NovelToon NovelToon
Pria Manis Yang Ku Benci

Pria Manis Yang Ku Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda
Popularitas:214
Nilai: 5
Nama Author: ScarletWrittes

Alia merupakan wanita yang cantik dan lugu dulunya dirinya, hanya wanita polos yang mungkin bisa di bilang hanya wanita biasa dengan paras yang biasa dan tidak tertarik sama sekalia, karena alia hanya tertuju kepada keinginanya yaitu belajar, sampai dirinya bertemu dengan arnold pria yang kakak kelas tingkat 3 di banding dirinya, kakak itu sma 3 dan alia smp 3, alia menganggumi arnold layaknya pasangan sayangnya cinta alia tidak di balas melainkan hanya di permalukan di depan umum, sampai akhirnya 4 tahun sudah mereka bertemu kembali, di tempat perjodohan arnold awalnya tidak tahu siapa wanita cantik itu, sampai akhirnya dia tahu dan kaget.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ScarletWrittes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

“Tunggu, nama kamu Arnold, ya?”

“Ya, Tante. Benar. Ada apa, Tante?”

“Jadi gini, Arnold. Soal kamu dan Alia, biar kita bicarakan nanti. Tunggu papa Alia sudah meredam emosinya. Bagaimana? Apa kamu setuju?”

Arnold yang mendengar itu merasa, apakah masih ada harapan untuk dirinya bersama Alia? Entah kenapa, Arnold merasa senang saat mama mertua berbicara demikian.

Arnold pun menyetujui apa yang diucapkan oleh mama mertua. Bagi Arnold, ini adalah sebuah peluang yang tidak boleh ia lewatkan.

“Baik, Ma... eh, maksudnya Tante. Nanti kabarin aja Arnold kapanpun Arnold dipanggil, Ma.”

“Ok, kalau gitu Tante pergi dulu ya, Arnold. Tante titip Alia, ya.”

“Siap, Tante. Pasti dijagain kok, Tante. Aman aja, Tante.”

Mama Alia hanya tersenyum dan tidak berkata apa-apa. Tak lama, mama Alia pergi dari hadapan Arnold, lalu Arnold merasa senang.

Arnold kembali ke ruangan OSIS dan mencoba mendengar ide dari anggota. Sedangkan Alia hanya diam, sambil memikirkan bagaimana harus bersikap kepada papanya.

Setelah pulang sekolah

Sampai di rumah.

“Ma, Alia pulang, Ma.”

Seisi rumah sepi, tanpa ada yang menjawab. Alia bingung ke mana semua orang pergi. Tidak seperti biasanya. Biasanya kalau Alia memanggil, semuanya menjawab dan keluar.

Alia mencoba mencari semua orang yang ada di rumahnya, tapi tak satu pun ada yang menghampiri.

Bibi datang ke arah Alia.

“Non, ini ada surat. Dibaca ya, Non. Bibi ke belakang dulu.”

Alia bingung, ada apa dengan rumahnya? Tidak seperti biasa. Akhirnya, ia membaca surat yang diberikan bibi.

Setelah membaca, Alia kaget dan langsung pergi, masih mengenakan seragam sekolah. Setelah itu, Alia sampai di kafe, tempat mereka berkumpul.

Alia langsung masuk ke dalam kafe dan mencari mama serta papanya. Tak lama, ia melihat mereka sedang makan di meja khusus yang hanya beberapa orang boleh masuk.

“Ma, Pa, ngapain ke sini? Dan maksud Alia, kenapa tidak makan di rumah aja? Kan bibi sudah capek masak.”

Mama tetap diam, begitu juga papa yang hanya melihat Alia datang. Alia tahu kalau orang tuanya masih marah padanya. Bukan salah orang tuanya, tapi ia juga tidak bisa berkata apa-apa.

“Maaf, Ma, Pa. Aku tahu aku salah, tapi aku juga punya hak untuk bahagia. Emang Mama dan Papa mau lihat aku sedih terus?”

Mama dan papa tidak peduli kepada Alia. Alia bingung, untuk apa dirinya hadir di sini kalau tidak diajak bicara. Bukankah akan lebih baik dirinya di rumah saja dibanding harus pergi ke tempat di mana dia hanya dicuekin?

Mama memberi kode kepada Alia untuk duduk dan memesan makan. Namun, Alia sudah tidak berniat makan. Baginya, makan pun tidak selera, apalagi memesan sesuatu.

Akhirnya, Alia memesan steak. Sambil menunggu, ia melihat ke arah mama dan papa yang terus asyik sendiri. Alia merasa tidak nyaman dan meminta izin untuk mencari udara segar.

Di luar kafe

Alia mencari udara segar tanpa sadar melihat pemandangan yang indah. Sementara itu, mama dan papa merasa tidak enak kepada Alia. Mama menatap papa.

“Pa, menurut kamu, apa sudah benar seperti ini dengan anak kita?”

“Emang kamu berharap apa? Biarin aja dia merasa tertekan dengan pilihannya. Siapa suruh dia melawan kita.”

“Kan dia bukan bermaksud melawan. Menurut Mama, dia sudah memilih pilihan yang tepat, Pa.”

Papa hanya diam, tidak menghiraukan ucapan mama. Kadang papa bingung apa maksud mama, dan kenapa mama selalu membela Alia. Menurut papa, tidak semua yang anak pilih harus didukung.

Alia kembali

Alia kembali ke dalam, lalu papa dan mama kembali berakting seperti semula. Padahal sebenarnya, mama tidak pernah benar-benar mendiamkan Alia. Entah kenapa, perasaan itu sangat menyakitkan dan membuat mamanya tidak tega.

Makanan Alia pun datang. Saat Alia duduk, mama dan papa hanya menunggu sambil sibuk dengan urusan masing-masing.

Alia baru sadar, begini rasanya dimusuhi oleh orang tua sendiri. Ia tidak bermaksud minta dimusuhi, tapi ia juga tidak bisa bohong tentang perasaannya kepada Arnold.

“Pa, Ma, Alia mau jujur sesuatu. Kalau memang Mama dan Papa mau marah, tidak apa-apa. Yang jelas, Alia mau jujur saja sama Mama dan Papa, kalau sebenarnya Alia sudah mencintai Arnold dari awal ketemu. Alia juga mau Mama dan Papa tahu kalau dia adalah pilihan pria yang tepat untuk Alia. Hanya dia pria yang tidak pernah memandang Alia jelek atau bagaimana pun. Alia cuma mau Mama dan Papa tahu, kalau tidak sama Arnold, Alia tidak akan mau menikah.”

“Kalau dia nggak suka sama kamu, gimana? Bukannya itu namanya cinta bertepuk sebelah tangan?” ucap papa dengan nada tegas dan menyakitkan hati Alia.

Alia mendengar itu, namun tidak berkecil hati. Ia terus mencoba mencari tahu maksud ucapan papanya. Tak lama, papa pergi tanpa mau mendengar, sambil memberi kode kepada mama.

Mama sebenarnya tidak tega kepada Alia. Walau bagaimanapun, Alia memang mencintai Arnold. Mamanya tidak bisa menyalahkan Alia, karena ini mengingatkannya pada masa lalu ketika ia dan papa saling mencintai. Kadang, cinta itu memang buta.

Di parkiran

Setelah sampai di parkir, Alia merasa kesal dengan sikap orang tuanya yang tidak peduli. Entah kenapa, mereka seperti benar-benar berbeda hari ini.

“Ma, Pa, kenapa sih kalian hari ini beda banget? Nyebelin banget. Aku sampai nggak paham ada apa dengan kalian. Seandainya memang aku salah, kan aku sudah ngaku. Kenapa terus menghukum aku seperti ini? Kan aku sudah bilang ke Mama dan Papa. Kenapa seperti benar-benar cuekin aku banget? Aku juga bisa sakit hati, Ma, kalau dicuekin kayak sekarang.”

Papa dan mama merasa kasihan, tapi mereka ingin Alia tahu bahwa yang ia perbuat telah menyinggung perasaan mereka. Maksud papa dan mama sebenarnya baik, agar Alia lebih menghargai orang tuanya.

“Pa, kita maafin aja ya anak kita,” bisik mama.

“Tidak mau. Biarin aja. Tunggu dia sampai jera. Papa mau lihat bagaimana kalau kita sebagai orang tua mencuekin anak sendiri.”

“Emang Papa tega sama anak kecil kita? Dia itu masih kecil, Pa. Kasihan juga dianya. Kan dia nggak bermaksud begitu, Pa. Papa tahu sendiri, dia itu kadang seperti anak kecil, nggak tahu melangkah yang benar atau tidak.”

Papa tidak peduli dengan perkataan mama. Menurutnya, apa yang Alia lakukan sudah salah. Tak lama, Alia menangis terisak.

Papa dan mama kaget. Mereka tidak menyangka Alia akan menangis seperti itu. Selama ini mereka mengira Alia hanyalah anak kecil yang manja dan belum dewasa.

Akhirnya, mama mencoba mendekati Alia, tetapi ditahan oleh papa. Mama tidak menghiraukan dan tetap menghampiri anaknya yang sudah ia kandung selama sembilan bulan.

Mama memeluk Alia. Alia kaget dan menatap mamanya.

“Mama tidak benci Alia?”

“Tidak, Nak. Sejak kapan mama benci kamu? Mama tidak akan pernah bisa benci kamu, Nak.”

“Makasih, Mama. Alia sayang Mama.”

Papa yang melihat itu hanya menggeleng kepala. Ia merasa mungkin sudah gagal menjadi orang tua untuk Alia. Namun di sisi lain, ia tahu kedekatan mama dan anaknya sangat erat. Mungkin, papa kurang memahami apa yang Alia mau, berbeda dengan mama yang selalu memahaminya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!