Dalam satu perjalanan malam,
Nara dan Arka dipaksa menghadapi kembali masa lalu yang belum selesai.
Dan kali ini… tidak ada lagi tempat untuk lari.
Karena di antara dua perhentian,
beberapa perasaan tidak pernah benar-benar hilang
hanya menunggu waktu untuk kembali menyakitkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita.mamitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal yang Tidak Bisa Diperbaiki dengan Maaf
Ada satu titik dalam hubungan…
di mana kata “maaf” tidak lagi punya arti.
Bukan karena tidak tulus.
Tapi karena… sudah terlalu banyak yang terluka.
Setelah malam hujan itu, semuanya berubah.
Tidak perlahan.
Tidak halus.
Tapi langsung terasa… kosong.
Nara tidak menghubungi Arka.
Bukan karena dia ingin bermain ego.
Tapi karena… untuk pertama kalinya, dia benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi.
Dan Arka
mencoba.
“Nar, kita bisa ngobrol?”
Pesan itu masuk pagi hari.
Nara melihatnya.
Lama.
Tapi tidak dibalas.
“Gue bisa jelasin semuanya.”
Masuk lagi.
Beberapa jam kemudian.
“Please.”
Satu kata terakhir.
Yang biasanya cukup untuk membuat Nara luluh.
Tapi tidak kali ini.
Karena sekarang…
yang dia butuhkan bukan penjelasan.
Tapi kejujuran yang datang tepat waktu.
Dan itu… sudah lewat.
Tiga hari.
Tanpa pertemuan.
Tanpa suara.
Tanpa mereka.
Sampai akhirnya
Arka datang.
Nara sedang duduk di sudut kafe ketika pintu terbuka.
Dia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang.
Karena perasaan itu… masih ada.
Dan justru itu yang membuat semuanya semakin sulit.
“Kita perlu ngobrol.”
Suara Arka.
Lebih pelan dari biasanya.
Lebih berat.
Nara tetap menatap cangkir di depannya.
“Kita udah sering ngobrol, Ka.”
Jawabannya tenang.
Tapi dingin.
“Bukan kayak gini.”
Arka duduk di depannya.
Tanpa izin.
Seperti dulu.
“Gue mau jelasin.”
Nara tersenyum kecil.
“Sekarang?”
Satu kata.
Tapi penuh arti.
Arka terdiam sejenak.
Lalu mengangguk.
“Iya. Sekarang.”
Nara akhirnya menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama…
tidak ada hangat di matanya.
“Kenapa nggak dari dulu?”
Langsung.
Tanpa putaran.
Arka menelan.
“Gue takut lo salah paham.”
Jawaban itu
lagi.
Nara tertawa kecil.
Pelan.
Tapi menyakitkan.
“Lucu ya.”
“Apaan?”
“Lo nggak cerita… biar gue nggak salah paham.”
Satu jeda.
“Tapi yang kejadian?”
Arka diam.
“Gue justru paham semuanya… tanpa lo jelasin.”
Kalimat itu jatuh pelan.
Tapi menghancurkan.
“Dia bukan siapa-siapa, Nar.”
Akhirnya Arka mengatakannya.
Cepat.
Seolah itu bisa memperbaiki segalanya.
“Terus gue apa?”
Tanpa ragu.
Arka terdiam.
Dan itu… lebih menyakitkan dari jawaban apa pun.
“Lo tau nggak,” suara Nara mulai bergetar,
“yang bikin gue hancur itu bukan dia.”
Matanya berkaca.
“Tapi lo.”
Arka menunduk.
Tangannya mengepal.
“Gue nggak pernah niat nyakitin lo.”
Nara mengangguk pelan.
“Iya.”
Air matanya jatuh.
Akhirnya.
“Tapi lo tetep lakuin.”
Hening.
Tidak ada suara lain selain napas yang mulai berat.
“Gue nunggu lo jujur, Ka.”
Setiap katanya terasa.
“Satu kali aja.”
Arka mengangkat wajahnya.
Matanya merah.
“Gue mau jujur sekarang.”
“Sekarang udah nggak ada gunanya.”
Langsung.
Memotong.
Dan itu
adalah titik di mana semuanya berubah.
“Kenapa lo nyerah gitu aja sih?” suara Arka naik.
Untuk pertama kalinya.
“Gue di sini, gue berusaha”
“TERLAMBAT.”
Nara memotong.
Lebih keras dari sebelumnya.
Beberapa orang di kafe mulai menoleh.
Tapi Nara tidak peduli.
“Lo selalu bilang ‘gue di sini’—”
Napasnya terputus.
“Tapi waktu gue butuh… lo ke mana?”
Arka tidak menjawab.
Karena dia tahu jawabannya.
“Lo ngajarin gue buat percaya sama lo.”
Air mata terus jatuh.
“Terus lo sendiri yang hancurin itu.”
“Gue bisa benerin,” kata Arka cepat.
Putus asa.
Nara menggeleng.
Pelan.
Tapi pasti.
“Nggak semua bisa dibenerin.”
Hening.
Dan kali ini… benar-benar terasa seperti akhir.
“Jadi ini selesai?” tanya Arka.
Suaranya lebih kecil sekarang.
Hampir tidak terdengar.
Nara terdiam.
Beberapa detik.
Yang terasa seperti detik paling panjang dalam hidupnya.
“Gue nggak tau.”
Jawaban jujur.
“Tapi yang gue tau… gue nggak bisa pura-pura semuanya masih sama.”
Arka menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya…
dia terlihat benar-benar kehilangan.
“Gue masih sayang lo.”
Akhirnya keluar.
Kalimat yang dulu selalu punya arti.
Nara tersenyum kecil.
Air matanya belum berhenti.
“Iya.”
Pelan.
“Gue juga.”
Dan justru itu yang membuat semuanya lebih menyakitkan.
“Terus kenapa?” tanya Arka.
Hampir memohon.
Nara menatapnya dalam.
“Karena sayang aja… nggak cukup.”
Kalimat itu jatuh.
Dan tidak ada yang tersisa setelahnya.
Nara berdiri.
Mengambil tasnya.
Tangannya sedikit gemetar.
“Jangan cari gue dulu.”
Satu kalimat terakhir.
Arka tidak menahan.
Tidak bergerak.
Karena dia tahu
kalau dia mencoba…
dia hanya akan membuat semuanya lebih buruk.
Kereta kembali ke malam sekarang.
Nara duduk diam.
Matanya kosong.
Di sampingnya, Arka menatap lurus ke depan.
Tidak berani melihatnya.
“Kalimat itu…”
Suara Arka pelan.
“Masih gue inget.”
Nara tersenyum tipis.
Tanpa melihatnya.
“Iya.”
“‘Sayang aja nggak cukup.’”
Hening.
Dan di antara mereka…
kalimat itu masih hidup.
Masih sama menyakitkannya.
Kereta terus melaju.
Dan mereka tahu
setelah titik itu…
tidak ada yang akan pernah benar-benar sama lagi.