(𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙜𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙙𝙞𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙪𝙖𝙩𝙖𝙣 𝘼𝙄)
𝙂𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙖𝙞𝙣𝙖𝙣 𝙏𝘾𝙂 𝙪𝙣𝙞𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙢𝙖𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣. 𝙄𝙠𝙪𝙩𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙥𝙚𝙩𝙪𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙑𝙖𝙡𝙩𝙝𝙚𝙧𝙞𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙧𝙩𝙪-𝙣𝙮𝙖.
⚙⚙⚙
Mengisahkan tentang seorang mekanik muda bernama Arven yang ditakdirkan untuk menjadi Host Titan Gear bernama Astraeus. Kisah masa lalu dan masa kini akan terkompresi menjadi satu dalam mengungkap kehancuran peradaban Astreya. Unsur Action, Misteri, Politik, Perang Kerajaan akan menjadi fokus cerita ini.
Mari bergabung bersama Arven dalam petualangannya di dunia Valtheria.
—T28J
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T28J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BRAKENFORD ARC 8 - RAHASIA MESIN
...Hari itu mereka tidak sedang memasuki tambang......
......melainkan masuk ke dalam rahasia sebuah mesin....
...⚙⚙⚙...
Liora berjalan di samping Arven, matanya bergerak ke kiri dan ke kanan, mengamati sekeliling dengan perhatian yang lebih dari biasanya.
“…ramai juga,” gumamnya.
“Memang selalu begini,” jawab Arven tanpa menoleh.
Liora sedikit mengangkat alisnya. “Tidak. Biasanya jauh lebih berisik dari ini.”
Arven tidak segera menjawab. Beberapa penambang berpapasan dan melewati mereka. Salah satunya sempat menatap Arven agak lama, lalu tiba-tiba membuang muka dan mempercepat langkahnya seperti tidak saling mengenal.
Liora melihat semuanya dengan jelas. “…kau lihat itu?” bisiknya pelan.
“Ya.”
“Kau kenal dia?”
“Kenal.”
“Dan dia tadi sengaja berpura-pura tidak mengenalmu.”
Arven menghela napas pendek. “Mereka hanya sedang sibuk bekerja.”
“Tidak,” potong Liora dengan nada santai. “Wajah orang sibuk tidak terlihat seperti itu.”
Ia menoleh ke belakang sebentar.
Tepat di jalur yang menuju ke daerah tambang, dua orang penjaga berdiri tegak. Posisi mereka bahkan lebih maju dari pintu gerbang utama desa. Tombak yang biasanya hanya disandarkan kini sudah berada di genggaman tangan mereka.
“…ini yang benar-benar tidak biasa,” lanjut Liora.
Arven sekilas mengikuti arah pandangannya, lalu kembali menatap jalan di hadapannya. “Mereka hanya menjalankan tugas berjaga.”
“Di sini?” Liora mengerutkan keningnya. “Sejak kapan tambang butuh dijaga sebanyak ini?”
Mereka terus berjalan. Semakin jauh dari pusat desa, suara percakapan orang-orang makin menghilang. Tawa riang tidak lagi terdengar. Yang tersisa hanyalah dentingan alat kerja, itu pun kini terdengar jarang dan samar.
Liora mengangkat bahunya pelan.
“Aku lebih suka suasana di hutan.”
Arven meliriknya sekilas. “Semalam nyawamu hampir melayang di sana.”
“Setidaknya hutan itu jujur,” jawab Liora tetap santai. “Kalau ada bahaya, bahayanya terasa jelas sejak awal.”
Ia menatap lurus ke depan.
“Berbeda dengan sisini, yang berpura-pura semuanya baik-baik saja.”
Langkah Arven sedikit melambat. “…kau benar,” gumamnya pelan.
Liora tersenyum tipis. “Aku memang jarang salah.”
“Kau malah sering keliru.”
“Tidak untuk hal-hal yang penting.”
Arven hampir saja membalasnya, tapi ia urungkan niatnya. Pandangannya kini sudah terpaku pada pemandangan di kejauhan.
Jalan tanah yang mereka lalui perlahan berubah permukaannya, menjadi lebih kering dan padat. Dan di ujung sana, di balik kabut tipis, si Raksasa Tambang mulai terlihat jelas.
Astraeus.
Liora tanpa sadar berhenti sejenak. Ia menatapnya dengan tatapan yang tak berkedip. “Dilihat dari dekat…” gumamnya pelan, “ternyata jauh lebih besar daripada yang aku bayangkan selama ini.”
Arven tidak menjawab.
Badan raksasa Astraeus berdiri kokoh di tengah lapangan itu, tampak bagaikan penjaga kuno yang terlelap dalam tidurnya yang panjang.
Namun untuk Arven, mesin ini tidak lagi sekadar alat kerja penambangan. Di dalam setiap lempengan besi dan setiap aliran tenaga yang ada di dalamnya, tersimpan rahasia yang harus ia pecahkan.
Seperti biasa, ia berbicara dengan suara pelan. “Pagi, Astraeus.”
Liora menyilangkan kedua tangannya di dada, lalu mendongak menatap ke atas ke seluruh bagian tubuh raksasa itu. “Kalau makhluk dari hutan benar-benar datang ke desa nanti…” Ia menggerakkan pandangannya menyapu setiap sudut struktur baja yang menjulang tinggi. “…mesin ini mungkin akan jadi satu-satunya hal yang bisa melindungi kita.”
Arven ikut menengadah sejenak, namun tidak memberikan tanggapan apa-apa. Ia hanya melangkah maju lebih dulu menuju tangga akses.
Arven memanjat anak tangga satu per satu dengan langkah cepat dan pasti. Liora mengikuti tepat di belakangnya.
“Kalau ini hanya mesin rusak,” gumam Liora di sela perjalanan mereka, “aku akan sangat kecewa.”
Sudut bibir Arven terangkat membentuk senyum tipis. “Percayalah. Ini lebih dari itu.”
Liora mengembuskan napas pelan. “Aku tidak suka tempat ini.”
“Bagus,” jawab Arven dengan nada datar. “Berarti instingmu masih bekerja.”
“Instingku bilang kita harus balik.”
“Instingku bilang kita sudah terlalu jauh untuk kembali.”
Liora berhenti sejenak, menatap punggung Arven tepat di depannya. “…kau serius mau masuk ke dalam?”
“…sudah sampai di sini, kan?”
Tanpa menunggu ucapan apa pun lagi, Arven melangkah masuk melewati bukaan pintu utama, menghilang sejenak di dalam bayangan. Liora mengikuti segera setelahnya.
Tak lama kemudian, mereka tiba di lorong sempit yang tersembunyi di dalam rangka tubuh mesin itu. Cahaya biru samar terus mengalir di sepanjang dinding, mengikuti aliran energi yang bergerak di dalam kabel-kabelnya.
Namun bagi Arven, ada sesuatu yang berbeda yang terasa di sekujur tubuhnya. Ia merasa raksasa ini sadar akan kehadiran mereka, dan hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkan apa yang disimpannya.
Baru saja mereka bergerak lebih dalam, benda yang tergantung di punggung Arven mulai bergerak dengan sendirinya.
Titan Wrench.
Selama bertahun-tahun alat ini hanya berfungsi sebagai perkakas biasa, keras, berat, dan tidak pernah menunjukkan reaksi apa pun selain saat digunakan untuk membuka atau mengencangkan baut. Namun sekarang ia bergetar. Gerakannya pelan, tapi terasa jelas, berirama teratur.
Arven langsung menghentikan langkahnya. Tangannya bergerak memegang gagangnya erat-erat.
“…kau juga merasakannya?” gumamnya pelan pada dirinya sendiri.
Getaran itu tidak berhenti sama sekali. Bahkan semakin lama semakin terasa kuat.
Liora yang berjalan tepat di belakangnya ikut berhenti. Ia melihat perubahan pada benda itu, lalu mengerutkan keningnya. “Arven… alatmu kenapa?”
Arven menatap benda di tangannya dengan pandangan yang tidak percaya namun yakin sekaligus. Cahaya biru yang sama dengan energi di sekeliling mereka perlahan merambat keluar dari permukaan logamnya, menyala terang lalu meredup secara bergantian mengikuti irama getarannya.
“…dia tidak rusak,” jawab Arven pelan. “Dia seperti merespon sesuatu.”
“Merespon apa?”
Arven mengangkat wajahnya, menatap dinding-dinding baja yang memanjang jauh ke depan, menuju bagian yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya.
“Tempat ini.”
Semakin mereka melangkah ke dalam, lorong ini terasa semakin berbeda. Segala sesuatu di sini tersusun dengan rapi dan teratur sekali. Bahkan Arven pun sama sekali tidak menyadari bahwa di dalam tubuh Astraeus tersembunyi lorong seperti ini.
Kabel energi berwarna biru yang membentang di sepanjang dinding berdenyut perlahan, persis seperti aliran darah yang mengalir di dalam tubuh makhluk hidup. Permukaan baja yang membungkus ruangan ini juga terasa jauh lebih halus dibandingkan bagian-bagian lain yang selama ini biasa ia perbaiki dan rawat.
Tiba-tiba, ingatan akan ucapan ayahnya yang dulu terngiang kembali jelas di benaknya. Suara Eldric terdengar seolah baru saja diucapkan kemarin.
“Energi Titan bukan sekadar tenaga mesin.”
“Energi itu… seperti kehidupan.”
Dan di tangannya, Titan Wrench kini bergetar dengan irama yang semakin stabil, seakan alat itu mengerti kemana tujuan mereka.
Arven mempererat genggamannya pada gagang alat itu.
“Jadi kau tahu jalan ini?” bisiknya pelan.
Tidak ada suara yang menjawab. Namun logam di genggamannya itu perlahan terasa menghangat.
Tepat di saat itu juga, pandangan Arven tertuju pada sesuatu yang selama ini luput dari perhatiannya. Tersembunyi rapi di balik kerangka pelindung yang menutupi bagian inti energi, terdapat sebuah komponen mesin berukuran kecil.
Bentuknya sama sekali tidak menyerupai peralatan yang biasa dipakai untuk pekerjaan penambangan. Juga tidak terlihat seperti hasil modifikasi maupun perbaikan yang pernah dilakukan oleh tangan Eldric.
Permukaannya sangat halus. Terbuat dari bahan yang jelas jauh lebih tua dibandingkan seluruh bagian mesin di sekelilingnya.
Dan di atas permukaan logamnya, terdapat goresan ukiran yang rapi, simbol penanda teknologi zaman kuno. Simbol yang sama persis yang pernah ia temukan di halaman-halaman buku tua peninggalan ayahnya, milik peradaban yang bernama Astreya.
Arven berbisik pelan, lebih kepada dirinya sendiri. “Kenapa Ayah tidak pernah menyebutkan hal ini?”
Eldric dulu selalu menjelaskan setiap bagian Astraeus dengan rinci kepadanya. Namun tidak sekalipun ia pernah mendengar nama atau penjelasan mengenai komponen kecil ini.
Melalui jaringan kabel energi berukuran besar yang berwarna biru, benda ini terhubung langsung menuju bagian paling dalam, tepat di tempat yang berada di tengah dada Astraeus.
Sayangnya kondisinya kini tidak lagi baik-baik saja. Beberapa jalur penghantar energi terlihat retak-retak. Lapisan pelindungnya sudah banyak yang mengelupas dan rusak. Cahaya biru yang seharusnya menyala terang kini berkedip-kedip dengan tidak menentu.
Aliran energi di dalamnya berdenyut dengan ritme yang tidak beraturan.
Arven mendekatkan diri perlahan, hingga wajahnya nyaris menyentuh permukaan logam itu. Matanya mengamati setiap sambungan, setiap jalur aliran, serta setiap baut pengunci yang ada dengan teliti.
Beberapa detik kemudian, akhirnya semuanya menjadi jelas di pikirannya.
“Inilah penyebabnya…”
Selama bertahun-tahun, Astraeus sering menunjukkan hal-hal yang tidak biasa. Terkadang sistem energinya menyala dan bekerja sendiri padahal tidak ada seorang pun yang mengoperasikannya. Para penambang selama ini hanya mengira itu adalah masalah umum yang biasa terjadi pada mesin yang sudah tua dan lama dipakai. Tapi kini Arven mengetahui kebenarannya, kerusakan atau gangguan itu tidak berasal dari sistem utama yang biasa mereka gunakan.
Sumbernya ada di sini. Tepat pada modul kecil yang tersembunyi ini. Ini bukan sekadar bagian tambahan yang dipasang belakangan. Modul ini terus berusaha untuk berfungsi berulang kali.
Arven menatap benda itu dalam waktu yang cukup lama. Cahaya biru yang keluar darinya memantul jelas di seluruh permukaan wajahnya.
Ia berbisik pelan.
“Jadi… siapa sebenarnya kamu, Astraeus?”
Tentu saja mesin besar itu tidak akan menjawab dengan suara. Tidak ada gerakan yang terlihat. Hanya dengungan halus aliran tenaga yang terus terdengar, menjadi satu-satunya tanda bahwa benda raksasa ini masih bernyawa.
Beberapa detik kemudian, getaran yang terasa di sekeliling mereka tiba-tiba menjadi jauh lebih kuat.
DUM...
Arven terdiam mematung di tempat.
Di saat yang sama, pola kedip lampu penanda pada modul itu berubah total. Tidak lagi berkedip dengan kacau dan tidak beraturan. Kini nyalanya muncul dan padam dalam irama yang sama persis, satu demi satu.
Arven pun mengikuti arah aliran kabel energi itu. Jalurnya menuju tepat ke bagian tengah tubuh Astraeus, melewati lorong yang sedemikian sempitnya hingga nyaris mustahil ditemukan kalau tidak dilihat dari posisi dan sudut pandang yang tepat.
Di sepanjang dinding lorong itu, jaringan kabel biru menyebar ke segala arah, tampak persis seperti pembuluh darah yang berisi cahaya. Cahaya itu cukup terang untuk menerangi seluruh jalan yang mereka lalui.
Bayangan tubuh Arven bergerak mengikuti gerakannya seiring ia terus merangkak masuk lebih dalam. Suara gesekan pakaiannya dengan permukaan logam hanya terdengar samar, menjadi satu-satunya suara yang ada di ruangan tertutup itu.
Sampai akhirnya, di ujung lorong itu, sebuah bentuk besar mulai tampak jelas.
Sebuah pintu.
Terpasang menyatu langsung dengan struktur tubuh Astraeus. Di bagian tengah permukaannya terukir sebuah simbol yang bentuknya sama persis dengan yang ada di modul tadi. Tanda peninggalan dari zaman kejayaan para pencipta Titan.
^^^*gambar buatan AI^^^
Detak jantung Arven berpacu jauh lebih cepat dari biasanya. “Jangan bilang…”
Pikiran-pikiran yang selama ini selalu ia singkirkan karena dianggap mustahil, kini muncul satu per satu dengan jelas. Kemungkinan bahwa Astraeus bukan sekadar mesin tua yang kebetulan ditemukan lalu diubah fungsinya menjadi alat gali tambang. Kemungkinan bahwa di balik bentuk dan pekerjaannya yang sederhana ini masih tersimpan fungsi asli yang jauh lebih besar. Sesuatu yang selama ini sama sekali belum pernah digunakan oleh siapa pun.
Arven berhenti tepat di hadapan pintu raksasa itu.
Liora yang menyusul dari belakang ikut berhenti, lalu langsung mengerutkan dahinya saat melihat pemandangan di hadapan mereka.
“Itu bukan bagian dari peralatan tambang.”
“Jelas bukan,” jawab Arven singkat.
Pintu ini terbuat dengan kesempurnaan yang luar biasa. Di bagian tengahnya terdapat sebuah lubang kecil berbentuk persegi panjang.
Arven menatap lubang itu dalam waktu yang cukup lama. “…ini bukan sekadar tempat memasukkan kunci biasa.”
Tepat saat itu, benda yang ada di tangannya, Titan Wrench tiba-tiba kembali bergetar. Kali ini gerakannya jauh lebih kuat dan mantap.
Arven menundukkan kepalanya sebentar, melihat alat andalannya itu. “Jadi kau memang mengenali tempat ini…”
Ia menyentuh permukaan pintu itu. Ada rasa lain di sana, seperti menyentuh sesuatu yang telah terlelap dalam waktu yang sangat lama.
Dan tepat setelah itu, sesuatu mulai terjadi. Di bagian tengah pintu, lapisan logamnya bergerak perlahan.
KLIK...
Sebuah bagian mekanik kecil terdorong keluar ke permukaan, hingga lubang kunci itu terlihat jelas sepenuhnya. Bentuknya sama persis dengan ujung Titan Wrench yang ada di tangannya.
Liora otomatis mundur setengah langkah ke belakang. “Oke. Itu tidak normal.”
Arven tidak menjawab sepatah kata pun. Pandangannya hanya terpaku pada lubang itu, “jadi ini bukan sekadar pintu,” gumamnya pelan. “Ini adalah kuncinya sendiri.”
Arven mengangkat tangannya perlahan, membawa Titan Wrench tepat ke depan dadanya. Ujung alat itu berhenti tepat di hadapan lubang persegi yang menunggu.
Untuk sesaat ia ragu. Bukan karena rasa takut, melainkan lebih seperti keinginan untuk memastikan satu kali lagi, apakah yang akan ia lakukan ini masih bisa disebut hal yang masuk akal.
Di belakangnya, Liora mendekatkan wajahnya sedikit ke depan. “Arven, kita masih bisa kabur sekarang.”
Namun rasanya waktu sudah berhenti bergerak. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Arven mulai memasukkan ujung Titan Wrench tepat ke dalam lubang kunci.
Sangat pas.
KRRRRRR...
Suara gesekan mekanisme yang besar dan berat terdengar bergema, bukan hanya datang dari arah pintu di hadapan mereka, melainkan dari seluruh penjuru.
Arven menegakkan tubuhnya, seluruh ototnya menjadi tegang.
Liora langsung mengambil posisi siap, matanya mengamati sekeliling dengan waspada. “Oke… itu bukan suara biasa.”
Seketika garis-garis berwarna biru yang selama ini hanya berdenyut samar di sepanjang lorong mulai menyala semakin terang.
Seluruh ruangan itu menyala bersamaan dalam sekejap. Perlahan namun pasti, pintu itu mulai bergerak membuka. Gerakannya berat, terasa seperti mengangkat beban yang telah tertimbun selama berabad-abad lamanya.
GGRRRAAAKK…
Sebuah celah tipis muncul tepat di bagian tengahnya. Dan dari balik celah itu, cahaya biru yang jauh lebih murni dan terang mulai merembes keluar, menerangi seluruh ruangan dengan sinarnya yang lembut namun kuat.
Arven diam mematung di tempat.
Liora menahan napasnya sendiri.
“…itu apa?” bisiknya pelan.
Arven tidak menjawab.
Karena untuk saat ini, ia pun belum memiliki jawaban apa-apa.
Yang terlihat di hadapan mereka bukan sekadar ruangan kosong yang biasa. Melainkan sesuatu yang memancarkan energi.
Arven merasa mesin raksasa yang selama ini ia kenal, baru saja membuka matanya.
...⚙⚙⚙...
A/N : jika kalian suka dengan cerita ini, support author dengan mengirimi hadiah ya...
—T28J
tapi cerita dan dunianya bagus kok, terus semangat ya
Alice hanya menatap para pekerja itu dari kaca sihir yang mengambang di udara.
"Ah.. beberapa manusia yang bosan hidup ya? biar saja Xena, mereka memang suka cari mati. nanti pingsan sendiri." Alice kembali ke kuilnya meninggalkan Xena yang masih berlari memutar.
"Ini.... dunia ini terlihat lebih kejam dari dunia kita." potong Arthur yang baru saja selesai mandi. ( oh wow pakai baju thur)