NovelToon NovelToon
ISTRI BERCADAR MAFIA

ISTRI BERCADAR MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

ISTRI BERCADAR MAFIA

​Jakarta. Di bawah guyuran hujan yang meradang.
​Di dalam dinding mansion mewah bergaya Eropa, takdir dua dunia yang bertolak belakang baru saja disatukan oleh paksaan dan ancaman. Ini bukan kisah cinta, melainkan kisah pengorbanan di ujung moncong pistol.

​Alaska Ravendra. Nama itu adalah sinonim dari kekuasaan, kegelapan, dan kekejaman. Sebagai pemimpin Black Vipers, kelompok mafia yang paling ditakuti di Asia Tenggara, ia hidup dalam hukumnya sendiri, yang kuat memakan yang lemah. Di tangan dinginnya, pistol Beretta perak hanyalah mainan, dan nyawa manusia adalah alat tawar menawar.

​Di hadapannya berdiri Sania Humairah, seorang gadis sederhana yang jiwanya berhias iman dan raga terbungkus cadar hitam—simbol dari kehormatan yang ia jaga melebihi nyawanya.

Sania dipaksa menjadi "bayaran" atas hutang ayahnya kepada Alaska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ISTRI BERCADAR MAFIA

​Bab 10: Pilihan Tino dan Dilema Sang Bos.

​Sania dan Tino melanjutkan sesi bimbingan agama rahasia mereka. Ruang belakang mobil mewah Alaska, yang seharusnya menjadi simbol kekuasaan dan bisnis, kini menjadi ruang kelas spiritual yang sunyi. Sania mengajarkan Tino tentang istighfar (memohon ampun), tawakal (berserah diri), dan yang paling sulit, hijrah (perpindahan) dari pekerjaan yang haram.

​Tino, yang hatinya sudah lunak karena kerinduan pada istri dan anak-anaknya, menyerap setiap kata Sania seperti tanah kering menyerap air.

​Tino Memilih Jalan.

​Dua minggu berlalu. Kehidupan Tino mulai berubah drastis. Ia berhenti minum alkohol dan merokok. Ia belajar salat lima waktu dan selalu menyempatkan diri salat di masjid terdekat setiap kali mengantar Sania ke majelis.

​Perubahan itu tidak luput dari pengamatan Alaska. Alaska melihat Tino menjadi lebih tenang dan lebih fokus dalam bekerja. Namun, ia tidak menduga apa yang sedang terjadi di balik layar.

​Suatu malam, sekitar pukul 23.00, Tino mengetuk pintu ruang kerja Alaska. Ruangan itu dipenuhi peta bisnis, monitor pengintai, dan aroma tembakau cerutu mahal yang baru saja dipadamkan Alaska.

​"Masuk," kata Alaska, tanpa mengangkat pandangannya dari dokumen di tangannya.

​Tino masuk, berdiri tegak di depan meja Alaska, dan berkata dengan suara yang mantap.

"Tuan Alaska, saya ingin bicara tentang pekerjaan saya."

​Alaska akhirnya mengangkat pandangannya.

"Ada apa Tino? Kau ingin naik gaji? Kau sudah melakukan pekerjaan dengan baik menjaga Nyonya Sania. Aku akan memberikannya."

​"Bukan, Tuan. Saya berterima kasih atas semua kebaikan dan kesempatan Anda. Anda sudah seperti ayah bagi saya," ujar Tino. "Tapi saya... saya harus berhenti. Saya mengundurkan diri dari Black Vipers, Tuan."

​Keheningan seketika mencekik. Alaska meletakkan pena emasnya dengan gerakan perlahan. Matanya menyipit tajam, memancarkan bahaya yang selama ini tersembunyi.

​"Ulangi, Tino," desis Alaska.

​"Saya mengundurkan diri, Tuan. Saya tidak bisa lagi bekerja di sini. Saya harus mencari pekerjaan lain yang... halal. Saya harus menjemput kembali istri dan anak-anak saya."

​Alaska tertawa kecil, tawa yang tidak lucu. "Tino. Kau tahu konsekuensinya berhenti dari Balck Vipers, kan? Tidak ada yang bisa berjalan keluar dari lingkaran ini tanpa izin dariku, apalagi orang yang tahu semua rahasia perjalananku di awal."

​"Saya tahu, Tuan," Tino menunduk hormat. "Tapi saya harus melakukannya. Saya memilih Allah dan keluarga saya."

​"Allah?" Alaska mencibir. "Sejak kapan kau menjadi religius? Ini pasti ulah istriku, Sania. Dia meracuni pikiranmu dengan omong kosong tentang surga dan dosa, benar?!"

​Tino menggelengkan kepala. "Nyonya Sania hanya membantu saya melihat jalan yang sudah lama saya lupakan, Tuan. Beliau hanya perantara. Pilihan ini murni pilihan saya. Saya ingin kembali menjadi suami yang pantas, suami yang tangannya bersih, seperti yang Fatimah inginkan."

​Alaska berdiri, kedua tangannya diletakkan di atas meja, mencondongkan tubuh ke depan.

"Kau adalah anak buah terbaik yang pernah kumiliki, Tino! Setia, kuat, dan cerdas. Aku menawarkanmu dua kali lipat gaji. Ambil cuti tiga bulan. Pergi temui istrimu. Aku akan berikan apa pun yang kau mau. Tapi jangan tinggalkan aku."

​"Maaf, Tuan," Tino tetap teguh. "Uang Anda tidak bisa membelikan saya ridho istri, apalagi ridho Allah. Saya tidak akan menerima uang yang haram lagi. Saya sudah memutuskan."

​Alaska mengepalkan tinjunya. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena amarah, melainkan karena rasa pengkhianatan. Tino adalah bagian dari dirinya, dan kini Sania telah mencurinya.

​"Kau berani menantangku, Tino?!" Suara Alaska menggelegar. "Kau tahu aku bisa membuatmu menghilang sekarang juga. Atau aku bisa membuat istrimu tidak akan pernah mau melihatmu lagi, karena dia tahu apa yang kau lakukan di masa lalu."

​Tino mengangkat kepalanya. Matanya basah, tapi pandangannya tidak goyah.

"Jika Anda membunuh saya, saya mati sebagai seorang yang sedang bertaubat, Tuan. Dan Anda akan menanggung dosa membunuh orang yang ingin kembali ke jalan Allah. Jika Anda mengancam Fatimah, itu semakin membuktikan kepada saya bahwa saya berada di tempat yang salah. Saya sudah ikhlas dengan pilihan saya."

​Kata-kata Tino menusuk Alaska seperti Hadits yang tajam. Ancaman yang biasanya bekerja, kini menjadi tidak berdaya di hadapan ketulusan taubat. Alaska baru saja membaca laporan bahwa Kyai Hamzah tidak bisa disentuh karena integritasnya. Kini, ia melihat integritas yang sama pada Tino.

​Dilema Sang Mafia.

​Alaska mundur selangkah, melepaskan dasi yang mencekiknya. Ia berjalan menuju minibar, meraih sebotol whiskey, namun lagi-lagi, ia tidak membukanya.

​Ia ingat kata-kata Sania:

"Anda harusnya cemburu melihat diri Anda sendiri yang semakin jauh dari fitrah."

​Ia ingat kata-kata Tino:

"Uang Anda tidak bisa membelikan saya ridho istri, apalagi ridho Allah."

​Alaska kini berada di persimpangan jalan. Jika ia memaksa Tino tetap tinggal, ia mempertahankan kontrolnya, tetapi ia akan semakin membuktikan pada Sania dan Tino bahwa ia adalah raja yang takut pada kebenaran. Ia akan merusak usaha Sania untuk memenuhi nafkah batin Tino, yang secara tidak langsung, juga merupakan bagian dari 'nafkah batin' Alaska (membimbing kebaikan).

​Alaska berbalik. Wajahnya terlihat tua dan lelah.

​"Duduk, Tino!" perintahnya.

​Tino duduk di kursi di hadapan Alaska.

​"Siapa yang lebih dulu mengenalkanmu pada istriku?" tanya Alaska, suaranya pelan dan berat.

​"Anda sendiri, Tuan. Anda yang memamerkannya di pesta Black Vipers," jawab Tino.

​"Dan sekarang, dia telah mencuri anak buah kesayanganku, Tino. Dia mencuri satu-satunya orang yang membantuku membangun Black Vipers dari nol," lirih Alaska.

​Tino diam.

​Alaska menghela napas panjang. Ia menatap Tino, lalu melihat ke luar jendela. Di luar sana, bulan bersinar terang, sebuah ironi yang kontras dengan kegelapan hatinya.

​"Baiklah," kata Alaska, keputusannya terdengar seperti patahan tulang. "Aku akan membiarkanmu pergi."

​Tino mengangkat kepalanya, tidak percaya. "Sungguh, Tuan?"

​"Tapi dengan satu syarat," potong Alaska, matanya kembali tajam. "Kau bisa pergi. Semua yang kau tahu tentang Balck Vipers, kau anggap tidak pernah ada. Jika kau membocorkan satu kata pun tentang kegiatanku, aku akan melenyapkanmu. Tidak, aku tidak akan melenyapkanmu. Aku akan memberimu pekerjaan haram yang membuat Fatimah membencimu selamanya. Kau mengerti?"

​"Saya mengerti, Tuan," jawab Tino dengan ketulusan yang mendalam. "Saya berjanji, saya akan tutup mulut. Saya hanya ingin hidup tenang."

​"Pagi ini, kau akan mendapatkan pesangon yang cukup untuk memulai hidup baru. Dan jangan berani-beraninya berterima kasih pada istriku. Dia bukan mentor rohanimu. Dia hanya... istriku." Alaska menyelesaikan kalimat itu dengan penuh posesif.

​"Terima kasih, Tuan Alaska," kata Tino, suaranya bergetar. Ia berdiri dan menunduk dalam-dalam. "Semoga Allah memberikan Tuan petunjuk."

​Alaska tidak menjawab. Ia hanya melambaikan tangan, memerintah Tino untuk pergi.

​Setelah Tino keluar, Alaska kembali duduk. Ia menyalakan cerutunya, tetapi ia tidak menghisapnya. Ia hanya memegang nyala api itu, menatap pantulan dirinya di jendela.

​Ia baru saja melepaskan seorang anak buah terbaiknya demi sebuah konsep yang ia benci: ridho. Ia melakukan itu bukan karena ia baik, tetapi karena ia takut kehilangan Sania. Sania, dengan segala keterbatasannya, telah memaksa Sang Mafia untuk melepaskan kontrol.

​Alaska mengambil ponselnya, membuka lagi dokumen tentang Ghirah dan Ridho. Ia membacanya sampai pagi menjelang, berusaha memahami mengapa ia merasa lebih miskin setelah melepaskan Tino, tetapi juga merasakan sedikit... kedamaian.

​Pagi itu, ia melihat Sania sedang berada di taman, menyiram bunga. Alaska berjalan mendekatinya.

​"Tino sudah pergi," kata Alaska datar.

​Sania berhenti menyiram. Ia menoleh, mata Sania menunjukkan kesedihan, namun juga kelegaan.

​"Saya turut bahagia untuk Tino, Tuan," kata Sania.

​"Jangan berbahagia," hardik Alaska. "Kau telah menciptakan kekacauan di lingkaran kerjaku. Kau membuktikan padaku bahwa aku... rentan."

​"Bukan saya yang membuat Anda rentan, Tuan," jawab Sania. "Kebenaranlah yang membuat Anda rentan. Dan Tino hanya memilih jalan yang benar."

​Alaska menatap Sania, frustrasi karena lagi-lagi, ia tidak bisa membantah.

​"Aku akan mencari pengawal baru yang tidak terpengaruh oleh omonganmu," ancam Alaska.

​"Tentu, Tuan," Sania mengangguk patuh. "Tapi ingatlah, Tuan. Anda bisa mengganti pengawal, Anda bisa mengganti driver, tapi Anda tidak akan bisa mengganti hati mereka. Jika Allah berkehendak, orang berikutnya pun akan memilih jalan yang sama."

​Alaska membuang muka. Ia merasa dikalahkan, tetapi kali ini, kekalahan itu terasa lebih... sejuk.

​__Melepaskan kontrol atas sesuatu yang haram adalah langkah pertama menuju kebebasan sejati. Kekuatan sejati bukan pada kemampuan memaksa, tetapi pada kerelaan melepaskan demi kebaikan__

​__Perubahan sering kali tidak datang dengan ledakan, tetapi dengan kepergian yang sunyi. Ia meninggalkan luka, namun di dalamnya tumbuh benih kedamaian__

Bersambung ....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!