🍂🍂🍂🍂🍂
Napas gadis itu hangat menyentuh lehernya. Bulu mata Yura tampak basah, alisnya berkerut seolah tengah menahan sesuatu bahkan dalam keadaan tidak sadar.
"Tolong…" suara Yura terdengar lirih, matanya tetap terpejam. "Siapa pun… tolong aku…"
Langkah Alexa terhenti.
"Aku sudah membuat masalah besar… aku malu… seharusnya aku tidak melakukan itu…" gumam Yura terputus-putus. "Sampai Pak Bos mengira dia menyukaiku… padahal itu akibat ajimat… aku salah meletakkannya."
Tubuh Alexa menegang.
🍃🍃🍃🍃🍃
Next.... 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diperbaiki atau diruntuhkan
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Ruangan praktik itu sunyi dengan Alexa duduk di kursi menghadap meja, tubuhnya tegak, bahunya kaku.
Di hadapannya, dua benda tergeletak berdampingan di atas meja.
Satu botol plastik susu berukuran kecil, dan satu botol kaca parfum berukuran kecil pula.
Alexa menatap keduanya tanpa berkedip. Bukan dengan ekspresi bingung. Bukan pula dengan rasa penasaran. Tatapannya kosong, seolah dua benda itu bukan benda, melainkan pintu menuju sesuatu yang tidak ingin ia buka.
Di seberang meja, seorang pria tua memperhatikannya dengan dahi berkerut halus.
Leonard.
Dokter keluarga yang telah mengenal Alexa sejak pria itu belum cukup tinggi untuk duduk di kursi ini dengan kaki menyentuh lantai.
Rambut Leonard sudah memutih hampir seluruhnya, kacamatanya bertengger rendah di hidung, dan tangannya terlipat di atas meja dengan sabar.
Ia tidak segera berbicara.
Ia menunggu.
Beberapa menit berlalu. Alexa masih diam.
Leonard akhirnya menghela napas pelan. "Kau tidak menatap hasil tes," ucapnya tenang. "Kau menatap… benda-benda itu."
Alexa tidak mengangkat kepala. Namun, suaranya keluar datar. "Karena hasil tes itu tidak berubah."
Leonard mengangguk pelan. "Dan dua benda itu?"
Alexa menutup mata sebentar, lalu membukanya lagi. Tangannya terangkat, memutar botol parfum itu sedikit, lalu menyentuh botol susu tanpa benar-benar memindahkannya. "Aneh," katanya singkat.
Leonard menyandarkan punggung ke kursinya. "Aneh bagaimana?"
Alexa terdiam cukup lama sebelum menjawab. "Aku tidak suka benda pemberian orang lain."
"Itu bukan hal baru."
"Aku tidak menyentuhnya biasanya." Alexa akhirnya mengangkat pandangannya. "Aku membuangnya."
Leonard mengangguk lagi. "Namun kali ini tidak."
"Tidak," Alexa mengakui. "Dan itu yang mengganggu."
Leonard melipat jari-jarinya. "Mulailah dari yang paling sederhana. Apakah kepalamu masih sakit?"
"Iya."
Jawaban itu keluar tanpa ragu. Nada Alexa tetap datar, nyaris seperti sedang melaporkan sesuatu yang tidak penting.
Leonard sedikit mencondongkan tubuh. "Sejak kapan?"
"Hari ini."
"Dan obat yang biasanya kuberikan?"
"Sudah lama tidak kuminum," jawab Alexa. "Sakitnya sempat benar-benar hilang. Tapi hari ini…"
Kalimatnya terhenti.
Leonard mengangkat alis tipis. "Apa yang membuat hari ini berbeda?"
Pandangan Alexa turun, berhenti pada botol parfum di atas meja. "Karena itu."
Leonard tidak langsung bereaksi. Ia membiarkan keheningan bekerja sejenak. "Lanjutkan."
Alexa menarik napas pelan. "Aku menerimanya dari salah satu pegawaiku. Ia dengan lancang memasukkannya ke dalam tasku tanpa sepengetahuanku."
Leonard tersenyum tipis. "Seorang wanita."
"Iya," jawab Alexa cepat.
Leonard mengangguk perlahan. "Apakah kau menegurnya? Atau memarahinya sampai kepalamu kembali terasa sakit?"
"Tidak," jawab Alexa singkat. "Aku tidak menegurnya. Bahkan aku tidak membicarakan hal itu dengannya."
Leonard menatapnya lebih saksama. "Lalu apa yang memicu sakitnya kembali?"
"Aku memecat beberapa karyawan hari ini," kata Alexa. "Dan aku mendengar mereka mengumpat."
Leonard menghela napas pendek. "Itu bukan hal baru bagimu."
"Bukan umpatan itu yang menjadi masalah," sahut Alexa. "Mereka menyebut nama ibuku."
Keheningan turun, tipis namun terasa menekan.
Leonard akhirnya angkat suara, nadanya rendah. "Dan saat itu, kau kehilangan kendali?"
Alexa menggeleng pelan. "Tidak. Aku tidak memarahi siapa pun." Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, lebih pelan. "Tapi… anehnya, setelah aku mencium parfum ini, semuanya mereda seketika. Dan itu bagian yang tidak masuk akal bagiku."
Leonard nyaris meraih botol parfum itu, namun gerakannya terhenti ketika tangan Alexa lebih dulu terangkat, menahan dengan isyarat tenang namun tegas. "Tidak perlu," katanya singkat. "Anda tidak harus menyentuhnya."
Leonard menarik tangannya kembali. Sudut bibirnya terangkat tipis, senyum kecil yang lebih menyerupai pengamatan daripada hiburan.
Leonard tetap tenang. "Apa yang tidak masuk akal?"
"Dia seperti membelaku dan begitu saja memberikanku susu. Aku seharusnya menolaknya. Tapi susu itu tidak bisa ku buang juga." nyaris Alexa mengetuk meja sekali dengan jarinya.
"Ternyata tidak bisa kau lakukan juga."
"Tidak." Alexa mengeraskan rahangnya. "Tapi aku membawanya kesini."
Leonard memiringkan kepala. "Dan?"
"Dan itu sangat aneh," lanjut Alexa, suaranya sedikit lebih rendah, "Aku tidak tahu kenapa ini terjadi."
Leonard tidak memotong.
"Mungkinkah karena aroma parfum ini…" Alexa berhenti sejenak, seolah memilih kata. "Membuat rasa sakit itu mereda. Cepat. Terlalu cepat. Dan susu itu…"
Leonard menyipitkan mata. "Apa parfumnya seperti efek obat penenang?"
"Ya," jawab Alexa tanpa ragu. "Sama persis."
Leonard bersandar kembali. "Padahal itu hanya parfum."
"Seharusnya begitu," Alexa menatapnya tajam.
Leonard tersenyum kecil. "Bukan karena sakitmu kepala?"
Alexa terdiam.
Leonard melanjutkan dengan nada lembut namun menusuk. "Kau terganggu karena sesuatu yang bukan obat bisa memengaruhimu seperti obat."
"Lebih dari itu," Alexa berkata pelan. "Aku terganggu karena aku membutuhkannya."
Leonard mengangguk perlahan. "Dan botol susu itu?"
Alexa meliriknya, tapi tidak bisa berkata-kata.
Leonard tersenyum lebih lebar. "Kau mau meminumnya?"
"Tidak."
"Tapi kau tidak mau membuangnya juga."
"Iya," jawab Alexa.
Leonard menatap Alexa lama, lalu berkata pelan, "Selama ini kau datang kemari karena sakit kepala. Karena insomnia. Karena sesak yang selalu datang mempengaruhi. Tapi hari ini… kau datang membawa dua benda kecil dan wajah yang jauh lebih lelah."
Alexa tidak membantah.
Leonard melanjutkan, "Ceritakan padaku tentang wanita itu."
Alexa langsung menegang. "Tidak ada yang perlu diceritakan."
Leonard tersenyum tipis. "Itu jawaban yang sama sejak kau berusia tujuh belas."
Alexa menoleh tajam. "Aku tidak tertarik."
"Aku tidak bertanya apakah kau tertarik," Leonard membalas tenang. "Aku bertanya kenapa kau bereaksi."
Alexa terdiam lama.
"Aku tidak pernah—" Alexa berhenti, menghela napas. "Aku tidak pernah peduli."
Leonard mengangguk. "Aku tahu."
"Aku melewati masa pubertas tanpa ketertarikan." Alexa berkata dingin. "Tanpa keinginan. Tanpa rasa ingin tahu."
"Dan itu bukan karena kau tidak normal," Leonard menimpali.
"Melainkan karena kau membangun tembok terlalu cepat."
Alexa menatapnya datar. "Karena wanita adalah sumber masalah."
Leonard tidak tersinggung. "Karena ibumu."
Rahang Alexa mengeras seketika.
Leonard melanjutkan dengan suara lebih pelan. "Kau melihat bagaimana seorang wanita bisa hancur sendirinya. Bagaimana kasih sayang bisa berubah menjadi racun. Dan kau menyimpulkan satu hal lebih aman menjauh."
Alexa tidak menyangkal.
"Sejak itu," lanjut Leonard, "Kau menganggap ketertarikan pada wanita sebagai ketakutan. Sebagai sesuatu yang tidak pantas ditiru."
"Itu logis," Alexa berkata datar.
Leonard tersenyum samar. "Logis, tapi tidak manusiawi."
Alexa mengalihkan pandangan. "Aku tidak pernah berpacaran. Tidak pernah punya kekasih. Dan aku tidak merasa kehilangan apa pun."
"Tidak," Leonard mengoreksi. "Kau hanya belum merasa."
Alexa menatapnya tajam. "Jangan katakan apa yang tidak bisa kau buktikan."
Leonard menunjuk dua benda di meja. "Ini buktinya."
Alexa terdiam.
Leonard melanjutkan, suaranya tetap lembut namun tegas. "Seorang pria yang tidak pernah tertarik pada wanita tidak akan terganggu oleh parfum pemberian seorang karyawan. Tidak akan menyimpan susu pemberiannya. Tidak akan duduk termenung menatap dua benda seolah itu bom waktu."
"Aku tidak jatuh cinta," Alexa berkata cepat.
Leonard mengangguk. "Mungkin belum."
Alexa mendengus pelan. "Omong kosong."
"Mungkin," Leonard setuju. "Namun dari ceritamu, tampaknya kau sedang jatuh ke dalam sesuatu yang selama ini kau hindari."
"Ketergantungan," Alexa membalas dingin.
"Atau ketertarikan," Leonard membalas tenang.
Hening panjang menyelimuti ruangan.
Alexa akhirnya bersuara, lebih pelan dari sebelumnya. "Aku tidak suka perasaan ini."
Leonard tersenyum lembut. "Tidak ada yang suka kehilangan kendali."
"Aku tidak mengulur waktu," Alexa berkata serius. "Jika ini gangguan, aku ingin tahu sekarang."
Leonard menatapnya dalam. "Dan jika ini perasaan?"
Alexa terdiam lama. "Maka," katanya akhirnya, "Aku harus memutuskan."
Leonard tersenyum kecil, nyaris iba. "Itulah masalahnya. Kau selalu memutuskan terlalu cepat."
Alexa menatap botol parfum itu lagi. Lalu botol susu.
Dua benda kecil.
Dua celah di tembok yang selama ini ia bangun dengan susah payah, dan dalam waktu yang sangat lama, Alexa tidak yakin tembok itu ingin ia perbaiki… atau runtuhkan.
ak g sabar rose kebuka topengy d dipermalukan alexsa....dan....rendra ahhhh....mgkn akn lbh dr menyesal mgkn..
untung dr awal alexsa sdh pernah melihat rose dg rendra
tega ya kamu Rose kamu dukung kamu kasih support Yuna dgn ide" gilamu se-olah" kamu sahabat yg terbaik yg mendukung Yuna dan tidak tahunya kamu lah musuh dalam selimut merendahkan diri Yuna dgn macam" cara dgn kedok kasihan dan tidak tega 😤😏 Rose kamu tu manusia paling munafik untuk apa berbohong demi apa Rose kalau kamu sendiri sering main kuda"an dgn Rendra 🤮😩 kamu jahat orang seperti mu tidak pantas disebut sahabat di depan so mendukung tapi di belakang menusuk hati sampai ke tulang" kejam 👊🥺