Selena Maheswari, adalah sosok gadis mandiri dan pekerja keras, dia tidak sengaja menyaksikan sendiri seseorang bertangan dingin yang dengan gampangnya mengeksekusi rekannya yang berkhianat, tanpa rasa bersalah ataupun menyesal.
Di dalam kejadian itu ternyata ada anak buah dari mafia tersebut yang mengintai Selena hingga pada akhirnya Selena terjerat ke dalam lingkaran sang Mafia.
Mampukah Selena keluar dari jerat sang Mafia atau malah sebaliknya?? Nantikan kisah selengkapnya hanya di Manga Toon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Tumbuh Rasa Diantara Kebencian
Valen mulai menjauh langkahnya tertuju ke ruang ganti, setelah beberapa menit akhirnya pria itu keluar dengan pakaian non formalnya. Kali ini pintu tertutup dengan pelan tidak seperti biasanya.
Valen segera mendekat dengan langkah yang mantap, menghampiri Selena yang memeluk lututnya seolah sedang melindungi dirinya sendiri. "Kenapa kau murung sekali?" suara beratnya memecahkan keheningan. "Padahal aku sudah bela-belain untuk pulang cepat agar bisa bersama mu," ucapnya sedikit menggombal.
Selena langsung mendongakkan wajah dengan ekspresi sedikit kesal. "Apa pulang untukku? Kau pulang bukan untukku melainkan pekerjaanmu sudah selesai," sahut Selena dengan nada kesalnya.
Valen mulai mendekat tanpa peduli dengan wajah kesal Selena, namun gadis itu mulai menggeser bokongnya dengan raut yang cemberut, Valen tak bergeming ia malah meraih pergelangan Selena.
"Jangan menjauh, kau tahu setiap kali kau marah, wajahmu sangat menarik dan kecantikanmu bertambah kali lipat," kalimat itu mengalir dengan nada santai seraya menggoda.
Selena mendengus lalu mencoba untuk melepaskan tangannya. "Kau memang pria paling menyebalkan yang pernah aku temui, apa ini trik mu untuk mengikat gadis," sungut Selena dengan nada kesalnya.
Valen terkekeh rendah, lalu ia mulai meraih gelas diatas nakas dan menyodorkannya ke mulut Selena. "Minumlah wajahmu sangat pucat," ucap Valen. "Asal kau tahu aku berbuat seperti ini hanya padamu saja," jelas Valen.
"Tapi aku bisa ambil sendiri!" protes Selena dengan nada ketus.
Selena berusaha untuk menolak akan tetapi gelas sudah berada di depan mulutnya, terpaksa ia meminumnya sedikit lalu cepat-cepat mendorong gelas itu akan tetapi tatapan Valen masih datar seolah ia tidak setuju kalau dirinya hanya meminum sedikit.
"Ayo minum kembali, kalau kesal jangan semuanya di diemin," ucap Valen yang semakin membuat gadis di sampingnya itu semakin kesal.
"Sejak kapan sih kamu berubah menjadi cerewet seperti ini," dengusnya dengan nada kesal.
"Sejak mengenalmu aku berubah menjadi cerewet seperti ini," sahut tenang seolah tanpa beban.
Selena sudah meminum separuh dari gelas itu, senyum tipis terbesit dari bibir Valen. "Nah begini dong, kan kalau seperti ini tubuhmu sedikit ada cairan," ucap Valen.
"Sudah puas kau mengaturku," sindir Selena dengan suara serak.
Valen tidak menjawab, hanya menatapnya dengan seringai kecil. Jemarinya bergerak menyibak helai rambut yang jatuh di pipi Selena. “Aku tidak mengatur… aku hanya menjaga. Kau ini terlalu keras kepala Selena."
Sentuhan itu membuat Selena kaku. Ia cepat-cepat menepis tangan Valen, berdiri, dan membelakangi pria itu. “Berhenti jangan sok bersikap seolah-olah kau pahlawan. Padahal Kau sendiri yang memenjarakan aku di tempat ini, dasar haus validasi, maunya dianggap penolong padahal penjahat yang sesungguhnya," cibir Selena.
Valen ikut berdiri menghampiri Selena, tangannya mulai terulur memeluk gadis itu dari belakang, tubuh Selena kaku ketika tangan itu melingkar di perutnya dan hembusan nafas segar pria itu terdengar tenang di telinganya.
"Kalau memang kau anggap aku penjara ... maka aku akan menjadi penjaga setiamu, dan kalau dirimu menganggap aku penjahat, maka tidak akan pernah aku biarkan kau hilang dalam pengawasanku sedikit pun, karena aku sudah terpikat denganmu gadis bodoh," ucapnya pelan tapi penuh arti.
Selena terdiam ia ingin marah dan memaki pria di belakangnya itu namun dadanya terasa sesak, mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Valen. Entah kenapa ia merasakan bahaya sekaligus rasa hangat. Rasa yang membuat hatinya tenang dan tertekan di saat berada di dalam dekapan lelaki itu.
'Tuhan ... kenapa rasa ini tumbuh, seberapa keras batinku menolaknya akan tetapi gejolak cinta dihati sulit untuk diingkari,' batin Selena.
Dalam ketakutan Selena mencoba untuk bersandar di dada bidang lelaki itu sambil memejamkan matanya. Hening tapi di dalamnya mengandung ketenangan yang ia sendiri sulit untuk mengungkapkan.
Sementara Valen pria itu juga mencoba untuk diam mencermati apa yang ada di dalam hati gadis yang tiba-tiba bersandar pasrah di dadanya, padahal sebelumnya Selena begitu keras kepala.
'Ini gadis aneh banget ya, dasar labil,' cibirnya di dalam hati.
Valen segera melepaskan pelukannya takut ia hilang kendali akan gadis itu, hingga pada akhirnya pria itu mulai mengajak Selena untuk makan siang. "Sudah jangan murung terus, kita makan siang dulu ya," ucap Valen kali ini terdengar sedikit sabar.
Selena tak bergeming gadis itu hanya menurut, langkah kakinya mengikuti genggaman tangan Valen. Hatinya masih bergemuruh antara benci dan cinta yang kini berlawanan di dalam hatinya, sehingga ketika sampai di ruang makan berbagai hidangan mewah pun tidak bisa menggugah selera makannya, bahkan semuanya terasa hambar di matanya, karena di telan resah.
"Nona, ayo di makan," ucap maid Fani, maid termuda di rumah ini.
“Maaf… aku belum nafsu makan,” ucap Selena pelan sambil menunduk, jari-jarinya meremas ujung roknya.
Maid itu merasa kesal dengan penolakan dari Selena karena ia merasa Selena hanya gadis biasa yang dipungut oleh atasannya jadi ia merasa dongkol dengan penolakan dari Selena. 'Dasar gadis kampung pake sok banget lagi menolak makanan mewah ini,' cibirnya di dalam hati.
"Nona tapi Nona harus makan meskipun cuma sedikit," ucapnya dengan tatapan sinis dan nada ketus.
Mendengar nada kurang enak dari maid di sampingnya itu membuat Selena sedikit mengangkat wajahnya. "Maaf sekali lagi, aku belum nafsu makan, nanti saja masih nunggu Don Valen," sahut Selena sementara Valen masih berdiri sedikit jauh dari kursi makan, dia masih sibuk dengan handphone-nya.
Fani mengangkat alisnya mulutnya mengulas senyum sedikit penuh ejekan. "Ya sudah kalau begitu sekalian saja jangan di makan, suruh makan saja kok susah," cetus Fani dengan tatapan judes.
“Fani!” suara Valen tajam memotong. Tatapannya terangkat dari ponsel, dingin menusuk. “Siapa yang memberimu hak bicara seperti itu pada Selena? Dia milikku... dan sudah sepatutnya kamu menghormatinya!"
Amarah Valen benar-benar membuncah disaat maid satu itu berani berkata kurang enak terhadap Selena, tatapannya tajam seperti belati yang siap menusuk.
"Kau lancang sekali, apa sudah bosan bekerja di sini?" tanya Valen dengan nada yang menusuk.
"Ma ...maaf Don, aku gak sengaja ...aku pikir dengan cara sedikit tegas Nona Selena akan menurut," sahutnya dengan nada yang terbata.
"Kau disini bekerja untuk melayani bukan di layani," cetusnya dengan tenang tapi mematikan.
Fani menelan ludahnya tubuhnya bergetar keringat dingin membasahi tubuhnya. "Maaf ... Don," mohon Fani dengan raut yang ketakutan.
Valen tak menggubris hanya melirik tajam, hingga akhirnya dia duduk di kursi utamanya, lalu dengan isyarat mata saja semua maid meninggalkan ruang makan.
Sementara Selena tertegun. Dadanya berdebar aneh, antara lega karena dibela, malu karena disebut milik, dan bingung dengan sikap Valen yang selalu sulit ditebak. Matanya sekilas menatap pria itu, lalu buru-buru menunduk lagi, tak sanggup melawan campur aduk perasaannya, yang terus saja mengulek hatinya.
"Sudah jangan hiraukan ucapan maid tadi, kau harus tegas dengan dirimu sendiri," ucap datar pria itu.
Selena segera menuangkan air minum untuk membasahi tenggorokannya. "Jangan minum terus nanti bisa kembung, kau coba sedikit saja makanan ini," ucap Valen kali ini dieu ya mencoba untuk sabar menghadapi Selena.
Valen langsung meraih piring Selena lalu mulai mengambil sedikit makanan, agar gadis itu ter butuhi nutrisinya. "Ayo makan!" perintahnya.
Selena menatap sejenak makanan itu, akhirnya dengan terpaksa ia mau memakannya meskipun hanya sedikit, demi sedikit.
"Don, maaf ya aku bikin kamu marah," ucap Selena dengan tatapan yang menunduk.
Bersambung ....
Kasih komen dong kak biar rame
my queen
queen mafia pantang mundur,dan satu tidak ada kata maaf