Cinta sejati itu mengikhlaskan, merelakan dan melepaskan. Membiarkan bahagia orang yang kita cintai. Meskipun bahagianya dengan orang lain dan bukan bersama kita. Manusia hanya bisa berencana tapi tetap Allah yang menentukan bagaimana ke depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofiyah 19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Semua orang duduk di ruang keluarga. Alif duduk di samping Raffa, Asya duduk di samping umi dan abi duduk di sofa single.
"Alif sengaja ajak Asya ke sini untuk melepas rindu dengan kalian semua. Tapi ada satu kabar lagi yang harus kalian dengar," ucap Alif mengawali
"Apa itu?," tanya Raffa
Alif menyerahkan amplop kepada abi. Itu semua tak luput dari pandangan semua orang di ruangan itu. Abi menerimanya lalu membuka isi dari amplop itu.
Mata abi berkaca-kaca saat tau isinya. Ia memandang Alif sambil tersenyum haru. Alif menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Umi dan Raffa penasaran isi amplop tersebut.
Abi memperlihatkan kertas usg itu ke semua orang. Umi dan Raffa juga ikut terharu. Raffa menepuk bahu Alif sambil tersenyum.
Umi memegang perut Asya sambil mengucapkan doa. Abi berpindah duduk menjadi di samping Asya. Ia juga melakukan hal yang sama dengan umi.
Asya mengaminkan doa orang tuanya. Ia merasa beruntung karena tak hanya disayangi orang tua kandung tapi mertua juga.
'Berikan kesehatan untuk keempat orang tuaku, Ya Allah agar mereka bisa menemani cucu sampai semua cucunya tumbuh dewasa' batin Asya
"Barakallah ya, Dek," ucap Raffa tulus
"Aamiin. Terima kasih, Abang," ucap Asya sambil membentuk jari love
Pukul 02.00 wib
Asya gelisah dalam tidurnya. Alif terbangun dan melihat istrinya memegang perut.
"Kenapa sayang?," tanya Alif sambil memegang perut Asya
"Lapar Mas," ucap Asya sambil memandang suaminya
Alif terkekeh kecil dengan perilaku istrinya. Ia mengacak rambut Asya gemas. Asya menggembungkan kedua pipinya. Alif yang tak tahan mencubit gemas pipi gembul istrinya.
"Jangan pasang ekspresi gini di depan orang lain," ucap Alif gemas
"Kenapa?," tanya Asya
"Kami terlalu sempurna," jawab Alif
"Jangan terlalu memuji nanti kena ain," ucap Asya
"Oke. Sekarang bilang mau makan apa? Nanti Mas belikan," ucap Alif
"Aku mau bakso di pertigaan depan," ucap Asya
"Siap ibu negara," ucap Alif lalu memakai jaketnya
"Terima kasih. Hati-hati di jalan," ucap Asya sambil tersenyum
"Tunggu ya," ucap Alif lalu mencium kening Asya
Alif keluar kamar dan akan membeli pesanan istri cantiknya. Karena tempatnya tidak terlalu jauh, ia memutuskan untuk jalan kaki.
Saat akan keluar pesantren, tanpa sengaja ia bertemu 2 santri keamanan yang sedang patroli. Mereka menyapa Alif dan mencium tangannya takzim.
"Mau kemana dini hari begini, Gus?," tanya santri satu
"Oh mau ke pertigaan depan, Kang," jawab Alif sambil tersenyum
"Jalan kaki saja, Gus? Kenapa tidak menggunakan kendaraan?," tanya santri kedua
"Lagi pengen jalan saja. Lagipula jaraknya juga dekat," jawab Alif
"Kita temani ya, Gus. Biar aman," tawar santri satu
"Kalo nggak keberatan juga gak masalah," ucap Alif sambil tersenyum
"Dengan senang hati kami temani," ucap santri kedua
Alif berjalan keluar pesantren. Ia ditemani dua santri abi nya. Setelah 5 menit berjalan, akhirnya mereka sampai tujuan.
"Pak, masih ada nggak baksonya?," tanya Alif kepada pedagang
"Kebetulan tersisa 3 porsi," jawab pedagang
"Ya sudah nggak papa, Pak," ucap Alif sambil tersenyum
"Wajah Mas kok nggak asing ya," ucap pedagang
"Mungkin mirip orang yang bapak kenal," jawab Alif terkekeh
Alif duduk di kursi bersama 2 santri. Mereka sedikit bertukar cerita.
"Tumben beli bakso jam segini, Gus?," tanya santri satu
"Permintaan ning Asya," jawab Alif terkekeh
"Subhanallah, ning lagi ngidam?," tanya santri kedua
Alif hanya tersenyum dan mengangguk. Kedua santri memberikan ucapan selamat. Setelah beberapa lama, pesanan telah selesai.
Alif memberikan uang seratus ribu pada pedagang. Saat pedagang mau memberikan kembalian, Alif menolak dengan halus.
"Anggap saja rejeki, Pak," ucap Alif
"Terima kasih. Semoga Mas lancar rejekinya dan berkah," ucap pedagang tulus
"Aamiin. Mari, assalamualaikum," ucap Alif
"Waalaikumsalam," jawab pedagang
Alif dan dua santri berjalan kembali ke pesantren. Pedagang bakso memandangi sosok pemuda dengan aura bersinar itu.
Sesampainya di pesantren, Alif memberikan dua bungkus bakso kepada santri yang menemaninya itu. Awalnya mereka menolak tapi karena Alif memaksa akhirnya mereka menerimanya.
Setelahnya Alif kembali ke ndalem. Saat akan menaiki tangga, ia melihat sosok istrinya sedang duduk di meja makan. Alif segera menghampirinya. Asya tersenyum girang saat tau suaminya datang.
"Nunggu lama?," tanya Alif sambil menuangkan bakso ke mangkok
"Aku baru aja ambil minum," jawab Asya sambil tersenyum
Alif mengambilkan sendok dan garpu. Ia lalu menyerahkan seporsi bakso di depan Asya. Aroma kuah yang begitu lezat membuat siapapun pasti segera memakannya.
"Kok cuma satu?," tanya Asya heran
"Buat kamu aja," jawab Alif sambil mengelus kepala Asya
Alif melirik jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 02.30 wib.
"Sayang, aku tinggal tahajud dulu nggak papa?," tanya Alif
"Iya nggak papa. Lagian aku udah sholat duluan waktu kamu keluar," jawab Asya sambil tersenyum
"Aku ke atas dulu ya," pamit Alif lalu mencium pelipis istrinya
Asya hanya menganggukkan kepalanya. Ia sibuk melahap bakso favoritnya itu. Alif berjalan menuju kamar.
Asya menikmati baksonya dengan kegembiraan. Ia sudah lama tidak makan makanan favoritnya itu. Selang beberapa menit, Raffa datang ke dapur. Ia akan meminum dan melihat adiknya sedang makan.
"Tumben jam segini makan? Kamu puasa?," tanya Raffa sambil mengambil air di kulkas
Ia duduk di samping Asya lalu menuangkan air. Ia juga memberikan Asya minum.
"Terima kasih," ucap Asya setelah menghabiskan bakso
Raffa meneguk airnya. Ia memandangi tingkah adiknya yang makan bakso diwaktu seperti ini. Biasanya Asya akan makan nasi atau buah-buahan.
"Kami ngidam ya?," tebak Raffa
"Hehehe iya Bang," jawab Asya terkekeh
"Oalah pantes aja makan bakso jam segini," ucap Raffa
"Abang mau ke masjid?," tanya Asya
"Iya tapi nunggu suami kamu," jawab Raffa
"Mas Alif lagi sholat pastinya," ucap Asya
"Iya tadi waktu aku mau ke dapur gak sengaja papasan," ucap Raffa
Hening. Asya maupun Raffa sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Raffa menghela napasnya pelan.
"Rasanya berat, Dek. Padahal sudah 5 bulan berlalu tanpa dia," ucap Raffa
Asya mengusap punggung abang kesayangannya itu. Raffa hanya bisa membagi kesedihannya itu hanya pada Asya saja. Ia terlihat begitu tegar di hadapan semua orang.
"Semalam aku mimpi," ucap Raffa sambil memandang Asya
"Mimpi apa?," tanya Asya
"Abang mimpi Lisa berada di taman dengan anak kecil yang tampan. Wajahnya mirip sekali denganku. Anak itu berlari ke arahku minta gendong sambil manggil ayah," ucap Raffa lirih
"Apa kakak mengatakan sesuatu?," tanya Asya
"Lisa mengatakan bahwa aku harus melanjutkan hidup. Aku harus mencari seseorang untuk jadi pendamping dalam keadaan apapun," jawab Raffa sambil menatap lurus ke depan
"Itu artinya kakak sudah ikhlas jika Abang menikah lagi. Abang berhak bahagia," ucap Asya
Raffa hanya menganggukkan kepalanya. Asya memeluk abangnya itu dari samping.