"Dasar anak Kunti!"
"Aku bukan anak Kunti! berhenti memanggilku anak Kunti! namaku Kalingga Arsana!"
Kalingga sering di panggil anak Kunti oleh teman temannya dan para warga di tempat dia tinggal, bukan tanpa alasan, itu karena dia lahir dari rahim seorang perempuan yang sudah di kubur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menunggu kabar
Sudah satu minggu berlalu tanpa kabar dari Gatra, Kaelan masih menunggu kabar baik itu bahkan dia masih tetap tidak bisa keluar rumah karena selalu ada orang orang Narno yang mengecek keberadaan Kaelan setiap dua jam sekali dengan cara mendatangi rumah Jamal.
"Kalingga, ayah bosan sekali di dalam rumah ini, kamu juga pasti bosan kan?" tanya Kaelan hanya di balas senyuman saja oleh bayi yang bahkan mungkin tidak tahu dengan apa yang di bicarakan ayahnya itu.
"Bagaimana kalau kita ke kebun belakang rumah, kita cari ubi dan kita rebus, pasti enak kalau...."
Kaelan ingat saat di bulan ramadhan Maryani membuatkan dia kolak ubi dan kolak itu gosong karena Kaelan terus menggangu Maryani yang sedang memasak di dapur. helaan nafas kembali terdengar karena dia merasa kalau semua momen itu tidak bisa lagi dia lalui setelah dia sadar istrinya itu sudah tiada meskipun masih bisa dia lihat di samping Kalingga.
"Kang..."
"Diam, aku masih marah sama kamu karena kamu ngobrol terus dengan Panglima Parta" gerutu Kaelan
"Kalingga sepertinya pipis kang" ucap Maryani membuat Kaelan sadar kalau celananya sudah basah terkena air pipis Kalingga.
"Nakal kamu pipisin ayah, memangnya kamu kucing nandain ayah" gemas Kaelan menciumi wajah Kalingga yang bergerak gelisah karena tidak nyaman dengan celananya yang basah.
"Bu..." panggil Kaelan karena Saidah lah yang akan memandikan dan mengganti celana Kalingga saat dia mengompol.
"Iya nak.."
"Kalingga pipis Bu, Kaelan mau mandi dulu celana Kaelan basah"
"Masya Allah, cucu nenek pipis, sini biar nenek bersihkan dan gantikan celana kamu, kamu sudah gemuk sekarang bahkan popok saja sudah tidak muat" gemas Saidah segera membawa Kalingga ke arah kamar Kaelan.
"Maryani, siapkan pakaianku" ucap Kaelan berlari ke arah kamar mandi di luar rumah.
"Tapi kang... Maryani tidak bisa memegang pakaian akang, Maryani juga tidak tahu kenapa"
"Dia sudah pergi nak, biar Ibu yang siapkan" ucap Saidah
"Secara adat kalian sudah bukan pasangan suami istri lagi, mungkin karena itu, kematian itu sama saja dengan cerai mati jadi kamu sudah tidak bisa terhubung dengan Kaelan lagi" ungkap Jamal
"Iya, Kaelan sudah jadi duda" ucap Saidah
"Tapi kang Kaelan malah tidak sadar kalau dia duda pak, bu" ucap Maryani
"Perlahan, biarkan dia terbiasa dulu dengan kepergian kamu, selama ini dia hanya tahu kamu selalu mengurusnya, tapi sudah hampir satu bulan setelah Kalingga lahir Kaelan masih menganggap kamu ada, cobalah kamu tidak menampakkan diri di hadapan Kaelan" ucap Jamal
"Mungkin iya, kalau kang Kaelan melihat Maryani, dia akan semakin sulit melanjutkan hidup, sebaiknya Maryani sembunyi saja kalau kang Kaelan sedang menjaga Kalingga, nanti Maryani tanya pada panglima Parta" gumam Maryani mengusap pipi Kalingga lalu menghilang dari sana.
Kalingga sudah di pakaikan pakaian dan celana baru, bahkan sisa Pampers bayi yang di bawa Karna minggu lalu juga di pakaikan Saidah supaya Kalingga tidak terus memberikan hadiah pipis pada orang orang rumah.
"Assalamu'alaikum" sapa orang yang ada di luar
"Wa'alaikumussalam, Masya Allah Kinanti, Kaini, Prawira mari masuk, kalian kenapa datang?" tanya Saidah terkejut saat membuka pintu melihat tiga remaja yang sudah berdiri di depan pintu rumahnya.
"Kami mengantarkan susu Kalingga dan ada makanan dari ayah bi" jawab Kinanti
"Ayo, kalian masuklah biar bibi dan paman buatkan kalian minum dulu" ucap Saidah menyimpan pakaian Kaelan di atas tikar.
"Ini baju siapa bi? biar Kinanti simpan" tanya Kinanti
"Itu punya Kaelan, tolong simpan di kamarnya, tadi baru kering dan sudah bibi lipat" jawab Saidah
"Iya, tolong simpan di dalam kamar, paman sedang menggendong Kalingga" ucap Jamal dan Kinanti mengangguk.
"Ini ada opor ayam buatan bibi Aini, ada kue bolu buatan ibu dan manisan pala buatan bibi Laily" ucap Prama
"Banyak sekali, terima kasih ya anak anak" ungkap Jamal
"Lihat Kalingga, Kak Kaini juga bawa Pampers untuk kamu supaya kamu bisa nyenyak tidur dan tidak perlu membuat kak Kaelan terbangun tengah malam" ucap Kaini gemas mencubit pipi Kalingga pelan
"Kalian ke sini apa tidak takut?" tanya Saidah yang sudah membawa air minum dan singkong rebus untuk anak anak itu.
"Tidak bi, ada kak Prama dan kak Kinanti" jawab Kaini
"Kamu ini, dia pasti nakal di jalan, iya kan?" tanya Saidah mencubit pipi Kaini
"Iya bi, Kaini terus saja melompat sana sini seperti monyet, ada ular malah dia tangkap membuat kak Kinanti berteriak ketakutan" jawab Prawira terlihat frustasi
"Kan jarang jarang Kaini main ke hutan, ayah biasanya hanya meminta Kaini belajar saja di rumah" jawab Kaini
"Harusnya kamu ikut Mbah Karna pas cari kayu bakar atau tanaman obat, kalian cocok sama sama Bolang" gerutu Prama
"Iya lah cocok, kami kan ayah dan anak" jawab Kaini membuat Saidah dan Jamal tertawa.
Mereka sedang bercanda di ruang depan, tapi di kamar, Kinanti sedang membereskan pakaian Kaelan ke dalam lemari bahkan membereskan perlengkapan Kalingga yang berantakan di atas kasur.
"Kenapa kak Kaelan kamarnya berantakan sekali, dia pasti tidak sempat beres beres karena sibuk mengurusi Kalingga" ucap Kinanti yang bahkan hampir selesai melipat kain bedong dan kain gendongan Kalingga lalu menyimpan di sebuah keranjang yang ada di samping ranjang Kaelan.
Grep.
"Akkhh!"
Kinanti memekik saat tiba tiba saja sebuah tangan memeluknya dari belakang dan mengecup tengkuknya dengan bibir yang terasa begitu dingin.
"Kamu beralasan tidak bisa aku sentuh, ini aku bisa dasar bohong, kamu sengaja kan karena kamu ingin membuatku cemburu" ucap Kaelan yang tiba tiba saja memeluk Kinanti dari belakang.
"Ka...."
"Ssttt diam, biarkan aku seperti ini sebentar, aku merindukanmu Maryani" bisik Kaelan semakin erat memeluk Kinanti
"Kak!" pekik Kinanti membuat Kaelan terkejut dan langsung melepaskan Kinanti
"Ki.. Kinanti, kamu... kenapa di sini dan baju ini.." kaget Kaelan karena yang dia peluk adalah Kinanti yang memakai pakaian Maryani yang di berikan Saidah padanya.
Plak.
"Dasar mesum! lihat dulu sebelum peluk peluk, kalau yang kak Kaelan peluk si kuyang sih iya dia senang!" kesal Kinanti memukul lengan Kaelan
"Ampun Kinanti, aku tidak tahu karena kamu memakai baju Maryani" gerutu Kaelan
"Ini kan sudah di berikan pada Kinanti, jadi baju Kinanti, minggir!" bentak Kinanti pergi dari sana tapi pipinya terlihat memerah karena Kaelan hanya memakai handuknya saja.