“Lepaskan aku! Kalian gila ya?!” Suara Liora menggema di dalam mobil.
Di seberangnya duduk seorang anak kecil, usianya sekitar enam tahun. Wajahnya terlalu tenang dan dingin untuk anak seusianya. Anak itu mengangkat wajahnya sedikit, menatap Liora seperti orang dewasa yang sedang menilai bawahan yang tidak kompeten.
“Aku butuh kamu.” Ucap Keivan.
“Apa maksudmu butuh aku?”
Keivan menyandarkan punggungnya lalu melipat tangan kecilnya. “Kamu akan jadi ibu tiriku, menikahlah dengan Papaku.“
Keivan, bocah jenius dari keluarga Salendra, tumbuh di tengah situasi keluarga yang rumit. Ayahnya... Dewangga, seorang pria 35 tahun mengalami cedera otak yang membuatnya menjadi penyandang disabilitas intelektual (tunagrahita) dan memiliki perilaku seperti anak berusia lima tahun (Idiot). Di tengah perebutan hak waris keluarga Salendra, Liora terseret dalam rencana pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.
Akankah Liora bersedia menjadi ibu tiri sekaligus istri bagi pria penyandang disabilitas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 9.
Liora masih menatap ke arah tempat Tuan Besar menghilang. Pria tua itu datang tiba-tiba, bicara sesuka hati, lalu pergi begitu saja setelah memberi perintah yang terdengar lebih seperti keputusan mutlak daripada undangan.
"Jamuan keluarga?" gumamnya pelan.
"Iya." Codet mengangguk.
"Biasanya seperti apa?"
"Kalau keluarga besar Salendra berkumpul, biasanya tidak sesederhana makan malam biasa, Nyonya." Kali ini yang menjawab adalah Mbok Sum yang baru datang ke taman sambil membawa nampan berisi minuman.
Liora langsung curiga. "Nah, kan. Aku juga merasa begitu."
Dewangga yang berdiri di sampingnya masih tersenyum lebar. "Liora hebat!"
"Kamu sudah bilang itu tiga kali."
"Karena memang hebat."
Liora menoleh. "Kamu tahu apa yang terjadi tadi?"
"Tahu."
"Apa?"
"Liora marahi Kakek galak."
Kakek galak itu ayahmu!
"Aku tidak memarahinya." Liora berdecak ringan.
"Sedikit."
Liora menghela napas. "Dan kamu senang?"
"Sangat senang." Dewangga mengangguk cepat.
"Kenapa?"
Pria itu berpikir beberapa detik sebelum menjawab. "Karena Liora di pihak Dewangga."
Jawaban Dewangga membuat Liora terdiam, pria itu memang sedang dalam keadaan yang tidak memahami politik keluarga, perebutan warisan, atau maksud tersembunyi di balik perkataan seseorang. Namun ternyata Dewangga masih bisa memahami siapa yang membelanya dan siapa yang menyakitinya. Dan itu justru membuat semuanya terasa lebih menyedihkan.
Menjelang malam, mansion kembali ramai, para pelayan mulai sibuk mempersiapkan makan malam. Sementara itu Liora sedang duduk di ruang keluarga sambil membaca beberapa majalah yang ia temukan di rak. Atau lebih tepatnya... mencoba membaca. Karena setiap dua menit sekali ada seseorang yang mengganggunya.
"Liora."
"Hm?"
"Lihat."
Liora mengangkat kepalanya, Dewangga sedang memperlihatkan mobil-mobilan kecil.
"Bagus."
Pria itu tersenyum puas.
Dua menit kemudian...
"Liora."
"Hm?"
"Lihat."
Kali ini sebuah robot.
"Bagus."
Dua menit kemudian lagi...
"Liora."
"Hm?"
"Lihat."
Boneka penguin, Liora akhirnya menutup majalahnya. "Dewangga."
"Iya?"
"Berapa banyak mainanmu?"
"Banyak."
"Itu bukan angka."
Dewangga berpikir keras. "Sangat banyak."
"Itu juga bukan angka."
Pria itu tampak kebingungan, ia lalu menunjuk seluruh ruangan. "Sebanyak itu."
"Oke, terserah kamu.“ Liora kembali menyerah karena percuma.
Dewangga langsung tersenyum bangga karena merasa berhasil menjelaskan. Tak jauh dari sana, Codet dan dua pengawal lainnya diam-diam memperhatikan.
"Sejujurnya..." bisik salah satu pengawal.
"Hm?"
"Aku belum pernah lihat Tuan bicara sebanyak ini dalam sehari."
Codet mengangguk. "Semenjak Nyonya datang, Tuan memang berubah."
Saat makan malam tiba, kejadian lain kembali membuat Liora terkejut. Karena Dewangga menolak duduk jika Liora tidak berada di kursi sebelahnya.
"Tuan..." Mbok Sum mencoba membujuk.
"Tidak."
"Ini hanya makan malam."
"Tidak."
"Dewangga."
"Tidak."
Liora sampai memijat pelipis. "Kenapa harus di sebelahku?"
"Biar gampang lihat."
"Mau lihat apa?"
"Kamu cantik, aku suka liatnya...."
Liora hampir tersedak air minumnya sendiri, Codet langsung memalingkan wajah dengan bibir yang menahan tawa. Mbok Sum pura-pura sibuk mengatur sendok. Sementara Dewangga tampak tidak merasa ada yang aneh dengan jawabannya.
Pada akhirnya, Liora menyerah dan duduk di sampingnya. Baru setelah itu Dewangga mau makan.
"Repot sekali."
"Hehe."
"Kamu malah ketawa."
"Hehe."
Setelah makan malam selesai, Keivan akhirnya muncul lagi dari ruang kerjanya. Bocah itu berjalan masuk sambil membawa tablet di tangannya.
"Ada masalah."
Liora langsung menoleh. "Masalah apa?"
"Jamuan besok."
"Kamu juga mau membahas itu?"
Keivan duduk dengan tenang. "Tentu."
"Aku bahkan belum setuju datang."
"Kamu akan datang."
"Kenapa?"
"Karena Kakek tidak menerima penolakan."
Liora mengerutkan dahi. "Keluargamu memang suka memaksa orang?"
"Sebagian besar, ya."
Liora kehilangan niatnya untuk berdebat, dia hanya bisa pasrah.
Keivan lalu menatap ayahnya, Dewangga sedang sibuk menyusun balok warna-warni di atas meja.
"Papa."
"Hm?"
"Besok ada makan malam keluarga."
"Oke."
"Jangan pergi ke mana-mana."
"Oke."
"Dan jangan percaya siapa pun."
"Oke."
Keivan menghela napas. "Papa bahkan tidak bertanya kenapa."
"Kenapa?" Dewangga berkedip polos.
“Pertanyaan yang terlambat.” Keivan mendengus layaknya orang dewasa. Dengan wajah yang terlihat dingin, tingkah itu justru terlihat lucu dan menggemaskan di mata Liora.
Liora sampai menahan tawa, hubungan ayah dan anak itu benar-benar aneh. Yang satu tubuhnya dewasa, tapi mentalnya anak kecil. Yang satu... usianya anak kecil, tapi berpikir seperti orang dewasa.
Malam pun semakin larut, Dewangga mulai terlihat mengantuk. Hal itu terlihat dari cara pria itu mengucek mata berkali-kali sambil memeluk boneka anjing kesayangannya.
"Liora."
"Hm?"
"Ngantuk."
"Ya tidur."
"Kamu ikut?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena aku juga mau istirahat."
Dewangga terlihat berpikir, lalu mengangguk. "Oke."
Jawaban pria itu justru membuat semua orang terkejut. Codet bahkan sampai mengangkat alisnya. Biasanya, membujuk sang Tuan untuk tidur malam bukan perkara mudah dan bisa memakan waktu cukup lama. Namun kali ini pria itu langsung menurut.
Bahkan Dewangga tidak menunjukkan tanda-tanda mengamuk seperti saat akan tidur siang tadi, ketika dia bersikeras harus ditemani Liora. Perubahan sikap itu membuat para pelayan dan pengawal saling bertukar pandang dengan heran.
Dewangga hanya berdiri dari duduknya, lalu berjalan menuju tangga. Setelah beberapa langkah, dia berhenti dan berbalik. "Liora."
"Apa lagi?"
"Besok kamu masih ada disini, kan?"
Liora terdiam sesaat, mata Dewangga menatapnya penuh harap. Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi membuat dadanya terasa sedikit sesak. Karena pria itu benar-benar takut ditinggalkan.
"Iya."
"Janji?"
Kali ini Liora tidak langsung menjawab. Dalam pikirannya, ia masih ingin pergi dari mansion itu suatu hari nanti. Ia tidak pernah berniat menjadi istri siapa pun. Apalagi menjadi ibu tiri seorang bocah jenius dan pendamping seorang pria dengan kondisi seperti Dewangga. Namun saat melihat mata penuh harap pria itu, ia akhirnya menghela napas.
"Iya, besok aku masih di sini."
Senyum Dewangga langsung kembali muncul, lalu pria itu berjalan pergi dengan langkah ringan. Seolah satu kalimat sederhana tadi sudah cukup membuat dunianya kembali baik-baik saja. Para pengawal mengikuti pria itu ke kamarnya.
Beberapa saat setelah Dewangga pergi ke kamarnya, Keivan menghampiri Liora. Mereka kini hanya berdua.
"Aku punya permintaan."
Liora langsung waspada. "Setiap kali kamu bilang begitu, biasanya hidupku jadi lebih sulit."
"Aku serius."
"Aku juga serius."
Keivan meletakkan tabletnya di meja. "Besok saat jamuan keluarga, tetaplah berada di dekat Papa."
"Kenapa?" Ekspresi Liora berubah sedikit, nada bicara bocah itu terdengar jauh lebih serius dari biasanya.
“Karena seperti yang pernah kukatakan sebelumnya, ini berkaitan dengan masalah hak waris dalam keluarga. Tidak semua orang senang... melihat Papa masih hidup.”
Liora menatap bocah itu lekat-lekat. "Yang menyebabkan kecelakaan itu..."
Keivan mengangguk. "Mereka belum berhenti."
Tatapan Liora perlahan berubah serius, masalah keluarga Salendra jauh lebih berbahaya daripada yang ia bayangkan. Ini bukan sekadar keluarga kaya yang hanya bertengkar soal warisan. Ada seseorang yang akhirnya membunuh istri Dewangga, dan seseorang yang sepertinya akan mencoba membunuh Dewangga lagi. Dan orang-orang itu mungkin masih berada di sekitar mereka sampai sekarang.
"Aku mengerti."
Keivan mengangguk pelan. "Terima kasih."
Liora menatap ke arah tangga tempat Dewangga tadi menghilang. Pria itu mungkin tidak memahami bahaya yang mengelilinginya. Dewangga mungkin hanya tahu soal es krim, boneka, dan ketakutan terhadap petir. Namun justru karena itulah pria itu menjadi sangat rentan. Dan entah sejak kapan... Liora mulai merasa tidak tega membiarkan Dewangga menghadapi semuanya sendirian bersama anak sekecil Keivan.
Sementara itu di lantai dua, Dewangga sudah berbaring di tempat tidurnya sambil memeluk boneka anjing kesayangannya. Sebelum menutup mata, pria itu bergumam pelan.
"Liora baik." Dia tersenyum kecil.
Dan tanpa mengetahui apa pun tentang bahaya yang sedang bergerak di balik keluarganya sendiri, Dewangga tertidur dengan tenang.
Sementara di tempat lain, seseorang sedang menerima kabar bahwa wanita baru bernama Liora mulai menjadi sangat dekat dengan pewaris keluarga Salendra yang masih hidup. Dan kabar itu... tidak membuat semua orang senang.
sebab, dia takut
korupsi di perusahaan akan terungkap
pasti bekerja sama dgn ibu tirinya Liora
untk menekan hati dan mental Liora yang paling salam adalah ibunya🤔🤔🤔
antara siapa yang melakukan kecelakaan
dan bagaimana sikap Liora jika tau dewangga sudah sadar sepenuhnya
tau jika ada perubahan dari ayahnya
karna mengingat semuanyaa
sengaja akan dibunuh kembali
atau ada obat yang tukar🤔🤔
dihadapan tetua 🏃
kalo emnk si ibu tiri terlibat baik dg liora maupun dewangga ,, berarti masalah ny gx semudah yg di bayang kn ,,
malu ny sampe ke ubun2 ,, 😒😒😒😒😒😒😒
semoga kamu akan kembali pulih seperti sedia kala