"Menikahlah dengan ku dan berikan aku keturunan. Aku akan memberikan semua yang kamu inginkan, termasuk kesejahteraan,"
Anjani tidak menyangka di usianya dua puluh tahun, harus menghadapi tawaran gila dari pria konyol yang dia bantu. Di sisi lain ia ingin memperbaiki hidup, sedangkan di sisi lain ia tidak ingin melakukan hal bodoh itu.
Namun melihat pengorbanannya Arya, keputusan besar akhirnya ia ambil untuk mereka berdua, bersiap menikah dan memberikan Arnold keturunan. Akankah mereka berdua berubah pikiran dan menjalin hubungan tanpa aliansi apapun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putrichou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERNIKAHAN YANG SEDERHANA
Arnold menatap penampilannya yang sudah sangat tampan dengan kemeja putih dan jas hitam. Kelvin mengangguk dan memberikan sepucuk bunga untuk hiasan di kantong jas Arnold.
"Mama dan Papa sudah kamu hubungin?"
Kelvin mengangguk kembali, "sebentar lagi mereka akan tiba dengan penghulu."
Arnold menghembuskan napas panjangnya, ia sungguh gugup untuk pertama kalinya. Memakai arloji mewah dan menyemprotkan parfum dengan merata.
"Sepertinya kamu sudah tidak sabar untuk menikahi Anjani ya?" tanya Kelvin bercanda. Arnold tersenyum tipis, ia menikahi Anjani murni dari hati dan tak menginginkan apapun. Ia hanya ingin membuktikan kepada sang Ibu, kalau dirinya mampu mencari gadis yang ia cintai.
"Apa menurut mu, perkenalkan ku dengan Anjani sangat singkat?"
"Tentu Saja," jawab Kelvin. Pria itu sudah pusing memikirkan bagaimana bisa Anjani bertemu dengan Arnold dan mengiyakan ajakan pria brengsek itu?
"Haha, aku sudah mengetahuinya." Arnold keluar saat mendengar suara deru mesin mobil terparkir di pondok penginapan.
"PUTRAKU!" pekik Jasmine dengan girang, keluar dari mobil dengan pakaian yang sungguh cantik. Arnold tersenyum memeluk sang Ibu dan melirik sinis ke arah Fero.
"Sayang, kamu lihat! Putra ku sangat tampan," puji Jasmine terus-menerus membuat Fero mendengus kesal.
Kelvin memeluk Berta dan berdiri di sebelah sang Ayah setelah itu. Kedatangan Fero yang membawa banyak bodyguard dan mobil lebih dari lima unit, mengundang tatapan bingung para warga yang hendak melanjutkan aktivitas pagi mereka.
"Ma, apakah Mama sudah membawa mempersiapkan semuanya?" tanya Arnold menatap para bodyguard berkemeja rapi yang tengah membawa seserahan yang tak main-main.
"Tentu saja, Sayang."
"Tuan," panggil Kelvin membuat mereka semua menoleh. "Pendamping mempelai wanita sudah menunggu dengan Pak Kades,"
Arnold beserta yang lain masuk ke mobil menuju rumah dari Anjani. Arnold menghela napas kembali mengundang tatapan mata dari Kelvin.
"Tenanglah, kamu tidak akan di tinggal pergi kali ini."
"Sialan kamu, Kel!" Kelvin terkekeh geli.
Sedangkan di sisi lain, Fika yang mendengar kabar tentang pernikahan Anjani dengan pria kota, mendadak di buat geram bukan kepalang. Gadis itu membelai rambut panjangnya dan melirik sang Ayah yang sudah terduduk manis di teras rumah Anjani.
Fika terkejut, rumah reog itu berubah menjadi rumah yang cukup sederhana dan jauh lebih nyaman. tidak ada tembok yang reog seperti sebelumnya.
"Anjani sialan! Pasti dia sudah kotor, makanya cepet-cepet nikah!" guman Fika dengan gelisah. Ia sangat yakin kalau gadis yang kerap di juluki kembang desa itu telah kotor dan berbuat maksiat di desa bersama pria itu.
"Bapak!" panggil Fika mencolek lengan Ayahnya, "apa jangan-jangan Anjani sudah kotor ya?"
Pak Kades mendelik dan mencubit lengan Putrinya. "Jangan omong sembarangan, Anjani tidak seperti itu!" bela Pak Kades membuat Fika semakin tidak menyukai Anjani.
Pak Kades kerap membandingkan Fika dengan Anjani, walaupun tidak sering. Ia menganggap Anjani jauh lebih pandai dalam hal apapun termasuk memasak dan rajin bekerja, hal itu membuat Fika cemburu dan membenci Anjani.
"Pak, mana mungkin Anjani yang berhenti sekolah beberapa hari yang lalu tiba-tiba saja menikah, apa namanya kalau bukan kotor!" kata Fika kembali dengan sedikit keras. Pak Kades semakin di buat kesal dengan Putrinya.
Beberapa warga desa yang ikut hadir, saling berpandangan. Mereka tentu saja mendengar ucapan Fika yang cukup keras itu. Arya yang sejak tadi terduduk santai tak jauh dari Pak Kades hanya diam.
Ia tidak banyak berkomentar, semakin membuat kecurigaan warga desa membesar. Pak Harto yang ikut hadir sebagai tetangga, di buat menggelengkan kepalanya.
"Duh, Fika. Kok ya kamu ini menggiring opini yang enggak jelas, orang saya saksi matanya." sahut Pak Harto membuat Fika menoleh kesal.
"Pak Harto emangnya tau apa? Bapak mending diem aja deh, orang tua kok ikutan ngomong! "
"Fika!"
Fika langsung membungkam mulutnya. Ia kesal, sangat kesal karena tak ada yang membelanya, dan malah mendapatkan teguran serta sahutan yang membuatnya kesal.
...****************...
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"SAH"
Penghulu membacakan doa dengan diikuti oleh para warga yang hadir. Arnold, pria itu tak henti-hentinya menatap gadis desa yang sangat sederhana, dengan pakaian putih dan rambut di sanggul rapi. Anjani sangat cantik bahkan jauh lebih cantik.
Fero yang melihat Putranya tak henti melirik gadis yang sudah menjadi istrinya itu, dibuat tersenyum. Selain senang karena tidak akan ada yang merebut Jasmine, ia juga sangat senang karena Putranya sudah sah menjadi suami gadis itu.
Setelah semuanya selesai, para warga menyalimi Fero dan yang lainnya sebagai turut bersuka cita atas pernikahan Anjani. Arya yang merasa di lirik, akhirnya menoleh ke arah Fero.
"Tuan,"
Fero terkesiap dan tersenyum tipis. "Lama tidak bertemu dengan kamu, Arya." Arya mengangguk dan tetap membungkuk.
"Saya sangat senang karena bertemu dengan Anda lagi," Fero mengangguk dan menepuk pundak Arya dengan senang hati.
"Aku dengar kamu sempat di rawat, semuanya baik-baik saja?" tanya Fero dengan raut wajah khawatirnya. Arya mengangguk dan melirik Jasmine yang tercengang sejak tadi.
"Nyonya Jasmine,"
"Omo, apa benar ini kamu Arya?" Jasmine menatap tubuh kekar yang di balut oleh putih rapi. Jasmine mengenal Arya sejak dulu, makanya ia terkejut melihat Arya.
"Benar, Nyonya!"
"FIKA!"
Para warga di buat terkejut dengan teriakan dari Pak Kades, Arya mendekat dan membulatkan katanya. Ia melihat Anjani menangis sembari memegangi lengannya yang sudah memerah sembari merintih kesakitan. Tangan pria itu mengepal kuat, ia yakin kalau Fika berbuat ulah lagi.
"Pak, Anjani ini sudah kotor! Harusnya kalian malu karena gadis yang kalian sanjung ini sudah hamil!"
DEG ....
Rasa marah membara di hati Arnold, rahang pria itu mengeras karena emosinya. Anjani menahan Arnold, ia tidak ingin Fika di sakiti oleh Arnold ataupun siapapun.
"Arnold, jangan." bisik Anjani menyadarkan Arnold. Pria itu membawa istrinya masuk ke dalam mobilnya, ia ingin memastikan Anjani baik-baik saja.
"Sebaiknya kamu pulang, Fika! Jangan membuat keributan, jangan buat Bapak malu!" tegas Pak Kades membuat Fika menatap Ayahnya tak percaya.
"Pak, kok malah bela anak yatim piatu sih! Aku ini ...."
PLAK ....
Arya tersenyum miring, Fika baru saja di tampar oleh Ayahnya sendiri. Ia tidak perlu turun tangan hanya untuk mengotori tangannya sendiri.
"PULANG!"
Fika memegangi pipinya yang terasa panas, dengan hati yang sakit, gadis itu berlari pulang dengan menangis. Pak Kades menghela napas panjang dan menatap Arya tidak enak hati.
"Maaf Arya, Fika sudah sangat lancang."
Arya mencoba untuk tersenyum, "tidak apa-apa, Pak." Arya mengeluarkan sesuatu dari saku celakanya. " saya ingin mengembalikan ini beserta bunganya. terima kasih karena sudah menolong saya dan Anjani."
Pak Kades terdiam, menatap amplop coklat yang sedikit menggembung itu. "Arya, saya membantu kalian dengan sangat tulus."
Arya tersenyum dan menarik tangan Pak Kades untuk menerima amplop itu, "saya juga sangat tulus mengembalikannya uang ini, Pak. Terima lah, Pak."
"Sekali lagi saya meminta maaf karena keributan yang di buat oleh Anak saya, Arya."
Kemarahan Arya belum mereda sepenuhnya. "Pak, apakah Bapak tau kalau Fika yang sudah membully Anjani semasa sekolah?"
"Apa?" Pak Kades terkejut bukan main. Arya mengangguk dan tidak berniat untuk menjelekkan Fika, tapi ia harus memberitahu semuanya.
"Benar, Fika sudah membully Adik saya. Fika memotong paksa rambut Anjani, dan membully yang bisa menganggu mental Adik saya." jelas Arya dengan wajah datar.
Pak Kades menelan ludahnya dengan berat. Ia sama sekali tidak mengetahui tentang hal itu, bisikan para warga begitu terdengar di telinganya.
"Berarti yang buat Anjani jatuh ke lumpur itu Fika?"
"Atau jangan-jangan, yang nuduh Anjani mencuri itu Fika juga?"