Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.
Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.
Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.
Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.
Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:
Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.
Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-
Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10
Malam turun tanpa suara.
Api kecil menyala di depan gubuk, berkerlap-kerlip pelan. Biasanya, suasana seperti ini terasa tenang.
Namun tidak malam ini.
Grachius duduk diam.
Tatapannya kosong… tapi pikirannya tidak.
Sejak hari di tebing itu—
sejak ia mengetahui segalanya—
tidak ada satu malam pun yang benar-benar tenang.
Nama itu terus kembali.
Sonne.
Rosalia.
Dan bayangan sesuatu yang tidak ia lihat… tapi bisa ia rasakan.
Pengkhianatan.
Pembunuhan.
Ketidakadilan.
Tangannya mengepal.
Api kecil di depannya sedikit bergetar.
“…aku membenci mereka.”
Suara itu pelan.
Namun jelas.
Di seberangnya, Purus duduk seperti biasa.
Tenang.
Mendengarkan.
“Aku membenci para dewa.”
Kali ini lebih tegas.
Lebih dalam.
Sunyi sejenak.
“Tapi…”
Grachius menunduk.
Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajahnya.
“…kau juga dewa.”
Tidak ada tuduhan.
Tidak ada kemarahan yang diarahkan.
Hanya… kebingungan.
“…dan aku…”
Ia menatap tangannya sendiri.
“…aku juga bukan manusia sepenuhnya.”
Api berkerlap-kerlip.
Angin malam berhembus pelan.
“Jadi aku ini apa?”
Tidak ada yang menjawab.
Beberapa detik berlalu.
Lalu Grachius menarik napas dalam.
“…tapi tetap saja…”
Tangannya kembali mengepal.
“…aku ingin membalasnya.”
Kali ini—
tidak ada keraguan dalam suaranya.
Ia mengangkat kepalanya.
Menatap langsung ke arah Purus.
Matanya tajam.
“Kalau aku pergi ke langit…”
“…dan membunuh mereka…”
“…yang membunuh ayah dan ibuku…”
Sunyi.
“…apa itu salah?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Berat.
Purus tidak langsung menjawab.
Ia menatap api di antara mereka.
Seolah melihat sesuatu di dalamnya.
“…aku juga membenci mereka.”
Jawaban itu datang pelan.
Namun jelas.
Grachius sedikit terkejut.
Namun tidak menyela.
“Bukan semuanya,” lanjut Purus.
“Tapi… cukup banyak.”
Sunyi.
“Dewa bukan satu jenis,” katanya lagi.
“Seperti manusia… mereka berbeda.”
Grachius menatapnya.
Diam.
“Masih ada dewa-dewi yang tidak seperti itu.”
Beberapa nama melintas di pikiran Purus.
Namun ia tidak menyebutnya.
Tidak sekarang.
Grachius mengalihkan pandangannya.
Ke arah api.
“…aku tidak peduli.”
Jawaban itu jujur.
Dan keras.
Sunyi kembali.
Purus akhirnya menatapnya.
Langsung.
“Kalau itu jalan yang kau pilih…”
Ia berhenti sejenak.
“…aku tidak akan menghalangimu.”
Grachius sedikit terdiam.
Tidak menyangka jawaban itu.
“…kau tidak akan menghentikanku?”
“Tidak.”
Jawaban singkat.
Tanpa ragu.
Angin berhembus.
Api sedikit meredup.
“Namun…”
Purus melanjutkan.
“…kau harus memikirkan akhirnya.”
Grachius mengernyit.
“Akhir?”
“Pembalasan dendam selalu punya akhir.”
Sunyi.
“Pertanyaannya…”
Purus menatapnya dalam-dalam.
“…setelah itu… kau akan jadi apa?”
Kata-kata itu tidak keras.
Tidak memaksa.
Namun… menancap.
Grachius terdiam.
Ia tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai—
ia tidak punya jawaban.
Angin malam terasa lebih dingin.
Purus kembali menatap api.
Seolah percakapan itu telah selesai.
Namun—
di dalam dirinya—
tidak.
Jika ia memilih jalan itu…
ia tidak akan berhenti…
Matanya sedikit menyipit.
Dan aku…
tidak yakin aku bisa menghentikannya.
Sunyi.
Di hadapannya—
Grachius masih duduk diam.
Tatapannya kembali ke api.
Namun kali ini…
berbeda.
Tidak hanya penuh kebencian.
Tapi juga…
kebingungan.
Di antara dua jalan—
yang sama-sama tidak mudah.
Dan malam itu—
tidak memberikan jawaban.
Hanya…
pertanyaan yang akan terus mengikuti—
hingga suatu hari—
ia benar-benar memilih.
Malam belum benar-benar berakhir.
Api di depan gubuk sudah mengecil, hanya menyisakan bara merah yang sesekali berdenyut pelan—seperti napas yang hampir habis.
Namun Grachius masih di sana.
Duduk.
Diam.
Kata-kata Purus terus terulang di kepalanya.
“Setelah itu… kau akan jadi apa?”
Ia menatap tangannya.
Tangan yang sama yang bisa merasakan energi.
Yang bisa menghancurkan.
Yang… hampir kehilangan kendali.
“…jadi apa…”
Gumamnya pelan.
Ia mengangkat tangannya sedikit.
Energi mengalir.
Tenang.
Stabil.
Seperti yang selalu ia latih.
Namun—
di dalamnya—
ia bisa merasakan sesuatu yang lain.
Gelap.
Panas.
Diam.
Menunggu.
Grachius langsung menutup tangannya.
Seolah menahan sesuatu agar tidak keluar.
“…aku tidak akan jadi seperti mereka.”
Suaranya pelan.
Namun tegas.
Ia berdiri perlahan.
Melangkah menjauh dari api.
Menuju kegelapan hutan.
Tidak ada tujuan jelas.
Hanya… berjalan.
Angin malam menyentuh wajahnya.
Dingin.
Menyadarkan.
Ia berhenti di tengah hutan.
Sunyi.
Tidak ada siapa pun.
Grachius menarik napas dalam.
Lalu—
menutup matanya.
Meditasi.
Ia masuk ke dalam dirinya sendiri.
Lebih dalam dari biasanya.
Energi dalam dirinya muncul.
Mengalir.
Stabil.
Seperti aliran sungai.
Namun—
kali ini—
ia tidak berhenti di situ.
Ia turun lebih dalam.
Dan menemukan itu.
Kegelapan itu.
Seperti api…
yang tidak menyala.
Namun terasa.
Untuk sesaat—
Grachius ragu.
Namun—
ia tidak mundur.
“…kau bagian dariku.”
Suaranya pelan.
Namun bergema di dalam dirinya sendiri.
Kegelapan itu tidak menjawab.
Namun—
ia bergerak.
Sedikit.
Seperti merespon.
Grachius membuka matanya.
Napasnya sedikit lebih berat.
“…aku tidak akan lari darimu.”
Angin berhembus lebih kencang.
Daun-daun bergesekan.
Ia berdiri di sana beberapa saat.
Tanpa bergerak.
Tanpa bicara.
Lalu—
ia berbalik.
Kembali ke arah gubuk.
Saat ia kembali—
Purus masih duduk di tempat yang sama.
Seolah tidak pernah bergerak.
Grachius berhenti beberapa langkah di depannya.
“Purus.”
“Ya.”
Sunyi sejenak.
“…aku belum tahu jawabannya.”
Purus tidak menjawab.
“…tapi aku tahu satu hal.”
Grachius menatapnya.
Langsung.
“Aku tidak akan membunuh tanpa alasan.”
Angin berhenti.
“Aku tidak akan membunuh yang tidak bersalah.”
Suara itu tidak keras.
Namun—
pasti.
“Dan aku…”
Ia berhenti sejenak.
“…tidak akan jadi seperti mereka.”
Sunyi.
Purus menatapnya.
Dalam.
Beberapa detik berlalu.
“…jangan hanya berkata begitu.”
Grachius mengernyit.
“Buktikan.”
Jawaban itu sederhana.
Namun berat.
Grachius terdiam.
Lalu—
ia mengangguk pelan.
“Ya.”
Api di depan mereka akhirnya padam.
Menyisakan asap tipis yang perlahan menghilang.
Malam hampir berakhir.
Namun sesuatu telah berubah.
Bukan dunia.
Bukan langit.
Tapi…
arah.
Dan untuk pertama kalinya—
Grachius tidak hanya berjalan karena dorongan.
Ia mulai memilih.
Meski jalannya…
masih dipenuhi bayangan.