Indira termangu mendengar permintaan nyonya Hamidah,mengenai permintaan putra dari majikannya tersebut.
"Indira,,mungkin kekurangan mu ini bisa menjadi suatu manfaat bagi putraku,, mulai sekarang kamu harus menyerahkan asimu buat diminum putraku,kami tahu sendiri kan? putraku punya kelainan penyakit ." ujar nyonya Hamidah panjang lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mulai ada titik terang
Siang harinya, suasana kamar terasa lebih tenang. Darsih baru saja mengambil baki makanan kosong dari meja kecil Indira.
"Mumpung tuan sedang bekerja,sebaiknya kamu istirahat nak," bisik nya pada Indira.
Indira menatap ibunya lalu mengangguk.
"Nanti saja bu,aku belum mengantuk,,aku mau belajar dulu."
"Yasudah kalau begitu,,kalau ngantuk tidur saja hmm?"
Setelahnya Darsih keluar.
Sesuai perintah Arjuna, Indira tidak diperbolehkan banyak bergerak. Ia hanya bersandar pada kepala tempat tidur, mencoba membaca kembali buku catatan matematikanya, namun fokusnya terus teralihkan oleh suara ketikan keyboard dari sebelahnya.
Arjuna tampak begitu sibuk. Alisnya bertaut serius menatap layar laptop. Sesekali ia memijat pelipisnya, tanda bahwa beban kerjanya tidaklah ringan meski ia sedang dalam masa pemulihan.
"Tuan," panggil Indira ragu-ragu.
Arjuna berhenti mengetik, namun tidak menoleh. "Apa?"
"Apakah... apakah Tuan tidak merasa bosan hanya bekerja terus?" Indira memberanikan diri. "Maksud saya, Tuan juga butuh istirahat. Miss Rina tadi bilang, otak juga butuh jeda agar tidak stres."
Arjuna akhirnya menoleh. Ia menutup laptopnya perlahan, lalu menatap Indira dengan tatapan yang sulit diartikan. "Istirahat bagiku adalah kemewahan yang jarang bisa kunikmati, Indira. Dunia bisnis tidak akan berhenti berputar hanya karena aku sedang sakit."
Ia kemudian memperhatikan kaki Indira yang masih dibalut perban. "Bagaimana kakimu? Masih berdenyut?"
Indira menggerakkan jempol kakinya sedikit. "Sudah jauh lebih baik, Tuan. Terima kasih sudah mengizinkan ku belajar disini,,"
"Dan terima kasih juga karena sudah menyiapkan susu juga makanan ringan untukku." lanjut Indira.
Arjuna terdiam sejenak, lalu ia bergeser, duduk di tepi ranjangnya. "Susu itu bukan hanya untukmu. Itu investasi. Jika nutrisimu buruk, cairan yang kuhisap pun tidak akan memberikan efek pemulihan yang maksimal bagi tubuhku. Jadi, jangan berpikir aku melakukannya karena kasihan."
Indira tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat tulus namun menyimpan sedikit kesedihan. "Apapun alasannya, saya tetap berterima kasih. Setidaknya Tuan memperhatikan apa yang saya konsumsi."
Mendengar itu, ada sesuatu yang berdesir di dada Arjuna. Ia segera mengalihkan pembicaraan.
"Malam nanti, aku ingin kau tidur lebih awal. Aku merasa suhu tubuhku mulai naik lagi. Mungkin efek dari kelelahan bekerja seharian."
"Baik tuan,,saya akan tidur lebih awal,,kalau perlu saya akan memompa asi saya untuk tuan,siapa tahu tuan tidak sabar menghisap langsung dari dadaku," tawar Indira.
"Tidak perlu,selama masih berada dirumah sakit,aku akan tetap minum langsung dari wadahnya,seperti anjuran dokter."
Indira tidak menjawab lagi,jika tuannya sudah mengatakan demikian,maka itulah yang akan terjadi.
***
Benar saja, menjelang malam, wajah Arjuna kembali pucat.
Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Ia kembali merasakan sensasi terbakar yang familiar di kerongkongannya. Rasa haus itu datang lebih cepat dan lebih intens dari malam sebelumnya.
Pukul delapan malam, Arjuna sudah tidak tahan lagi.
"Indira... kemari," desisnya. Suaranya kini terdengar lebih rapuh, hampir seperti rintihan.
Indira yang memang sudah bersiap, segera merangkak mendekat dengan hati-hati. Ia tidak menunggu perintah kedua. Ia tahu tugasnya. Tanpa diminta, ia langsung duduk di samping Arjuna, membantu pria itu bersandar pada bantal yang ditumpuk.
Namun kali ini, sebelum Indira membuka kancing bajunya, Arjuna menahan tangan gadis itu.
"Tunggu," gumam Arjuna. Ia menatap mata Indira lekat-lekat. "Kali ini... jangan melakukannya karena kau terpaksa. Lakukan karena kau ingin membantuku bertahan hidup."
Indira terpaku. Kata-kata Arjuna terasa lebih intim daripada kontak fisik yang mereka lakukan selama ini.
Ada rasa iba yang menjalar disetiap nadi Indira mendengar permintaan tuannya.
"Tuan... sejak awal, saya sudah menyerahkan diri saya untuk membantu Anda. Apapun status saya di mata tuan, saya tidak pernah melakukannya dengan terpaksa setelah melihat betapa menderitanya tuan saat haus itu datang."
Arjuna melepaskan tangan Indira, membiarkan gadis itu membuka pakaiannya sendiri. Kehangatan yang terpancar dari tubuh Indira seolah menjadi oase di tengah padang pasir yang membakar tubuh Arjuna.
Begitu kulit mereka bersentuhan, Arjuna langsung membenamkan wajahnya. Kali ini, ia tidak sebuas tadi malam.
Hisapannya lebih lembut, lebih lama, seolah ia ingin menyesap setiap tetes kehidupan yang diberikan Indira dengan penuh perasaan.
"Sshhh..." Indira mendesah pelan, kali ini bukan karena sakit, melainkan karena getaran aneh yang mulai merambat di tubuhnya.
Ia merasakan tangan Arjuna yang besar meremas lembut pinggangnya, menariknya semakin rapat hingga tidak ada jarak di antara mereka.
Di dalam keheningan kamar yang hanya diterangi lampu tidur temaram, suara tegukan teratur itu menjadi melodi yang mengikat mereka dalam sebuah rahasia yang tidak diketahui dunia luar.
Puas menguras satu dada Indira,Arjuna beralih ke dada satu lagi,seperti biasa.
Indira menyodorkan pucuk dadanya ke mulut Arjuna,pria itu langsung melahap habis.
setelah menghisap lama,,Arjuna akhirnya melepaskan puting Indira.
Wajahnya kembali berseri,penuh kepuasan.
"Terimakasih Indira."
suaranya tidak serak lagi.
Indira hanya mengangguk,kembali membenahi pakaiannya.
"Omong omong apa kamu sudah punya pacar?" Arjuna bertanya soal peribadi Indira.
Gadis berambut panjang itu menggeleng lemah.
"Memangnya ada pria yang mau dengan wanita aneh tuan? jangankan mengajak pacaran,mengetahui kondisi ku seperti ini saja pasti mereka akan syok." Indira tertawa pahit.
Arjuna terdiam.
Menatap lekat gadis berlesung pipi itu,ada rasa iba sekaligus kebanggaan tersendiri baginya.
Dia iba mendengar cerita Indira yang satupun pria pasti tidak mau dengannya.
Di sisi lain dia bangga karena artinya dia lah orang pertama yang menyentuh dada gadis itu.
"Baguslah kalau begitu,tidak perlu pacaran dulu, utamakan sekolah,,menggapai cita-cita,jangan asyik pacaran seperti pada umumnya gadis jaman sekarang." petuah Arjuna,sudah seperti seorang ustadz memberi ceramah.
"Terimakasih nasehatnya tuan,saya memang tidak berniat berpacaran dengan siapapun,,saya ingin mengejar cita cita setinggi mungkin,saya ingin membahagiakan ibu saya,"
"Bagus lah,," angguk Arjuna puas.
***
Hamidah dan Pratama masih sibuk mengurus sesuatu diluaran sana,terkait kecelakaan yang menyebabkan putra semata wayangnya patah tulang yang mengakibatkan kakinya lumpuh,meskipun hanya sementara.
Mereka masih mengusut soal rekayasa kecelakaan itu.
Semua CCTV sepanjang jalan sedang diperiksa.
Hamidah,yang merupakan ibunya Arjuna tidak Terima dengan kecelakaan putranya,,harus diusut tuntas.
Penabrak putranya harus di tangkap,bagaimanapun caranya.
Itu sebabnya Pratama mengerahkan semua anak buahnya menguak kecelakaan ini,bahkan polisi pun dilibatkan juga.
Sudah mulai ada titik terang.
Truk yang menabrak mobil Arjuna sudah berhasil diamankan,dan anak buanya sudah mengantongi identitas si penabrak.
Tinggal menunggu kapan tertangkapnya pria itu.
Siapa yang menyuruh dan apa motif nya
Jika kedapatan yang menjadi dalang kecelakaan Arjuna adalah karena persaingan bisnis,maka Pratama bersumpah akan menghancurkan semua usaha nya,begitu juga nyawa nya,akan di cabut paksa dari raganya.
Itulah sumpah Pratama.
"Sebaiknya mama kerumah sakit saja ya? menunggui Arjuna,,mama kecapekan kalau ikut terus," ucap Pratama lembut pada istrinya.
"Tidak pa! mama harus ikut! mam harus pastikan siapa yang tega melakukan itu pada putra kita." Hamidah menggeleng menolak ucapan suaminya.
"Papa dan anak buah yang akan melakukannya ma,kalau nanti sudah ketangkap,papa akan beritahu mama,,oke?"
Pratama masih membujuk istrinya.
"Lagipula Arjuna butuh dukungan ma,,kalau mama dan papa tidak kunjung datang kerumah sakit buat nengokin dia,takutnya dia berasumsi kita tidak menyayanginya." lanjut Pratama.
Hamidah tampak memikirkan ucapan suaminya.
Ada benar nya juga dengan ucapan suaminya.
Percuma juga dia ikut ikut terus,,bukannya berguna,capek iya.
Sementara kalau dia menunggui putranya dirumah sakit,lebih berguna ketimbang ngekor pada suaminya.
"Baiklah pa,tapi secepatnya usut tuntas masalah ini hmm? mama harus buat perhitungan pada penjahat itu." desis Hamidah geram.
"Pasti ma,ayo kuantar ke rumah sakit,,papa akan mampir sebentar melihat kondisi Arjuna."
Kedua pasutri itu akhirnya memilih kerumah sakit.
Bersambung...