
“Jelas-jelas kita saling berhadapan. Kenapa dia tampak seolah tak mengenalku. Kenapa?!” Rasa tak terima menguar begitu saja. Mereka saling berhadapan, namun tampak asing. Seolah, dia tak teringat padaku dan aku hanya orang asing yang baru ia temui.
“Tunggu, sejak kapan dia ada di Indonesia? Bukankah dia sedang di China?” tanyaku
Melihat kegugupan Kevin, kecurigaan mulai timbul. Kevin selalu melaporkan segalanya, tanpa ada yang terlewat. Namun, kali ini bagaimana bisa lolos dari pengawasan Kevin?
“Kevin, adakah yang kau sembunyikan dariku?” Amarahku mulai naik. Seharusnya Kevin mengetahui hal ini. Kevin seharusnya tau bahwa kabar soal Vika adalah hal yang utama. Lalu ini? Terlewat begitu saja.
“Tu-tuan. Sebenarnya i-ini,” Kevin menyodorkan sebuah map dan dapat ia yakini bahwa itu laporan yang sengaja Kevin sembunyikan darinya.
Ia rebut paksa map itu. Ia baca satu per satu lembaran kertas di dalamnya. Identitas yang selama ini ia cari, akhirnya ia temukan. Bahkan ia tak menyangka, selama ini ia begitu dengan kakak kandung wanita itu. Bahkan temannya akan menjadi saudara iparnya.
“Lelucon macam apa ini!” batinku berteriak tak terima
“Dia adiknya Dipta?” gumamku frustasi. Ku tutup mataku, menahan gejolak yang ada. Rasa lega, senang, sedih, kecewa bercampur menjadi satu. Tak tau harus bagaimana menanggapi kabar yang baru saja ia ketahui.
Jika berita ini benar, maka saat pertemuan keluarga waktu. Orang yang dibahas oleh keluarga, nama Nala yang dibahas adalah Vika-nya. Dirinya akan bertemu dengan Vika-nya. Rasa senangnya begitu membuncah. Dirinya tak sabar di hari pernikahan sepupu kembarnya. Jika awalnya dia ingin datang sebagai formalitas, maka kini ia memiliki tujuan yang jelas untuk datang. Vika. Hanya itu tujuannya saat ini.
“Kevin siapkan keberangkatan kita. Aku tak sabar bertemu dengan Vika-ku!”
“Tapi tuan, besok siang kita baru akan pulang!” Aku menatap tajam Kevin. Penolakan yang tak ingin ia dengar. Ia tak mungkin membuang kesempatan yang telah takdir berikan padanya dengan sia-sia. Dia harus menyiapkan segalanya sebelum bertemu dengan Vika-nya.
Teringat dengan penampilannya. Berlari ke kamar mandir, melihat ke arah cermin. Wajah kusamnya tampak tak sedap di pandang. Rambutnya yang mulai panjang dan kumis yang mulai tumbuh. Sungguh, ini bukan penampilan yang baik untuk pertemuan pertama mereka setelah sekian lama.
“Kita harus ke salon,”
“Iya tuan?”
“Kita harus ke salon. Memperbaiki penampilan harus segera ia lakukan. Aku tak mau Vika-ku lari ketakutan melihat penampilanku saat ini.”
“Tapi tuan, ini sudah larut malam. Tidak ada salon yang buka saat ini!” Penolakan Kevin kembali terdengar. Sungguh tak enak di dengar. Melihat ke arah jam tangannya, waktu menunjukkan pukul 11 malam. Membuat tersadar bahwa memang hari sudah akan tengah malam.
“Baiklah, siapkan masker wajah. Wajahku harus tampil paripurna sebelum bertemu dengan Vika-ku!”
“Baik tuan!”
“Oh iya, jangan lupa buat janji dengan salon. Aku harus tampil rapi sebelum pulang ke Jakarta.”
“Baik tuan!” Kevin segera melaksanakan segala perintah yang diberikan, tanpa ada bantahan.
“Vika, kita akan segera bertemu kembali. Saat kita bertemu, kau tak akan pernah lepas lagi dari genggamanku!” ujarku penuh tekad
Arya POV End