Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata
.
.
.
SERIES KE TIGA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Pondok pesantren Ustadz Furqon di Kediri, Jawa Timur, menjadi lembaran baru hidupku. Aku meninggalkan rumah dan Bapakku untuk mengemban tugas dari Sang Ustadz sebagai pembina asrama putri di sana.
Waktu akan menjadi saksi bisu segala perjalananku selanjutnya...
DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 SEBUAH PERINGATAN SEBELUM DIA DATANG
Hari demi hari pun berlalu...
Tak terasa, segala persiapan pondok pesantren putri milik Ustadz Furqon ini semakin matang dan siap.
Mulai dari seluruh perlengkapan belajar para santriwati, dilengkapi dengan baik. Seluruh ruang kamar untuk para santriwati tidur pun dilengkapi dan dibuat senyaman mungkin. Sampai kepada seluruh kamar untuk para tenaga pengasuh pondok pun tak luput dari perhatian.
Segalanya dipersiapkan dengan matang dan sebaik mungkin. Ustadz Furqon melakukannya dibantu oleh beberapa pihak yang ikut berkontribusi dalam pembangunan pondok pesantrennya ini.
Termasuk aku dan Ayu, diberikan pembekalan-pembekalan dan juga persiapan mengenai apa saja yang akan dilakukan sebagai tenaga pengasuh pondok. Mulai dari administrasi pondok, surat menyurat, tata kelola dapur, jadwal kegiatan santriwati, semuanya kami berdua terima dan ikuti dengan sebaik mungkin.
Hingga tersisa kurang dari dua minggu menuju pembukaan secara resmi pondok pesantren putri ini...
.....
.....
.....
Ustadz Furqon mengundang berbagai pihak untuk datang ke pondok putri. Beliau memberikan sambutan, sekaligus menyampaikan rencana pembukaan resmi pondoknya ini akan seperti apa dan bagaimana. Ternyata, Ustadz Furqon tak melakukan pembukaan resmi dengan acara yang megah dan mewah. Beliau menginginkan acaranya hanya bersifat sederhana saja.
Acaranya adalah mengadakan tasyakuran dan doa bersama. Mengundang para warga desa terdekat, para ketua masyarakat seperti RT, RW, Lurah, dan pejabat desa setempat. Tak lupa juga Ustadz Furqon mengundang beberapa tokoh agama yang beliau kenal di daerah sini. Termasuk juga beberapa orang yang membantunya mulai dari awal pembangunan sampai segalanya siap seperti sekarang.
Dan Alhamdulillah...
Acara yang dimaksud pun berjalan dengan lancar, tanpa ada kendala apapun. Acara tasyakuran nya juga berlangsung dengan khidmat. Seluruh tamu undangan hadir. Mereka semua memberikan dukungan, ucapan selamat, dan juga doa-doa yang terbaik demi keberlangsungan pondok pesantren putri ini.
.....
.....
.....
Cerita akan aku lanjutkan saja ke hari berikutnya setelah acara tasyakuran tersebut dilaksanakan...
Karena, di hari berikutnya itu...
Tepat 2 hari sebelum kegiatan pondok putri dimulai...
Tepat 2 hari sebelum para calon santriwati datang...
Aku diberikan sebuah peringatan...
.....
.....
.....
🌙🌙🌙🌙🌙
🌳🌳🕌🌳🌳
Ku lihat jam di layar HP ku sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Aku dan Ayu baru selesai makan malam bersama di balkon atas. Ayu langsung membereskan piring dan mangkuk, sedangkan aku membereskan gelas. Kami berdua turun dari balkon untuk mencucinya bersama di dapur.
"Nis, kenapa aku deg-degan ya?" tanya Ayu.
"Deg-degan kenapa Yu?" tanyaku.
"Ya deg-degan karena sebentar lagi kan kita menyambut calon santri-santri itu di sini."
"Oooh... Itu... Aku kira kamu kenapa Yu."
Sambil merapikan piring, mangkuk, dan gelas ke dalam lemari peralatan makan, aku berkata kepada Ayu.
"Kamu gak usah deg-degan gitu. Nanti malah bingung sama tugas-tugasmu Yu. Di bawa santai aja sih..." kataku mencoba menenangkan hatinya.
"Kamu bisa ngomong gitu karena kamu udah pengalaman mengasuh anak-anak. Nah kalau aku kan belum sama sekali." jawab Ayu.
"Iya sih... Ya walaupun aku pernah mengasuh anak-anak, tapi kan pasti beda toh..."
"Beda gimana Nis? Kan sama aja..."
"Pasti beda Yu... Anak-anak di Bogor dekat rumahku, dengan anak-anak di sini ya jelas beda. Dari sisi latar belakang keluarga, karakter, budaya, dan juga lingkungan." jelasku.
"Oooh gitu..." jawabnya sambil mengangguk pelan.
"Lagian kan ada aku, kamu gak sendirian Yu."
"Hehehe... Iya sih... Tapi kan..."
"Tapi apa?" tanyaku sambil mulai berjalan meninggalkan dapur, hendak menuju kamar.
"Tapi kan namanya juga belum pengalaman. Wajar toh kalo aku deg-degan atau gugup gini Nis?" ucapnya sambil mengikuti dari belakang.
"Iya, wajar kok. Tapi kamu harus yakin, pasti kamu bisa. Lagian kan kita udah dikasih pembekalan sama Ustadz Furqon."
"Iya sih..."
"Ya udah, di bawa santai aja. Nanti seiring berjalannya waktu, kamu juga pasti terbiasa kok."
Langkah kami berhenti di depan kamar Ayu di lantai bawah ini.
"Udah, kamu sekarang istirahat aja Yu. Pasti capek banget kamu. Dari kemarin kamu paling banyak gerak ke sana-sini bantu acara tasyakuran." kataku.
"Iya deh... Kamu juga Nis, jangan sering-sering tidur larut malem."
"Iya Yu..."
Ayu pun akhirnya masuk ke dalam kamarnya, dan langsung ku dengar ia mengunci pintu dari dalam. Dan tampak langsung di matikan lampu kamarnya itu.
Aku juga ingin langsung menaiki tangga menuju kamarku. Tapi, baru saja akan menaiki anak tangga pertama, aku teringat dengan gerbang depan pondok.
"Eh, sebentar, gerbangnya udah dikunci belom ya?"
Malam ini memang aku yang memegang kunci gerbang itu. Bukan Ayu.
"Ah, aku cek dulu deh. Takutnya malah belom dikunci."
Aku pun tak jadi naik ke atas, aku berbalik arah menuju gerbang pondok untuk memastikan bahwa sudah dikunci.
Dan saat aku sudah ada di dekat gerbang, ternyata...
"Nah kaaan... Bener dugaanku, belom dikunci."
Langsung aku keluarkan kunci gerbang dari dalam saku baju gamisku, dan kupastikan bener-benar ku kunci rapat gerbangnya.
Ketika aku berbalik arah, tiba-tiba...
"Nisa..."
"ASTAGHFIRULLOH!!!" ucapku sambil spontan memegang dada.
Aku terkejut saat Sekar Mayang sudah muncul di belakangku...
"Aduuuhhh... Sekar Mayang!! Ngapain sih ngagetin begini?! Kurang kerjaan kamu!!"
Sekar Mayang tak menjawab. Justru dia hanya berdiri diam sambil menatapku tajam dengan ke dua matanya yang merah cerah itu.
"Kenapa?! Kamu gak suka aku bentak?! Lagian kamu tuh kalo mau hadir, ngomong dulu kek, atau kasih tanda apa gitu." ocehku sambil sedikit kesal padanya.
Tapi...
Sekar Mayang benar-benar diam saja sambil menatap mataku...
Aku jadi sedikit heran dengan gelagatnya itu...
Dan aku bisa merasakan ada sesuatu di balik tatapan tajam mata merah cerahnya itu...
Lalu tiba-tiba...
"Nisa..."
"ALLOHU AKBAR!!!" aku terkejut untuk kedua kalinya, saat Dayang Putri secara tiba-tiba menyentuh pundakku dari belakang.
"Yaaa Alloooh... Kalian tuh ngapain sih?! Yang satu ngagetin dari belakang pas aku kunci gerbang, sekarang satu lagi ngagetin dari belakang juga!!" semakin mengoceh aku pada dua sosok perewanganku itu.
Namun... Sekali lagi...
Aku dibuat heran...
Aku melihat Dayang Putri pun sama, dia hanya berdiri diam menatapku dengan mata hijau cerahnya itu. Tanpa senyuman.
Aku menoleh juga ke Sekar Mayang. Dia juga masih berdiri diam menatapku dengan mata merah cerahnya.
"Kalian... Kenapa sih? Kenapa ngeliatin aku kayak gini?" tanyaku agak sedikit takut dengan gelagat dua perewanganku itu.
Dan, akhirnya Dayang Putri berkata...
"Berhati-hatilah Nisa..."
Kali ini aku benar-benar jadi sedikit takut dengan ucapan Dayang Putri itu.
"Ke-kenapa? Berhati-hati buat apa?" tanyaku pada Dayang Putri.
"Tugasku adalah memperingatkanmu tentang sesuatu yang akan terjadi di masa depan. Tapi aku tak bisa memberi tahumu tentang sesuatu itu."
"Ya terus ngapain ngomong kalo gak ngasih tau aku Dayang Putri?"
Bukan dijawab oleh Dayang Putri, tapi malah dijawab oleh Sekar Mayang.
"Karena kami berdua sudah menguji batinmu Nisa. Dan kami berdua yakin bahwa kamu bisa menghadapi sesuatu itu nanti." kata Sekar Mayang.
"Dayang Putri ingin menjagamu dengan memberi peringatan itu." tambah Sekar Mayang."
"Iya... Iya... Tapi apa? Memangnya akan ada apa nanti?" tanyaku lagi.
"Bersiaplah... Sebelum dia datang Nisa..." kata Dayang Putri.
"Dia? Dia siapa maksudmu Dayang Putri?"
"Nanti dirimu akan tahu Nisa. Maka, bersiaplah. Dan aku minta, selalu kuatkan batinmu." ucap Dayang Putri.
Lalu, Sekar Mayang memegang ke dua pundakku dari belakang, dan berkata dengan suara yang hampir berbisik di telinga kiriku...
"Dayang Putri akan membantu menjagamu dari depan, dan aku akan membantu menjagamu dari belakang."
Aku jadi bingung dengan semua ucapan mereka berdua. Aku malah melepaskan tangan Sekar Mayang dari pundakku.
Kini aku menatap balik Sekar Mayang dan Dayang Putri...
"Boleh saja kalian berdua menjagaku, tapi tolong, beri tau aku. Akan ada apa? Dia itu siapa? Jangan bikin aku takut." ucapku pada mereka berdua.
Mereka berdua malah berdiri saja dalam diam...
Aku malah jadi kesal lagi dengan kelakuan mereka ini...
"Ya udah, kalau gak mau ngomong, aku mau ke kamar aja. Udah ngantuk. Mau istirahat."
Aku langsung berjalan saja meninggalkan mereka berdua. Dan entah apa yang ku rasakan sekarang. Ada sedikit rasa takut, rasa penasaran, bercampur pertanyaan atas apa yang mereka berdua sampaikan itu.
Tapi aku tak memikirkannya lebih lanjut, segera saja aku naik ke lantai atas, dan masuk ke kamarku. Segera aku tidur.