Soren Ravensdale-seorang assassin yang tak pernah gagal menjalankan misinya kini harus menerima kenyataan pahit ketika sahabat yang ia percaya-Vera, justru mengkhianatinya. Bukan hanya itu, Vera juga terlibat dalam pembunuhan adik angkatnya, Ellian Sorrel dan ternyata semua telah direncanakan atas perintah langsung dari ketua mereka sendiri.
Janji bahwa keluarga para anggota akan aman ... ternyata hanyalah kebohongan.
Dengan luka tembak di perutnya, Soren memilih mengakhiri hidupnya dengan kepercayaannya yang hancur dan terjun ke dasar jurang. Namun bukannya mati, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis rapuh dengan wajah yang sangat mirip dengannya.
Yang kini statusnya adalah menjadi istri seorang Letnan Kolonel yang dingin dan penuh rahasia.
Dari seorang assassin menjadi seorang istri, apakah Soren benar-benar bisa berhenti dari dunia yang sudah menelan hidupnya atau justru kehidupan barunya hanya akan menyeretnya kembali ke lingkaran kejahatan yang lebih gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luo Aige, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan yang berbeda
William melirik ke arah Aveline yang sudah duduk di seberangnya. Hidangan telah tersaji rapi di atas meja sejak beberapa saat lalu, namun wanita itu tidak langsung menyentuhnya. Tatapan William turun singkat ke gaun tidur yang dikenakan Aveline—tipis dan beberapa titik potongan yang membuatnya lebih terlihat sebagai baju seorang gelandsngan, daripada sebuah gaun tidur. Tidak ada komentar langsung, tetapi sorot matanya cukup jelas, menilai tanpa perlu diucapkan.
“Apakah istriku berencana untuk tetap memakai gaun tidur itu sepanjang hidupmu?”
Nada suaranya datar, tidak tinggi, ataupun tidak pula merendah. Seolah hanya menyampaikan sesuatu yang menurutnya wajar untuk dipertanyakan.
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang sama.
“Kau mengatakannya seolah-olah kau begitu memiliki banyak uang.”
Aveline tidak langsung menjawab. Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk senyuman yang tidak benar-benar ramah. Tatapannya terarah lurus ke William, tidak goyah sedikitpun, seakan sengaja menahan pandangan itu lebih lama dari yang seharusnya. Jemarinya bergerak santai mengambil garpu, lalu menusuk sepotong daging steak di piringnya tanpa terburu-buru.
“Aku bisa membeli gaun baru di butik,” jawabnya ringan. Suaranya tetap tenang, karena hal itu bukan sesuatu yang perlu dipikirkan panjang.
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan tanpa mengalihkan pandangan.
“Tentu saja aku akan membelinya dengan uangmu. Ada apa? Kau tidak setuju?” Di dalam hatinya, ada rasa puas yang muncul begitu saja. Ia menunggu reaksi William, sekecil apapun.
Namun William hanya mengangguk sekali.
“Lakukan saja apa maumu.”
Jawaban itu keluar begitu saja, tanpa penolakan, tanpa nada sindiran, ataupun perubahan ekspresi. Seperti tanggapan biasa dalam menjawab suatu argumen.
Alis Aveline terangkat sedikit. Ia tidak mengatakan apa-apa selama satu detik, lalu sudut bibirnya kembali bergerak.
“Tampaknya … Tuan Kolonel tidak seperti bangsawan biasa.”
William tidak menanggapi. Tangannya bergerak mengambil pisau dan garpu, lalu mulai memotong makanannya sendiri dengan ritme yang stabil, seakan percakapan barusan tidak memiliki arti khusus.
Di sisi lain meja, Aveline akhirnya menurunkan pandangannya ke piring. Jemarinya bergerak, memegang pisau dan garpu dengan posisi yang tepat. Potongan pertama dibuat bersih—tidak terlalu besar, tidak pula sembarangan. Gerakannya rapi, terukur, dan konsisten, seperti seseorang yang terbiasa makan di meja formal.
Hal kecil itu justru tidak luput dari perhatian para pelayan.
Sabine yang berdiri sedikit di samping meja menunduk lebih dalam, namun matanya sempat bergerak sekilas. Greta di belakangnya ikut menahan napas tanpa sadar. Cara makan itu bukan sesuatu yang mereka kenal dari Lady Aveline sebelumnya. Sebab, Lady Aveline tida pernah mempelajari tata cara semacam itu.
Namun tidak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara.
Aveline mengangkat garpu, membawa sepotong kecil daging ke mulutnya. Ia mengunyah hanya sekali.
Tetapi gerakan itu berhenti.
Perubahan di wajahnya tidak mencolok, tetapi cukup jelas bagi orang yang memperhatikan. Alisnya sedikit mengernyit, sudut bibirnya mengeras, lalu tanpa ragu ia mengambil kain serbet di samping piring dan menutupinya ke bibirnya. Potongan daging itu ia keluarkan dengan tenang, tanpa suara.
Di seberangnya, William mengangkat satu alis tipis. Tidak ada kata yang keluar, tetapi jelas pandangannya seolah berkata, apakah makanan itu tidak layak dimakan?
Di sisi ruangan, Greta langsung menegang. Jemarinya mengepal di depan apron, napasnya tertahan. Sabine menunduk lebih dalam, sementara Liora tidak berani mengangkat kepala sama sekali.
Seseorang hendak berbicara, tetapi belum sempat.
Kursi Aveline sudah bergeser.
Ia berdiri tanpa tergesa, meletakkan serbet kembali ke meja dengan rapi. Tatapannya tidak lagi ke arah makanan, melainkan lurus ke depan.
“Terlalu banyak lemak.”
Kalimat itu keluar pendek, tanpa emosi, tanpa penjelasan tambahan. Tidak keras, tetapi cukup jelas untuk didengar semua orang di ruangan itu.
Tanpa menunggu reaksi, Aveline berbalik dan melangkah pergi meninggalkan meja makan begitu saja.
Tangan William bergerak memotong daging di piringnya. Tenang, tetapi sejak awal ia tidak benar-benar sedang tertuju pada makanannya.
Pintu yang baru dilewati oleh Aveline tertutup pelan. Baru setelah itu pisaunya terhenti. Membuat sunyi di meja makan lebih berat dari sebelumnya. Para pelayan, salah satunya Greta masih menunduk. Gadis itu terlihat menahan napas kalau saja setelah ini ia akan mendapatkan hukuman konyol hanya karena sebuah daging.
Sementara William mengangkat potongan dagingnya, mengamati teksturnya sekilas. Secara harfiah tidak ada yang salah dari sudut pandangnya. Namun, William tetap memasukkannya ke dalam mulut. Mengunyahnya perlahan, seolah memastikan rasanya dengan benar.
Jakunnya bergerak naik turun saat ia mulai menelannya.
“Greta.”
Suara baritonya terdengar tenang, tetapi sukses membuat tubuh sang pelayan menegang seketika.
“I–iya, Tuan.”
“Besok kurangi lemaknya.”
Kalimat singkat itu meluncur begitu saja, tanpa ekspresi ataupun nada tinggi. Tetapi bukan pula sebuah pembelaan untuk Greta, melainkan hanya sebuah validasi.
~oo0oo~
Suara api di dapur menyala pelan, berpadu dengan dentingan sendok dan panci yang saling bersentuhan. Pagi itu belum sepenuhnya ramai, tetapi para pelayan sudah berkumpul di sudut dapur, sedikit menjauh dari area kerja utama. Tidak ada yang benar-benar berhenti bekerja, namun jelas percakapan mereka lebih hidup dari biasanya.
Sabine berdiri di dekat meja kayu, jemarinya masih sibuk merapikan sayuran yang sudah dipotong. Ia tidak langsung menoleh saat berbicara, tetapi suaranya cukup jelas untuk didengar.
“Apa kau melihat?” ucapnya pelan. “Semalam Nona benar-benar terlihat menakutkan.”
Marta yang berdiri di sisi lain meja menghentikan gerakan tangannya sejenak. Ia menatap Sabine sekilas, lalu kembali ke pekerjaannya, tetapi nada suaranya berubah lebih rendah.
“Kau benar,” jawabnya. “Tatapannya … dingin. Tidak ada meraguan sama sekali. Bahkan saat berhadapan dengan Tuan.”
Di dekat tungku, Greta berdiri dengan punggung agak kaku. Ia tidak langsung ikut bicara, tetapi jelas mendengarkan. Setelah beberapa detik, ia menghela napas pendek.
“Aku masih mengingatnya,” katanya akhirnya. “Bagaimana kepala Nyonya Ines dibenturkan ke dinding.” Suaranya tidak tinggi, tetapi terdengar lebih berat. “Jelas itu bukan cara Nona Aveline bertindak.”
Sabine mengangkat alis sedikit, tangannya berhenti sebentar sebelum kembali bergerak.
“Bukan hanya caranya,” lanjutnya. “Tetapi bagaimana Nona memandang. Terlihat seperti tidak peduli siapa yang ada di depannya.”
Marta mengangguk kecil. “Dulu Nona tidak seperti itu. Bahkan mustahil untuk menunjukkan perlawanan kecil, ketika Nyonya Ines memperlakukannya dengan tidak baik.”
Suara pisau menyentuh papan potong terdengar lebih keras dari sebelumnya, tanpa sengaja. Salah satu pelayan lain yang berdiri di ujung meja menoleh cepat, lalu kembali menunduk. Tidak ada yang benar-benar ingin menarik perhatian.
Greta memejamkan mata sejenak, lalu membuka kembali. Wajahnya masih menyimpan sisa ketegangan sejak semalam. Jemarinya saling menggenggam di depan apron, seolah menahan rasa tidak nyaman yang belum juga hilang.
“Bahkan semalam aku benar-benar takut untuk menatap wajahnya,” katanya pelan. Suaranya tidak tinggi, tetapi cukup jelas. “Dia sama sekali tidak tersenyum atau mengatakan apapun.”
Ia berhenti sebentar, menelan ludah.
“Apalagi memberikan reaksi pada makananku.” Napasnya tertahan sesaat. “Sampai tiba-tiba saja dia melepehkan daging yang kumasak … tepat di depanku.”
Sabine mengangkat sedikit pandangannya, tetapi tidak menyela.
Greta melanjutkan, suaranya semakin rendah. “Dan dia berkomentar terlalu banyak lemak.”
“Bukankah Nona adalah orang yang suka segala jenis makanan?” Greta mengangkat wajahnya sedikit, jelas masih tidak percaya. “Seharusnya dia senang ketika kita menghidangkannya.”
Ia menggeleng pelan.
“Kau ingat selama Tuan pergi?” lanjutnya lagi, kali ini suaranya lebih berat. “Nyonya Ines hanya mengizinkan kita memberikan roti keras dan sup sayur hambar.”
Jemarinya kembali mencengkeram kain apron.
“Tidak pernah sekalipun Nona mengeluh waktu itu.” Ia menatap ke bawah. “Apapun yang kita sajikan, dia tetap akan memakannya.”
Greta menarik napas pendek, lalu menghembuskannya perlahan.
“Tapi semalam .…” Suaranya kembalih merendah, lebih pelan dari sebelumnya. “Cara Nona melihat makanan itu, tidak seperti biasanya.”
Ada jeda beberapa saat sebelum dia melanjutkan ucapan.
“Seakan, Nona memang benar-benar tidak bisa menerimanya.”
Beberapa detik hening. Hanya suara api dan langkah kaki pelayan lain yang melintas di luar dapur.
Salah satu pelayan muda yang sejak tadi hanya diam akhirnya ikut berbicara, meski suaranya lebih ragu.
“Menurut kalian … apakah itu benar-benar Nona Aveline?” Pertanyaan itu menggantung di udara. Tidak ada yang langsung menjawab.
Greta menatap ke arah meja di depannya, matanya sedikit menyempit. “Aku tidak tahu,” katanya dengan perasaan sedikit bingung. “Tetapi yang kulihat semalam, jelas bukan seseorang yang bisa dianggap lemah.”
Sabine mengangguk pelan. “Kalau benar itu Nona, maka kita harus berhati-hati mulai sekarang.”
Marta menarik napas panjang. “Berhati-hati dalam apapun. Cara bicara, cara melihat, atau bahkan cara berdiri di dekatnya.”
Tidak ada yang membantah.
Di sudut ruangan, Liora berdiri lebih tenang dari yang lain. Tangannya tetap bergerak merapikan kain di atas meja, tetapi ia tidak ikut menimpali. Tatapannya turun, fokus pada pekerjaannya, menganggap bahwa dia sama sekali tidak mendengar apapun. Namun sesekali, matanya bergerak singkat ke arah mereka—cukup untuk menunjukkan bahwa ia mendengar setiap kata.
Sabine melirik ke arahnya sekilas, lalu kembali ke pekerjaannya tanpa komentar.
Percakapan tidak berhenti, tetapi suara mereka turun sedikit lebih pelan dari sebelumnya. Tidak ada lagi kalimat panjang, hanya potongan-potongan pendek yang saling menyambung.
“Bagaimana kalau Tuan menyadarinya?”
“Tuan tidak mengatakan apa-apa semalam.”
“Itu justru lebih membuatku khawatir.”
“Kalau sampai terjadi lagi.”
“Lebih baik kita tidak berada di dekatnya.”
Suara-suara itu terus berlanjut, bercampur dengan aktivitas dapur yang kembali berjalan seperti biasa. Namun ketegangan yang tersisa tidak benar-benar hilang. Tidak ada yang berani mengatakannya secara langsung, tetapi semua yang ada di ruangan itu memahami hal yang sama.
Hingga tanpa disadari, suara langkah kaki terdengar dari arah koridor dapur, teratur tanpa tergesa-gesa. Ralf muncul di ambang pintu, berhenti tepat sebelum masuk sepenuhnya ke dalam. Tatapannya menyapu ruangan dengan singkat, lalu berhenti pada satu titik.
“Sabine.”
Namanya dipanggil tanpa nada tinggi, tetapi cukup tegas untuk memotong percakapan yang masih tersisa.
Beberapa kepala langsung terangkat. Sabine yang berdiri di dekat meja kayu menghentikan gerakan tangannya. Jemarinya yang tadi sibuk merapikan sayuran terdiam di tempat.
Ralf melanjutkan, tetap dengan nada yang sama.
“Nona Aveline memanggilmu.”
Kata-kata itu jatuh begitu saja, sederhana, tetapi cukup untuk mengguncang degup jantungnya di pagi hari.
Greta yang berdiri di dekat tungku langsung menoleh. Matanya sedikit melebar tanpa ia sadari. Marta di sisi lain meja ikut berhenti, pisau di tangannya tertahan di atas papan potong. Keduanya saling melirik sekilas, reaksi mereka sama—terkejut, dan sedikit tidak percaya.
Sabine tidak langsung menjawab. Tenggorokannya bergerak saat ia menelan ludah. Wajahnya tetap terjaga, tetapi jelas ada ketegangan yang muncul di baliknya.
Di sudut ruangan, Liora yang sejak tadi diam mengangkat pandangannya. Matanya bergerak singkat ke arah Sabine, lalu kembali turun, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia memperhatikan.
Ralf berdiri tetap di tempatnya, tidak menunjukkan ekspresi tambahan.
“Nona menunggumu di ruang depan,” tambahnya singkat.
Tidak ada penjelasan lain.
Greta kembali melirik ke arah Sabine. Marta juga melakukan hal yang sama. Tidak ada kata yang keluar, tetapi tatapan mereka jelas—sebuah simpati yang tidak perlu diucapkan.
Sabine menarik napas pelan, lalu mengangguk sekali.
“Baik.”
Jawabannya singkat. Tidak berlebihan, tidak pula ditarik panjang. Ia merapikan tangannya dengan cepat, meletakkan apa yang ia pegang, lalu berbalik tanpa menunda.
Langkahnya tidak terburu, tetapi juga tidak lambat. Ia berjalan melewati Ralf tanpa menatapnya, lalu keluar dari dapur begitu saja.
Pintu kembali menutup pelan di belakangnya. Sampai beberapa detik berlalu tanpa ada yang berbicara.
Greta menatap ke arah pintu yang baru saja tertutup, lalu mengalihkan pandangannya ke Marta.
“Menurutmu, apa dia akan baik-baik saja?” tanyanya pelan.
Marta tidak langsung menjawab. Ia menurunkan pisaunya perlahan, lalu menggeleng tipis.
“Aku tidak tahu.”
Jawabannya singkat, tetapi cukup jelas.
Greta menghela napas pelan, lalu kembali menatap ke arah pekerjaannya, meskipun tangannya belum juga bergerak. Suasana dapur kembali berjalan, tetapi tidak benar-benar sama seperti sebelumnya.
“Semoga saja Nona tidak membuat Sabine merasa kesulitan.”
.
Pintu ruang depan terbuka pelan tanpa suara. Sabine melangkah masuk dengan hati-hati, lalu berhenti tepat di ambang dalam, tidak berani melangkah lebih jauh sebelum memastikan keadaan di dalam ruangan.
Aveline sudah ada di sana.
Bukan lagi gaun tidur tipis yang ia kenakan semalam. Tubuhnya kini terbungkus kain sederhana berwarna netral—bukan gaun jadi, melainkan sehelai kain panjang yang dililit rapi mengikuti bentuk tubuhnya. Bagian atasnya ditarik dan disematkan dengan cukup tepat hingga menutup dengan layak, sementara bagian bawah jatuh lurus hingga menutupi kakinya. Tidak mewah, tidak pula mengikuti potongan gaun bangsawan, tetapi jelas disusun dengan sengaja. Bersih, rapi, dan cukup untuk menunjukkan bahwa itu bukan sekadar kain yang dipakai asal.
Rambutnya sudah tertata, tidak lagi berantakan seperti semalam. Jejak air mandi masih terasa dari kesegaran wajahnya, namun tidak ada tanda ia terburu-buru dalam menyiapkan diri.
Ia tidak duduk tegak seperti biasa.
Aveline berbaring santai di sofa, tubuhnya menyamping, dengan satu tangan menopang kepala. Sikunya bertumpu pada sandaran, sementara jemarinya menyangga sisi wajahnya dengan ringan. Posisi itu tampak nyaman, tetapi tidak ceroboh. Seolah-olah ia memang memilih posisi itu, bukan karena tidak tahu cara duduk yang benar.
Di tangannya, terbuka sebuah buku tipis—lebih menyerupai lembaran cetak berkala daripada buku tebal. Kertasnya tampak sering dibuka, berisi tulisan dan ilustrasi yang dicetak rapi. Aveline tidak terlihat terganggu dengan kehadiran Sabine. Matanya tetap bergerak mengikuti baris tulisan, seakan ia memang sudah tahu siapa yang masuk tanpa perlu menoleh.
Sabine berdiri beberapa langkah dari pintu. Punggungnya tegak, tetapi jemarinya di sisi rok dan sedikit menegang. Ia menelan ludah pelan sebelum akhirnya membuka suara.
“Nona memanggil saya?”
Suaranya tidak keras, tetapi cukup jelas terdengar di ruangan yang sunyi itu.
Baru setelah kalimat itu selesai, Aveline membalik satu halaman dengan tenang. Tidak terburu, tidak pula menunjukkan perubahan ekspresi. Buku itu tetap berada di tangannya, sementara posisinya di sofa tidak berubah.
Ia tidak langsung menjawab.
.
.
.
Bersambung